PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
45. Wasiat Andien


__ADS_3

Andien tersentak mendengar penyakit yang saat ini menimpa dirinya." Innalilahi wa innailaihi rojiuun." Gumamnya lirih membuat Reza ingin menarik krah baju dokter Remon yang terlalu frontal pada pasien yang baru siuman dari masa kritisnya.


"Andien!" Tolong jangan terlalu pikirkan penyakit itu, yang membuat kita meninggal dunia bukan penyakit tapi ajal sayang." Ucap Reza dalam bahasa Indonesia.


Andien mengangguk pelan tapi hatinya terlihat tidak menyiratkan bahwa dirinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Kalau begitu saya permisi dulu nona Andien." Ucap dokter Remon diikuti oleh kedua susternya.


"Sayang, aku tinggal sebentar!" Ucap Reza buru-buru keluar mengejar dokter Remon.


"Dokter Remon!" Panggil Reza setengah berteriak.


Dokter itu menoleh ke arah Remon, sebelum masuk ke kamar pasien lainnya.


"Dokter!" Apakah anda tidak punya etika dalam menghadapi pasien yang baru siuman dari masa kritisnya?" Tanya Reza dengan wajah nyalang.


"Saya hanya menyampaikan apa adanya saja tentang kondisi pasien, apakah itu salah?" dokter Remon balik menantang Reza.


"Sangat salah dan tidak manusiawi karena setiap pasien tidak siap menerima kenyataan jika dirinya dihadapkan pada penyakit mematikan." Ucap Reza.


"Itu urusan pasien, karena tugas saya hanya menyampaikan saja." Dokter Remon terus mengelak dari kesalahannya.


"Pikirkan tentang perkataanmu itu, jika kamu dihadapkan dengan situasi yang sama ketika keluargamu mengalami penyakit kronis yang siap merenggut nyawa mereka kapan saja." Ucap Reza penuh intimidasi.


"Ayahhhh!" Teriak keempat anaknya bersamaan ketika melihat ayahnya sedang bicara dengan dokter Remon.


"Itu anak kembar empat dari nona Andien dan mereka adalah anak-anakku, apakah hatimu cukup kuat melihat penderitaan anak-anakmu, jika mereka kehilangan ibu mereka?"


Nona Andien bukan meninggal karena penyakitnya tapi dia bisa meninggal karena merasa tertekan karena terlalu memikirkan penyakitnya. Dan itu semua karena dokter terlalu dini memvonis usianya.


Lagi pula dokter bukan Tuhan, yang seenaknya saja memprediksi usia terakhir seseorang." Ucap Reza lalu menghampiri keempat anaknya yang hampir mendekati dirinya.


Dokter Remon hanya mengedikkan bahunya dengan mengerutkan bibirnya menanggapi perkataan Reza. Ia pun kembali membuka pintu kamar pasien untuk melakukan kunjungan pasien berikutnya.


Reza merentangkan kedua tangannya untuk memeluk keempat anaknya.

__ADS_1


"Bagaimana kalian tahu kalau ayah disini, sayang?" Tanya Reza bingung.


"Filing saja sih!" Ucap Calista berbohong karena ia sudah mengikuti ayahnya melalui GPS ponselnya. Bisa dibilang, Calista meretas semua akun ayahnya dengan mencuri data pribadi ayahnya, jadi dia bisa mengetahui pergerakan ayahnya dibantu oleh Fariz.


"Baiklah!" Kalau begitu kita melihat keadaan mama Andien." Titah Reza lalu berjalan bergandengan tangan dengan keempat bocah itu menuju kamar inap VVIP milik Andien.


Cek..lek!" Assalamualaikum mamaaaa!" Teriak keempat anaknya serentak.


"Ssst!" Jangan berisik sayang!" Ada pasien lain di kamar sebelah lagi sakit." Ucap Reza.


"Maaf ayah!" Ujar mereka serempak.


"Ayah...?" Andien tampak bingung dengan keempat anaknya yang dalam sekejap sudah akrab dengan ayah mereka tanpa canggung.


"Apakah mama sudah sembuh?" Ayo kita pulang. Untung ada ayah yang menemani kami dirumah, kalau tidak kami pasti merasa sangat kesepian di rumah." Ucap Camilla.


"Semalam kami tidur dengan ayah di kamar tamu, tapi kami ditinggal begitu saja sama ayah karena urusan pekerjaan katanya." Timpal Al.


