
Sepeninggalnya raja Hassan ke ruang pertemuan istana, Calista sedang memikirkan sesuatu untuk mengerjai para menteri kerajaan. Ia memanfaatkan kehamilannya agar para menteri kerajaan mati penasaran dengan dirinya.
"Suamiku, kenapa aku merasa tiba-tiba pusing?" Ucap Calista sambil memijit pelipisnya sendiri.
"Calista! sebaiknya kita ke kamar dulu, mungkin kamu kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh."
Pangeran Fatih menggendong Calista saat tubuh Calista hampir limbung. Ratu Julaikah dan putri Noralia ikut mengantarkan Calista ke kamarnya.
"Apakah ummi harus memanggil dokter kerajaan?" Tanya ratu Julaikah cemas.
"Sebaiknya tidak perlu ummi, Calista hanya butuh istirahat saja." Ucap pangeran Fatih lalu membaringkan Calista di kamar bujang suaminya dan sekarang menjadi kamarnya juga.
Tak terbayangkan kemewahan kamar itu seperti apa, bagi Calista, kemewahan bukanlah hal baru baginya karena dirinya sendiri berasal dari keluarga berada.
"Sayang, Istirahatlah!" Biar aku yang menemui para menteri kerajaan." Pangeran Fatih mengecup kening istrinya lembut.
"Sayangkuh!"
"Hhmm!"
"Apakah diruang pertemuan ada CCTV?"
"Ada."
"Bolehkah aku melihat para wajah menteri kerajaan dari CCTV itu?"
"Baiklah. Kamu bisa melihat mereka dari televisi kamar kita dan kamu bisa mengikuti apapun yang disampaikan mereka pada ayah dan saya." Ucap pangeran Fatih seraya menyalakan televisi yang ada di kamarnya yang terhubung langsung dengan CCTV.
Calista terlihat puas dan mengijinkan suaminya menemui para menteri kerajaan.
"Aku tidak akan mengabulkan permintaan kalian begitu saja, tuan-tuan bandit. Aku ingin kalian mati penasaran sambil menghitung hari kalian untuk bisa bertahan di istana ini." Gumam Calista lirih.
Calista mencari tahu identitas setiap menteri kerajaan dengan gelar, jabatan dan rekam jejak mereka selama menjalani bagian penting dari roda pertumbuhan istana.
Banyak sekali, Calista menemukan ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik di tubuh istana, hingga membuatnya tergelitik untuk mengulik satu persatu bandit-bandit itu.
"Untuk menghadapi kalian, perlu adanya persiapan ekstra. Jika kalian ingin mengusikku untuk menjauhkan aku dari suamiku, maka aku tidak akan segan membuat perhitungan dengan kalian.
Aku tidak semudah itu, untuk bisa kalian singkirkan atas nama status sosialku yang bukan berdarah bangsawan." Calista bermonolog di kamarnya sambil mengotak-atik ponsel pintarnya.
Sementara, di ruang istana terjadi hal yang menghebohkan saat melihat pangeran Fatih muncul sendirian di hadapan mereka tanpa istrinya.
"Assalamualaikum!" Sapa pangeran Fatih santun pada para menteri.
"Waalaikumuslam! Pangeran Fatih, mengapa istrimu tidak di ajak, padahal kami ingin menyambutnya sebagai istrimu di kerajaan ini." Ucap Tuan Hazard.
"Aku minta maaf, karena istriku kurang sehat, mungkin kehamilannya yang menganggu kesehatannya, hingga menghalanginya bertemu dengan kalian hari ini." Ucap Fatih tegas.
__ADS_1
"Seorang calon ratu tidak boleh terlihat lemah fisik untuk mengurus negara ini. Wanita hamil mengalami segala penderitaannya itu biasa.
Tapi dia harus tetap kuat sebagai ratu negeri ini walaupun dalam keadaan hamil, apakah istri seperti itu yang kau tawarkan untuk menjadi ratu di negeri ini, hmm, yang benar saja pangeran." Sindir tuan Akmal mulai dengan permainan politik liciknya.
"Yah, aku mengerti kecemasan kalian, namun tolong dibedakan di sini, jika saat ini istriku sedang hamil kembar empat yang tidak semua di alami wanita di luar sana, jadi aku mohon pengertiannya, tuan-tuan!" Ucap Fatih dengan sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan para menteri yang ingin menyingkirkan istrinya secepat mungkin dari istana.
