
Calista dan Camilla duduk terpisah di dalam pesawat sambil melamun memandangi langit mendung yang cukup pekat di luar sana, karena tidak nampak taburan bintang yang menghiasi langit malam ini.
Walaupun begitu pesawat milik mereka tetap terbang di jalur aman walaupun harus menghindari turbulensi udara yang membuat badan pesawat beberapa kali bergetar.
Keduanya beberapa kali mengusap air mata kala mengenang dua putra mahkota yang sangat baik kepada mereka, namun mereka tidak bisa mengatakan kata-kata perpisahan hanya sekedar membuat keduanya tidak perlu berprasangka buruk pada mereka.
Sementara Al dan Fariz memilih tidur usai membaca komik kesukaan mereka. Sedangkan Reza dan Andien sedang menjaga empat malaikat kecil yang sedang bergantian menyusu pada Andien sehingga dadanya dibiarkan terbuka lebar begitu saja sambil menjaga dua putranya yang sedang berlomba menyedot makanan mereka dengan begitu rakusnya.
Baby kembar empat yang saat ini sudah memasuki usia delapan bulan tampak menggemaskan. Tubuh keempatnya yang makin montok dengan kecantikan dan ketampanan yang diwarisi oleh kedua orangtua mereka menjadi sempurna pada keempat anaknya pasutri ini.
Reza menikmati perannya sebagai ayah untuk pertama kalinya melihat setiap perkembangan empat bayi keduanya ini tumbuh di hadapannya.
"Sayang!"
"Hmm!"
"Apakah kamu menyusui mereka sampai mereka melepaskan sendiri makanan mereka dari dada mu?"
"Jika di paksakan untuk dilepas sebelum mereka merasa kenyang, maka mereka makin tambah menyedot lebih kencang dan itu membuatku sakit."
"Apakah mereka tidak tahu kalau itu punya ayahnya?"
Andien tersipu malu mendengar ucapan Reza.
"Sabar pak Reza!" Masa kontraknya satu tahun setengah lagi."
"Itu kelamaan sayang." Keluh Reza terlihat merana.
"Sesuai anjuran Rasulullah. Lihatlah keempat anakmu yang pertama! Mereka tumbuh sehat dan jenius tanpa mengalami sakit yang berarti, selama mereka melalui masa balita karena ASI membuat tubuh mereka menjadi kebal dari penyakit dan otak mereka sangat cerdas.
Jika seorang ibu tulus menyusui bayinya dan seorang ayah yang mendukung istrinya selama proses menyusui, insya Allah perkembangan otak bayi mengalami peningkatan yang amat signifikan." Terang Andien.
"Masya Allah!" Apakah karena itu keempat anak pertamaku sangat jenius?"
"Itu adalah keberkahan dari Allah dan sesuai juga dengan faktor genetik serta bimbingan yang optimal yang kita berikan kepada anak-anak kita.
Jadi singkatnya sebagai orang tua yang cerdas, harus menerapkan simulasi belajar pada anak sejak bayi, dengan begitu rangsangan pada otak anak akan menarik minatnya pada ilmu pengetahuan dan membentuk skill mereka sejak dini akan minat dan bakat yang terdapat dalam diri mereka."
"Maafkan aku sayang!" Aku tidak melalui tahap awal bersama keempat anakku yang pertama." Lagi-lagi Reza terlihat menyesal.
"Masih ada kesempatan untuk mas Reza dengan kehadiran keempat malaikatmu ini." Ucap Andien lalu mencium dua putranya yang sudah terlelap tidur dengan dua put*Ng miliknya yang sudah terlepas dari mulut mereka.
Reza membaringkan keempatnya di tengah sambil menjaga disisi tempat tidur.
"Kamu tidurlah sayang!" Biarkan aku menjaga mereka. Ini sudah hampir jam sebelas malam." Titah Reza.
__ADS_1
"Apakah mas Reza sudah memeriksa kembar empat yang ada di luar?" Tanya Andien cemas.
"Baiklah kalau begitu aku ngecek keempatnya sebentar."
Reza melihat keempat anaknya sudah pada terlelap. Iapun menyelimuti keempatnya dengan selimut tebal. Salah satu pramugari menghampirinya.
"Apakah butuh sesuatu tuan?"
"Siapkan roti burger dan ketang goreng untuk aku dan istriku!" Pinta Reza sambil membenahi selimut milik Al dan Fariz.
"Baik Tuan."
Reza menghampirinya Camilla yang terdengar sesenggukan dalam lelapnya. Rupanya masih ada sisa air matanya yang menggenang di ujung kelopak mata putrinya.
"Sayang!" Apa yang membuat bidadari ayah sesedih ini?" Tanya Reza sambil mengusap lembut bulir bening itu dari kelopak mata putrinya, Camilla.
Iapun mengecup kening putrinya dan membaca selawat pada ubun-ubun kepala Camilla.
Pramugari memberikan baki pada Reza yang sudah berisi pesanannya serta satu teh manis hangat dan susu untuk Andien.
"Terimakasih mbak Celin!" Ucap Reza pada pramugari itu.
Reza kembali ke dalam kamarnya dan mengajak Andien untuk makan lagi agar perutnya kembali terisi usai menyusui keempat bayi mereka.
Jika sudah berdua dengan Andien, Reza selalu memangku Andien jika keduanya belum tidur.
