
Kabar gembira itu disampaikan juga di hadapan keluarga besar yang sedang menikmati sarapan pagi mereka di atas pesawat. Camilla dan Davin saling menatap seakan meminta siapa yang akan menyampaikan kabar hebat ini kepada keluarga besar itu.
"Apa yang ingin kalian sampaikan, hmm?" Tanya Reza yang tidak sabaran menanti suara keduanya yang ingin berujar namun masih menimang ragu.
"Biar aku saja yang menyampaikan!" Ujar Davin.
"Cepatlah! sebelum mamaku mengamuk." Ucap Camilla yang melihat tatapan mata Andien yang syarat akan makna.
"Assalamualaikum, semuanya. Barusan kami mendapatkan kabar gembira dari Allah untuk keluarga kita semua bahwa saat ini Camilla sedang hamil." Ucap Davin.
Dalam sekejap keriuhan memenuhi ruang pesawat itu yang ingin bangun memeluk Camilla untuk memberikan ucapan, namun tidak bisa dilakukan karena sedang berada di dalam ruang pesawat yang masih mengangkasa.
"Wah! Selamat sayang." Ucap Reza dan Andien takjub karena mereka akan segera menjadi kakek dan nenek.
"Terimakasih ayah, mama."
Camilla menghampiri kedua orangtuanya dan meminta doa yang terbaik untuk calon bayi dan dirinya.
"Semoga Allah memberikan keberkahan keluarga kalian dengan keturunan yang Sholeh Sholeha." Ucap Reza dan diikuti oleh Andien sambil mengusap perut rata putrinya.
Keduanya menyapa anggota keluarga lainnya, satu persatu. Seyna dan Sheilla sangat senang dengan dengan kehamilan kakaknya.
"Apakah kami akan dipanggil Tante di usia kami yang masih muda seperti ini?" Goda Senna.
"Setidaknya anakku tidak akan cepat menikah sebelum tantenya dewasa karena tidak mau melihat tantenya akan dipanggil nenek." Balas Camilla.
Tawa renyah diantara keluarga itu dengan timpalan banyolan yang kembar empat lainnya.
"Ya Allah, pipiku belum keriput tapi aku harus menerima takdirku menjadi seorang nenek di usia muda." Keluh Andien manja pada suaminya.
"Kamu adalah Oma tercantik dan ters*ksi di jagad ini." Goda Reza sambil mengecup bibir istrinya sekilas.
Davin dan Camilla kembali ke kamar mereka usai bercengkrama dengan keluarga besarnya. Sementara itu mereka harus mengirim pesan singkat kepada Calista dan pangeran Fatih untuk mengabarkan kehamilannya.
Calista histeris, membaca pesan dari Camilla. Kakek dan neneknya hampir jantungan mendengar jeritan Calista.
"Ada apa Calista?" Tanya nyonya Susan yang satu pesawat dengannya.
"Nenek dan kakek akan segera menjadi buyut karena Camilla sekarang sedang hamil." Pekiknya lagi membuat suaminya harus menahan tubuh istrinya yang hampir lompat di atas pesawat yang sedang terbang.
Tuan Handoyo memeluk istrinya haru dan pasangan lainnya ikut menitikkan air mata bahagia. Pasangan Adam, Agam dan Rendy yang ada di pesawat itu saling berpelukan ketika mendengar kabar baik itu.
Mereka ramai-ramai mengirim pesan singkat kepada Camilla dan Davin sebagai bentuk ucapan syukur mereka karena Camilla telah diberikan kepercayaan sebagai ibu duluan.
Tidak lama co-pilot mengumumkan kepada awak penumpang kalau sebentar lagi pesawat akan masuk ke bandara Bogota Kolombia. Pesawat akan melakukan landing di bandara tersebut. Penumpang dihimbau untuk duduk tenang dan kembali memasang sabuk pengaman masing-masing.