Raja Hassan terlihat mengepalkan kedua tangannya erat ketika menantunya sedang di bully oleh para menteri itu.
Kehebohan mulai memanas di ruang istana karena mereka ingin memastikan sendiri Calista harus angkat kaki dari istana dan lebih layak dijadikan seorang selir dari pada seorang ratu kerajaan Maroko.
Di kamar Calista sudah mengantongi semua nama para penjilat kerajaan itu. Ia pun sudah membersihkan dirinya dan memakai baju muslim dan hijab terbaiknya.
Paras cantik yang elok dan aura yang terpancar dari wajah teduhnya namun cukup menghisap energi dari setiap para menteri kerajaan itu yang ingin bertaruh dengan dirinya hari ini.
Ia keluar dari kamarnya berjalan anggun dengan baju kebesarannya sebagai seorang menantu kerajaan.
Setibanya di depan pintu masuk ruang pertemuan, Calista membacakan doa nabi Musa untuk menghadapi para bandit istana.
Pintu di buka oleh penjaga istana. Dengan di dampingi panglima Khalid, Calista masuk ke ruangan itu dengan langkah anggun dan terlihat sangat elegan penampilan nya pagi itu.
"Assalamualaikum!" Sapa Calista dengan suara keras lagi tegas membuat banyak pasang mata menatapnya takjub.
Diantara para menteri kerajaan terkesiap lalu menjawab salam dari Calista dengan gugup. Namun beberapa diantara dari mereka memandang remeh gadis ini, walaupun hati mereka saat ini sedang ketat ketir menghadapi seorang Calista, yang nama besarnya sudah melambung di negaranya sebagai seorang putri bangsa yang cukup menakutkan bagi para koruptor dan mafia yang berhasil disingkirkannya.
Merasa paling percaya diri, karena aibnya tidak akan terendus oleh seorang Calista karena kemahirannya menyembunyikan permainan kotornya, tuan Hisyam mulai membuka suara untuk mempermalukan Calista.
"Aku tidak sedang berbohong tuan Hisyam karena kondisiku yang saat ini sedang hamil muda, tapi aku tidak ingin membuat kalian sulit tidur malam ini karena sangat penasaran denganku, makanya aku memaksakan diriku untuk hadir di pertemuan ini, untuk menerima sambutan hangat dari kalian." Ucap Calista dengan santun.
Para menteri terbungkam. Raja Hassan nampak datar wajahnya namun hatinya menyimpan rasa bangga pada menantunya Calista. Sementara pangeran Fatih menikmati permainan seru istrinya dalam menjatuhkan lawannya.
"Selamat datang di kerajaan ini putri Calista. Tapi, kerajaan ini tidak bisa memanggilmu ratu karena kamu bukan seorang keturunan bangsawan." Ucap tuan Hisyam.
"Apakah itu syarat penting untuk memenuhi kriteria seorang ratu Maroko?"
"Tentu saja! Karena negeri ini tidak akan menerima rakyat jelata untuk duduk mendampingi raja di singgasana yang paling agung di istana ini."
"Apakah tuan punya calon ratu yang sangat kuat untuk duduk mendampingi suamiku? hanya karena darahnya biru atau karena mudah di stir oleh kalian untuk membutuhkan suaranya dalam mempengaruhi kerajaan ini?"
Deggggg....
"Sial!" Umpat tuan Hisyam yang mulai terusik dengan perkataan Calista.
"Itulah politik Putri Calista, di mana kau harus kuat menempatkan kedudukan mu jika ingin bertahan." Timpal tuan Hisyam.
"Termasuk melindungi aset kotormu yang tidak terendus oleh kerajaan?"
"Hati-hati dengan perkataanmu putri! Jika tuduhan mu tidak terbukti pada kami, itu adalah fitnah dan ancaman mu adalah tersingkir dari sisi putra mahkota dan kamu akan dihukum sesuai undang-undang kerajaan ini." Ucap tuan Hisyam dengan banyak dalih.
