PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
135. Cerita Cinta Al-Ghifari


__ADS_3

Keluarga besar Reza bertolak ke Mekkah untuk melakukan umroh sebelum kembali lagi ke tanah air Indonesia. Walaupun tanpa Calista dan suaminya, tidak mengurangi kebersamaan mereka yang terjalin indah dalam mencari keridhaan Allah di tanah haram tersebut.


Semua keluarga tampak menikmati tahapan demi tahapan ibadah umroh, mulai miqot hingga melakukan tahalul sebagai kesempurnaan ibadah umroh tersebut.


Reza lebih fokus menjaga istrinya dan kedua orangtuanya. Sementara keempat anaknya yang ke dua di jaga oleh dua putranya Al dan Fariz.


Sementara ibunya Andien, nyonya Nunung di jaga dua putranya secara bergantian. Usai melakukan ibadah umroh, Semuanya bebas melakukan aktivitas yang lain namun harus tetap disiplin dan tidak boleh terpisah dari rombongan.


Andien dan Reza lebih memilih menikmati pemandangan indah yang mendatangkan pahala tanpa henti adalah menatap Baitullah. Hanya menatapnya saja pahala mengalir terus menerus.


Al-Ghifari meminta ijin pada saudaranya Fariz ingin ke mall untuk membeli sesuatu yang ia inginkan.


"Fariz. Kamu tidak mau belanja?"


"Tidak! Aku tidak terlalu membutuhkannya."


"Baiklah. Kalau begitu, pastikan keempat adik kita tidak boleh keluar kamar karena aku mau belanja di mall untuk oleh-oleh."


"Pergilah! Biarkan mereka menjadi tanggung jawabku." Ucap Fariz sambil mengangkat jempolnya menandakan setuju.


"Ok, thanks!" Ucap Al lalu meninggalkan saudaranya menuju ke mall yang satu gedung dengan hotel tempat keluarganya menginap.


Tepatnya di hotel jam tower yang berhadapan langsung dengan Masjidil Haram. Ketika memasuki tokoh parfum. Ada seorang gadis yang sedang berdebat dengan seorang pedagang parfum.


"Ya ukhti! Kamu belum membayar parfum ini."


"Tidak, saya sudah memberikan uangnya hanya saja kamu sedang asyik ngobrol dengan pembeli yang lain hingga lupa memberikan struk belanjaku." Ucap gadis itu.


"Tidak mungkin! Aku belum menerima uang darimu."


"Demi Allah. Aku sudah menyerahkan uangku padamu sementara barang ini sudah berada di tanganku. Aku tidak akan mendapatkan barang ini kalau aku belum membayarnya." Ucap gadis itu sambil memperlihatkan bungkusan parfum itu pada pedagangnya.


Melihat perdebatan yang tidak berkesudahan, akhirnya Al menengahi keduanya. Al memperhatikan wajah gadis itu sepertinya berasal dari Asia tenggara sama dengan dirinya.


Iapun menanyakan permasalahan keduanya dengan menggunakan bahasa Arab karena keduanya menggunakan bahasa Arab.


"Permisi nona! Maaf apa yang terjadi sebenarnya?"


Gadis itu menatap wajah tampan Al sesaat lalu menceritakan kronologinya.


"Aku tadi sedang memilih parfum yang ku sukai setelah mencium sampel dari setiap parfum itu. Saat barangnya di kasih aku sudah membayarnya.


Sebelum aku menerima struk pembayarannya, tuan ini malah beralih ke pengunjung itu tanpa menyelesaikan terlebih dahulu transaksinya denganku.


Dan sekarang dia memaksaku untuk membayar lagi barang yang sudah aku bayar, bukankah itu adalah kebodohan." Ujar gadis cantik itu.


"Maaf tuan! Gadis ini belum bayar sama sekali dan dia ingin kabur begitu saja dengan membawa barang ku." Ucap pedagang itu tidak mau kalah.


"Bagaimana kamu sangat yakin nona, kalau kamu sudah membayarnya?" Tanya Al.


"Karena uang di dompetku hanya satu juta rupiah sementara uang yang tersisa saat ini tiga ratus ribu rupiah karena parfum itu seharga tujuh ratus ribu rupiah.

