
Setibanya di Bandara internasional Soekarno-Hatta, Reza tidak langsung mengabarkan kepada keluarganya, bahwa dia akan membawa pulang serta keempat anaknya. Suami dari Andien ini ingin membuat kejutan untuk kedua orangtuanya.
"Apakah kita tidak dijemput keluarga ayah, seperti keluarga mama?" Tanya Camilla.
"Tidak sayang!" Kita akan membuat kejutan untuk kakek dan nenek, apakah kalian suka?" Tanya Reza.
"Itu lebih baik ayah, tapi apa tidak masalah kalau kakek tiba-tiba jantungan lihat kami saking girangnya ayah?" Tanya Calista membuat tawa Reza seketika pecah.
"Tidak mungkin terjadi seperti itu, sayang, kamu terlalu banyak baca cerita kriminal jadi selalu saja berpikiran orang mati." Ucap Reza.
"Ih ayah!" Dunia kriminal tidak ada hiburan untuk membunuh orang. Kalau ini menghibur seseorang itu akan berakibat fatal juga ayah." Timpal Calista.
"Doakan saja, supaya kakek bisa tenang menghadapi kita. Rasanya lucu, saat itu beliau tidak mengenali keturunannya sendiri.
Andai saja sedikit saja hatinya merasakan kami adalah darah dagingnya, mungkin saat itu kami sudah bertemu dengan ayah." Ungkap Fariz.
"Jangankan kakekmu Fariz, yang buatnya sendiri saja, nggak kenal hasil karyanya sendiri, apa lagi kakekmu yang hanya sekedar pengagum kalian, sebagai kakek kalian." Batin Reza yang sedang senyum-senyum sendiri.
"Ayah, kapan ayah kabarin mama?" ko malah senyum-senyum sendiri, awas lho!" Nanti ayah bisa di pecat jadi suami oleh mama." Ucap Al membuat Reza baru menyadari lupanya.
"Astaga!" Ayah sampai lupa sayang." Ujar Reza yang langsung menyalakan ponselnya, yang sedari tadi ia matikan saat pesawat mulai lepas landas.
"Pantas baru dapat mama sekarang, istrinya saja lupa bagaimana kami anaknya." Sindir Camilla yang langsung dicium gemas oleh sang ayah.
Reza menghembuskan nafasnya sepanjang jalan mendengar anak-anaknya sedang ngebully dirinya, tapi itu membuatnya sangat bahagia.
Tapi ia sudah beberapa kali menghubungi istrinya, namun Andien belum mengangkat telepon darinya.
"Kamu ke mana sayang?" Reza mulai cemas tapi tidak ia tampakkan di depan putra putrinya.
"Sayang!" Nanti kalau sudah tiba di mansion ayah, kalian tunggu di luar dulu ya, kalau ayah sudah panggil kalian, baru kalian masuk." Pinta Reza.
"Ya Allah ayah, Apakah saat ini kita sedang main film?" Tanya Al.
"Iya Al, film dalam sandiwara kehidupan." Ucap Fariz memancing gelak tawa mereka semuanya.
"Ya Allah, anak-anakku dari tadi kerjaannya ngebanyol aja ya." Batin Reza sambil cekikikan.
Ketika mobil taksi itu tiba di mansion, Reza turun terlebih dahulu yang langsung di sambut oleh beberapa pelayan.
"Assalamualaikum tuan muda Reza!" Sapa Pak Yudi.
__ADS_1
"Waalaikumuslam pak Yudi, apakah ada kedua orangtuaku di dalam?"
"Ada tuan, tapi di taman belakang." Ucap pak Yudi.
"Jangan katakan kepada mereka kami datang." Ucap Reza.
"Baik Tuan, tapi siapa?"
"Rakyat kecil ku." Ucap Reza sambil mengiring anak-anaknya ke dalam mansionnya.
"Ternyata ayah kita sekaya ini." Kagum Fariz yang melihat rumah mewah yang berdiri di atas lahan seluas dua hektar itu.
"Itu bukan punya ayah sayang, punya kakek dan nenek kalian, ayah hanya numpang di sini." Ujar Reza merendahkan hati.
"Emang ayah anak pungut?" Ko numpang." Ucap Camilla yang membuat Reza kembali tertawa lepas.
"Waduh, anak-anak pantesan mama kalian awet muda, rupanya putra-putrinya punya bakat pelawak juga." Reza kembali tergelak.
"Baru nyadar yah!" Ucap Camilla.
Mereka sudah berada di ruang tengah. Reza meminta keempat anak-anaknya duduk di ruang keluarga. Pelayan yang hampir memanggil nyonya Susan di cegah oleh Reza dengan tatapan angkernya membuat mereka kembali tertunduk.