__ADS_1
"Sayang!" Setelah kita turun dari pesawat sebaiknya kita langsung ke rumah sakit. Siapa tahu kamu juga saat ini sedang hamil." Ucap pangeran Fatih.
"Mana bisa begitu, sayang! Tidak ada tanda-tanda yang terdapat dalam diriku kalau aku saat ini sedang hamil." Ucap Calista.
"Tidak semua kehamilan harus menunjukkan gejala awal pada ibu hamil. Tapi aku punya firasat kuat bahwa saat ini, kamu juga sedang hamil bayi kita." Ucap pangeran Fatih yakin.
Semuanya duduk dengan tenang ketika pesawat itu menurunkan rodanya.
Roda pesawat itu berhasil menyentuh aspal tebal landasan pacu bandara. Getaran cukup hebat membuat mereka menarik nafas dan mengucapkan kalimat syukur dengan bacaan basmalah.
Calista yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Camilla di mana pesawat jet yang satunya lagi, belum juga muncul dari atas langit Bogota.
Calista yang sudah turun lebih awal mencari titik lintas penerbangan pesawat milik ayahnya itu melalui ponselnya yang tersambung dengan Atc menara setempat.
Sepuluh menit lagi pesawat itu akan muncul, jika pesawat sebelum mereka sudah parkir di depan pintu hanggar.
"Sayang! Aku ingin memeluk Camilla. Apakah kami akan hamil kembar seperti mama kami dan juga Tante kami?" Tanya Calista pada suaminya yang memegang erat tangan istrinya agar tidak pecicilan.
"Kamu hamil satu bayi saja, sudah merubah dunia dan nyaliku agar tampil lebih berani menjadi seorang putra mahkota, apa lagi kamu memberiku bayi kembar." Ucap Fatih sambil memeluk Calista dari balik punggung gadis itu.
Tidak lama kemudian, pesawat Camilla muncul, Calista memeluk suaminya seakan dia yang mendapatkan harta karun itu. Tidak lama pesawat itu tenang di tempatnya, Turunlah terlebih dahulu empat adik kembarnya di susul dengan saudara sepupunya yang kembar juga antara keluarga ayah dan ibunya.
Total empat belas orang dari adik dan sepupunya baik yang berasal dari kedua pamannya yang berjumlah enam anak, maupun yang berasal dari kedua tantenya yang memiliki empat anak dan keempatnya lagi dari adik kandungnya sendiri.
"Camilla!" Pekik Calista yang sudah menunggu di ujung tangga pesawat.
"Ihhh, aku maunya kita hamil bareng." Keluh Camilla sambil mengusap perut Calista.
"Sebaiknya kalian berdua langsung ke rumah sakit, biar yang lain pulang ke rumah untuk melepaskan lelah." Titah Andien dan Reza mengangguk mengijinkan kedua putrinya di bawa suami mereka ke rumah sakit.
Kedua pasangan ini langsung menuju rumah sakit tanpa pengawalan. Andien lupa akan keselamatan kedua putrinya. Ia lupa menghubungi aparat berwenang di negara itu yang sudah mengenalnya untuk mengawal keluarganya karena tertutupi rasa gembiranya telah mendapatkan cucu..
Kegembiraan keluarga itu tidak menyadari bahwa kedua menantu mereka sedang di intai oleh intelijen kedua negara pangeran itu.
Setibanya di rumah sakit, Camilla yang terlebih dahulu diperiksa oleh dokter kandungan. Calista yang tidak ingin ke poli lain memilih antri bersama dengan Camilla. Ia ingin melihat sendiri saat dokter kandungan Manuella melakukan USG pada perut Camilla.
"Bagaimana dokter Manuela?" Tanya Calista tidak sabar saat stik USG itu bergerak perlahan mendeteksi kehamilan Camilla yang baru berusia dua Minggu.
"Selamat nona Camilla, saat ini anda hamil kembar tiga." Ucap dokter Manuella.
