
Calista sudah berada di ruang persalinan. Ayah dan mamanya memberikan dukungan dan doa untuk putri mereka yang paling istimewa dari ketiga saudara kembarnya.
Kelemahan Calista yang merupakan penyandang spektrum Autisme membuat nafasnya tidak cukup kuat untuk melahirkan keempat bayinya secara normal.
Dokter OSIE sedang menawarkan Calista untuk melakukan operasi sesar agar gadis ini bisa menyelamatkan keempat bayinya, namun tawaran itu di tolak tegas oleh Calista.
"Tidak! Aku tidak akan melakukan operasi sesar. Aku bisa melahirkan secara normal dokter." Ucap Calista yakin.
"Tapi nona Calista! Kami kuatir anda akan mengalami kesulitan saat melahirkan bayi yang ke dua, tiga dan yang terakhir.
Mungkin yang pertama bisa anda selamatkan tapi bagaimana dengan ketiga bayi berikutnya sedangkan nafas anda sangat pendek." Ucap dokter OSIE masih meyakinkan Calista.
"Aku tahu aku bukan gadis normal sama seperti dokter atau orang yang ada di hadapanku saat ini, tapi aku yakin Allah tidak akan menyusahkan hambaNya yang sangat yakin atas kekuasaanNya.
Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk seseorang berjuang demi menyelamatkan keturunannya. Allah maha adil dokter.
Jika dokter bisa menjadi hebat dengan profesi dokter saat ini dalam menangani semua pasiennya, bukankah itu juga peran Allah dalam membantu anda menyelamatkan pasienmu? Jadi kenapa denganku malah anda menjadi ragu?" Calista masih mempertahankan argumennya.
Pangeran Fatih yang melihat keyakinan istrinya begitu kuat akhirnya meminta dokter untuk melakukan persalinan normal sesuai dengan keinginan istrinya.
"Baiklah prince! Kami akan usahakan yang terbaik untuk istri anda." Ucap Dokter OSIE akhirnya mengalah.
"Aku dan dokter hanya seonggok daging yang dihidupkan Allah dengan meniupkan roh ke dalam tubuh ini.
Jika nyamuk saja yang tidak ada artinya Allah ciptakan untuk membawa rejeki bagi pencipta obat nyamuk, lantas bagaimana dengan manusia yang dianggap makhluk paling mulia di muka bumi ini?" Ujar Calista untuk memperkenalkan maha hebat Allah dalam penciptaannya.
"Baiklah nona Calista. Aku akan menolong anda karena Allah." Ucap dokter OSIE yang sudah terpengaruh oleh ucapan Calista.
"Jangan menyerah saudaraku! Kadang pendapatmu secara medis menggiring iman seseorang untuk menjadi kufur kepada Allah.
Peralatan medis dan anda sebagai dokter hanya sebagai fasilitas untuk menolong pasien bukan untuk memvonis pasien.
Jangan pernah mendahului ketetapan Allah, jika ilmu yang Anda dapatkan hanya seujung kelingking dari ilmu Allah seluas lautan." Ujar Calista menasehati para tim dokter yang akan menolongnya melahirkan.
Dokter OSIE dengan sabar menyimak perkataan Calista karena banyak benarnya. Iapun memeriksa jalur lahir calon ratu Maroko ini yang ternyata masih pembukaan tiga.
"Nona Calista, jalur lahir anda masih pembukaan tiga. Kita tunggu sebentar lagi." Ucap dokter OSIE.
Calista mengangguk paham atas perkataan dokter, namun Calista tidak bisa berhenti berbicara. Baginya, bertemu dengan orang baru dan memberikan mereka nasehat yang berkaitan dengan profesi mereka, adalah suatu hal yang menyenangkan.
Maka dari itu, ia akan membahas apa saja entah orang itu mau mendengarkannya atau tidak. Maklumlah seorang autis yang memiliki kecerdasan luar biasa tidak bisa mengendalikan perkataannya walaupun yang akan ia sampaikan adalah ilmu.
