
"Mami!" Tolong bicara tanpa menangis supaya Reza bisa mendengarkan suaranya mami dengan jelas" Bujuk Reza menenangkan ibunya.
Nyonya Susan mulai mengawali ceritanya tentang kronologi peristiwa mantan suaminya Ratih yang hampir melecehkan Ratih.
"Ini tentang saudaramu Ratih, Reza. Rendy ingin Ratih tinggal di apartemennya. Ratih menyetujui permintaan Rendy. Namun sayang kejadian naas terjadi pada Ratih di mana dirinya di lecehkan oleh Rama mantan suaminya."
Flash back on.
Malam itu Rendy tidak ada di apartemennya karena saat ini ia sedang keluar kota untuk mengurus perusahaan Reza yang ada di Medan. Ratih yang ingin belajar masak dengan ibunya meminta nyonya Susan untuk datang ke apartemennya.
Nyonya Susan yang ingin menyenangkan hati putrinya yang saat ini sedang hamil, dengan telaten mengajarkan makanan kesukaan Ratih yaitu soto Betawi.
Karena sudah cukup malam nyonya Susan akhirnya pamit pulang. Ratih yang saat itu tinggal sendirian dan tidak ingin memakai asisten rumah tangganya mengurus sendiri urusan rumah tangganya karena tinggal berdua saja dengan Rendy suami.
Sepulangnya nyonya Susan sekitar sepuluh menit yang lalu, Ratih yang terlihat masih sibuk merapikan lagi dapurnya, di kejutkan dengan bunyi bel kamar apartemennya.
"Apakah mami ketinggalan sesuatu di sini?" Gumamnya perlahan.
"Iya sebentar mami, tunggu!" Ratih melepaskan celemek nya lalu menghampiri pintu utama apartemennya.
Ia membuka pintu itu dengan terburu-buru tanpa melihat layar CCTV yang ada di samping pintu
"Apakah ada yang ketinggalan...?" Ratih menghentikan perkataannya dan buru-buru mendorong pintu itu karena tamunya bukanlah maminya.
Karena tenaga Ratih yang kurang kuat membuat pintu itu di ganjal dengan kaki oleh si tamu itu dan mendorongnya hingga bisa terbuka. Ratih mundur ketakutan. Iapun mengambil bantal sofa untuk melindungi perutnya.
"Hai sayang!" Apakah kamu tidak merindukan aku?"
"Mau apa kamu ke sini Rama? pergi kamu!" Rama menghampiri Ratih dan merebut bantal itu dan melemparnya ke arah lain. Ratih tersentak.
"Aku tahu, suamimu pasti sedang meninggalkanmu karena mengurus bisnis abang mu itu, sehingga ia tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil besar seorang diri di apartemen." Ucap Rama yang ingin menyentuh tubuh Ratih, mantan istrinya.
"Mau apa kamu ke sini, ke apartemenku?" Kita tidak punya hubungan apa-apa lagi. Kita sudah bahagia dengan keluarga kita masing-masing.
Saya harap kamu keluar dari apartemenku!" Teriak Ratih.
"Kita hanya berdua sayang. Aku ingin bicara sesuatu kepadamu mengenai Nia istriku."
"Itu bukan urusanku dan aku tidak ingin mendengarkan cerita dia ataupun tentangmu." Ketus Ratih
"Dengarkan aku sebentar saja Ratih!" Aku telah tertipu oleh mulut manisnya dan yang lebih menyakitkan diriku ternyata selama ini, bayi yang aku idam-idamkan yang dilahirkan olehnya ternyata itu bukan anak kandungku.
__ADS_1
Aku mengetahuinya ketika bayi itu lahir dan saat aku melihat manik mata bayiku itu ternyata berwarna biru, sontak saja aku menolaknya dan menanyakan dia, siapa ayah dari bayi yang ia baru saja melahirkan.
Awalnya dia tidak mengakuinya dan setelah itu, aku melakukan tes DNA, bayi itu benar bukan milikku, aku ditipu Ratih." Ucap Rama sambil menangis untuk menarik empati Ratih pada dirinya.
"Aku tidak butuh pengakuanmu tentang aib dari skandal istri tercintamu itu. Kamu rela mencampakkan aku demi dia, sekarang tanggung sendiri akibatnya. Sekarang aku mohon keluar kamu dari apartemenku!"
"Ratih!" Aku datang untuk meminta maaf kepadamu dan aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki kembali hubungan kita." Ucap Rama sambil memelas.
"Baik. Aku sudah memaafkanmu , jadi aku mohon pergi dari sini karena aku sedikitpun tidak ingin melihatmu, kamu bahkan membuatku sangat jijik."
"Ratih!" Ceraikan Rendy dan kembalilah kepadaku. Aku ingin kita bersama lagi. Aku terima bayimu yang sedang kamu kandung ini." Pinta Rama, makin membuat Ratih murka.
"Tidak!" Aku sudah bahagia dengan hidupku dan sekarang aku tidak ingin mendengarkan alasan apapun darimu. Rendy sangat baik kepadaku dan dia menjaga hatinya untukku dan kau tidak lebih dari seorang lelaki pecundang!" Teriak Ratih makin histeris.
