
"Apakah paman adalah ayah kandung kami?" Tanya Alfarizi memberanikan dirinya untuk mencari kebenaran dari pernyataan asisten pribadi ayahnya.
Reza menatap keempat wajah anaknya dengan wajahnya yang masih sembab." Iya sayang!" Aku adalah ayah kandung kalian?" Ucap Reza sambil menguatkan hatinya dengan bibir bergetar.
"Jika kamu adalah ayah kandung kami, bagaimana paman bisa tidak mengenali wajah kami sama sekali?" Apakah karena paman tidak menyukai kami ada di dunia ini?" Tanya Camilla.
"Bukan begitu sayang!" Tolong jangan salah paham pada ayah. Selama ini ayah telah mendapatkan informasi yang salah.
Ayah mendengar kalau mama kalian telah menikah lagi dengan seorang pria bule dan mama Andien hanya memiliki ayah dari ayah cuma satu. Dan parahnya saat bertemu dengan mama kalian ketika kalian ke Indonesia, mama kalian tidak memberi tahukan ayah kalau dia memiliki anak kembar empat dan itu anak ayah sendiri." Ucap Reza sambil menangis.
"Padahal kita sudah bertemu saat itu dan hati ayah begitu merasakan kehilangan setelah berpisah dengan kalian di bandara Changi.
"Ayah sama sekali tidak merasa kalau kami mirip dengan ayah dan mama?" Wajah kami perpaduan ayah dan mama." Ucap Al-Ghifari.
"Saat bertemu dengan kalian di Changi, ayah melihat wajah Calista dari senyumnya persis seperti senyum mama Andien." Balas Reza.
"Sudah...sudah!" Jangan lagi mendebat kesalahan ayah, bukankah selama ini kita sedang mencari dirinya dan setelah kita sudah bertemu mengapa malah mempermasalahkan lagi ini dan itu?" Timpal Calista yang protes pada ketiga saudaranya yang terus memojokkan ayah mereka.
Dada Reza masih terasa sesak. Mengakui dirinya sebagai ayah dari anak kembar empatnya saja sudah membuat lidahnya kelu, bagaimana dengan mengakui kepada dunia?"
Ia tidak ingin terburu-buru mengakui kepada para pemburu berita itu. Untuk meyakinkan anak-anaknya saja, ia terlihat seperti lelaki bloon yang sedang merangkai kata yang tepat namun terasa kelu untuk berucap.
Jika tidak mengingat keempat anaknya, rasanya ia ingin kabur untuk menenangkan diri daripada menghadapi wartawan yang aku memberondong dirinya dengan berbagai pertanyaan.
Lagi pula apa yang harus ia banggakan di hadapan dunia jika kesalahannya yang dilakukannya secara sengaja. Dari merenggut kesucian ibunya secara paksa lalu menolak untuk bertanggungjawab saat mengetahui Andien hamil anaknya.
Dan lebih membuatnya syok, ketika mengetahui kalau ia memiliki anak kembar empat dan ironisnya, ia pernah bertemu dengan keempat anaknya dan tidak mampu mengenali mereka saat itu, kecuali kedekatan emosional secara batiniah dengan keempat anaknya yang mengalami syok saat kejadian kecelakaan kerja dua tahun lalu di ruang tunggu transit Changi airport.
"Maafkan ayah anak-anakku, aku adalah ayah yang sangat buruk untuk kalian. Tapi ayah sangat menyesal telah mengabaikan kehadiran kalian saat itu." Gumam Reza lirih.
"Tuan Reza, wartawan mendesak masuk ke sini, bagaimana ini?" Tanya Rendy panik.
__ADS_1
"Aku tidak akan membuat jiwa keempat anakku terganggu. Dunia tidak perlu tahu kebiadabanku pada ibu mereka." Ucap Reza dalam bahasa Jawa membuat keempat anaknya mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti.
"Tapi Tuan, hanya sekedar mengakui mereka saja di hadapan media, apa salahnya?"
"Setiap orang akan berspekulasi dengan statemen yang aku berikan. Aku perlu ijin dari ibu mereka untuk melakukan konferensi pers. Lagi pula aku punya keluarga besar yang harus aku jaga tanpa membuat kesalahan lagi sesudahnya." Ucap Reza lalu menggendong Calista dan menggandeng Camilla keluar dari gedung itu di ikuti kedua putranya menuju mobil.
Tuan Leonardo tidak ingin menganggu ayah dan keempat anak itu di momen berharga yang selama ini anak-anak itu menunggu.
Di saat Reza muncul dengan anak-anak menggunakan pintu keluar orang-orang penting para wartawan langsung menghadang mereka dengan banyak pertanyaan.
