
Reza membawa pulang putrinya Calista bersama ketiga anaknya menuju kediaman Andien.
Keempat anaknya tidak ingin menginap di tempat lain karena merasa nyaman di rumah sendiri, apa lagi Calista akan sulit beradaptasi jika tidak bersama dengan mama Andien yang bisa menyihir anak itu jika sulit tidur di tempat yang baru.
Mobil mereka memasuki gerbang utama rumah Andien yang sangat mewah, lebih mewah daripada kediamannya di Jakarta karena gaya arsitektur mansion Andien di desain langsung oleh arsitek ahli yang merupakan anak keturunan Indonesia yang kuliah di Colombia.
Keluarga kecil itu turun dari mobil dengan Calista yang masih di gendongan ayahnya. Pelayan yang sudah mengetahui siapa Reza dari acara televisi, menyambut ayah dari keempat anak majikan mereka dengan pelayanan yang baik.
"Selamat datang Tuan!" Sapa mereka serentak dengan wajah tertunduk.
"Assalamualaikum!" Selamat sore!" Ucap Reza tersenyum seadanya lalu menanyakan kamar anak-anaknya.
Dia kamar anak yang sudah terpisah antara Camilla dan Calista sendiri dan Fariz serta Al sendiri.
"Ayah!" Ini kamar aku dan Calista!" Ucap Camilla seraya membukakan pintu untuk ayahnya.
"Wah, kamar kalian sangat keren seperti kamar barbie." Puji Reza yang terlihat sangat iri dengan Andien yang mampu memberikan segalanya untuk keempat anaknya.
Reza membaringkan tubuh Calista secara perlahan, sementara Camilla langsung masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya dan keluar lagi melalui pintu walk in closet dengan pakaiannya santai.
"Ayah!" Ini sudah masuk waktu ashar sebaiknya kita sholat ashar berjamaah di mushola rumah ini." Ucap Camilla langsung menggandeng tangan ayahnya menuju ke mushola.
Di sana sudah menunggu beberapa pelayan muslim yang sedang mengumandangkan adzan dan berdiri rapi bersama dua putranya yang sudah siap dengan pakaian sholat mereka.
"Ayah!" Tempat wudhu lelaki di sana. Ajak Al mengantar ayahnya di samping musholla yang berhadapan langsung dengan kolam ikan dan sekelilingnya di tumbuhi beberapa bunga calatella
yang menghiasi kolam ikan koi.
Setelah bersuci, Reza di minta pelayan untuk menjadi imam. Reza pun maju di tempat mihrab lalu membaca doa sebentar dan mulai melakukan sholat ashar bersama penghuni mansion Andien.
Sholat didirikan dengan khusu hingga Reza terlihat sangat sedih di sholat itu. Hingga sholat berakhir air matanya tak kunjung berhenti turun sampai doanya di panjatkan untuk wanitanya yang lagi terbaring lemah di ruang ICU.
__ADS_1
Acara salam salaman dengan jamaah lelaki setelah itu ketiga anaknya.
"Tuan apakah anda butuh sesuatu, jika ingin makan bersama anak-anak sudah di siapkan dan kamar tamu untuk anda sudah kami rapikan." Ucap pelayan Abdullah.
"Terimakasih!" Ucap Reza sambil memangku Camilla.
"Ayah, tidur di kamar kami saja, ayah kan cowok." Ucap Fariz.
"Usiaku masih tujuh tahun berarti aku bisa tidur dengan ayah karena belum melalui masa haid." Ucap Camilla yang tidak ingin menjaga jarak dengan ayahnya.
Entah mengapa celoteh anak-anaknya yang sedang memperebutkan dirinya membuat dirinya merasa sangat bahagia walaupun masih terbalut kesedihan saat ini.
"Ayah!" Ayo kita makan dulu, beberapa pelayan sedang menunggu di ruang makan." Ajak Al.
Reza mengikuti langkah ketiga anaknya lalu duduk diantara mereka dilayani oleh pelayan. Mereka menikmati makanan Indonesia berupa nasi dan sup daging, ayam rica-rica dan ikan bakar baronang dan semuanya kesukaan Andien yang sudah memesan kepada pelayannya untuk memasak itu untuk mereka setelah acara peresmian aplikasi itu usai. Namun sayang, acara perayaan itu bukan bersama ibu mereka, malah acara ini menjadi acara penyambutan kedatangan ayah kandung mereka.
