
Usai lebaran hari ketiga, Al dan Fariz menjalani khitan bersama dengan anak-anak tetangga mamanya Andien.
Kini keduanya sudah bisa beraktivitas kembali, setelah tiga hari beristirahat di kamar. keduanya sudah merasa lebih baik saat ini dan memutuskan rencana liburan mereka sekaligus merayakan hari jadi mereka yang ke delapan tahun.
Tiga hari kemudian, dua keluarga besar ini memutuskan untuk liburan ke Denpasar Bali sesuai keinginan kembar empat yang ingin merayakan ulang tahun mereka yang ke delapan di pulau Dewata tersebut.
Bukan hanya Bali saja yang menjadi obyek wisata yang akan mereka kunjungi, melainkan mereka juga ingin mengunjungi daerah wisata lainnya yaitu pulau Komodo Labuhan Bajo Nusa Tenggara Timur.
Pulau Komodo juga diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, karena dalam wilayah Taman Nasional Komodo, bersama dengan Pulau Rinca, Pulau Padar dan Gili Motang.
Rombongan keluarga itu naik satu persatu ke dalam pesawat jet pribadi milik Andien yang merupakan hadiah dari suaminya Reza sebagai kado pernikahan mereka.
Kebetulan asisten pribadinya Reza, yaitu Rendy ikut dalam rombongan itu. Ada juga Rani sahabat baik Andien yang sengaja di ajak Andien untuk ikut mereka berlibur.
Semua duduk sesuai dengan pasangan mereka masing-masing kecuali Ratih dan Rendy yang memiliki bangku yang tinggal satu pasang.
Ratih yang lebih dulu duduk sambil memainkan ponselnya tanpa melepaskan kacamata hitam yang bertengger di atas hidungnya.
Sebenarnya Rendy sangat gugup jika sudah berhadapan dengan Ratih. Dari dulu Rendy sudah menyukai Ratih, namun dia cukup tahu diri karena tidak memiliki apapun kecuali pekerjaannya sebagai asisten pribadinya Reza dibandingkan kekasihnya Ratih yaitu mantan suaminya Ratih yang sudah menikah lagi dengan sahabat akrabnya Ratih sendiri.
Rama yang juga seorang pengusaha muda yang hebat dengan wajah tampan serta cerdas dalam mengolah bisnisnya membuat Rendy harus mundur teratur dari niatnya untuk mendekati gadis itu.
"Maaf nona Ratih!" Apakah saya boleh duduk di sini?" Tanya Rendy hati-hati.
"Kalau mau duduk, ya duduk saja!" Kenapa harus pakai acara tanya?" Bentak Ratih pada Rendy yang makin gugup menghadapi wanita satu ini.
Kembar empat nampak mengulum senyum, sepertinya mereka punya rencana untuk menjodohkan Tante Ratih dan om Rendy.
"Nona Ratih!" Kenapa masih pakai kacamata?" Apakah ruang cahaya di sini menyilaukan mata anda, nona?" Tanya Rendy yang berusaha bersikap baik pada Ratih.
Ratih merasa jengah dengan pertanyaan Rendy yang terlalu menyebalkan dirinya.
"Apakah kamu bisa diam?" Tanya Ratih kesal.
"Maaf!"
Rendy mengalihkan perhatiannya ke majalah bisnis yang terselip di belakang jok pesawat yang diduduki Camilla dan Calista.
"Orang lagi liburan, masih saja ngurusin bisnis, aneh." Sindir Ratih membuat Rendy kembali menatapnya.
"Apakah kamu butuh teman ngobrol?" Pancing Rendy sambil tersenyum menatap wajah cantik Ratih.
"Cih!" Percaya diri sekali." Jawab Ratih so cuek.
Rendy hanya menarik nafasnya karena merasa serba salah menghadapi Ratih yang tidak bisa menentukan sikapnya. Ia lalu memilih untuk mendengarkan lagu yang ada di pesawat itu dengan menggunakan headset sambil memejamkan matanya.
"Bagaimana sih nih orang?" Tadi dia tanya butuh teman ngobrol atau tidak. Ko malah aku di cuekin lagi." Gerutu Ratih melihat wajah Rendy kembali datar melihatnya.
__ADS_1
"Ahkk!" Sudahlah!" semua lelaki sama saja." Ratih makin gregetan dengan ulah Rendy yang kembali mengacuhkan dirinya.
Di dalam kamar, Andien dan Reza sedang ngobrol berdua. Mereka tidak kebagian bangku hingga memilih tempat tidur sebagai tempat mereka beristirahat di dalam kabin pesawat itu.
"Sayang!"
"Hmm!"
"Apakah kamu lelah?" Tanya Reza sambil membelai pipi Andien lembut.
"Tidak mas Reza!" Aku senang menikmati liburan ini." Andien merapatkan tubuhnya pada sang suami.
Reza memeluk istrinya sambil mengusap perut Andien lembut.
"Sepertinya Allah memberikan aku kesempatan untuk melihat kehamilanmu kali ini dengan jumlah kembar yang sama.
