
Usai pesta rakyat di gelar, sebulan kemudian, pelayan Rachel di angkat menjadi asisten pribadi Calista. Gadis itu mendapatkan ponsel baru dari pangeran Fatih dan banyak sekali hadiah yang diberikan raja Hassan untuknya, atas jasanya menyelamatkan menantu dan calon pewaris yang kandungan Calista.
Kini keluarga raja Hassan bisa menjalankan aktivitas mereka dengan tenang. Pangeran Fatih bisa membawa istrinya melakukan pemeriksaan kehamilannya yang kini sudah memasuki usia lima bulan.
Baik pangeran Fatih maupun Calista, tidak begitu penasaran dengan jenis kelamin keempat bayi mereka karena mereka ingin mendapatkan kejutan langsung saat Calista melahirkan nanti.
Bukan hanya rumah sakit saja yang menjadi tempat kunjungan Calista, pangeran Fatih juga mengajak istrinya berkunjung ke tempat wisata yang ada di Maroko sambil menikmati kuliner yang terkenal di Maroko.
Awalnya Calista ingin berkunjung ke kota Casablanca dan mengunjungi gurun Sahara menggunakan Unta, namun alasan kehamilannya yang membuatnya harus mengurung niatnya itu karena resikonya sangat berat.
Sementara di Jakarta, Camilla mendapat undang dari pihak istana negara untuk menghadiri acara penting kenegaraan yang juga melibatkan mamanya Andien di acara tersebut.
Kedua pasangan ini berangkat bersama ke istana negara tersebut. Namun tidak dengan Davin yang merasa sangat keberatan untuk hadir di acara tersebut karena melibatkan kedutaan seluruh negara, di mana negaranya juga masuk di dalam daftar undangan tersebut.
"Ada apa denganmu kak Davin? apakah kamu tidak ingin menemani aku hadir di undangan tersebut?" Tanya Camilla yang terlihat ngambek.
"Sayang! Kamu bisa berangkat dengan ayah dan mama, kenapa aku juga harus hadir di acara yang tidak kaitannya sama sekali denganku." Tukas Davin memberi alasan.
"Tidak penting kamu siapa di acara itu, tapi kamu adalah suamiku yang harus mendampingi aku di acara kenegaraan itu. Kamu sudah menikah denganku, berarti kamu juga harus menghargai negara ini yang merupakan bagian dari dirimu juga.
Lagi pula aku sedang hamil, apakah kamu tidak kuatir aku bawa perutku dengan tiga calon bayi di dalamnya." Protes Camilla.
Davin tercenung sesaat, bukan hanya karena kehamilan Camilla saja yang jadi pertimbangannya, tapi statusnya sebagai putra mahkota dan juga kecantikan Camilla yang membuatnya segan untuk hadir di acara itu.
Jika ia membiarkan Camilla pergi dengan kedua mertuanya saja, maka istrinya akan menjadi tontonan menarik di acara tersebut dan itu sangat membuatnya cemburu.
Sementara itu, jika dia harus hadir, maka ia harus siap menerima resiko akan mudah dikenali oleh para pejabat tinggi yang berasal dari negaranya sementara dia sendiri masih melakukan penyamaran sampai saat ini.
"Kak Davin! Mau nggak temanin Camilla ke istana?" Desak Camilla yang makin meradang melihat suaminya yang belum siap sedangkan dirinya sendiri sudah sangat cantik malam itu.
"Baiklah. Tapi jangan memperkenalkan aku dengan kolega mu karena aku tidak begitu suka." Pinta Davin.
__ADS_1
"Kamu ini niat nggak sih menikah dengan aku? ke manapun kita jalan, kamu selalu menggunakan masker, topi dan kacamata. Kamu ini buronan atau suami orang?"
Setiap kali ada undangan kenegaraan untukku, kamu selalu saja menghindarinya, ada apa denganmu, makin hari kamu makin mencurigakan." Gerutu Camilla.
"Kamu ini bicara apa sih sayang? aku ini warga negara yang baik dan bukan seorang buronan dan aku juga menjaga hatiku hanya untuk satu wanita yaitu kamu, sekarang mengapa kamu menjadi sensitif seperti itu?"
"Kalau tidak ada alasan yang memberatkan mu, kenapa kak Davin enggan menemani aku ke istana?" Selidik Camilla.
"Baiklah kita berangkat sekarang. Tunggu aku lima menit lagi!"