__ADS_1
"Tuan Hisyam yang terhormat! Aku tidak memfitnah dirimu apalagi menjatuhkan mu, justru aku punya bukti otentik atas banyak penyimpanan data dari laporan keuangan istana yang sudah di manipulasi oleh bawahanmu."
Glekkkk..
Tuan Hisyam menelan salivanya dengan gugup. Jantungnya rasanya mau copot saat ini. Sementara menteri yang lain mulai cemas menantikan nasib mereka yang akan di lucuti satu persatu oleh Calista.
"Yang Mulia! Menantu anda telah mencoreng nama baik para menteri kerajaan. Kami harap putri Calista di hukum atas kelancangan nya yang ingin mempermalukan istana." Ujar tuan Jaffar.
"Jika menantuku terbukti bersalah, maka aku sepakat dengan kalian untuk menyingkirkan dia dari istana ini setelah ia melahirkan pewaris kerajaan ini.
Tapi, aku ingin mendengarkan dia menyampaikan sesuatu yang sudah ia ketahui tentang kalian dengan bukti yang sudah ia telusuri dan dapat dipertanggungjawabkan baik secara agama maupun undang-undang yang berlaku di negara ini.
Siapa yang bermain-main dengan kepentingan negara terutama uang rakyat, maka hukumannya sesuai dengan syariat Islam yang berlaku di negara ini.
Menantu silahkan di teruskan ucapanmu dan kamu harus tahu apa konsekwensinya jika kamu berbohong." Tegas raja Hassan membuat para menteri mulai meremang dengan bahu terangkat bergidik ngeri.
Para menteri kerajaan mulai berbisik-bisik saling melempar kesalahan. Wajah pucat lagi tegang mulai merayap di seluruh tubuh dengan ketakutan yang amat sangat. Mereka sangat menyesal mendesak raja dan putra mahkota untuk memperkenalkan Calista di hadapan mereka.
Alih-alih ingin menyingkirkan sang ratu Maroko, justru mereka yang siap-siap tersingkirkan dari jabatan mereka dan mungkin dari dunia ini karena adanya hukuman pancung.
Wajah-wajah garang itu tidak lagi memandang remeh istri dari pangeran Fatih ini. Kekalutan mulai terjadi. Wajah garang itu berubah seperti anjing yang tidak bisa lagi mengeluarkan gonggongannya yang menakutkan. Mereka mundur dengan wajah tertunduk. Mungkin hari ini terakhir untuk mereka duduk di istana megah dengan segala permainan politik kotornya.
"Silahkan menantu! Apakah kamu bisa membuktikan kejahatan dari para menteri ku?"
"Siap yang Mulia!" Ucap Calista sambil menatap satu persatu wajah-wajah para menteri kerajaan dengan tatapannya yang terlihat teduh namun mampu membunuh mereka semuanya.
"Tuan Hisyam!"
Deggggg...
"Memiliki setengah dari aset kerajaan ini dari bisnis haram maupun bersih yang di milikinya, di mana semua kerabatnya terlibat langsung dalam monopoli perdagangan negara hingga ekonomi rakyat mulai melemah karena sebagian ekonomi makro sudah dikuasai oleh kerabatnya.
Memanfaatkan jabatannya sebagai menteri perekonomian, Ia sendiri memerintah bawahannya untuk belanja di kerabatnya.
Belanja untuk kebutuhan istana ini baik itu komoditi makanan maupun kebutuhan lainnya semua berasal dari bisnis perdagangan keluarganya hingga perdagangan milik rakyat tidak dilirik sama sekali oleh istana. Ia memperkaya diri untuk menyusun kekuatan politik selanjutnya dalam mencari calon ratu untuk suamiku agar bisa dikendalikan oleh dirinya."
Duaaarrr...
Tuan Hisyam langsung kena serangan jantung mendengar penuturan Calista yang berhasil membuktikan kebenarannya dengan data lengkap yang langsung di serahkan kepada raja berupa flashdisk.
"Apakah yang lain ingin perlu aku pertanggungjawaban nya juga yang Mulia?" Tanya Calista, makin memperkeruh suasana pertemuan saat ini.
Raja Hassan melirik panglima untuk siap melindungi Calista jika ada serangan mendadak dari menteri kerajaan.
.....
Maaf baru bisa update. Terimakasih untuk vote, bintang dan like nya.
__ADS_1