"Mana ada orang kerja jam dua pagi kecuali profesi tertentu." Imbuh Fariz.


Tanpa sadar keduanya saling menatap satu sama lain. Manik hitam keduanya bertemu seakan berkata tidak perlu kuatir karena kita akan bersama lagi.


"Ehhhmmm!" Tegur Calista dengan deheman.


"Ayah, mama!" Kami ada di sini lho saat ini!" Sindir Calista ketika melihat kedua orang tua mereka saling menatap dengan penuh cinta.


"Oh!" Kirain saat ini hanya ada malaikat kecil yang sedang mengawasi ayah dan mama." Ucap Reza menggoda balik Calista.


Andien hanya mengulum senyum pelitnya dengan wajah yang terlihat sangat pucat.


"Kapan mama pulang?" Tanya Camilla.


"Tunggu keputusan dokter sayang dan sekarang kita jangan menganggu mama Andien karena mama Andien masih lemah!" Pinta Reza lalu mengajak anak-anaknya duduk di sofa dan bermain games bersama.


Andien merasa sangat terharu saat menyaksikan adegan kehangatan yang terjalin antara Reza dan anak-anak mereka.

__ADS_1


"Apapun yang aku berikan, tidak bisa menggantikan kasih sayang seorang ayah yang mereka butuhkan." Batin Andien lalu memejamkan matanya karena kantuk mulai menyapa kelopak matanya.


Reza melirik wajah pucat Andien yang sudah terlelap sambil bermain bersama anak-anaknya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Tiga hari kemudian, Andien sudah di perbolehkan pulang oleh dokter Remon. Anak-anak begitu senang mendengar kabar itu dan berinisiatif untuk membuat acara penyambutan kepulangan ibu mereka.


Reza menjemput Andien di rumah sakit sendirian. Ia sengaja tidak ingin melibatkan pelayan Andien untuk membantunya menjemput wanitanya itu.


Andien yang terlihat masih lama cukup sulit untuk turun dari tempat tidur. Reza ingin menggendong tubuh lemah itu, tapi ia begitu takut untuk melakukannya karena akan mendapat amarah dari ibu anak-anaknya.


"Apakah kamu bisa turun sendiri?" Tanya Reza berusaha menjaga Andien agar tidak mudah jatuh


Tapi baru mau menapak kakinya saja ke lantai Andien hampir terjungkal. Reza spontan menangkap tubuh wanitanya untuk di dudukkan di atas kursi roda.


Saat tubuhnya dalam gendongan Reza, Andien merasakan kenyamanan tersendiri dalam hatinya. Reza tidak ingin buru-buru mendudukkan wanitanya karena ia sendiri ingin merasakan hangat tubuh Andien dalam gendongannya. Andien menyandarkan kepalanya di dada bidang prianya hingga Reza bisa mencium harum rambut Andien.


"Apakah kamu ingin aku menggendongmu sampai ke tempat parkir tanpa bantuan kursi roda?" Tanya Reza yang melihat Andien lebih membutuhkan perhatiannya saat ini.


Andien tidak ingin menjawab, ia hanya mengeratkan pelukannya pada leher kokoh pria yang berusia tiga puluh tahun ini.


Reza mengerti akan hal itu, akhirnya memutuskan untuk membawa tubuh Andien dan langsung masuk ke lift menuju tempat parkiran mobilnya.


Pintu mobil di buka oleh Reza, Andien duduk bersandar pada jok mobil yang sudah stel oleh Reza.


"Apakah sudah lebih nyaman, sayang?" Tanya Reza seraya memasang seat belt milik Andien.


Hembusan nafas Andien membuat Reza merasa jantungnya kembali berdetak, ia memperhatikan bibir pucat Andien yang ingin disesapnya, namun ia tidak berani mengambil resiko itu lagi, kecuali Andien menginginkan dirinya.


"Mas Reza!" Bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu?" Tanya Andien.


"Katakan saja sayang!" Insya Allah aku akan memenuhinya. Ucap Reza sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Mas Reza!" Tolong jaga dan merawat keempat anak kita dengan baik, jika umurku tidak cukup menemani mereka sampai dewasa dan berumahtangga!" Ucap Andien dengan penuh penekanan pada kata-katanya.

__ADS_1


Duaaar.....


__ADS_2