
Tiga bulan pasca di adili nya para menteri yang sudah menerima hukuman mereka sesuai undang-undang yang berlaku di negara tersebut, kini keadaan mulai kondusif.
Sementara itu, kandungan Calista baru memasuki usia empat bulan terlihat lebih besar dari pada wanita hamil normal.
Sejak kehadirannya menjadi seorang istri dari pangeran Fatih, banyak sekali peran Calista dalam membenahi struktur manajemen Istana sehingga semuanya terlihat lebih terstruktur dan terpercaya.
Dan kini suasana Istana kembali memanas. Semua menteri yang melakukan korupsi harus di ganti dengan para menteri kerajaan yang berkualitas namun status mereka tidak berdasarkan golongan bangsawan tapi berasal dari rakyat biasa.
Kebijakan baru ini berdasarkan pertimbangan Calista yang tidak ingin melibatkan para keluarga kerajaan yang akan menguatkan hierarki kerajaan demi kepentingan pribadi bukan kepentingan umat.
Raja Hassan yang tidak ingin lagi kecolongan dari setiap permainan kotor para menteri kerajaan yang diangkat berdasarkan gelar bangsawan, memilih setuju dengan ide dari menantunya Calista yaitu mencari para calon menteri berdasarkan integritas dan Akhlakul karimah.
Kini Calista memiliki kiprah sendiri dalam menyeleksi siapa saja yang pantas di angkat menjadi seorang menteri kerajaan berdasarkan loyalitas entah dari mana dia berasal.
Tapi diantara para penasehat kerajaan tidak setuju dengan idenya Calista yang mengangkat rakyat jelata untuk menduduki kursi menteri di istana, walaupun mereka memiliki kemampuan secara intelektual dan akademis.
Hal ini akan memalukan para bangsawan yang tersisa yang masih bisa menempati jabatan mereka sesuai kriteria yang ditetapkan oleh kerajaan tanpa harus melibatkan rakyat jelata dalam istana.
"Yang Mulia! Pertimbangan kembali apa yang menjadi rencana putri Calista untuk merombak para menteri istana dengan melibatkan rakyat jelata." Ujar Tuan Hamis yang merupakan penasehat kerajaan.
"Mengapa orang luar tidak boleh dilibatkan tuan Hamis?" Tanya raja Hassan dengan wajah tak bersahabat.
"Karena mereka bukan keluarga bangsawan." Ujar tuan Hamid.
"Hanya itukah yang menjadi pertimbangan bagimu?"
"Iya yang mulia!"
"Apakah kamu tidak belajar dari kesalahan mereka yang sudah mengeruk keuntungan selama menjadi menteri kerajaan untuk memperkaya diri?" Tanya raja Hassan sambil menahan geram.
"Tapi tidak semua dari mereka melakukannya yang Mulia. Ada juga yang terlibat hanya karena ikut-ikutan saja dan juga karena paksaan dan ancaman, jadi mau tidak mau mereka ikut terlibat dalam permainan kotor oknum pejabat tertentu." Ucap Tuan Hamis masih membela keluarganya yang sekarang di tahan di bawah istana.
"Mereka sudah melakukan kejahatannya secara berjamaah seperti itu, entah dia hanya merasa terpaksa atau tidak, toh selama ini yang merasa dirinya terancam, ikut menikmati buah dari keterlibatannya juga bukan?" Timpal pangeran Fatih membuat tuan Hamis bungkam.
"Wahai menantu! bagaimana menurut pendapatmu dalam mempertimbangkan kembali pengangkatan para menteri istana yang pantas menduduki jabatan mereka dalam mengurus negara ini?" Tanya raja Hassan pada Calista yang terlihat tenang.
__ADS_1
"Menurut hemat saya, kita harus lebih mengutamakan memilih diantara para kandidat kuat yang memiliki keimanan yang kuat dalam dirinya, selain kualitas ilmu yang dikuasainya sesuai dengan keahliannya dalam bidang tertentu.
yang merupakan nilai utama untuk mereka pantas menduduki jabatan menteri dalam istana ini adalah kejujuran." Tegas Calista.
