PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
48. Momen Berharga


__ADS_3

Ujian semester pertama sudah selesai. Kini anak-anak dan ibu mereka sedang berdiskusi untuk mengisi liburan. Suasana musim salju yang sebentar lagi akan datang membuat anak-anak membayangkan untuk liburan bersama kedua orangtua mereka.


Dan sampai saat ini, Reza enggan untuk kembali ke Indonesia sejak mengetahui keberadaan anaknya, di tambah dengan sakitnya Andien yang membuatnya ingin selalu dekat dengan Andien.


"Mama Andien, apakah kami boleh mengajak ayah untuk berlibur?" Tanya Calista.


"Boleh sayang!" Tapi kita tidak bisa berlibur ke luar negeri, cukup di sekitar Colombia saja, terserah kota mana yang ingin kalian kunjungi." Ucap Andien.


"Baiklah, kalau begitu kita cari daerah pegunungan untuk menjadi tempat berlibur kita. Mobil Karavan kita bisa gunakan untuk berlibur. Kali ini liburan kita akan meriah karena ada ayah." Ucap Fariz.


"Horeee!" Keempatnya bersorak kegirangan karena membayangkan bagaimana keluarga mereka sudah lengkap saat ini dan akan berlibur bersama.


"Assalamualaikum!" Sapa Reza ditengah kegirangan anak-anak.


"Waalaikumuslam mas Reza!" Ujar Andien dengan tetap memasang wajah datar, tapi sedikitpun Reza tidak peduli dengan wajah itu karena dua yakin Andien masih mencintainya.


"Ayahhhh...!" Teriak mereka lalu berlari menghampiri ayah mereka. Seperti biasa Reza merentangkan kedua tangannya untuk menyambut ratu dan rajanya.


"Apa yang sedang kalian rayakan?" Tanya Reza mengajak keempatnya duduk di hamparan karpet di depan televisi.


"Ayah!" Kami mau mengajak ayah liburan di pegunungan dengan mobil karavan milik kami.


"Oh iya!" Saking senangnya kami sudah membayangkan bagaimana serunya liburan kali ini bersama ayah dan mama Andien.


"Benarkah?" Ayah di ajak juga."


"Itu wajib ayah!"


"Baiklah, kalau begitu kita akan buat kemah dan tiduran sambil menyalakan api unggun." Ucap Reza.


Berarti dua hari lagi kita akan berangkat ayah." Ucap Calista yang sudah mencatat apa saja yang dibutuhkan untuk liburan karena dia yang paling apik untuk mempersiapkan barang tanpa ada yang tertinggal. Sedangkan Camilla mencatat apa saja yang akan mereka masak setibanya di sana nanti.


Begitu pula Fariz dan Al yang akan mengecek mobil di bengkel untuk memastikan kelayakannya untuk keluar kota.


Bagian pemeriksaan kelengkapan dan skedul anak-anak adalah Andien.


"Trus, ayah bawa apa sayang?" Tanya Reza yang ingin partisipasi dalam liburan anak-anak.


"Cukup bawa cinta dan kasih sayang untuk kami dan mama Andien." Celetuk Camilla membuat semuanya terkekeh.

__ADS_1


Tawa Andien yang begitu lepas diantara anak-anaknya. Reza merekam momen berharga itu yang sangat di rindukannya dalam setiap impiannya. Dan kini semua impian itu mulai terwujud satu demi satu hingga ia bisa menikahi Andien, entah itu kapan datangnya hari bahagia itu.


"Ayah, menginaplah disini bersama kami." Ajak Al.


"Tapi...?"


"Mama Andien...boleh ya... boleh ya, ayah menginap di sini!" Pinta Calista membuat Andien mengangguk lembut.


"Terimakasih mama Andien cantik!" Mama aku yang paling hebat sedunia, iyakan ayah?" Tanya Fariz membuat Reza menatap wajah cantik Andien yang terlihat bersemu merah sambil menahan senyumnya karena malu.


"Mama Andien tidak baik...tapi yang terbaik yang pernah ayah kenal." Ucap Reza membuat anak-anaknya bertepuk tangan mendengar pujian ayah mereka untuk mama Andien.


Reza menatap lagi wajah Andien yang tertunduk malu. Hati Reza sangat bahagia di saat ini.


"Ya Allah, jangan pisahkan kami lagi setelah Engkau persatukan kami di sini." Gumam Reza dalam doanya yang tulus.


