PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
88. Kehampaan Tanpa Calista


__ADS_3

Andien dan Reza duduk di samping Calista yang sudah menarik nafasnya begitu lemah.


Andien memperhatikan tubuh lemah putrinya dari ujung jari tangan hingga Unjung rambut Calista.


"Sayang!" Apakah kamu ingin menyerah?" Apakah kamu ingin meninggalkan ayah dan mama?" Apakah kamu tidak kasihan pada Tante Ratih yang sudah berjuang untuk menolongmu?"


"Apakah kamu ingin mams juga ikut mati bersama keempat calon adikmu?" Bagaimana mama bisa bertahan hidup, jika putri mama harus pulang duluan ke pangkuan illahi?" Andien mencium pipi putrinya yang sudah dingin lalu detak jantung Calista mulai berhenti dengan perlahan dan tarikan nafas itu mengakhiri segalanya.


Dokter langsung menarik tubuh Andien untuk memeriksa keadaan Calista lalu menggeleng lemah ke arah kedua orangtuanya Calista.


"Tidaakkkkkk!" Calista jangan tinggalkan mama sayang!" Jangan ambil putriku!" Teriak histeris Andien membuat mata Reza langsung kabur hingga hampir limbung.


Adam dan Ratih berhamburan ke dalam ruang IGD dengan perasaan yang tidak bisa dilukis kan saat ini ketika mendengar teriakannya Andien.


"Mbak Andien!" Panggil mereka kompak.


"Nenek....hiks ...hiks!" Apakah Calista meninggal?" Tanya Camilla menangis keras dihadapi neneknya, membuat Rania memeluk suaminya erat karena tidak sanggup mendengar kabar kematian keponakannya.


Ratih mendekati tubuh lemah itu lalu mencium pipi Calista sambil menahan nafasnya yang terasa makin sesak.


"Hei gadis nakal!" Apakah kamu tidak ingin berdebat denganku lagi?" Siapa yang menyuruhmu pergi secepat ini?" Kau bahkan tidak memberikanku kesempatan untuk minta maaf kepadamu.


Kenapa kamu tega meninggalkan Tante disaat Tante mulai menyayangimu, sayang. Calista bangun!" Calista!!" Ratih seakan tidak terima dengan kepergian keponakannya ini begitu cepat.


Reza memeluk Andien yang sudah pingsan karena tidak sanggup menatap wajah beku Calista.


Semua keluarga yang ada di ruang itu di minta untuk keluar oleh dua orang suster karena dokter Putu sudah menyatakan kematian Calista.


Tim dokter yang terdiri dari tiga orang itu nampak terpaku melihat pasien muda itu tidak bisa mereka selamatkan


Di luar sana Rani sedang membantu nyonya Yuni yang terlihat syok berat.


Tuan Handoyo dan istrinya hanya termangu mendengar kematian cucu mereka.


Agam memeluk dua keponakan lelakinya yang menangis dalam dekapannya.


Tuan Reza!" Apakah jenazah putrimu akan dibawa pulang ke kota anda?" Tanya dokter Putu setelah dua suster melepaskan semua alat medis yang melekat pada tubuh gadis jenius itu.


Reza melihat istrinya yang sedang menatap kosong dengan pandangan nanar tak bergeming dalam rangkulannya.


"Kami akan bawa jenasah putri kami ke Jakarta dokter!" Ucap Reza terlihat pasrah.


"Baik. Kami akan urus berkasnya untuk proses pemulangan jenazah putri anda Calista.


Mobil jenazah akan langsung menuju bandara, setelah berkasnya lengkap." Ucap dokter putu.


"Jenazah putriku akan dibawa dengan pesawat pribadi milik kami dokter." Ucap Reza yang menolak terpisah dengan putrinya.

__ADS_1


Tubuh Calista sudah ditutup dengan selimutnya menuju ke kamar jenazah.


Semua keluarga menghampiri tubuh mungil itu dan melihat wajah cantik Calista seperti putri tidur. Tangis mereka kembali pecah.


"Kenapa bukan aku yang mati, mami?" Keluh tuan Handoyo sambil berurai air mata di depan istrinya.


"Ayah!" Kalau tahu ceritanya seperti ini, aku tidak akan sudi berlibur di sini." Ucap nyonya Susan.


Tidak ada yang sanggup untuk menghibur keluarga itu. Semua tenggelam dengan kesedihan mereka masing-masing. Ketiga saudara kembarnya Calista merasakan kehampaan tanpa Calista.


"Paman Agam!" Fariz gagal melindungi saudariku Calista." Ucap Fariz dalam pelukan pamannya. Al makin merapatkan pelukannya pada pamannya Agam dengan hatinya yang terasa remuk.


Air mata keluarga itu tumpah tanpa ingin berhenti. Andien digendong suaminya menuju ruang jenazah. Mereka tidak ingin meninggalkan putri mereka sendirian di dalam kulkas raksasa itu.


...----------------...


Rombongan keluarga itu sudah ada di dalam pesawat dengan jenasah Calista yang sudah di kemas di dalam peti.


Seorang dokter muda nan cantik berlari mengejar pesawat itu yang sudah berjalan mundur untuk menuju landasan pacu.


Dokter cantik itu melambaikan tangannya agar pesawat itu berhenti. Pilot segera menghentikan pesawatnya dan membuka lagi pintu pesawat.