"Apakah kamu mengira para putra bangsawan tidak memiliki kriteria itu, putri Calista?" Tanya penasehat Tuan Yasser.
"Terlepas dia itu bangsawan atau bukan yang jelas siapa saja yang akan menduduki jabatan menteri di kerajaan ini harus memiliki kejujuran.
Karena kejujuran dalam hal ini bukan hanya omongan, pemanis retorika, tapi juga tindakan. Jika dimulai dengan kejujuran, kredibilitas, dan banyak akhlak mulia lainnya, maka karakter inilah yang sangat dibutuhkan seorang menteri kerajaan saat ini dan selamanya.
Karakter agung ini tentu akan bermuara pada manusia pilihan Al Mustafa Muhammad SAW sebagai penyempurna karakter manusia.
Di mana salah satu bentuk integrasi pribadi akan terlihat percaya diri dan elegan serta tidak mudah terpengaruh oleh sesuatu hanya untuk melewati kegembiraan atau kesenangan sesaat.
Seseorang yang tulus lebih berhasil ketika mereka menjadi menteri, baik formal maupun informal. Dan itu berlaku juga untuk pemimpin kerajaan maupun pejabat wilayah atau kalian sendiri para penasehat kerajaan." Ujar Calista membuat suasana mulai bising seperti suara rombongan lebah.
Ada yang sangat puas dengan pemaparan yang di sampaikan oleh Calista namun tidak sedikit dari mereka yang di dalam hatinya ada kedengkian. Mereka yang tidak ingin tersingkirkan begitu saja dari jabatan mereka yang merupakan keluarga bangsawan.
"Yang Mulia! Apakah engkau akan mempermalukan keluargamu sendiri karena lebih memilih rakyat jelata untuk menduduki jabatan di dalam istana ini?" Tanya Tuan Yasser.
Jika untuk mempertahankan posisi jabatan hanya berdasarkan status sosial, bukankah tidak menutupi kemungkinan mereka akan mengendalikan kepemimpinan anda sesuai dengan apa yang mereka inginkan?" Timpal Calista membuat para menteri tercengang karena ketahuan juga kedok mereka.
"Sialan! Dari mana pangeran Fatih mendapatkan perempuan yang memiliki lidah silet seperti itu?" lirih tuan Hamis menatap tajam wajah Calista.
Calista mengalihkan pandangannya ke suaminya yang memberikan senyum terbaiknya untuk sang istri usai ia mempermalukan para penasehat kerajaan.
"Yang Mulia! sebaiknya seorang perempuan tidak perlu ikut campur untuk urusan istana ini." pinta tuan Yasser.
"Jika perempuan tidak dilibatkan untuk urusan ini, mengapa selama ini kalian sangat sibuk menjodohkan raja atau putra mahkota dengan para perempuan dari kerajaan lain kalau tidak memiliki tujuan lain agar suaranya di dengar oleh raja.
Dan ia harus pintar membujuk sang raja dengan kemahirannya yang sudah kalian atur untuk menguatkan posisi kalian di istana ini, bukan?" Sindir Callista sarkastik
"Kau...!"
Geram para penasehat kerajaan.
__ADS_1
"Bukankah dengan cara itu kalian bisa menimbun harta haram untuk mencari mangsa berikutnya sebagai calon ratu untuk istana ini, jika ratu sebelumnya mulai membangkang kalian karena lebih mengutamakan suara hatinya untuk bisa kalian singkirkan dengan berbagai fitnah keji yang kalian arahkan kepadanya. Bukankah itu faktanya?" Lanjut Calista.
"Hei rakyat jelata, jaga sikapmu kepada kami yang merupakan keluarga bangsawan!" Bentak tuan Hamis.