"Anak-anak mengajak Reza menonton film action. Semuanya pada serius namun karena kelelahan semuanya pada tertidur pulas, padahal film belum habis termasuk Andien yang tidur di atas sofa.


Hanya Reza yang masih terjaga. Ia pun bangkit untuk menyelimuti keempat anaknya dan mematikan lampu. Kini ia melihat Andien yang tidur seperti bayi dengan nafasnya yang teratur.


Reza menggendong tubuh wanitanya untuk di bawah ke kamar.


"Tolong buka pintunya Mona!" Pinta Reza pada pelayan di mansion itu.


Ia pun menyelimuti tubuh Andien hingga dadanya.


Lampu kamar di matikan dan lampu tidur dinyalakan. Reza menatap lekat wajah Andien. Ingin rasanya ia mengecup bibir itu, namun ia sangat takut mengambil kesempatan itu lagi.


"Harusnya aku sudah memelukmu di atas tempat tidur ini Andien. Maafkan aku sayang!" Aku sangat menyesal Andien." Tangis Reza kembali terdengar namun di bekapnya dengan tangannya.


Ia segera keluar dari kamar itu agar tidak tergoda dengan pikirannya yang sudah dipanah setan.


Reza berbaring dekat dengan putranya Al dan mengarungi mimpi bersama keempat anaknya.


🌷🌷🌷🌷🌷


Dua hari kemudian.


Reza sudah datang dengan membawa beberapa makanan untuk acara liburan mereka.

__ADS_1


Anak-anak mengajak Reza untuk melihat mobil karavan yang sudah rapi. Reza melihat mobil mewah itu yang sudah lengkap dengan tempat masak, kamar tidur dan toilet. Ada juga lemari, kulkas, tv dan beberapa peralatan masak yang dibutuhkan di sana.


"Ayah!" Ini rumah kedua kami." Ucap Al.


Andien yang baru keluar dari mansion dengan baju santai yaitu kaos oblong warna navy dan celana jins biru. Ibu empat anak itu terlihat seperti masih gadis walaupun saat ini usianya sudah dua puluh enam tahun.


Rambutnya yang panjang di biarkan tergerai indah dengan balutan makeup tipis melengkapi penampilannya pagi itu.


Reza memperhatikan penampilan Andien tanpa berkedip.


"MasyaAllah cantik banget kamu sayang!" Jantung Reza makin berdegup kencang.


"Ayah jatuh cinta lagi sama mama Andien?" Bisik Camilla membuyarkan lamunan ayahnya.


"Aiss!" Dasar anak nakal!" Tidak bisa melihat ayahnya bahagia." Gerutu Reza membuat Camila tertawa terpingkal-pingkal.


"Ada apa Camilla?"


"Ada bintang jatuh." Ucap Camilla.


"Mana ada bintang jatuh di pagi hari." Sungut Calista. " Lagian percaya aja sih kamu." Ucap Camilla membuat Reza dan Andien terkekeh mendengar canda kedua gadis kecilnya.


"Apakah semua sudah siap?" Tanya Andien pada anak-anaknya yang sudah berkumpul.


"Sudah siap mama Andien!" Ucapnya serentak.


"Baik, kalau begitu kita baca doa naik kendaraan darat, Fariz!" Ayo pimpin doanya."Titah Andien pada Fariz yang sudah siap untuk membaca doa.


Antara sopir, satu orang pelayan dan keluarga kecil itu sedang membaca doa dengan khusu. Setelah itu satu persatu semuanya menempati kursi mereka masing-masing.


Camilla dan Calista, Fariz dan Al. Mereka duduk berdua- berdua sekarang tersisa satu bangku untuk dua orang lagi yaitu Andien dan Reza yang duduk bersebelahan.


"Nyonya ini...?" Reza langsung mengambil mantel milik Andien dari tangan pelayan.


"Biar saya saja Mona yang berikan pada nyonya." Ucap Reza.


"Baik tuan!" Hati-hati di jalan!" Ucap Mona.


"Mama Andien!" Pakai mantel dulu sayang!" Titah Reza saat Andien hendak masuk ke mobil.

__ADS_1


Reza mengenakan mantel itu ke tubuh Andien dan keduanya masuk ke mobil dan menempati bangku yang tersisa untuk mereka berdua.


Mobil Karavan itu mulai bergerak meninggalkan mansion milik Andien menuju daerah puncak.


__ADS_2