PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
147. AKULAH KEMATIANMU!


__ADS_3

Camilla makin tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Dokter Samantha sudah diperingati oleh prince Davin untuk tidak memberitahu masalah sebenarnya pada istrinya.


"Ya Allah. Apakah aku salah makan atau bagaimana?" Tanya Camilla kepada suaminya.


"Apakah salah satu bayi saya bisa selamat dokter?" Tanya Davin terlihat pucat.


"Ketiganya berada di kantong yang sama dan kami tidak bisa membantu salah satu bayi yang bermasalah itu prince. Kecuali mereka sudah di luar. Kita hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan." Ucap dokter Samantha sambil berdoa menurut keyakinannya.


"Kak Davin! Aku tidak mau kehilangan salah satu bayiku." Rengek Camilla membuat hati Davin makin sakit.


Ia tidak ingin melihat air mata istrinya sampai jatuh karena itu sangat membuatnya sesak.


Tidak lama kemudian, ratu Pandora didampingi dua pelayannya menjenguk menantunya Camilla.


Pintu kamar ruang inap VVIP itu dibuka perlahan. Davin melirik sesaat ke arah ibunya dengan memberi kode agar ibunya tutup mulut agar Camilla tidak mengetahui kejadian sebenarnya mengingat kondisi kejiwaan Camilla saat ini bisa terganggu.


"Camilla! Apa kabar sayang!" ratu Pandora mengecup pipi menantunya lembut lalu mengusap perut besar Camilla.


"Salah satu bayiku mengalami lemah jantung mommy!" Tangis Camilla kembali pecah.


"Astaga!" Ratu Pandora seketika Terhenyak dengan kabar buruk itu.


"Sayang! Jangan takut! Setiap bayi punya kekuatannya masing-masing. Mommy yakin mereka akan lahir bersama dalam keadaan sehat dan kuat." Hibur ratu Pandora menguatkan hati Camilla, walaupun ia sendiri sangat takut terjadi sesuatu pada cucunya.


"Mommy! Aku takut. Maafkan aku tidak bisa menjaga ketiga bayiku. Aku terlalu memaksakan diri untuk bertemu dengan kalian, hingga membuat calon bayiku harus menempuh perjalanan jauh. Dan aku telah membuat salah satu calon bayiku sakit. hiks..hiks!"


Camilla merasa dia yang bersalah atas sakitnya janinnya. Ratu Pandora merasa bingung untuk menjelaskan kepada Camilla agar gadis ini tidak menyalahkan dirinya sendiri.


Davin tetap menggeleng kepalanya agar ibunya


jangan sampai buka mulut.


"Mommy! Aku mau keluar sebentar, apakah mommy bisa menunggu Camilla?"


"Iya sayang. Silahkan!"


"Sayang! Aku mau ke kantin sebentar. Kamu bisa mengatakan apa yang kamu butuhkan pada mommy." Ujar Davin lalu mengecup bibir istrinya.


"Kak Davin aku tidak mau di tinggal." Tolak Camilla.

__ADS_1


"Hanya sebentar sayang. Kamu bisa mengandalkan mommy. Dia juga sangat menyayangimu." Ujar Davin buru-buru.


"Baiklah. Jangan lama-lama."


"Aku tidak akan lama, aku akan segera kembali, hmm." Davin memagut bibir istrinya sesaat.


Davin mengangguk ke arah ibunya dengan isyarat agar ibunya mengerti apa yang menjadi tujuan putranya yang saat ini sedang meradang berat.


Di depan pintu kamar Camilla sudah ada dua orang pengawal istana yang diutus oleh raja Nerva. Sementara di lobby rumah sakit di sterilkan oleh pihak rumah sakit agar tidak ada pengunjung baik itu keluarga pasien atau pasien yang ingin berobat di rumah sakit itu di alihkan ke rumah sakit lain.


Davin menggunakan sepeda motor kesayangannya yang di antar oleh pengawalnya ke rumah sakit. Suami dari Camilla ini segera terbang di atas aspal dengan kecepatan tinggi seakan ingin cepat sampai ke istana.


Davin membawa motornya memasuki gerbang istana yang sudah di buka dengan cepat oleh dua orang pengawal. Davin masuk ke dalam ruang keluarga dengan motornya membuat keluarga yang sedang berkumpul itu terperanjat. Sementara kaisar Nerva tidak ada di istana saat ini karena ada urusan kerajaan.