"Tuan Reza!" Bagaimana mungkin anda seorang pengusaha nomor satu di negara anda, tidak mengetahui kalau anda memiliki anak kembar empat?"
Reza hanya mendesak keluar dari kerumunan wartawan tanpa ingin menjawab. Para pengaman dari Paspampres yang di tugaskan untuk melindungi anak-anaknya Andien ini, mendorong wartawan agar sedikit menjauh dari mereka.
Reza berdiri sesaat lalu berkata." Keempat anak ini adalah anak kandungku yang selama ini aku cari karena ada kesalahpahaman yang terjadi antara aku dan ibu mereka. Saya kira cukup untuk kata-kata saya dan saya harap pengertian kalian karena saat ini, ibu dari anak-anakku sedang sakit parah." Reza menggendong dua anaknya Calista dan Camilla karena badan mereka yang terlihat lebih imut daripada dua putranya.
"Ayah, apakah ayah ingin ke rumah sakit melihat mama?" Tanya Camilla sambil berbisik.
"Ternyata ayah kami sangat tampan!" Puji Camilla sambil mengukir senyumnya yang indah persis seperti senyum milik Andien.
Deggg...
"Ya Allah, seandainya saat itu aku memperhatikan wajah anak-anak ini satu persatu, mungkin aku akan langsung mengenali mereka dan menyelidiki mereka. Dasar bodoh!" Sudah sedekat itu aku dan keempat anakku malah tidak mengenali mereka sama sekali.
"Apakah kalian tinggal di dekat sini sayang?" Tanya Reza ketika sudah berada di mobil.
"Iya ayah!" Rumah kami berada di tengah kota karena mama Andien merupakan pejabat penting negara ini." Ucap Fariz.
"Apakah kalian selalu ditinggal sendirian di rumah saat mama Andien keluar kota?"
"Kami memiliki banyak pelayan sekitar 20 orang, jadi kami tidak merasa kesepian. Kecuali ada tugas mama yang sedikit lama seperti sepekan, mama selalu mengajak kami karena tidak ingin berpisah lama dengan kami." Timpal Al.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu selama mama di rawat di rumah sakit, kalian tinggal dengan ayah." Pinta Reza.
"Maksudnya kami tinggal di Indonesia dengan ayah?"
"Tidak sayang. Kalian bisa tinggal dengan ayah di apartemen ayah di kota ini." Timpal Reza meralat perkataan putranya Fariz.
"Mengapa ayah tidak tinggal di rumah kami saja?" Bukankah mama lagi sakit?" Tanya Camilla.
"Ayah takut, mama Andien tidak akan setuju ayah berada di rumah kalian." Balas Reza.
"Tapi kalau kami mengikuti ayah, justru mama makin marah." Ujar Camilla.
"Sayang, ini keadaannya sangat darurat. Kita belum tahu sampai kapan mama Andien akan sembuh. Ayah sudah mengetahui kalian adalah anak-anak ayah, mana mungkin ayah membiarkan kalian sendirian, hmm!"
Tidak lama mobil mereka sudah tiba di rumah sakit. Dua mobil pengawal sudah siap mengamankan keluarga kecil ini untuk menjenguk Andien.
Reza berjalan terburu-buru sambil menggandeng dua tangan putrinya dan dua putranya menggandeng tangan dua saudara mereka.
Pengamanan yang cukup ketat di rumah sakit itu membuat Reza dan keempat anaknya lebih cepat berada di depan kamar ICU.
Reza berpapasan dengan tuan penguasa.
"Apakah kamu ayah anak-anak jenius ini?" Tanya tuan Edgar pura-pura tidak mengetahuinya.
Reza mengangguk dengan sopan.
"Saya sangat mengenal Andien selama bekerja dengan saya. Selama itu, saya belum pernah melihat senyum di wajahnya sekalipun. Apa lagi untuk tertawa lepas. Luka yang kamu timbulkan membuat dirinya enggan melihat dunia yang lucu ini sebagai bagian hiburan untuk dirinya. Hanya anak-anak ini yang mengembalikan jati dirinya saat ia sudah berada di rumah. Kembalikan lagi senyum diwajahnya anak muda!" Karena kamu yang telah merenggut kebahagiaannya." Ucap tuan Edgar sambil menepuk bahu Reza.
"Baik Tuan Edgar!" Terimakasih sudah mempertemukan saya dengan keempat anak saya.
Semoga tuan selalu sehat dan sukses." Ucap Reza dengan sedikit membungkukkan badannya sebagai bentuk hormat pada atasan wanitanya.
__ADS_1