"Alhamdulillah!" Ucap ketiganya menyambut kedatangan keturunan mereka. Pangeran Fatih tidak mau masuk karena Camilla adalah saudara iparnya. Ia tidak boleh melihat bagian tubuh Camilla karena itu hukumnya haram.
Usai pemeriksaan pada kehamilan Camilla, kini giliran Calista siap melakukan USG. Tapi dokter Manuela meminta gadis ini terlebih dahulu melakukan tes urine sesuai prosedur pemeriksaan kehamilan. Davin segera meninggalkan ruangan itu dan memanggil pangeran Fatih yang sudah tidak ada di tempatnya menunggu.
Pangeran Fatih sedang ke toilet karena belum sempat pipis saat turun dari pesawat. Sialnya salah satu diantara pengunjung rumah sakit yang sedang berada di dalam toilet mengenali wajah pangeran Fatih.
__ADS_1
Pria itu buru-buru mengabari teman-temannya jika dia telah menemukan pangeran Fatih. Davin menghubungi ponsel Fatih. Suami Calista ini segera mengangkatnya.
"Di mana kamu?" Tanya Davin cemas.
"Aku baru selesai dari toilet." Ucap pangeran Fatih sambil berjalan keluar menuju ruang poli kandungan.
"Sekarang giliran mu menemani istrimu di dalam sana." Ucap Davin.
"Baiklah aku sedang menuju ke sana." Ucap pangeran Fatih berjalan dengan cepat.
Davin melihat iparnya itu sedang di ikuti oleh dua orang lelaki bertubuh tinggi besar.
Davin tersentak dan ia berusaha melindungi pangeran Fatih yang ingin di sekap oleh kedua lelaki itu.
Davin menghalau keduanya dengan tenaga dalamnya. Keduanya memegang dada mereka yang seketika sesak.
"Cepat lari Fatih!" Teriak Davin sambil melindungi Fatih yang cukup kaget melihat rombongan laki-laki yang merupakan prajurit istana.
"Sial!" Ujarnya lalu berlari kencang menuju ruang poli bersama Davin.
Tapi langkah keduanya di hadang oleh yang lainnya sehingga sulit membuat mereka bergerak.
"Bawa pergi prince dari sini!" Titah panglima kerajaan Maroko.
"Tidak!" Aku tidak mau di bawa ke istana." Tolak pangeran Fatih.
Davin masih menggunakan kekuatannya untuk melindungi pangeran Fatih. Perkelahian tidak terelakkan di dalam rumah sakit itu membuat pengunjung yang lain berhamburan keluar.
Petugas keamanan rumah sakit yang ingin mengamankan perkelahian itu terpaksa berhenti saat panglima menunjukkan lencana istana miliknya.
"Kami ingin membawa pulang pangeran dan berikan kami pengamanan." Ucap panglima.
Karena banyaknya prajurit membuat kekuatan Davin dan pangeran melemah. Panglima kerajaan Maroko yang mengetahui jika Davin memiliki kekuatan berusaha mengalihkan perhatian Davin ketika istrinya keluar dari pintu kamar poli.
"Apakah kamu ingin, kami menyakiti istrimu juga?"
Davin segera berbalik melihat istrinya yang berlari menghampirinya.
"Jangan lari Camilla!" Teriak Davin bersamaan dengan penangkapan pangeran Fatih yang sudah di bawa ke atas atap rumah sakit untuk di bawa pulang dengan menggunakan helikopter.
Camilla yang baru menyadari kalau para lelaki yang berkostum hitam yang menyerang suaminya adalah prajuritnya pangeran Fatih.
Camilla menghampiri suaminya dengan langkah gontai. Davin tidak bisa berbuat banyak karena ingin menangkap tubuh Camilla yang terlihat syok saat melihat pangeran Fatih di bawa kabur.
...
__ADS_1
Tolong beri bintang lima untuk author 🙏🙏