Bagi Reza Andien adalah kesenangannya setelah melepaskan segala kepenatan pekerjaannya di perusahaan.
Bagi Andien, di manjakan oleh suaminya adalah kepuasan untuk dirinya yang sangat mendambakan perhatian Reza. Karena keromantisan Reza membuatnya tidak bisa mengeluh sekalipun ia lelah.
Andien menikmati makanannya dalam pangkuan sang suami." Anak-anak sudah tidur sayang?" Tanya Andien sambil mengunyah burgernya.
"Sudah sayang!"
"Semoga mas Reza adil pada anak-anak kita dalam memperhatikan tumbuh kembang mereka agar keempat kakaknya tidak iri dengan kehadiran keempat adik mereka." Ujar Andien mengingatkan suaminya.
"Insya Allah sayang!" Tapi aku lebih ekstra perhatian pada ibunya yang sudah melahirkan delapan anak untukku yang sangat hebat." Goda Reza.
Andien hanya terkekeh dengan wajah tomatnya. Reza kagum dengan tubuh Andien yang terlihat kembali ramping dalam waktu tiga bulan pasca melahirkan bayi mereka.
Tubuh Andien terlihat lebih bugar dan tetap se*y di pandangan suaminya. Itulah yang membuat Reza tidak tahan untuk selalu melakukan percintaan panas dengan Andien yang sudah memasang alat kontrasepsi berupa spiral karena sudah diperbolehkan oleh dua dokternya yang merawatnya selama masa pemulihan penyakitnya.
...----------------...
Keesokan harinya, pangeran Fatih menghubungi nomor ponsel Camila namun tidak aktif. Sudah tiga kali pria tampan ini menghubungi guru kecilnya itu. Karena merasa penasaran, ia pun meminta pengawalnya untuk mengantarnya ke kediaman Calista.
__ADS_1
"Ada apa dengan gadis itu?" Mengapa ponselnya tidak aktif?" Keluhnya sambil mondar-mandir di dalam kamarnya dengan hati cemas.
"Mungkin gadis itu sedang mematikan ponselnya tuan!" Sebaiknya tunggu lagi satu jam kemudian!" Baru tuan bisa menghubunginya lagi." Ucap pengawal Hamid.
"Sejam katamu?" Lima menit saja untuk menunggu putaran jarum jam itu berputar, sudah membuatku sesak, apa lagi menunggunya dalam waktu satu jam lagi hampir membuatku sakrat di sini. Saranmu itu sangat tidak berguna saat ini untukku." Ucap pangeran Fatih menahan geram.
"Tapi tuan...?"
"Diam!" Atau aku suruh kamu push up dua ratus kali." Ancam pangeran Fatih.
"Maaf Tuan!"
"Lebih baik kita ke rumahnya. Lagi pula aku ingin antar oleh-oleh khas Maroko untuknya. Calista juga suka dengan kurma Tunisia dan manisan dari buah aprikot kering." Ucap pangeran Fatih sambil menyerahkan oleh-oleh pada pengawalnya untuk di bawa ke mobil.
Keduanya segera berangkat ke rumah Calista di ikuti mobil pengawal lainnya.
Sementara apa yang dirasakan pangeran Fatih kini dirasakan juga oleh Davin. Perasaan cemas yang dirasakan yang sama dengan pangeran Fatih yang ingin mendatangi rumah Camilla dengan membawa cincin giok yang diberikan oleh sang kakek sebelum meninggal dunia.
Cincin milik almarhumah istrinya itu sengaja ia simpan untuk cucunya Davin agar memilih sendiri gadis pujaannya. Jika sudah yakin gadis itu menjadi calon istrinya, sematkan cincin giok hitam itu untuk gadisnya.
"Camilla!" Kamu yang berhak mengenakan cincin peninggalan ibu suri ini, sayang." Batin Davin sambil menyetir mobilnya.
Yang paling menarik, mobil kedua pangeran tampan ini berhenti bersamaan di depan mansion milik gadis mereka sambil berhadapan.
Keduanya turun dari mobil dan mendapati para prajurit angkatan darat bersiaga di depan kediaman Andien. Sementara pintu pagar tinggal menjulang itu di gembok dari luar dengan penjagaan ketat.
Keduanya saling berpandangan satu sama lain lalu menghampiri salah satu prajurit yang berdiri seperti patung sambil memegang senjata miliknya.
"Maaf Tuan!" Kenapa pintu pagar ini di gembok?" Tanya pangeran Fatih namun tidak di gubris oleh prajurit itu.
Pengawal Hamid mendekati prajurit itu dan membisikkan sesuatu kepada prajurit itu sambil memperlihatkan lencana kerajaan miliknya membuat prajurit itu tersentak dan ia pun spontan menjawab.
"Keluarga nyonya Andien telah mutasi ke negara asalnya Indonesia dan penyebabnya saya tidak paham dan tidak diberitahu alasannya." Ucap prajurit itu tegas.
Glekkk...
"Apaaaaa....?!" Tanya keduanya dengan wajah tercengang.
Baik pangeran Fatih dan Davin langsung lemas seakan nyawa mereka keluar dari raganya.
Jika ini mimpi buruk, rasanya mereka ingin cepat bangun, sayangnya ini nyata bagi mereka.
....
Vote dan like nya cinta 🙏🤗
__ADS_1