PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
114. Dipermalukan


__ADS_3

Enam bulan berlalu, hubungan Camilla dan Farhan terlihat makin serius. Farhan ingin mengenakan calon istrinya pada ibunya.


Kebetulan sekali kerabat Farhan sedang mengadakan pesta pernikahan di salah satu gedung yang ada di kota Bandung. Dengan senang hati Farhan membawa Camilla dalam acara tersebut, di mana keluarga besarnya berkumpul di acara itu.


Acara yang hanya berlangsung selama dua jam itu sesuai dengan jam sewanya berlangsung dengan cepat. Para tamu undangan mulai meninggalkan tempat acara karena akan ada acara selanjutnya untuk pengantin lain.


Di saat sudah mulai sepi di dalam gedung itu, walaupun masih banyak kerabat yang ingin foto bersama dengan pengantin termasuk Camilla dan Farhan.


"Terimakasih Aa Farhan! sudah datang ke acara pernikahan aku." Ucap Anggita pada sepupunya.


"Iya sama-sama. Doakan kami berdua semoga segera menyusul. " Ucap Farhan percaya diri.


"Wah, calon istrinya cantik sekali Aa." Puji Anggita lalu menyalami Camilla yang hanya menebar senyumannya pada pasangan pengantin baru itu.


Kini Farhan yang sedang melihat ibunya yang sedang duduk bersama beberapa saudara kandungnya sambil bercerita apa apa saja diantara mereka.


"Camilla!" Itu ibuku." Ayo aku kenalkan kepada beliau." Ucap Farhan yang memang belum pernah membawa Camilla ke rumahnya.


Walaupun belum pernah bertatap muka, rupanya Farhan sudah banyak menceritakan tentang Camilla kepada ibunya.


Namun sayang, fitnah keji yang disampaikan oleh seseorang kepada ibunya Farhan membuat wanita paruh baya ini tidak menyukai Camilla dan iapun sudah memutuskan untuk tidak menerima Camilla untuk menjadi menantunya.


Camilla berjalan mengikuti langkah Farhan sambil bergandengan tangan.


"Ibu!" Sapa Farhan seraya mencium tangan dan kedua pipi ibunya.


"Eh, Farhan!" Kamu baru datang?" ibu kira kamu lebih mementingkan kekasihmu dari pada keluargamu." Sindir nyonya Tata sambil melirik wajah Camilla dengan sinis.


"Maaf ibu!" Farhan banyak kerjaan. Farhan bawa calon menantu ibu. Camilla kenalin ini ibuku. Ibu ini yang namanya Camilla yang sering Farhan ceritakan." Ujar Farhan sambil menarik tangan Camilla.


Nyonya Tata langsung berdiri dan melihat wajah Camilla. Ketika Camilla menyalami dan mencium tangan wanita paruh baya itu, nyonya tata menarik tangannya dan enggan untuk dicium Camilla.


"Cantik sih, tapi sayang kamu hanya anak dari hasil hubungan zinah." Ucap nyonya Tata membuat Camila terhenyak.


"Ibu!" Sentak Farhan.


"Aku dengar kamu dan ketiga saudara kembarmu yang lain adalah anak di luar nikah. Mana mungkin aku bisa menerima menantu dari keturunan bejad kedua orangtuamu yang terlihat terhormat namun menyimpan masa lalu yang busuk." Umpat nyonya Tata dengan lidahnya yang sangat tajam.


Camilla mengepalkan kedua tangannya sambil menahan bulir bening yang hampir jatuh dengan dada yang terdengar bergemuruh.

__ADS_1


"Aku tidak sekaya keluargamu, namun keluargaku sangat menjunjung tinggi moral dan agama. Lebih baik menjauh dari putraku karena aku tidak sudi memiliki menantu dari keluarga yang tidak bermoral seperti kedua orangtuamu itu." Umpat nyonya Tata makin menyudutkan Camilla yang berdiri tegak dengan wajah yang tetap tegar menatap wajah ibu dari kekasihnya itu.


"Apakah ibu sudah selesai menghinaku dan juga kedua orangtuaku?" Tanya Camilla nampak tenang dan terlihat angkuh karena tidak ingin tunduk apa lagi takut didepan ibunya Farhan.


"Jika aku bisa memilih, rahim mana yang ingin aku tempati, mungkin aku tidak akan memilih untuk dilahirkan menjadi anak dari hubungan diluar nikah.


Terlepas kesalahan orangtuaku dimasa lalu, aku tetap bangga menjadi putri mereka dengan segala kekurangan yang mereka miliki. Ibuku tetap memberikan pendidikan yang terbaik untuk kami dan membentuk kepribadian kami untuk selalu menjaga akhlak kami dari perbuatan maksiat karena kesalahannya di masa lalu. Seorang pelacur masih berharap anaknya menjadi manusia. mulia, apa lagi ibuku yang hanya manusia biasa yang pasti tidak terlepas dari khilaf dan dosa.


