PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
56. Lupakan Masa Lalu!


__ADS_3

"Sayang!" Tolong jangan lagi memikirkan masa lalu!" Pikirkan masa depan kita. Karena apapun yang kamu keluhkan tidak akan mengubah sejarah hidup kita.


Kedua orangtuaku sangat menyesali perbuatan mereka padamu di masa lampau. Mungkin kata-kata maaf tidak cukup untuk mewakili kata-kata mereka. Begitu juga aku yang menjadi pemicu dirimu pergi dari tanah air dan meninggalkan semuanya karena sakit hati.


Namun, seiringnya waktu akhlak kita yang akan menunjukkan ketulusan cinta kita, begitu juga dengan orangtuaku yang ingin memperbaiki semuanya walaupun itu sangat terlambat bagi mereka." Ucap Reza dengan wajah sendu.


"Tapi aku masih sakit hati mas Reza!" Aku belum bisa berdamai dengan kesalahanku saat mengetahui ayahku meninggal dunia karena telah gagal mendidik ku." Ucap Andien sedih.


"Itu juga yang aku sesalkan sampai saat ini sayang. Andai saja saat itu kamu siap menerimaku, mungkin kita tidak perlu menunggu selama ini untuk kembali bersatu." Sesal Reza.


"Mas Reza!" Aku memang mencintaimu, tapi bagaimana dengan keluargaku yang butuh kekuatan untuk berani menerima semua resiko ke depannya. Entah cacian dan hinaan yang akan mereka terima karena diriku." Andien masih saja berdebat tentang masa depan yang belum pasti.


"Lantas, sekarang kamu maunya aku harus bagaimana Andien?" Apakah kamu tidak lelah untuk bersembunyi dari keegohanmu demi sebuah reputasi?"


"Lihat kekuargaku?" Apakah setelah mereka ingin membungkam mu dengan selembar cek, apakah batin mereka bahagia?" Justru kekayaan yang kami miliki makin menghimpit hati kami karena perbuatan kami padamu.


Ayahku saat ini masih dirawat di rumah sakit karena tidak sanggup melihat putrinya diceraikan oleh suaminya karena tidak dikaruniai keturunan hingga usia pernikahan mereka memasuki sepuluh tahun.


Hukuman apa lagi yang harus kami terima darimu Andien?" Tanya Reza yang terlihat sudah berkaca-kaca.


"Aku tidak tahu, tapi aku ingin kalian merasakan bagaimana rasanya direndahkan, bagaimana rasanya dipermalukan dan bagaimana rasanya kehilangan. Mungkin dengan itu semua, rasanya menjadi impas." Ungkap Andien hingga terasa sesak di dadanya mulai berkurang.


"Yang kamu inginkan, saat ini sedang kami alami. Jika kamu ingin kedua orangtuaku atau akulah yang penyebab kamu menderita, silahkan hukum aku Andien!" Ucap Reza yang begitu takut membuat Andien murka kepadanya.


Andien menangis sesenggukan, karena hatinya juga menderita karena dendam. Menghukum orang yang sangat dicintainya sama saja menabur garam di atas luka yang akan menambah perih.


Bukan dia yang akan menderita namun kita sendiri yang pernah tersakiti turut merasakannya. Jika kamu ingin membalas dendam mu kepada orang yang kamu cintai, maka tanam dalam hatimu perasaan benci, sehingga balasan itu akan terasa sangat memuaskan.


"Cup...cup...cup..sayang!" Reza memeluk istrinya, mengeratkan pelukannya pada tubuh lemah itu. Sakitnya cukup menghukum dirinya karena ketakutan akan kehilangan itu, jauh lebih sakit, di bandingkan saat kau ingin ia tetap ada dan melihatnya ia membencimu setiap saat.


"Aku sangat membencimu, mas Reza!"

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu Andien!"


"Aku tidak ingin melihat wajahmu...hiks..hiks!"


"Aku merindukanmu setiap saat!"


Reza menangkup wajah pucat Andien dan menatapnya sesaat. Bibir sensual itu akhirnya menjadi halal untuknya. Ia tidak perlu menjadi kucing lagi untuk mencari kesempatan bisa mengecup bibir itu.


Ciuman keduanya dalam tangisan karena kerinduan yang menumpuk terhalang dendam yang tak kunjung terbenam di hati Andien. Cinta yang besar akan mengalahkan sakit yang pernah kita rasakan.