"Aku tidak akan melewatkan sehari pun untuk melihat perutmu yang makin membesar, sayang."
"Apakah mas mau merawat ku jika kami akan menyusahkan kamu nanti?"
"Itu adalah kewajibanku, jadi tidak perlu bertanya seperti itu."
"Bagaimana kalau aku mati usai melahirkan mereka, mas?"
"Apakah tidak ada pertanyaan yang lebih baik lagi dari ini, sayang?" Mengapa kamu senang sekali mendahului urusan Allah?"
"Baiklah!"
Andien memejamkan matanya dan sambil menunggu pesawat yang sebentar lagi akan landing di bandara Ngurah Rai Denpasar Bali.
...****************...
The Westin resort Nusa dua Bali, menjadi pilihan mereka untuk menginap di tempat romantis itu.
Resort ini berada tak jauh dari Nusa Dua Beach Hotel & Spa. Lokasinya cukup strategis karena berada di kawasan pariwisata Nusa Dua.
Yang menawarkan berbagai kemewahan yang akan memanjakan keluarga besar Reza, yang saat ini akan bermalam di sana.
Pantai pribadi yang indah dan tenang pun tidak akan mengecewakan. Bahkan, mereka sangat menikmati pulau Dewata itu dan akan betah di sana, meski berada seharian di resort ini.
Kembar empat sedang mengagumi resort dan alam sekitarnya dengan wajah berbinar.
"Ayah!" Ini sangat keren!" Apakah dulu ayah dan mama pernah bulan madu di sini?" Tanya Camilla sok tahu.
Degggg...
Reza dan Andien saling berpandangan dan merasa sangat malu dengan pertanyaan putrinya.
__ADS_1
"Camilla mau kamar yang mana sayang?" Tanya Reza mengalihkan perhatian putrinya.
"Oh iya, Camilla lupa." Camilla mencari Calista yang sudah berjalan terlebih dahulu mencari kamar yang akan di tempati mereka berdua.
Setiap orang sibuk memilih kamar mereka masing-masing tapi tidak dengan Ratih yang malah turun ke pantai untuk memandangi matahari yang akan terbenam.
Rendy tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menyusul Ratih ke pantai.
Ratih duduk di salah satu bangku panjang yang biasa digunakan para penghuni resort untuk berjemur.
Ia sibuk Selfi dengan gayanya yang cantik sambil tersenyum hambar menghibur dirinya sendiri.
Ratih Selfi membelakangi bibir pantai agar bisa terlihat background matahari terbenam diatas permukaan laut.
Karena terlalu asyik selfi, Ratih lupa di belakangnya datang ombak yang akan menghempaskan tubuhnya membuat Rendy terlihat panik dan langsung menarik tubuh Ratih agar tidak terkena ombak hingga keduanya jatuh dengan saling menindih.
Wajah keduanya saling bertatapan mengikis jarak antara mereka. Ratih segera bangkit karena ombak berikutnya sudah mengenai kaki mereka.
Wajah cantik Ratih terlihat memerah dengan memberikan senyum samar pada Rendy yang merasakan dadanya yang hampir meledak.
"Kamu tidak apa Ratih?"
"Ah, ponselku?" Mana ponselku?" Ratih merasa sangat malu dan teringat akan ponselnya untuk menutupi rasa malunya.
Ternyata ponsel Ratih di balik punggung Rendy saat Rendy menangkap tubuhnya.
"Ini Ratih!" Rendy mengembalikan ponsel Ratih yang sempat tertindih olehnya.
"Terimakasih!" Ratih meninggalkan Rendy menuju resort.
Sementara Andien dan Reza memandang laut lepas dan mengajak suaminya untuk turun ke pantai.
"Wah, ini sangat hebat dan indah sayang, aku tidak menyangka sembilan tahun meninggalkan Indonesia dan ini pertama kalinya, aku berkunjung di pantai ini." Ucap Andien yang sudah duduk bersama suaminya di pinggir pantai.
"Maaf sayang!" Baru bisa membawamu dan anak-anak berlibur ke sini." Lagi-lagi Reza merasa sangat menyesal baru membahagiakan istrinya saat ini.
"Tidak apa mas Reza!" Tolong jangan lagi terus menyesali perbuatan mas Reza kepada kami.
Aku sudah memaafkan mas Reza ketika melahirkan kembar empat. Itulah mengapa aku lebih memilih membeli apartemen sederhana untuk aku dan bayi kembar empat saat itu dan menolak menetap di kediaman Tuan Leo yang sudah mempersiapkan segalanya untuk kami.
Degggg...
"Jadi kalian tinggal serumah?" Apakah kalian pernah menjalin hubungan?" Apakah kamu pernah jatuh cinta kepadanya?" Apakah dia pernah menyentuhmu?" Pertanyaan Reza yang terlihat cemburu pada tuan Leo membuat Andien naik pitam.
Plakkkk...!"
Sebenarnya Reza sudah mengetahui semuanya tapi entah kenapa hatinya sangat sakit bila mengingat tuan Leo lebih dekat dengan Andien dan keempat anaknya.
__ADS_1