
Pesawat jet pribadi milik keluarga Reza tiba di bandara Jakarta dengan jarak tempuh sekitar
823 km, dengan kecepatan penerbangan 900 km / jam, dalam waktu tempuh 22 jam lewat satu menit.
Berarti tiba di Jakarta Indonesia sekitar pukul 05.00 pagi, di hari berikutnya. Perbedaan waktu antara Bogota Jakarta adalah 12 jam.
Asisten Rendy menjemput keluarga itu dengan mobil mewah Limosin. Rania dan nyonya Susan ikut serta dalam penjemputan itu karena Andien membawa empat bayi yang sudah cukup besar karena bobot bayinya cukup lumayan berat, jika di gedong satu orang untuk dua bayi.
Nyonya Susan tidak mampu menguasai emosinya karena haru. Baru saja Reza turun dari tangga dengan membawa Kenan dan Kenzo, nyonya Susan sudah berteriak histeris.
"Oh, cucuku!" Mana yang Kenan dan mana Kenzo?" Tanya Nyonya Susan untuk membedakan keduanya.
"Yang kanan Kenan dan yang kiri Kenzo, mami." Ucap Reza membiarkan maminya mau menggendong putranya yang ia inginkan.
"Kenan sama nenek ya."
Nyonya Susan mengambil Kenan yang sedang menatap wajah neneknya dengan sedikit bingung karena baru melihat wajah baru.
Tidak lama Andien turun membawa dua bayi perempuannya yaitu Shena dan Sheila.
Rania menyambut keponakannya Sheila.
"Wah, Cantik sekali. Tante Rania punya kembar jagoan dua-duanya, sekarang punya dua bidadari yang montok." Ucap Tante Rania yang memiliki si kembar berjenis kelamin laki-laki dengan usia bayi sebulan lebih muda dari kembar empat milik abangnya Reza.
Tidak lama kemudian, menyusul Al dan Fariz lalu diikuti oleh dua putri cantik Reza yaitu Calista dan Camilla yang terlihat masih belum move on.
"Sekarang kita dicuekin karena ada adik bayi kembar empat lainnya." Ucap Al terlihat iri.
"Siapa bilang dicuekin?" Ucap nyonya Susan, lalu memberikan Kenan pada Rendy dan memeluk keempat cucunya secara bergantian.
"Di mana Tante Ratih?" Tanya Andien yang tidak melihat adik iparnya.
"Ayo kita masuk ke mobil dulu semuanya!" Titah Reza membuat ibunya paham untuk tidak menceritakan dulu tentang Ratih pada Andien karena baru tiba di Jakarta.
"Di rumah sayang, lagi nungguin para bayi. Wah, rumah nenek ramai dengan banyak bayi, di tambah lagi dengan bayi kembar dari saudaramu Andien." Ucap nyonya Susan.
"Rumah kita jadi sekolah paud mami." Ucap Rania cekikikan.
"Tumben dua gadis Reza diam saja?" Tanya nyonya Susan.
"Lagi sedih pisah dengan teman-temannya mami." Timpal Reza.
__ADS_1
"Nanti juga ketemu dengan teman-teman baru di Jakarta sayang, jangan sedih ya!" Hibur Rania.
Camilla dan Calista hanya mengangguk sambil tersenyum hambar pada Tante dan nenek mereka.
Setibanya di mansion, tuan Handoyo mencium keempat cucu keduanya baru keempat cucu pertamanya.
Andien yang tidak sabaran ingin bertemu Ratih segera mencari adik iparnya itu. Entah kenapa Andien lebih merindukan adik iparnya itu.
"Ratih...Ratih..Ratih!" Andien mematung di tempatnya melihat Ratih yang sedang duduk sambil menggendong boneka dengan tatapan kosong di taman samping.
"Maafkan bunda sayang!" Bunda telah membuat kamu meninggal."
Ratih hanya mengulangi kalimat itu berkali-kali dengan tatapan kosong.
Reza dan nyonya Susan menyusul Andien yang bingung melihat keadaan Ratih yang mengalami depresi berat.
"Apa yang terjadi pada Ratih mami?" Tanya Andien sambil menunjuk ke arah Ratih dengan satu tangannya.
"Ratih tidak terima saat mengetahui satu bayinya meninggal dunia saat ia melahirkan tiga bayinya." Timpal Rania.
Nyonya Susan kembali menangis.
"Bukankah Ratih masih punya dua bayinya yang lain?" Ujar Andien menyesalkan jiwa Ratih yang terlihat rapuh.
Saat itu ia mempertahankan kesuciannya hingga ia jatuh dari sergapan Rama yang ingin melecehkan dirinya. Akibatnya dia jatuh dalam posisi telungkup dan saat itu juga ia mengalami kontraksi hebat dan harus di operasi sesar.