"Hah? Keluarga bangsawan katamu? apakah kamu tidak ingat latar belakangmu, tuan Hamis?
Ibumu sendiri adalah seorang pelayan istana yang harus melayani makan minumnya raja. Ia yang saat itu sedang jatuh cinta pada raja sebelumnya dengan mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman raja dengan begitu ia bisa menjebak raja untuk menikahinya, tidak apa dirinya hanya dijadikan seorang selir saat itu, yang penting dia bisa hidup mewah dan sekarang tuan adalah hasil dari jebakan terkutuk itu.
Jika dibandingkan dengan diriku sebagai rakyat jelata, siapa yang lebih terhormat antara aku dengan dirimu tuan Hamis." Sindir Calista dengan kata-kata menohok.
Raja Hassan dan putranya begitu kaget dengan pernyataan Calista yang mengetahui semuanya padahal tidak ada diantara mereka yang memberitahukan rahasia memalukan ini pada Calista.
"Hai gadis angkuh! Jangan kau memperlihatkan taringmu di sini hanya karena kamu adalah seorang menantu di istana ini. Nasibmu masih belum jelas di istana ini dan kamu sangat sombong pada kami." Timpal tuan Hamis.
"Orang seperti tuan, hanya bisa ditaklukkan dengan keangkuhan yang sama. Bukankah anda saat ini sedang mengajari aku bagaimana cara bersikap kepada anda tuan? Anda sendiri yang memaksaku bersikap sesuai dengan yang anda inginkan, bukan? Aku hanya mensejajarkan diriku saja dengan derajat anda tuan dengan bersikap angkuh sama sepertimu. Dan tuan tidak lebih dari seorang bangsawan berkualitas rendah.
"Dasar perempuan terkutuk...!" Umpat tuan Hamis dengan wajah memerah menahan malu dan marah saat ini.
Saat suaminya ingin menghentikan perdebatan istrinya dengan tuan Hamis, raja mencegah putranya karena ia sedang menikmati tontonan menarik ini. Hanya Calista yang bisa membalaskan dendamnya kepada para pemangku jabatan istana yang selama ini sudah menindas perasaannya.
Pangeran Fatih kembali duduk tenang di kursinya tepat sebelah ayahnya raja Hassan.
"Anda telah terbius dengan duniawi tuan, hingga anda lupa kalau dunia itu hanyalah sebelah sayap nyamuk yang tidak ada nilainya dihadapan Allah.
Jika anda lebih banyak tafakur atas kenikmatan Allah dengan janjiNya yang akan membangun kemegahan istana anda di akhirat nanti, yang jauh lebih megah berpuluh-puluh kali lipat dari kemewahan istana di dunia ini,
mungkin saat ini, anda lebih memperbaiki diri dengan memperbanyak amal sholeh untuk mendapatkan istana yang dijanjikan Allah itu, dari pada sibuk memikirkan cara untuk memperkaya diri dengan dalih memperkuat sistem hierarki kerajaan ini.
Sementara usia anda saat ini lebih membutuhkan perhatian Allah dari pada perhatian raja. Usia anda sudah 73 tahun, itu berarti sudah mendapatkan bonus lebih dari Allah. Pikirkan tuan-tuan yang ada di sini, usia kita di dunia sangat pendek dari pada usia kita di kuburan nanti sangatlah panjang karena menanti hari kiamat yang pasti akan datang, sementara kita pasti akan melewati hari panjang itu dengan siksaan atau kenikmatan kubur. Mungkin Allah menjanjikan kita bisa masuk surga dengan RahmatNya, tapi kita tidak bisa terlepas dari siksaan kubur." Kecam Calista sambil menatap tajam wajah tuan Hamis dengan tatapan membunuh.
Glekkkk....
.....
Terimakasih untuk Khadijah Tea untuk tip nya.. semoga berkah rejekinya.. aaamiin 🙏🤗
__ADS_1