
Semua yang hadir sudah mulai gelisah karena keterlambatan Reza yang saat ini belum muncul juga. Beruntunglah tuan penguasa mengirim anak buahnya untuk menjemput Reza dengan sepeda motor agar tiba di rumah sakit lebih cepat.
Salah satu anggota paspampres meminta polisi untuk mencari mobil Reza yang terjebak macet ditengah salju yang terus menumpuk sehingga pembersihan jalanan untuk menyingkirkan salju sedikit mengalami kendala.
Dengan bantuan JPS melalui ponsel Reza, akhirnya pihak keamanan mendapatkan nomor plat mobil Reza yang berada di dalam kemacetan yang sangat parah itu.
Awalnya Reza kaget dengan sirine motor polisi yang berhenti di samping mobilnya.
Tok...tok...tok!"
Kaca jendela mobil milik Reza di gedor beberapa kali oleh petugas keamanan. Reza langsung menurunkan kaca mobilnya dan melihat wajah polisi itu dengan gugup karena ia tidak tahu apa kesalahannya.
"Selamat sore tuan Reza!"
"Sore tuan!"
Kami di minta untuk menjemput anda atas perintah tuan Edgar. Tolong ikut dengan kami karena mobil anda tidak akan bisa bergerak cepat menuju rumah sakit.
Saat ini keluarga mempelai wanita dan tamu undangan sudah mulai gelisah menunggu kehadiran anda." Ucap petugas polisi tersebut.
"Baik tuan!" Terimakasih atas bantuan kalian!"
Reza mengambil koper kecil miliknya dan turun dari mobil itu setelah memberikan kunci mobilnya untuk di amankan oleh petugas.
Ia pun naik motor petugas keamanan itu dengan pengawalan ketat menuju rumah sakit sekitar sepuluh menit waktu tempuh untuk mencapai rumah sakit.
Dalam hati Reza, ada kebanggaan tersendiri memiliki kekasih seorang Andien yang punya pengaruh besar di negara ini, hingga dirinya sudah tiga kali di tolong oleh orang-orang Andien atas perintah tuan penguasa.
Tiba di rumah sakit, Reza berlari tergopoh-gopoh ke kamar Andien yang sudah menunggunya hampir dua jam. Ketika pintu kamar di buka oleh ajudan tuan Edgar, bagi tamu yang beragama Islam langsung berseru." Alhamdulillah, akhirnya datang juga!" Ucap mereka sambil mengelus dada.
Agam yang mengetahui kedatangan Reza lalu meminta keempat keponakannya untuk keluar menuju kamar sebelah.
"Kami mau di bawah ke mana paman?" Tanya Camilla.
"Nanti kalian bisa lihat sendiri kejutan dari ayah kalian untuk kalian." Ucap Agam dengan wajah berbinar.
__ADS_1
Pintu kamar Andien di buka oleh suster dan keempatnya melihat suasana yang sangat berbeda di kamar itu. Manik hitam keempatnya berbinar melihat ayah mereka sudah memakai kopiah dan stelan jas hitam terlihat gagah sedang duduk di depan penghulu dan paman Adam yang sudah siap menikahkan ibu mereka yang masih belum siuman.
"Ayahhhh!"
"Mamaaaa!" Teriak mereka serentak tanpa menghiraukan keheningan tempat itu akan kesakralan acara pernikahan itu yang sedang berlangsung khidmat.
"Sssstttt!" Diam sayang!" Ayah dan mama kalian akan menikah." Ucap paman Agam, menenangkan keponakannya yang terlihat antuasias melihat ayah dan ibu mereka akan menikah.
Reza melihat keempat anaknya dan mengangguk sayang, sebagai isyarat untuk meminta mereka tenang mengikuti prosesi pernikahan itu.
Keempatnya duduk di belakang punggung ayah mereka siap mendengarkan pembacaan ijab kabul.
Para malaikat yang ada di bumi maupun di bawah Arsy nya Allah sedang menantikan pembacaan ijab kabul yang akan diucapkan oleh Reza. Arsy Allah akan bergetar jika setiap hamba yang sedang mengucapkan ijab kabul untuk menghalalkan setiap hubungan antara pria dan wanita muslim.
Bertindak sebagai wali nikah Andien adalah saudara kembarnya Adam.
"Saudara Reza Mahardika Bin Handoyo Atmojo saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan saudari kandung saya yaitu Eliza Andien Khasanah Binti Mahendra Aditama dengan mas kawin seperangkat perhiasan di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Eliza Andien Khasanah Binti Mahendra Aditama dengan mas kawin tersebut tunai." Ucap Reza dengan fasih di sambut dengan kata sah dari dua saksi yaitu pak Abdullah dan asistennya Reza, Rendy.
Ibunya yang setia duduk di sebelah putrinya dalam keadaan terharu melihat Andien yang mengerjapkan matanya langsung sumringah.