Davin mengenakan tuksedo miliknya dengan dasi kupu-kupu hitam. Ia sudah siap dengan segala resiko yang ada karena malam ini statusnya sebagai putra mahkota akan terkuak di hadapan istrinya.
Camilla membantu suaminya merapikan kembali dasi dan jas milik Davin. Rambut klimis dengan parfum mint membuat ketampanan Davin malam ini menjadi pusat perhatian. Walaupun Camilla harus menahan rasa cemburunya, tapi rasa bangganya memiliki lelaki tampan seperti keturunan dewa Yunani ini membuatnya menjadi yang paling bahagia.
Davin memberikan lengannya untuk digandeng Camilla. Keduanya turun menemui Reza dan Andien yang sudah menunggu mereka karena ingin berangkat bersama ke istana.
Andien dan Reza cukup terpana dengan penampilan Davin. Makin hari menantunya ini makin sangat tampan menurut pengamatan mereka.
"Kenapa lama sekali Camilla?" Tanya Andien.
"Apakah nak Davin siap menemani Camilla?" Reza memastikan lagi Davin yang masih bungkam seakan tidak begitu tertarik dengan acara tersebut.
"Insya Allah, siap ayah." Ujar Davin.
Mereka memasuki mobil mewah yang sudah dibukakan pintunya oleh sopir pribadi Reza. Mobil itu sudah meluncur dengan kecepatan rata-rata menuju istana negara.
Berulang kali Davin mencium tangan istrinya. Ingin rasanya ia berkata jujur pada Camilla sebelum istrinya mengetahui dari mulut orang lain. Saat ingin mengatakannya, Andien yang mengajak Camilla duluan bicara membuat Davin kembali mengurungkan niatnya. Hingga tiba di istana negara, Davin tidak bisa lagi berucap apapun pada Camilla.
Kedua pasangan ini turun dari mobil tepat di depan gedung istana tersebut. Andien di sambut secara kenegaraan, begitu pula putrinya Camilla yang merupakan tamu istimewa di acara tersebut.
Andien menggandeng lengan suaminya lalu berjalan dengan elegan menuju ruang acara, diikuti oleh pasutri yang ada di belakang mereka. Benar saja apa yang dikuatirkan oleh Davin.
__ADS_1
Ketika ia dan istrinya sudah membaur dengan para tamu undangan, kedutaan Yunani yang ada di Indonesia mengenali pangeran tampan itu. Tuan Adras menghampiri Davin yang saat itu sedang mengobrol dengan kolega istrinya.
"Selamat malam prince Devino!" Sapa tuan Adras dengan bahasa Yunani.
Davin melebarkan matanya ketika mendengar nama aslinya di panggil oleh seseorang. Camilla yang sedang bicara dengan temannya melirik ke arah suaminya yang sedang berjabat tangan dengan duta besar Yunani itu.
Awalnya Camilla tidak curiga karena suaminya pernah mengaku ayahnya bekerja di kedutaan Yunani yang ada di Indonesia.
Tapi mendengar orang itu memanggil suaminya dengan sebutan pangeran dalam bahasa Yunani membuatnya mulai terganggu dengan panggilan itu.
"Apakah pangeran juga di undang di acara ini? Dengan siapa pangeran ke sini? Sudah lama kami mencari keberadaan anda pangeran, tapi syukurlah kita bisa bertemu di sini." Ucap Tuan Adras sambil menggenggam tangan Davin.
Camilla menghampiri keduanya.
"Selamat malam!" Sapa Camilla dengan bahasa Yunani pada Tuan Adras.
"Selamat malam..?" Tuan Adras menatap wajah Davin yang terlihat gugup.
"Perkenalkan ini istriku Camilla dan Camilla, ini tuan Adras, duta besar Yunani," Ucap Davin berusaha tenang.
Tuan Adras menatap wajah cantik Camilla dengan perut besarnya seperti usia delapan bulan, padahal masih lima bulan.
Pria ini terpesona dengan kecantikan Camilla namun buru-buru menjaga sikapnya karena Camilla adalah istrinya pangeran Davin.
"Maafkan saya prince Devino! Saya tidak menyangka prince menikah dengan gadis Indonesia seperti kakek anda." Ucap tuan Adras membuat Camilla tersentak.
"Apaaaa...? Prince..? Mengapa tuan memanggil suamiku dengan sebutan prince?" Tanya Camilla tidak percaya dengan pendengarannya barusan.
"Apakah putri Camilla tidak mengetahui kalau prince Devino adalah putra mahkota Yunani?"
Deggggg...
__ADS_1
.....
vote dan like nya cinta 🙏🤗