
"Ya Allah!" Kenapa harus ada larangan seperti itu?" apes deh!" Batin Reza sambil mengangguk menyanggupi saran dokter untuk kebaikan istrinya.
Andien menahan rasa geli nya, menatap wajah kecewa suaminya. Walaupun begitu ia tetap berpura-pura memasang wajah datar seperti biasanya, agar Reza tidak terlalu banyak menuntut kepadanya walaupun itu bagian dari haknya.
"Terimakasih dokter Remon!" Kami akan mengingat saran dokter." Ucap Reza dengan berat hati.
Dokter Remon meninggalkan kamar Andien untuk visit ke kamar pasien lain. Reza mendekati istrinya yang terlihat diam tanpa ada komentar apapun tentang saran dokter Remon.
"Kenapa Andien terlihat diam?" Apakah dia sengaja menghukum aku juga?" Ah!" lebih baik diam daripada banyak tanya hanya akan mendapatkan jawaban ketus darinya." Nafas Reza terasa makin sesak karena mengingat istrinya juga tidak mungkin melayaninya karena kondisi Andien yang tidak memungkinkan.
Tiga hari kemudian, Andien di perbolehkan pulang oleh dokter Remon dan keluarga merasa sangat lega terutama keluarga dari Andien yang sudah habis waktu cuti mereka.
Keluarga besar itu sudah berkumpul di rumah andien. Ibunya sengaja memasak makanan kesukaan Andien saat masih tinggal bersama dulu.
Andien yang senang dengan masakan gudeg dan juga sambal goreng krecek. Nyonya Yuni sengaja membawa bahan mentah yang bisa awet kalau di simpan.
"Wah!" Ibu sengaja masak ini untuk mbak Andien?" Goda Agam yang sudah duduk di meja makan.
"Iya Agam!" Lihat badan mbak kamu makin kurus. Ibu sengaja masak ini untuk mengembalikan selera makannya." Ucap Nyonya Yuni di sambut Andien dengan senyuman.
Walaupun masih banyak lauk pauk yang tersaji di meja itu, keempat anak Andien ingin menyicipi masakan daerah mama mereka.
Andien mulai peran pertamanya melayani suaminya lalu ibu dan anak-anaknya. Reza ingin mencegah itu, namun ibunya Andien memberi kode untuk Reza diam karena itu adalah bagian dari ajarannya.
"Silahkan makan mas Reza!" Ucap Andien lembut.
"Ayah pimpin doa makan ya!" Pinta Camilla.
Semuanya serius membaca doa dan mulai menikmati makanan mereka kecuali keempat anak Andien yang berulang kali meneguk minumannya.
Ingin rasanya mereka mengomentari makanan daerah ibu mereka, namun karena peraturannya tidak boleh ngomong saat makan membuat keempatnya hanya mengganti makanan mereka dengan makanan lain.
Reza mengambil makanan anak-anaknya agar tidak terbuang percuma dan ia dengan senang hati menghabiskan makanan sisa keempat anaknya.
"Huh!" Alhamdulillah, untung ada ayah sang penyelamat kita." Batin Fariz mengelus dadanya.
Setelah menyelesaikan hidangan makan siang, keempat anaknya langsung lari ke kamar mereka untuk berdiskusi tentang makanan aneh yang mereka rasakan.
"Masakan Oma rasanya aneh, yang satu rasanya sangat manis dan yang satu lagi rasanya sangat pedas, seperti kehidupan kita aja." Ujar Al.
"Tapi kita harus bersyukur karena ada ayah yang menyelamatkan kita dari amukan mama jika tidak menghabiskan makanan." Timpal Fariz.
"Ada yang sedang gosip tentang ayah?" Reza sudah berdiri di pintu sambil bersedekap.
__ADS_1
"Ayahhhh!" Camilla menarik tangan ayahnya agar masuk ke kamar mereka."
"Ayah, terimakasih sudah menyelamatkan kami dari amukan mama." Ujar Camilla.
"Apakah mama selalu marah jika kalian tidak menghabiskan makanan?" Selidik Reza.
"Mama pernah memperlihatkan kami tontonan anak-anak korban perang dan anak-anak yang tinggal di negara yang sangat sulit mendapatkan pangan dan minuman bahkan berebutan dengan binatang saat meminum air.
Setelah melihat tayangan itu, kami semua menangis karena tidak tega melihat kondisi mereka yang sangat menyedihkan.
Sejak saat itu kami tidak pernah membuang makanan dan selalu mengambil sesuai dengan porsi yang kami mau." Ungkap Calista.