Andien melihat ke sekelilingnya, yang sudah banyak orang yang hadir di tempat itu dan ia merasa saat ini tengah bermimpi.
Andien tidak bergumam hanya sekedar memandang sekitarnya dengan perasaan bingung. Nyonya Yuni hanya mengangguk sayang tanpa suara, namun air matanya berbicara banyak yang mengandung makna, entah rasa syukur dan bahagia ataukah rasa ketakutan akan kehilangan putri satu-satunya.
Doa yang terkandung indah disertai wejangan syeh Muhammad Sholeh yaitu imam besar mesjid Turki yang ada di Bogota Colombia, sedang memberikan nasehat kepada Reza dan Andien sebagai bekal pernikahan mereka untuk membuka lembaran baru kehidupan rumah tangga mereka mulai hari ini.
Setelah prosesi acara pernikahan itu usai, para tamu di bawa ke ruang pertemuan dokter untuk menikmati hidangan yang sudah di pesan oleh Reza dari sebuah restoran untuk merayakan pernikahannya yang dihadiri oleh para kolega Andien dan Reza serta para dokter dan suster yang saat itu sedang bertugas.
Para tamu hanya di temani kedua saudara kembar Andien dan asisten Rendy. Sementara ibunya Andien dan Reza bersama dengan keempat anaknya sedang berbicara dengan Andien yang baru siuman.
"Hai, assalamualaikum sayang!" Reza mengecup pucuk kepala Andien yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
"Terimakasih ayah!" Sudah menikahi mama." Ucap keempat anaknya.
__ADS_1
"Andien, selamat atas pernikahanmu sayang!" Semoga Allah memelihara pernikahan kalian sampai akhir hayat. Cepat sehat sayang!" Ibu sangat merindukanmu!" Ucap Nyonya Yuni sambil berurai air mata.
Andien tetap tidak bergumam dan juga tidak menangis. Ia hanya memandang orang-orang yang sangat ia cintai dengan perasaan haru.
Tidak lama, tuan Edgar dan profesor Brooklyn mendatangi lagi kamar Reza untuk memberikan selamat kepada keduanya dan langsung pamit pulang.
"Selamat Andien, Reza atas pernikahan kalian, semoga nona Andien cepat sembuh dan menjalani kewajibanmu sebagai istri, ibu dan abdi negara.
Aku menantikan kehadiranmu di kantor. Datanglah dengan senyum yang menghiasi wajahmu karena aku belum pernah melihat senyum dan tawamu selama bekerja denganku." Ucap tuan Edgar.
"Selamat Andien, Reza!" Tuhan sudah menyatukan kalian dengan melewati berbagai rintangan. Ingat Reza! jangan lagi membuat gadis ini menderita karena akulah saksi hidup bagaimana gadis hebat ini berjuang untuk melahirkan dan membesarkan anak-anakmu sambil menempuh pendidikan hingga mencapai gelar doktor dan sebentar lagi gadis ini akan mendapatkan julukan baru yaitu profesor dari tuan Edgar. Benar begitu tuan Edgar?"
"Tentu saja profesor Brooklyn, kita memiliki gadis hebat ini dengan keempat anaknya yang banyak membantu negara ini.
Terimakasih atas dedikasinya untuk negara ini dan kamu harus bersyukur karena di lahirkan dari ibumu yang juga seorang wanita hebat nona Andien." Ucap tuan Edgar lalu menyalami semuanya kemudian mengajak nyonya Brooklyn untuk pulang bersama.
Andien hanya mengangguk hormat dengan pelan dengan melambaikan tangannya yang masih lemah.
"Cucu-cucu Oma, ayo kita kembali ke kamar kalian agar mama bisa beristirahat lagi!" Pinta nyonya Yuni yang tidak ingin menganggu pengantin baru ini.
"Baiklah Oma!"
Keempatnya mengecup pipi kedua orangtua mereka sebelum meninggalkan kamar inap VVIP milik Andien itu.
Tidak lama suster membawa makanan malam untuk Andien. Reza menjadi canggung di depan Andien karena gadis ini tidak sadari tadi tidak ingin bicara sepatah katapun.
"Apakah kamu ingin minum sayang?" Tanya Reza memecah kesunyian.
"Apakah mas Reza sudah meminta ijin kepada ayah dan ibu untuk menikahiku?" Tanya Andien dengan tetap memasang wajah datar.
"Belum sayang karena aku belum sempat untuk menghubungi mereka karena semua serba mendadak." Ucap Reza gugup.
"Bagaimana dengan surat perjanjian antara aku dan kedua orangtuamu?" Jika aku melanggar perjanjian itu, mereka akan menuntut ku dan menyeret aku ke penjara dan harus mengembalikan uang mereka tiga kali lipat dengan mata uang yang sama yang berlaku di negara ini." Ucap Andien.
Degggg.....
__ADS_1