Reza dan Rendy langsung menghampiri ruang pilot untuk menanyakan penyebabnya.


"Ada apa Tuan Azzam?"


"Sepertinya dokter itu ingin menyampaikan sesuatu." Ucap pilot Azzam sambil menunjuk ke arah dokter yang dimaksud.


Ia langsung menyampaikan hasil diagnosanya kepada anggota keluarga Reza.


Adam yang berprofesi sama dengannya sedang mendengarkan penjelasan dokter itu.


"Assalamualaikum Tuan-tuan dan nyonya sekalian." Maaf saya harus bicarakan ini pada kalian, tapi sebelumnya apakah saya boleh ikut ke Jakarta?"


Reza langsung menyanggupi.


"Terimakasih Tuan Reza!"


Tolong pesawatnya disuruh jalan karena kita tidak punya waktu." Titah dokter Ayu terlihat terburu-buru.


"Apa yang ingin kamu sampaikan dokter?" Tanya Adam yang sudah tidak sabaran.


"Perkenalkan nama saya dokter Ayu. Saya tidak sependapat dengan hasil pernyataan dokter Putu kalau pasien Calista dinyatakan sudah meninggal.


Dari hasil pemeriksaan terakhir yang saya lakukan sebelum jenazah Calista di keluarkan dari ruang IGD saya menemukan hal yang berbeda pada tubuh Calista." Ucap Dokter ayu mengundang tanya dan rasa penasaran mereka.


"Apa maksud Anda dokter?" Apa yang anda ingin katakan dan tolong diperjelas dengan bahasa yang sederhana!" Titah Adam dengan jantungnya hampir mau meledak karena dokter Ayu terkesan terlalu berbelit-belit.

__ADS_1


"Nona Calista belum meninggal!" Ucapnya lantang membuat sekitarnya langsung membelo menatapnya syok.


Ia lalu melanjutkan perkataannya.


"Nona Calista berada cukup lama di dalam laut lepas yang sangat dingin suhunya, sehingga respon jantungnya yang mulai melemah. Setelah mendapatkan CPR dari tim medis pertama yang menyelamatkan jiwanya, dengan menekan jantungnya agar kembali berdetak.


Karena terlalu lama menuju rumah sakit menyebabkan batang otaknya tidak mampu merespon jantungnya.


Lantas, pertanyaannya, bagaimana bisa ada kesalahan dalam menyatakan seseorang telah meninggal? Sebenarnya, dalam medis dikenal dua jenis kematian, yaitu kematian klinis dan biologis.


Kematian klinis diartikan sebagai tidak adanya denyut nadi, detak jantung, dan pernapasan, sedangkan kematian biologis diartikan sebagai tidak adanya aktivitas otak.


Meski kelihatannya sederhana, hal ini juga bisa jadi rumit. Sebab, ada beberapa kondisi medis yang membuat seseorang “terlihat” telah meninggal.


Seperti hipotermia misalnya, yang terjadi ketika tubuh mengalami penurunan suhu secara tiba-tiba, akibat paparan dingin berkepanjangan.


Kondisi ini menyebabkan detak jantung dan pernapasan melambat, bahkan hampir tidak terdeteksi.


Jika ditangani dengan alat medis yang sangat canggih, maka nyawa nona Calista bisa di selamatkan karena masih ada kehidupan yang bisa saya rasakan pada tubuh Calista." Ucap dokter Ayu begitu percaya diri dengan penuh keyakinan dihadapan keluarga besar Reza.


Adam yang mendengar penuturan gadis itu spontan memeluk dokter Ayuningtyas.


"Alhamdulillah terimakasih dokter, anda sangat hebat." Ucap Adam penuh kekaguman.


Reza, Agam, Jody segera mengeluarkan lagi tubuh Calista yang di kemas di dalam peti.


Satu persatu diantara keluarga memeluk Dokter Ayu dengan sangat bahagia.


Nyonya Yuni menatap wajah cantik dokter Ayu." Apakah kamu sudah punya pacar atau suami, sayang?" Tanya nyonya Yuni semangat.


"Belum nyonya!" Aku baru menggeluti profesiku sebagai dokter setahun ini.


"Maukah kamu menjadi menantuku?" Tanya nyonya Yuni spontan.


Degg....


Belum sempat dokter Ayu menjawab, Reza sudah menggendong tubuh putrinya dan di letakkan ke tempat tidurnya.


Andien terlihat semangat lagi.


Dokter Adam dan dokter Ayu segera memeriksakan lagi keadaan Calista.


Dokter Ayu meminta dokter Adam untuk lebih dalam merasakan pergerakan nadi pada tangan Calista dengan ujung jarinya.


Sementara pramugari mengeluarkan alat-alat medis yang sengaja disiapkan di pesawat itu oleh Reza karena membawa ayah dan ibu mertuanya yang menderita riwayat penyakit jantung.


"Alat-alat itu di siapkan oleh mereka. Kebetulan dokter Ayu datang tidak dengan tangan kosong. Dia membawa berbagai obat, cairan infus, jarum suntik dan obat lainnya sebagai penunjang kehidupan Calista.

__ADS_1


Degggg...


Adam menatap wajah cantik Dokter Ayu ketika merasakan nadi Calista masih berdenyut halus hampir tak terdeteksi..


__ADS_2