"Kalau kami buat kesalahan, mama selalu ceramah melebihi mahasiswa yang buat makalah." Timpal Calista membuat Reza hanya tersenyum membayangkan betapa disiplinnya istrinya mendidik anak-anaknya.
"Andien!" Itukah didikan mu yang membuat keempat ini menjadi jenius?" Batin Reza yang tak pernah habis dihatinya untuk sang istri.
Setiap kali mendengar kelebihan istrinya dalam hal apapun, lagi-lagi Reza selalu merasa menyesal mengabaikan Andien saat gadis itu memohon kepada-nya untuk bertanggungjawab.
"Masya Allah!" Mama kalian sangat hebat mendidik kalian!" Puji Reza dengan rasa haru.
"Istri siapa dulu dong. Ayah gitu lho!" Ucap Al-Ghifari, membuat semuanya terkekeh.
Andien berdiri membelakangi anak dan suaminya yang sedang membicarakan dirinya.
Degg....!"
"Astagfirullah!" Mama ngagetin aja." Sentak mereka semua.
"Mama!" Maafin kita ya!" Sudah membuat mama sedih. Untung ada suami mama yang hebat ini menghabiskan makanan kami." Ucap Al.
"Dasar anak-anak nakal!" Ucap Andien sambil menahan tawanya yang hampir pecah.
"Sayang!" Kita ke kamar yuk!" Ajak Reza agar istrinya tidak menceramahi anak-anaknya lagi.
Reza merengkuh pinggang istrinya sambil mengedipkan sebelah matanya pada keempat anaknya sedang mengangkat dua jempol mereka kepada Reza.
"Ternyata, anak-anak kita sangat kocak ya sayang!" Ucap Reza.
"Biasa saja!" Ujar Andien yang tidak ingin melihat suaminya memanjakan ke empatnya.
"My Daddy my Hero!" Ucap Camilla di sambut kekehan saudaranya.
Ketika sudah berada di kamar, Andien memberi tahu suaminya kalau ibu dan dua saudara kembarnya besok akan pulang karena waktu cuti mereka sudah selesai.
__ADS_1
"Apakah kamu merasa sedih sayang?" Andien mengangguk membenarkan pertanyaan suaminya.
"Apakah kehadiranku tidak cukup menghibur?"
"Aku sangat bahagia ada mas Reza di sampingku saat aku sedang melawan penyakit ku. " Ungkap Andien.
"Benarkah?"
"Hmm!"
"Alhamdulillah, terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu." Muaacch." Satu kecupan mesra Reza pada sang istri membuat Andien tertunduk malu.
Keesokan harinya, keluarga Andien sudah siap berangkat ke bandara.
"Kalian tidak usah antar!" Cegah nyonya Yuni.
"Tapi ibu, aku bisa mengantarkan kalian." Ucap Reza.
"Tugasmu menjaga putriku!" Sela nyonya Yuni.
"Baiklah!" Terimakasih ibu dan mohon maafkan Reza." Ucap Reza mencium punggung tangan ibu mertuanya.
"Terimakasih Adam!" Sudah menikahkan aku dengan saudara mu!"
"Jaga dia bro!" Jangan pernah menyakitinya lagi.
"Paman Agam...hiks...hiks!" Terimakasih sudah mendonorkan sum-sum tulang belakang untuk mama!" Ucap Calista sedih.
"Sayang!" Itulah pentingnya saudara, jika semua orang meninggalkan kita, saudara yang selalu ada untuk kita. Kalian berempat harus kompak dan tidak boleh saling bertengkar!" Ucap Agam.
"Apakah paman Adam tidak lagi mendapat cinta dari kalian?" Adam terlihat iri pada adiknya Agam yang mendapatkan perhatian keponakannya.
"Paman Adam!" Ketiganya memeluk Adam kecuali Camilla yang terlihat segan pada pamannya karena ucapannya tempo hari.
Adam yang mengetahui perasaan ponakannya itu lalu mendekati Camilla yang hanya mengusap air matanya dan sedikit menjauh dari mereka.
Reza yang ingin menghampiri putrinya langsung di cegah oleh Andien.
"Biarkan mereka berbicara untuk menyembuhkan luka hati yang pernah tersakiti oleh kata." Ucap Andien.
"Camilla!" Apakah kamu masih membenci paman?"
"Paman Adam orang baik, Camilla sangat benci dengan perpisahan. Maafkan Camilla pernah menyakiti paman!"
__ADS_1
Keduanya berpelukan dan Adam menggendong keponakan kesayangannya itu.