__ADS_1


Mereka bilang bisa terima uang Indonesia, makanya aku langsung kasih uang yang aku punya itu tanpa menggunakan debit card." Ucap gadis itu.


Al tidak ingin membela satu diantara mereka karena keduanya sama-sama mempertahankan keyakinan mereka. Iapun mengambil jalan tengah untuk menyelesaikan permasalahan keduanya.


"Tuan! Di toko milikmu aku lihat kamu punya CCTV, apakah kita bisa melihat CCTV untuk bisa melihat kebenarannya?"


"Maaf tuan! Saya bukan pemilik toko ini, karena saya hanya karyawan di sini. Jadi saya tidak bisa melakukannya untuk membuka CCTV itu." Ucap pedagang itu.


"Tidak apa, kamu cukup lihat kode yang ada di CCTV itu. Biar saya yang akan membantu kalian."


"Bagaimana caranya tuan bisa lihat. Sedangkan..?"


"Aku hanya memintamu melihat kodenya saja, apakah terlalu sulit untuk melakukannya?"


"Baiklah. Tunggu sebentar!"


Pedagang itu melihat kode yang dimaksudkan Al dan dia mencatatnya lalu memberikan kepada Al.


Al, langsung memasukkan kode itu melalui aplikasi secret Detektor miliknya dan melihat pergerakan CCTV itu.


Ternyata apa yang di katakan gadis itu adalah benar, kalau ia sudah membayarnya. AL memperlihatkan rekaman CCTV yang ada dalam ponselnya kepada pedagang itu dan betapa kagetnya pedagang itu, rekaman itu bisa ada di dalam ponselnya Al.


"Dia sudah membayarnya. Apakah kamu percaya sekarang dengan bukti rekaman CCTV di toko ini?" Tanya Al, membuat pedagang itu sangat malu dan meminta maaf kepada gadis itu.


"Maafkan saya ukhti, karena saya khilaf!" Ucap pedagang itu dengan penuh sesal.


"Baiklah. Tidak apa, aku sudah memaafkanmu. Lain kali hati-hati dengan caramu melakukan transaksi dengan pembeli yang lain karena itu merugikan dirimu sendiri." Ucap gadis cantik itu lalu beralih ke toko yang lain usai mengucapkan terima kasih kepada Al.


Al memilih parfum yang dia inginkan lalu membayarnya dan meninggalkan toko tersebut. Ia juga ingin mengunjungi toko perhiasan. Ia ingin membeli perhiasan untuk mamanya yang dua hari lagi akan merayakan ulang tahun.


Ternyata harganya sudah angka miliaran rupiah, walaupun di sebut dalam satuan real, dan gadis itu mengeluarkan black card miliknya. Itu berarti gadis itu berasal dari keluarga konglomerat.


Al melihat status sosial gadis itu merasa sangat heran. Karena penasaran dengan gadis itu, ia akhirnya ingin berkenalan dengan gadis cantik itu. Al memanfaatkan kesempatan momen berharga ini dengan pura-pura meminta bantuan kepada gadis itu.


"Assalamualaikum ukhti!" Sapa Al santun.


"Waalaikumuslam!"


Gadis itu menengok ke samping melihat AL, dengan ekspresi wajah berbinar.


"Eh, bukankah kamu yang tadi barusan menolongku di toko sebelah?" Tanya gadis itu sambil tersenyum ramah pada Al.


"Benar sekali, nona! apakah aku boleh berkenalan denganmu?"


"Tentu saja boleh! Kenalkan namaku Maqiah Madaniah. Panggil saja aku Qia."


"Namaku Al-Ghifari, panggil saja Al." Ucap keduanya sambil mengatupkan tangan mereka memperkenalkan diri tanpa salaman.


"Oh iya. Aku boleh minta tolong kepadamu?"


"Silahkan!"

__ADS_1


"Dua hari lagi, mamaku ulang tahun, aku ingin membelikan perhiasan untuknya, mana yang bagus menurutmu?"


"Ulang tahun ke berapa, mamamu?"


"Tiga puluh delapan tahun?"


"Sangat muda sekali usia mamamu. Baiklah, aku akan memilihkannya untukmu, bagaimana karakter mamamu?"