Ratih meraih gagang telepon yang langsung tersambung ke sekuriti namun tubuhnya di tarik oleh Rama agar menjauh dari benda itu.
"Lepaskan aku bajingan!" Jangan pernah menyentuh tubuhku dengan tangan kotormu itu!"
"Ratih kita hanya berdua sayang. Aku ingin merasakan lagi hangatnya tubuhmu." Ucap Rama makin nakal.
"Cuih!" Kau itu iblis!" Ratih meludahi wajah mantan suaminya itu.
Tawa Rama menyeringai seperti iblis, makin membuat Ratih ketakutan saat ini untuk menjaga kehormatannya dari sentuhan bajingan yang ada di hadapannya saat ini.
Ratih makin panik, tubuhnya gemetar dan sangat ketakutan ketika Rama berusaha menangkapnya. Ratih terjatuh tersungkur ke lantai saat hendak menjauhi tubuhnya dari Rama.
Ratih menghindar dan menendang wajah Rama saat lelaki itu menangkap kakinya.
Tubuh Ratih sudah dalam posisi duduk sambil terus mundur dengan cara ngesot. Rama lalu menerjang tubuhnya yang makin semok saat ini karena kehamilannya.
"Kamu ternyata sangat sek*i Ratih, saat sedang hamil dan aku menyukainya." Rama makin meracau dengan suaranya yang terdengar berat karena telah dikuasai syahwatnya.
Ratih berontak ingin melepaskan diri dari cengkraman bajingan itu.
"Lepaskan aku!" Pinta Ratih sambil menahan tubuh Rama untuk tidak menyentuhnya.
"Aku merindukanmu Ratih, aku merindukan tubuhmu, sayang, kamu makin cantik saat hamil." Ucap Rama seraya mengoyak baju Ratih.
Ratih menangkap vas bunga yang ada di meja tamu lalu menghantam ke kepala Rama. Sesaat Rama memegang kepalanya.
Melihat itu, Ratih segera bangkit agar bebas dari Rama, tapi kakinya di tarik hingga ia terjatuh dan menyebabkan perutnya terbentur ke lantai.
__ADS_1
"Akhhhhkkk!" Ratih merasakan kesakitan yang luar biasa pada perutnya.
"Oh, anak-anakku!" Pekiknya kesakitan.
Melihat posisi tubuh Ratih yang sedang menungging, membuat Rama makin terangsang. Ia tidak peduli Ratih merasa kesakitan saat ini, karena ia hanya mengedepankan nafs* bejatnya.
Sementara di luar sana Rendy yang baru tiba di apartemennya, tidak ingin menganggu istrinya dan ia pun sengaja membuka pintu itu tanpa memencet bel dengan menekan nomor sandi.
Dalam sekejap pintu itu terbuka membuat Rama dan Ratih sama-sama tersentak.
"Rendy...!" Ucap Ratih setengah memohon.
Melihat istrinya dilecehkan oleh Rama membuat Rendy naik pitam. Ia pun menendang tubuh Rama hingga terjengkang.
Pria tampan itu memukul wajah Rama bertubi-tubi hingga wajahnya memar dan darah segar keluar dari bibir dan hidungnya. Rama pingsan setelah mendapatkan pukulan terakhir dari Rendy.
Rendy segera menghubungi satpam apartemen untuk mengeluarkan Rama dan meminta satpam segera melaporkan bajingan itu ke kantor polisi.
Berapa lama kemudian satpam sudah mengeluarkan tubuh Rama dari apartemen milik Rendy. Rendy segera membuka jasnya untuk menutupi tubuh istrinya yang sudah setengah telanjang agar tidak terlihat oleh satpam.
"Kamu tidak apa sayang?" Rendy menghampiri istrinya yang masih gemetar ketakutan dengan menyembunyikan wajahnya dengan rambut panjangnya.
"Sayang, aku pulang." Rendy memeluk tubuh itu, tubuh yang membuatnya selalu merindu ketika jauh dari istrinya karena tugasnya.
Ratih menangis kencang ketika kesadarannya telah pulih.
"Rendy..hiks...hiks!" Ratih memeluk tubuh hangat itu, ia menangis di dada bidang suaminya.
Rendy menggendong tubuh istrinya dan membawa ke kamar mereka. Ia merebahkan tubuh itu dan membuka baju Ratih yang sudah sobek karena ulah Rama sialan itu.
Ia mengambil handuk kecil dan mengusap wajah Ratih dengan air hangat. Setiap inci tubuh Ratih di bersihkannya.
Rambut panjang itu diikat dengan rapi dengan karet rambut milik istrinya. Rendy mengambil baju Ratih yang lain. Namun sebelumnya itu ia memegang perut Ratih yang makin membesar karena sudah memasuki usia kandungan tujuh bulan.
Ratih kembali menangis merasakan kembali sakit di perutnya. Rendy melihat milik istrinya yang sudah keluar darah segar....
"Ya Allah Ratih!" Kamu pendarahan sayang!
"Rendyyyy!" Akkhhh!" Pekik Ratih lalu pingsan.
Terimakasih untuk doa, vote dan supportnya say🤗🙏
__ADS_1