Suaminya pangeran Fatih, tidak akan keberatan dengan gaya khas istrinya yang senang mengupas sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain tapi Calista dengan mudah memaparkannya dan orang lain yang mendengarnya sangat kagum dengan ilmu yang di kuasai olehnya. Kini Calista mulai bicara lagi pada tim dokter yang ada di ruang bersalin tersebut.
"Apakah kalian yang ada di ruangan ini berprofesi sebagai dokter semua atau ada juga susternya?" Tanya Calista.
__ADS_1
"Kami adalah tim dokter yang akan menolong anda dan bayi anda, nona Calista." Ucap dokter Diana Santi.
"Apakah saat kalian belajar tentang proses pertumbuhan bayi, kalian juga sudah mengkaji proses Al-Qur'an?" Tanya Calista yang ingin membahas salah satu surah yang berkaitan dengan proses pertumbuhan bayi dengan para dokter yang ada diruang persalinan itu.
"Kami hanya belajar secara medis saja nona Calista dan untuk Al-Qur'an kami belum meninjaunya lebih jauh." Ujar dokter Alifah.
"Kalau kalian punya waktu, tolong buka saja Alqur'an bagi dokter yang muslim. Karena di dalam surah Al-Mu'minum(13-14), di situ Allah menjelaskan bagaimana Dia menciptakan proses awal pembentukan janin.
Di ayat ke-13. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Lalu pada ayat-14. Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging."
Ujar Calista membuat dokter yang mendengar pembahasannya terkagum-kagum dengan istrinya pangeran Fatih ini.
"Terlahir dari seorang ibu yang jenius dengan ayah yang hebat, tidak heran bagi kami anda adalah hasil dari maha karya Allah yang sangat mengagumkan karena dikaruniai otak yang sangat jenius." Puji dokter OSIE yang sangat mengenal sosok Andien dan Reza, orangtuanya Calista.
"Nona Calista! Anda pantas mendampingi seorang pangeran Maroko. Kami bangga memiliki putri bangsa Indonesia yang sudah mengharumkan tanah airnya untuk menjadi bagian dari seorang pangeran Maroko." Ujar dokter IDRA.
"Terimakasih Dokter OSIE dan dokter IDRA.
"Tapi...ssssstttt.....Auhhght! Ya Allah, perutku sangat sakit."
Gadis ini berhenti berbicara karena sakit datang lagi menderanya.
Calista mengalami lagi kontraksi hebat. Dokter OSIE melakukan lagi pemeriksaan dan ternyata Calista sudah siap melahirkan.
Callista mengangguk lalu menatap wajah tampan suaminya.
"Mohon doakan aku suamiku! Maafkan aku!"
Pangeran Fatih mengecup pipi Calista lembut dan membacakan doa begitu khusu untuk istrinya dan juga calon bayi mereka agar mereka bisa selamat.
"Nona Calista! Tiga, dua, satu, mengejan!" Titah dokter OSIE.
"Bismillah, Allahuakbar!"
Sepertinya Calista sudah terlatih untuk mempersiapkan dirinya untuk melahirkan bayinya. Tanpa perlu bersusah payah mengejan sekuat mungkin, Ia hanya menarik nafas panjang, mengejan seperlunya dengan memohon pertolongan Allah lalu bisa mengeluarkan satu bayinya.
Bayi pertama berjenis kelamin laki-laki langsung di letakkan di atas dada sang ibu dan ketiga bayi lainnya hanya menunggu antrian cuma satu menit untuk dilahirkan, hingga tim dokter mudah melakukan dengan cepat proses persalinan Calista.
Tangis keempat bayi itu saking bersautan hingga terdengar sampai ke luar kamar persalinan. Reza dan istri langsung sujud syukur atas keselamatan keempat cucunya yang sudah hadir ke dunia.