Davin turun dari motornya dan menatap garang ke arah keluarganya yang merasa sangat kaget pada lelaki tampan yang berotot kekar ini.


"Katakan! Siapa di antara kalian yang sengaja meracuni istriku dengan obat tidur, hah?" Tanya Davin dengan suara menggelegar.


Kaki itu melangkah dengan gagah namun tersimpan Angkara yang begitu menakutkan. Sialnya diantara mereka sudah kompak untuk menutup mulut karena ingin sekongkol dengan nyonya Ariesta atas permintaan putri Aura yang punya pengaruh besar dalam istana itu.


"Apakah kalian masih ingin bungkam, hah?!"


Davin mendongakkan kepalanya melihat deretan lampu kristal yang tergantung indah di atas sana. Dengan tatapan matanya yang memiliki kekuatan itu, sanggup menjatuhkan empat lampu gantung kristal itu secara serentak menimbulkan dentuman keras ke lantai marmer itu.


Prankkkk...


Diantara mereka tersentak kaget melihat amukan Davin. Semuanya menghindari dari pecahan beling kristal yang berserakan dimana-mana.


"Sial! rupanya kekuatan ilmunya ayah telah diturunkan kepada Davin." Ujar Tuan Cleo geram.


Semuanya baru mengetahui Davin memiliki kekuatan itu dari Kaisar Hades.


"Sial! Bagaimana bisa dia mengusai ilmu itu sementara kita anak-anaknya tidak diberikan sama sekali oleh ayah." Umpat tuan Llorente.


Tidak hanya sampai di situ, Davin mengangkat kursi dan meja yang ada di ruangan itu dengan kekuatannya dan menghempaskan nya ke segala arah hingga terlihat makin berantakan seperti kapal pecah.


Setiap pintu keluar dari empat arah di tutup Davin secara serentak. Keluarganya tidak bisa lagi menyelamatkan diri.


Tubuh mereka makin gemetar dengan ketakutan yang sudah mengubun.

__ADS_1


"Apakah kalian masih mau bungkam, hah?"


Davin mengarahkan perhatiannya kepada tantenya Aura. Ia ingin memberi pelajaran yang setimpal kepada Tantenya itu yang pertamakali sudah mengajak perang mulut dengan istrinya.


Dalam sekejap, Aura merasakan dadanya sesak dengan lehernya seakan tercekik kuat hingga matanya mendelik keluar. Darah segar nampak mengalir di sudut bibirnya.


"Katakan atau kau ingin mati di tanganku? Apakah kau yang melakukannya?" Tanya Davin yang sudah berdiri di hadapan Tante Aura yang sedang menggelepar sambil memegang lehernya yang tercekik.


"Aku adalah KEMATIANMU Tante Aura!" Ujar Davin dengan sinis.


Nyonya Amara yang tidak tega melihat keadaan Aura akhirnya menyebutkan nama pelakunya.


"Lepaskan dia, Davin!" Bentak nyonya Amara namun di tanggap dingin oleh Davin yang ikut menatapnya.


"Apakah kamu ingin bernasib sama seperti saudaramu ini?"


"Tidak!... Jangan! Bukan kami pelakunya."


Semuanya menjauh dan saling berpelukan. Tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk berlari. Davin melihat ke arah keluarganya yang tersisa sekitar dua puluh tujuh orang. Rasanya ia ingin membunuh semua yang tersisa di dalam ruangan itu.


"Katakan!" Atau aku bunuh kalian semua. Tapi sebelum kalian mati, kalian harus merasakan kenikmatan menjelang ajal kalian. " Ujar Davin membuat bulu kuduk mereka makin meremang.


"Ariesta yang melakukannya. Bukan kami." Ujar nyonya Amara yang sudah tidak tahan lagi dengan amukan Davin.


Semua barang yang ada di ruangan itu sudah hancur tak tersisa. Davin melihat wajah-wajah pucat itu namun tidak ditemukan nyonya Ariesta.


"Di mana dia?"


"Di perkebunan keluarga."


"Baik."


Davin menghentikan penyiksaan nya pada Tante Aura hingga wanita berusia empat puluh tahun itu bisa bernafas dengan lega. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi lagi rongga paru-parunya.


Davin mengendarai lagi motornya menuju ke perkebunan untuk membunuh wanita sialan itu. Namun baru saja sampai di pintu gerbang ada telepon masuk dari dokter Samantha.


.....


Like dan vote nya cinta 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2