Satu bayi perempuannya meninggal karena tengkorak kepalanya retak dan itu membuat Ratih syok berat. Sekarang dia menjadi depresi karena tidak bisa melindungi bayinya." Imbuh Rania.
"Astaga!" Kenapa aku tidak diberi tahu." Ucap Andien sambil mengusap air matanya.
"Karena kamu saat itu baru melewati masa kritis mu, sayang dan aku tidak ingin menambah beban mu." Ucap Reza lalu memeluk istrinya.
Andien mengurai pelukan suaminya dan beralih menghampiri Ratih lalu memeluk Ratih sambil membaca doa untuk adik iparnya itu.
"Ratih!" Maafkan aku!" Tangis Andien pecah membuat semua keluarga ikut tersedu.
"Biarkan aku yang merukiyah Tante Ratih. Insya Allah, Tante Ratih akan sembuh secepatnya. Tapi tidak sekarang karena Calista ingin tidur lagi." Ucap Calista sambil menaiki anak tangga menuju kamarnya yang sudah disiapkan oleh pelayan.
...----------------...
Di Bogota Kolombia. Pangeran Fatih Ternyata sedang tidak selera makan dan akhirnya jatuh sakit sambil melamun menatap foto Calista dengan dirinya.
Sedangkan Davin mengikuti balap liar dengan para komunitasnya yang selalu melakukan balapan liar di arena jalanan yang tidak terpakai oleh publik.
Davin hanya melampiaskan kekesalannya pada Camilla yang tidak memberitahu dirinya atas kepindahan gadis itu ke negara asal kedua orangtuanya.
__ADS_1
Seorang wanita cantik nan sek*i mendekati Davin dengan pakaian yang sangat minim hingga memperlihatkan sebagian besar belahan dadanya untuk menggoda Davin.
"Mau minum denganku tuan?" Tanya Leticia sambil menyerahkan minuman wine pada Davin.
"Jauhkan barang haram itu dariku!" Tatapan mata Davin seakan ingin menguliti gadis ini hidup-hidup.
Seketika dada Leticia terasa sesak karena kuatnya udara yang menekan rongga dadanya.
"Kau..kau..!" Ucapnya sambil memegang dadanya yang makin terasa sakit.
"Tuan!" Jangan menyiksanya!" Ucap pengawal Davin untuk menyadarkan tuannya agar tidak membuat gadis itu menderita.
Davin memalingkan wajahnya bersamaan jatuhnya Leticia membuat komunitasnya meremang hingga bergidik ngeri melihat sang pangeran memiliki kekuatan mistis dalam dirinya.
Davin meninggalkan tempat balap itu dengan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Anak buahnya ketakutan melihat Davin membawa motor balapnya seakan terbang di atas jalan raya hingga membuat mereka sulit menyusul Davin.
Davin berhenti di tepi pantai Tayrona lalu duduk di atas motornya sambil memandang laut.
"Camilla!" Apakah aku bukan orang penting buatmu, hingga kamu tega merahasiakan kepindahan mu ke Indonesia?"
Aku bahkan tidak bisa melacak tempat tinggal keluargamu dan juga akun kalian semua. Apakah aku termasuk ancaman bagi keluargamu?"
"Camillaaaaaaa!" Teriak Davin dalam keheningan malam seolah bersaing dengan hempasan ombak pantai.
"Sayangnya kamu masih kecil kalau tidak aku akan melamarmu dari kita baru kenal." Lirih Davin lalu menyulut rokoknya untuk meringankan sesak di dadanya.
"Dasar pemuda bodoh!" Kau sangat terobsesi pada gadis kecil itu hingga kamu lupa dengan tujuan hidupmu." Ucap seorang kakek tua yang sudah berdiri di samping Davin.
Davin tersentak lalu menatap wajah teduh kakek tua itu yang tidak ia ketahui kedatangannya.
"Apa maksudmu kakek?" Dan siapa anda?"
"Tidak penting kamu mengetahui siapa saya anak muda. Lebih baik isi waktumu dengan ilmu yang bermanfaat hingga bisa menyaingi gadis itu.
Tidak usah takut karena suatu hari nanti dia akan menjadi milikmu. Tapi saat ini kamu tidak bisa menyusulnya ke tanah airnya.
Kamu bisa mendapatkannya lagi, jika kamu bisa lebih hebat darinya. Karena gadis itu akan merubah duniamu dengan kehebatannya." Ucap kakek tua itu sambil mengusap bahu Davin. Ia pun segera menghilang dari pandangan Davin.
Davin memutar tubuhnya mencari kakek tua itu ke segala arah. Usai bertemu dengan kakek tua itu, Davin merasakan ketenangan batinnya dan memilih kabur dari pantai itu. Iapun buru-buru membaca kalimat ta'auz.
.....
Vote dan like nya cinta 🙏🤗
__ADS_1