PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
76. Rumah Mertua


__ADS_3

Andien berkali-kali menarik nafasnya gusar. Reza menggenggam tangan lembut itu untuk menenangkan istrinya yang sebentar lagi akan bertemu dengan kedua orangtuanya.


Sepanjang perjalanan itu bau nuansa Ramadhan begitu kental dengan mesjid yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Ini kali keduanya Andien pulang kampung selama merantau di negara Kolombia.


Saat ini mereka tiba di Indonesia pukul sepuluh malam. Andien terus berdoa agar lisannya tidak ditunggangi setan kala bicara dengan kedua mertuanya nanti.


Mencoba melupakan setiap kata hinaan dan ancaman yang pernah ia terima saat pertama kali mereka bertemu.


"Ya Allah, ku serahkan segala sakit hatiku kepadamu, bulan ini penuh dengan RahmatMu, maka berkahi aku dan ampunilah dosaku, saat ini mereka bukan lagi musuhku karena mereka adalah kedua orangtuaku kini. Orangtua dari suamiku yang wajib aku hormati.


Tidak ada perbedaan antara kami, karena merekalah suamiku bisa hadir mendampingiku saat ini. Ia adalah surgaku kini, ya Rabb, tolonglah hambaMu yang hina ini!" Pinta Andien dalam doa tulusnya.


Mobil mewah itu berhenti tepat di depan teras mansion milik kedua mertuanya. Reza membuka pintu untuk sang istri dan di sambut oleh pak Yudi.


"Tuan!" Sapa Pak Yudi kemudian menatap gadis cantik yang sedang mengangguk hormat kepadanya.


"Apakah ini Ibunya kembar empat, tuan?" Tanya pak Yudi yang masih menatap wajah ayu Andien.


"Hmm!"


"Masya Allah, geulis pisan eay!" Pujinya dengan logat khas Sundanya.


Andien hanya tersenyum, lalu merangkul lengan suaminya dengan gemetar.


"Aku tidak pernah segugup ini walau bertemu dengan deretan presiden di berbagai belahan dunia saat presentasi di hadapan mereka.


Tapi, mengapa saat ini tenaga ku seperti dihisap kuat dan rasanya ingin pingsan." Batinnya melewati beberapa pelayan yang menyambut mereka.


Fariz dan Al yang sudah mengakhiri tadarus mereka langsung berteriak memanggil kedua orangtuanya.


"Mamaaaaaa!"


"Ayahhhhh!"


Keduanya berlari memeluk kedua orangtuanya. Mendengar suara saudaranya memanggil ayah dan mama, Calista dan Camilla spontan mencium Alquran mereka dan meletakkan ke tempatnya semula untuk menemui kedua mata kehidupan mereka itu.


"Ayah!" Andien ayah!" Menantu kita datang ayah!" Seru nyonya Susan dengan gugup ketika mendengar keributan di luar musholla mereka.


Tuan Handoyo hanya termangu mendengar nama menantunya disebut istrinya.


"Andien pulang?" Andien datang ke rumah ini?" Ya Allah, bagaimana caraku menunjukkan wajahku di hadapan menantuku itu?" Apakah dia akan membenciku?" Tapi aku pantas mendapatkan kebenciannya." Gumamnya lirih dengan mata berkaca-kaca.


Ia pun berusaha berdiri dengan dengkul yang gemetar, rasanya kedua kakinya begitu berat untuk ia seret melangkah. Dengan berpegangan pada dinding di setiap ruangan itu, ia berjalan sambil berurai air mata.


Mata senja itu menatap sayu melihat wajah cantik nan teduh sudah berdiri di hadapannya.


Andien langsung bersimpuh dan mengambil tangan gemetar itu menciumnya dengan takzim.

__ADS_1


"Ayah.. maafkan Andien!" Ucap Andien sambil terisak mencium lama kedua tangan ayah mertuanya.


Tuan Handoyo ingin pingsan, karena ia tidak pantas menerima permohonan maaf Andien, justru ia yang harus meminta maaf pada menantunya ini, mengapa malah Andien yang meminta maaf padanya.


"Nak Andien!" Jangan lakukan itu, nak!" Ayah yang seharusnya berlutut dan meminta maaf kepadamu karena ayah telah...?"


"Jangan katakan itu lagi ayah!" Andien tidak ingin mendengarnya. Andien ingin melupakannya. Andien tidak mau sakit lagi ayah hanya mengenang mimpi buruk itu.


Rania dan Jody ikut terharu melihat adegan dramatis itu. Reza hanya memeluk keempat anaknya dengan air mata yang sudah terus bercucuran.


Reza meminta Rania dan Jody membawa anak-anaknya ke kamar mereka karena urusan masa lalu jangan sampai keempat anaknya mengetahuinya.


Rania pun mengerti, laku mengajak anak-anak ke kamar mereka." Anak-anak ayo kita ke kamar!" Ayah dan mama sedang melepaskan rindu dengan kakek dan nenek." Ujar Rania sambil menggandeng keponakannya bersama suaminya.


Keempatnya mengangguk setuju, karena sudah mengetahui pertemuan ini cukup menegangkan untuk keluarga ini.