"Sayang!" Ucap Reza di sambut oleh Camilla dengan menunjukkan aturan ibunya yang tergantung di dinding.
"Di larang berbincang di saat sedang makan!"
Reza meneruskan makannya yang hampir habis dan tidak lama kemudian, pelayan sudah siapkan makanan penutup berupa puding coklat dan beberapa cemilan lainya untuk anak-anaknya.
Reza mengikuti semua yang dilakukan anak-anaknya di rumah wanitanya itu hingga mereka mengakhiri dengan membaca doa sesudah makan sebelum meninggalkan meja makan.
"Astaga!" Andien, semuanya serba teratur dan benar-benar disiplin mental anak-anak ini membuat aku kagum caramu membesarkan mereka." Gumam Reza membatin.
"Ayah, apakah ayah ingin melihat foto mama saat mama hamil kami dan menyusui kami?" Tanya Camilla.
"Emang ada, sayang.
"Ada!" Ayo ikut kami!"
__ADS_1
Reza berhenti di depan pintu yang bukan milik anak-anaknya." Ayo ayah!" Ini kamar mama Andien. Album fotonya ada di dalam kamar ini." Ucap Camilla yang merasa ayah dan mamanya sudah pernah menikah lalu mereka bercerai.
"Tapi, sayang ayah dan mama kalian...?"
"Sudah bercerai?" Kan bisa rujuk lagi ayah!" Ucap Fariz membuat Reza bingung menjelaskannya.
Karena terus di desak dan tidak ingin menolak permintaan ketiga anaknya, akhirnya Reza memberanikan diri masuk ke kamar wanitanya itu dengan resiko akan menerima kemarahan Andien.
Reza melihat kamar Andien yang cukup besar dengan beberapa hiasan dinding yang merupakan foto wanitanya saat masih kuliah hingga hamil dari usia kehamilan tiga bulan hingga delapan bulan dan perut Andien dua kali lipat besarnya seperti ibu hamil kembar dua.
Air matanya tidak dapat lagi tertampung di balik matanya yang tajam. Ia menatap foto satu persatu itu sambil merasakan penyesalan di dadanya yang kini terasa makin sesak.
Dan lebih membuatnya syok, keempat anaknya semuanya berada di tabung inkubator sedang di azan oleh saudara kembar Andien yaitu Adam dan Agam melalui video call yang sengaja difoto oleh tuan Leonardo untuk memberikan kejutan pada Andien.
Di saat itulah Reza berbalik merangkul ketiga tubuh anaknya sambil menangis di kamar Andien.
"Maafkan ayah, anak-anakku sayang!" Ayah menyesal...hiks... hiks..hiks!" Jerit Reza di tengah Isak tangisnya sedari tadi sudah memenuhi rongga dadanya.
Camilla menguraikan pelukannya untuk mengambil tisu untuk ayahnya, fariz menuangkan minum untuk ayah dan di berikan kepada lelaki itu, sementara Al, mengusap punggung ayahnya agar ayahnya bisa kembali tenang.
Reza melihat cara anak-anaknya melayani dirinya seolah semua sudah terlatih dengan sendirinya.
"MasyaAllah, bukan hanya otak kalian yang jenius, tapi akhlak kalian begitu luar biasa. Andien, bagaimana mungkin kamu membentuk kepribadian anak-anak kita hingga terlihat sangat sempurna dalam keseharian mereka." Lagi-lagi Reza membatin.
Baru saja tangisnya reda, Calista sudah masuk ke kamar ibunya di antar pelayan wanita sampai di depan pintu.
Mereka yang sedang duduk di sofa panjang milik Andien menyambut Calista.
"Sayang!" Kamu sudah bangun?" Tanya Reza saat Calista duduk di pangkuan ayahnya.
"Ayah temani Calista di sini dan jangan pergi lagi." Ucap Calista yang terlihat masih lelah.
__ADS_1
"Iya sayang!" Ayah ada di sini untuk kalian." Ucap Reza lalu mengecup pucuk kepala Calista dan ketiga saudaranya menyodorkan kepala mereka untuk di kecup Reza. Lagi-lagi Reza tersenyum kecil melihat tingkah anak-anaknya yang terlihat sangat menggemaskan dihadapannya.
Tidak lama kemudian, ponsel Reza berdering dan itu adalah panggilan video call dari sang ayah dan ibunya yang ingin bicara langsung dengan si kembar empat karena mereka melihat liputan berita hari ini di televisi luar negeri.