"Cerdas, tegas, lembut, pokoknya sangat kharismatik dan paling cantik." Ucap Al bangga.


"Model ini yang cocok dengan mamamu."


Ucap Qia seraya menunjukkan seperangkat perhiasan yang terdapat di dalam etalase itu dengan telunjuknya.


"Terimakasih untuk pilihannya, ini sangat cantik!" Puji Al.


"Semoga mamamu suka dengan pilihanku."


"Insya Allah, pasti beliau suka dengan pilihan gadis cantik sepertimu!" Senyum Al sambil menatap wajah cantik Qia.


"Syeh! Aku ambil yang ini!" Ucap Al lalu mengeluarkan black card miliknya untuk membayar perhiasan tersebut.


Sambil menunggu, pedagang itu mengemas barangnya, keduanya ngobrol.


"Qia!"


"Iya!"


"Apakah aku boleh menanyakan sesuatu kepadamu?"


"Silahkan Al!"


"Aku perhatikan, kamu bukan gadis biasa yang berasal dari keluarga sederhana. Tapi, aku bingung dengan sikapmu saat berada di toko parfum yang kamu beli dengan harga tujuh ratus ribu rupiah saja, namun kamu begitu ngotot dengan pedagang itu, dalam mempertahankan prinsipmu, padahal dengan kekayaanmu, tujuh ratus ribu tidak ada artinya di bandingkan kamu beli perhiasan yang baru saja kamu beli, dengan harga tujuh miliar dan kamu membayarnya menggunakan black card.


Kenapa di toko parfum tadi, kamu tidak mengalah saja dengan membayarnya lagi atau mengembalikan barangnya kalau kamu tidak ingin membayarnya dobel?"


Qia menarik nafasnya sesaat sebelum menjelaskan alasannya mempertahankan haknya dengan pedagang parfum tersebut.


"Begini Al. Bukan masalah besarnya nilai uang yang membuat aku mati-matian membela hakku dengan mengatakan kebenaran padanya bahwa aku sudah membayarnya.


Aku hanya tidak ingin di Yaumil hisab, saudara kita itu akan masuk neraka hanya gara-gara uang tujuh ratus ribu tadi, dia sudah memakan uang haram dariku. Justru aku sedang menyelamatkan saudara seimanku dari api neraka makanya aku mempertahankan hakku karena aku sudah membayarnya hingga kamu datang menyelamatkan kami berdua.


Jika hanya nilai uang saja, tidak masalah bagiku, membayarnya dobel atau mengembalikan barangnya, tapi aku tidak mau dia akan memberikan makanan haram untuk keluarganya karena kekhilafan yang ia lakukan kepadaku. Aku sudah membayarnya tapi dia lupa karena setan sudah menutup ingatannya.


Aku tidak mau di Yaumil akhir, kami akan saling berdebat di hadapan Allah dengan masalah uang yang menurutmu tidak seberapa tapi membawanya ke dalam api neraka bersama keluarganya. Dan itu tidak adil untuk keluarganya.


Orang suka menyepelekan dunia tapi, dia lupa akan akhirat nanti, di mana akan ada siksaan Allah lebih pedih kalau harta haram yang ia dapatkan yang akan masuk ke dalam perutnya dan juga keluarganya melalui makanan dari pendapatan yang haram." Jelas Qia, membuat Al sangat kagum pada gadis yang sangat peduli dengan nasib iman dari saudara seimannya.


"Kamu pantas menjadi calon istriku Qia. Aku suka dengan wanita yang berpegang teguh pada prinsipnya karena Allah, dalam menyelamatkan saudara seimannya dari suatu hal yang keliru maupun dosa yang diperbuatnya yang akan membawanya ke dalam neraka.


Aku suka gadis seperti ini yang memiliki kepribadian yang jujur bukan hanya sekedar cantik fisik dan jeniusnya akal, tapi kehebatan dalam berpikir untuk menjadikan dirinya bermanfaat untuk orang lain." Batin Al.

__ADS_1


.....


Ini gantian dulu ceritanya sama Calista ya, insya Allah nanti balik lagi ke Calista.


__ADS_2