Nyonya Susan lalu memeluk Andien dan menangis bersama sambil duduk di lantai karena sudah tidak sanggup untuk berdiri.


Ketiganya saling berpelukan membuat Reza hanya bisa mengusap air mata haru.


Segala kata terucap semuanya saat itu yang selama ini mereka pendam bersama luka dan penyesalan yang dirasakan oleh mereka selama kurun waktu delapan tahun.


"Sayang!" Sudah!" Tegur Reza yang tidak ingi melihat istrinya drop lagi lalu mengusap air mata Andien.


"Apakah kalian sudah makan, mami siapkan dulu ya nak." Ucap maminya Reza.


"Ayo nak Andien, makan dulu!" Pinta tuan Handoyo seraya mengusap air matanya.


"Ayah juga makan ya!" Pinta Andien kepada ayah mertuanya.


Andien membantu ayah mertuanya untuk berdiri dan keduanya saling berpegangan tangan membuat Reza berdehem.


"Ehhhmmm!"


Ayah! tangan cantik itu milik Reza, ayah!" Canda Reza membuat nyonya Susan tersenyum malu.


"Dasar anak nakal!" Umpat tuan Handoyo lalu duduk di meja bersama putra dan menantunya.


Sementara di kamar anak-anak yang sedang belajar bahasa jawa dengan Tante Rania dan paman Jody terdengar lucu saat mengulangi lagi bahasa ibu mereka.


"Kenapa kalian ingin belajar bahasa Jawa?" Tanya Jody.


"Sebentar lagi kami mau pulang kampungnya mama. Kami juga mau khitan di sana, pastinya orang kampung mama tidak bisa bahasa Inggris seperti keluarga di rumah ini, semuanya pada bisa bahasa Inggris dan itu memudahkan kami bisa berkomunikasi dengan kalian.


Tapi tidak dengan keluarga mama yang belum tentu bisa bahasa Inggris kecuali Oma dan kedua paman tampan." Ucap Al.


"Oh begitu!"

__ADS_1


"Tante dengar, kalian sudah kuliah ya, mengapa kalian sangat jenius?" Tanya Rania.


"Karena gen DNA kami semuanya jenius, entah itu kakek, nenek, mendiang opa dan Oma.


Di tambah lagi mama seorang ahli IT dan ayah ahli bisnis. Kami sudah bisa membaca buku tanpa perlu belajar alfabet. Semua mengalir apa adanya." Ujar Calista.


"Sekarang Calista sudah menguasai delapan bahasa di dunia, dan kami selalu belajar dengannya." Timpal Fariz.


"Tante! sepertinya drama keluarga sudah selesai deh, kami mau menemui ayah dan mama." Pinta Camilla merengek manja.


"Ok cantik, kalian boleh turun sekarang." Ucap Rania.


"Terimakasih om, Tante, love you!" Ucap Calista membuat Rania dan Jody makin gemas.


"Sayang!" Aku sepertinya ngobrol dengan orang dewasa. Ilmu mereka sangat luas dan itu membuatku tidak bosan mendengar mereka bicara.


"Iya, sayang!" Belum lagi mereka itu pintar membuat orang tertawa, tidak selalu membuat kita serius tapi selalu ngelawak saat kita sedang menyimak cerita mereka.


Wah, anak-anak yang hebat!" Mas Reza sangat beruntung sekali dapat anak kembar empat dan semuanya berkualitas. Semoga bayi kembar kita seperti mereka. Aaamiin." Ujar Rania lalu mengajak suaminya menemui kakak ipar mereka Andien.


"Ayah....Mama!" Panggil keempatnya serentak sambil menuruni tangga.


"Apa kabar sayang!" Reza memeluk kedua putrinya dan memangku mereka secara bersamaan karena tadi belum sempat menyapa.


Begitu pula Andien yang memangku kedua putranya.


"Apakah kalian menyusahkan kakek dan nenek selama puasa Ramadhan?" Tanya Andien.


"Tidak sama sekali nak Andien, adanya mereka banyak membawa berkah untuk kami.


Sekarang ayah sudah menghafal satu juz Alquran yaitu juz 30 buat dibawa sholat tahajud dan Dhuha. " Ucap tuan Handoyo malu-malu.


Dan mami juga sudah hafal dua juz, yaitu juz 30 dan 29." Timpal nenek Susan.


"Alhamdulillah, terimakasih anak-anak." Ucap Reza lalu mencium kedua pipi dua gadisnya.


"Kak Andien!" Sapa Rania.


Andien menatap wajah Rania yang mirip dengan suaminya Reza versi cewek.


Keduanya bersalaman sambil cipika-cipiki lalu dengan Jody hanya berjabat tangan.


"Ternyata kak Andien sangat cantik ya kalau dilihat langsung seperti ini. Kak Andien, aku ingin belajar banyak kepadamu bagaimana cara membesarkan empat anak jenius ini." Ucap Rania mengundang senyum malu di wajah Andien.


"Boleh, insya Allah!"


"Wah, ada reuni keluarga nih!" Dulu di ludahin sekarang dijilat, menjijikkan." Sindir Ratih sarkas.

__ADS_1


"Ratiiih!" Bentak Reza dan ayahnya bersamaan membuat suasana kembali menegang."


__ADS_2