Terimakasih atas penghinaan ibu dan semoga keturunan ibu tetap terjaga dari moral yang memalukan seperti keluargaku." Ucap Camilla lalu keluar dari gedung itu dengan langkah seribu.


"Camilla tunggu sayang, jangan pergi!"


"Farhan!" Kamu lebih memilih anak haram itu daripada ibumu?" Cegah nyonya Tata.


"Ibuuu!" Pekik Farhan kembali memenangkan ibunya.


Sementara itu anak buahnya Davin yang sejak tadi menyamar sebagai pelayan di gedung itu, menghubungi Davin yang ada di luar gedung dan menceritakan segalanya tentang Camilla yang dipermalukan oleh ibunya Farhan.


Davin segera berlari menuju gedung itu dan melihat Camilla keluar dari gedung itu dengan langkah yang mulai gontai sambil menahan kepalanya yang terasa sangat pusing.


"Ayah...mama!" Aku bukan anak haramkan?" Lirihnya lalu jatuh pingsan tepat di saat itu Davin berhasil menangkap tubuh Camilla. Davin menggendong tubuh Camilla dan membawanya ke mobilnya.


Kedua anak buahnya Davin segera membuka pintu mobil untuk Davin dan Camilla.


Farhan yang baru keluar dari gedung itu usai berdebat dengan ibunya mencari sosok Camilla namun tidak ditemukan gadis itu.


Iapun bertanya pada orang disekitarnya namun tidak ada yang mengetahui Camilla.


"Camilla... Camilla!" Teriak Farhan sambil mencari Camilla di setiap tempat parkiran mobil namun tidak juga menemukan Camilla.


Ia pun kembali lagi ke dalam gedung itu dan melampiaskan amarahnya pada ibunya.


Dengan wajah garang ia mendatangi ibunya yang terlihat puas menghina kekasihnya.


"Ibu..!" Mengapa ibu tega menghina Camilla dan dari mana ibu mengetahui informasi omong kosong itu?"


"Kamu kira ibu tidak mencari tahu siapa keluarga gadis yang kamu puja-puja itu?"


"Tapi setidaknya ibu memiliki hati nurani sedikit saja untuk tidak mempermalukan dirinya di hadapan keluarga kita.

__ADS_1


Jika ibu tidak menyukainya, ibu bisa mengatakannya kepadaku, tanpa harus menghinanya seperti itu. Perbuatan ibu lebih memalukan dari penghinaan ibu pada keluarga Camila." Ucap Farhan lalu meninggalkan ibunya dan mencari Camilla di tempat kosnya.


Setibanya di villa. Camilla dibaringkan di ranjang milik Davin. Pria tampan ini mengoleskan minyak kayu putih pada kening dan tangan Camilla yang sangat dingin.


"Camilla!" Buka matamu sayang!" Pinta Davin yang ikut merasakan kesedihan Camilla.


Davin sudah melihat tayangan video yang sengaja di rekam oleh anak buahnya saat Camilla dihina oleh ibunya Farhan.


"Nyonya kau akan membayar atas setiap ucapanmu karena aku punya bukti yang akan mempermalukan dirimu sehingga kau tidak bisa memperlihatkan wajahmu lagi pada orang lain." Batin Davin.


Camilla masih belum sadar juga, walaupun Davin sudah berupaya memberinya alkohol agar gadis itu cepat siuman.


Iapun meminta anak buahnya untuk menghubungi dokter agar memeriksa keadaan Camilla.


Belum sempat ia menghubungi anak buahnya, Camilla mulai mengerjapkan matanya. Davin terlihat panik sendiri karena merasa bingung untuk menjelaskan kepada Camilla bagaimana dia bisa bertemu dengan gadis ini.


"Ya Tuhan!" Apa yang harus aku jawab jika dia mengenali aku dan bertanya tentang diriku?" Batin Davin.


"Aku ada di mana?" Tanya Camilla berusaha bangun namun kepalanya masih terasa pusing.


Camilla berusaha mengingat lagi peristiwa memalukan yang terjadi pada dirinya hari ini. Ia lalu menatap wajah tampan Davin namun tidak mengenali wajah itu sama sekali. Tapi, manik biru Davin yang terlihat tidak asing baginya namun ia takut untuk menebak lelaki itu adalah Davin.


"Apakah anda yang telah menolong aku tuan?" Tanya Camilla sambil menatap wajah Davin sendu.


Camilla berbicara dalam bahasa Inggris karena melihat tampang Davin seperti bule.


Degggg..


"Ternyata Camilla tidak mengenali wajahku." Batin Davin terlihat sedih.


"Aku mau pulang Tuan!" Ujar Camilla sambil beringsut dari tempatnya.


"Jangan pergi Camilla!" Cegah Davin sambil memeluk erat tubuh gadisnya yang sangat ia rindukan selama ini.


Degggg....


"Kau...!"


Tampilan Davin...

__ADS_1


p



__ADS_2