Ciuman itu lebih kepada rasa cinta bukan lagi peran syahwat yang bermain di hati keduanya. Tuhan telah menghalalkan mereka untuk saling menyentuh tanpa perlu memendam rasa karena takut akan salah.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Setelah Andien cukup kuat fisiknya yang terlihat kembali segar, dokter akhirnya memutuskan untuk melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang yang diambil dari tubuh Agam karena lebih memiliki jumlah kromosom yang sama dengan Andien.


Operasi itu berjalan lama dan cukup menegangkan bagi keluarga mereka Reza memangku Calista, Camilla tidur di pangkuan omanya dan dua putranya hanya membaca buku untuk mengusik kejenuhan mereka di kamar inap milik ibunya.


"Ayah!" Apakah operasi mama masih lama?"


"Ayo kita ke kantin!" Ajak Adam.


"Ibu juga harus makan!" Jangan terlalu memaksakan untuk menunggu operasinya Andien ibu. lebih baik ibu istirahat di kamar inap Andien!" Pinta Reza yang tidak tega pada ibu mertuanya karena hampir seharian mereka berada di depan kamar operasi.


Cek ..lek ..


Pintu kamar operasi itu akhirnya terbuka. Dokter Remon keluar dengan wajah lelah namun tergambar jelas rasa puas dari hasil kerja tim mereka. Reza dan Adam langsung berdiri mendekati dokter dan kompak menatap wajah tampan dokter itu sesaat.


Hati mereka menunggu dengan cemas. Siapkan mental untuk mendengar hal yang terburuk walaupun logika mereka menendang jauh perasaan pesimis itu.


"Operasinya berjalan lancar. Kita tunggu saja hasilnya, semoga ikhtiar kita membawa kesembuhan untuk nona Andien." Ucap dokter Remon sumringah.

__ADS_1


"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah!" Ucap mereka bersamaan.


"Tapi, operasi ini tidak menjamin pasien seratus persen sembuh, tapi kita harus tetap berusaha mengobati nona Andien sampai sembuh, sisa urusan Tuhan untuk mengembalikan kesehatan nona Andien pada tahap semula. Semangat tuan Reza!" Tunggu sebentar lagi, keduanya akan di pindahkan ke kamar inap mereka. Saya permisi dulu semuanya!" Pamit dokter Remon kembali ke ruang kerjanya bersama tim dokter lainnya yang hanya mengangkat jempol mereka pada keluarga Andien.


"Terimakasih dokter semuanya!" Ucap Reza dan lainnya.


"Apakah mama tidak akan sakit lagi?" Tanya anak-anak antusias.


"Insya Allah sayang!" Semoga mama bisa sembuh seperti sedia kala.


"Horeee!!!" Ucap keempatnya lalu saling melakukan tos diantara mereka.


Nyonya Yuni tersenyum bahagia melihat keceriaan cucunya. Masa-masa sulit telah mereka lewati. Reza mencium tangan mertuanya dan memeluk Adam sebagai ungkapan syukurnya.


Keempat anaknya kompak meminta gendong kepadanya.


"Aduh...!" Ayah tidak kuat menggendong kalian berempat, bisanya cuma peluk.


Keempatnya masuk dalam rangkulan ayah mereka.


"I love you Daddy!" Bisik mereka yang masih memendam dalam pelukan hangat ayah mereka.


Brangkar Andien dan Agam di pindahkan ke kamar inap mereka masing-masing. Agam di temani Adam dan ibunya, sementara Andien bersama suami dan keempat anaknya.


Keluarga itu sangat bahagia dalam kebersamaan. Reza terus mencium pipi tirus istrinya. Wajah keduanya menyiratkan rasa bahagia yang tak akan habisnya. Adam keluar mengajak keponakannya untuk makan sandwich di kantin rumah sakit untuk memberikan kesempatan lebih banyak kepada Reza dan Andien berdua saja.


Tidak lama dokter Remon kembali datang ke kamar Andien.


Keduanya melihat dokter Remon yang ingin menyampaikan sesuatu pada mereka.


"Selamat nona Andien, semoga anda cepat sembuh. Tapi untuk kalian sebagai pasangan pengantin baru, saya harap dalam tiga bulan ini jangan dulu melakukan hubungan suami-istri karena untuk satu tahun ke depan nona Andien tidak boleh hamil dulu sampai ia di nyatakan sembuh."

__ADS_1


Deggg!"


Reza langsung menegang di tempatnya....


__ADS_2