"Hebat ayah!" Dengan tatapannya saja, pelayan langsung tak berkutik." Ucap Al.
Reza mengucapkan salam kepada keduanya dan seketika orangtuanya begitu terkejut melihat Reza tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Ya Allah sayang!" Kapan kamu datang?" Kenapa tidak memberitahu kami kalau mau pulang. Bagaimana dengan keadaan Andien?" Apakah sudah baikan?" Bagaimana dengan cucu-cucu ku?" Oh betapa rindunya mami." Pertanyaan ibunya yang begitu banyak membuat Reza bingung menjawabnya satu persatu.
Tuan Handoyo hanya menangis sedih saat melihat putranya pulang sendirian.
"Assalamualaikum kakek......!" nenek....!" Panggil keempat anak itu serentak membuat Reza hanya termangu di tempatnya karena tidak sesuai dengan skenario yang disusunnya.
"Hahh...!" Sentak kedua orangtuanya Reza melihat kedatangan keempat cucu mereka dengan teriakan memanggil status baru mereka, yaitu kakek dan nenek.
Tuan Handoyo yang melihat itu seperti sedang mimpi saat ini, ia pun tiba-tiba pingsan membuat anak-anak itu menghentikan langkah mereka.
"Yah, kakek pingsan!"
"Tuh, aku bilang juga apa, suatu hiburan bisa membuat orang serangan jantung." Ucap Calista lirih.
"Kenapa kalian tiba-tiba muncul?" Ayah belum memanggil kalian." Protes Reza pada anak-anaknya.
__ADS_1
"Ayah kelamaan!" Kami nggak sabar ingin ketemu kakek dan nenek." Timpal Camilla.
"Tapi lihatlah kakek kalian hampir pingsan dengan kalian langsung serang begitu tiba-tiba." Omel Reza.
"Ayah nggak pantas marah-marah. Tampan ayah langsung hilang." Canda Camilla.
"Sama aja, ayah. Pakai cara ayah juga, kakek bakalan pingsan juga." Timpal Al, membuat nyonya Susan yang sedang tegang melihat suaminya hampir pingsan ikut tertawa geli.
"Ya Allah Reza, anak-anakmu lucu sekali." Ucap nyonya Susan yang sedang memijat kepala suaminya.
"Sini!" Calista yang doain kakek!" Ucap Calista seraya mendekati ubun kepala kakeknya dengan membaca beberapa doa yang sudah ia kuasai.
Tuan Handoyo baru membuka matanya perlahan-lahan dan melihat wajah cantik Calista yang sangat ia rindukan.
"Calista sayang!" Tangis tuan Handoyo pecah saat memeluk cucu yang paling ia rindukan selama ini.
Nyonya Susan merentangkan kedua tangannya memeluk ketiga cucunya yang sedang menyaksikan kakek mereka memeluk Calista seorang.
"Biarkan kakek memeluk pahlawannya dulu, nanti giliran kita." Ucap Al pada kedua saudaranya.
Reza yang menyadari ketiga anaknya yang terlihat cemburu pada Calista langsung mengingatkan ayahnya dengan bahasa Jawa agar gantian memeluk cucunya yang lain.
"Camilla, Al dan Fariz!" Sini sayang kakek juga kangen dengan kalian.
Ketiganya menghampiri kakek mereka dan memeluk tubuh renta itu.
"Maafkan kami ya kakek!" Baru sempat menemui kakek dan nenek." Ucap Fariz.
"Tidak apa sayang!" Tapi nenek tidak punya sesuatu untuk menyambut kalian." Ucap nyonya Susan.
"Cukup kasih sayang dan kerinduan kalian yang kami butuhkan saat ini." Timpal Calista.
"Ya Allah, cucu-cucu ku!" Tuan Handoyo terus saja menangis setiap mendengar ocehan cucu-cucunya.
"Ayo kita ke dalam sayang!" Tapi di mana Andien?" Apa dia sedang bersembunyi saat ini?" karena takut menemui kami?" Tanya nyonya Susan yang sangat merindukan menantunya juga.
"Iya nenek, mama saat ini sedang bersembunyi di negara Colombia." Timpal Fariz dan mereka kembali terkekeh.
"Astaga!" Kalian sangat lucu sekali.
"Reza juga sepanjang jalan tertawa terus melihat tingkah anak-anak mami." Ucap Reza.
__ADS_1
Derit ponsel Reza berbunyi, Andien yang sudah sejak tadi menghubungi suaminya yang tak kunjung mengangkat telepon darinya.
Reza yang melihat nama istrinya yang tertera di layar ponselnya langsung menerima panggilan itu.