Tim dokter hanya menggeleng kagum dengan putri Reza dan Andien ini. Calista menempati janjinya, jika Allah sangat adil padanya dan akan memudahkan dirinya dalam persalinan jika yakin bahwa Allah yang berkuasa atas segala sesuatu, bukan berdasarkan prediksi dokter yang terdengar simpel namun sangat beresiko dan lama dalam prosesnya seperti operasi sesar. Sementara melahirkan normal hanya sekejap.
"MasyaAllah! Selamat prince Fatih dan putri Calista! Kalian memiliki dua bayi laki-laki dan dua bayi perempuan dan wajah mereka lebih dominan ke timur tengah mengikuti sang ayah." Ujar dokter OSIE.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terimakasih dokter!" Ucap pangeran Fatih dan Calista serentak.
Dalam waktu setengah jam, keempat bayi itu sudah dirapikan dan siap di azankan oleh ayahnya.
...----------------...
Keesokan harinya kamar inap VVIP milik Camilla dan Calista sengaja dipilih bersebelahan agar memudahkan Keluarga mereka, menjenguk keduanya.
Bayi-bayi itu berada di kamar ibu mereka masing-masing. Acara menyusui harus bergantian. Calista menatap wajah bayinya yang memiliki kemiripan dengan dirinya hanya sedikit.
"Sepertinya mereka lebih mewarisi wajahmu, suamiku. Hingga aku merasa sulit menemukan kemiripan mereka denganku." Ucap Calista terdengar kecewa.
"Mereka sudah mewarisi kejeniusan mu, istriku sayang. Allah sudah membagikannya dengan adil. Rupa mereka lebih mendominasi denganku dan otak mereka mengcopy kejeniusan mu." Timpal pangeran Fatih penuh percaya diri.
"Bagaimana aku tahu kalau mereka hebat sepertiku?" Tanya Calista.
"Sepertinya, orang yang menanyakan lebih mengetahui dari pada orang yang ditanyakan." Sindir pangeran Fatih.
Calista tersenyum mendengar perkataan suaminya bahwa faktor genetik kecerdasan anak lebih banyak diturunkan dari sang ibu.
Karena ibu yang mengandung dan menyusui dan terlebih lagi ikatan emosional ibu dan anak menjadi faktor penentu kecerdasan anak melalui pola yang terbentuk melalui banyak faktor. Ibu juga madrasah pertama untuk anak-anaknya.
"Bukankah perkataan aku, benarkan sayang? kalau kamu lebih mengetahuinya daripadaku bahwa kejeniusan seorang anak lebih didominasi oleh sang ibu." Ujar pangeran Fatih.
"Memang benar jika kecerdasan anak menurun dari ibu dan ayah. Meski demikian, genetik yang orangtua wariskan bukanlah satu-satunya faktor penentu kecerdasan anak.
Secara umum, faktor lingkungan juga ikut memengaruhi hal tersebut.
Ini termasuk lingkungan sosial, pola asuh pada anak, usia dan pendidikan orangtua, ketersediaan sumber belajar, status sosial ekonomi, serta nutrisi untuk anak." Imbuh Calista.
"Aku tidak pernah menyesal melewati semua rintangan hanya untuk mendapatkan kamu sayang karena kamu pantas aku perjuangkan." Pangeran Fatih mengecup bibir istrinya lebih dalam hingga keduanya berhenti setelah mendengar bunyi pintu di buka seseorang.
Cek..lek
"Assalamualaikum!"
Dalam sekejap rombongan keluarga besar Reza sudah memenuhi ruangan itu. Sementara rombongan keluarga Andien sedang berada di kamar Camilla yang baru tiba di Jakarta langsung ke rumah sakit.
Dari pihak rumah sakit sangat takjub dengan keluarga kembar dari Andien dan Reza ini.
"Ini baru Camilla dan Calista, bagaimana dengan Fariz dan Al serta empat anak kembar kita lainnya." Ujar Andien.
"Belum lagi keponakan aku dan juga keponakan darimu, sayang!"
Imbuh Reza yang tidak bisa membayangkan akan banyaknya populasi keluarga besarnya nanti jika pada berumahtangga.
__ADS_1
.......
Vote dan like nya cinta 🙏🤗