
Davin duduk di hadapan kedua mertuanya seperti seorang terdakwa yang siap di adili oleh hakim.
"Davin! kami tidak akan menghukum mu atas apa yang telah kamu lakukan pada putriku Camilla dan kami semua sebagai keluarganya.
Kami yakin kamu pasti memiliki alasan tersendiri, mengapa sampai membohongi kami sampai saat ini tentang statusmu. Sekarang ayah mohon katakan alasannya mengapa kamu tega berbohong kepada Camilla?" Tanya Reza penuh wibawa.
"Ini karena Camilla sendiri yang tidak ingin memiliki suami seorang pangeran. Itulah sebabnya saya jadi sulit untuk terbuka padanya.
Awalnya ingin jujur saat kami baru menikah, tapi tertunda terus sampai akhirnya ada insiden penangkapan pangeran Fatih yang membuat Camila saat itu sangat syok.
Itulah sebabnya saya memilih bungkam mengingat kondisi Camilla yang sedang hamil. Tapi bukan berarti mau terus berbohong selamanya, hanya saja saya ingin mencari momen yang tepat untuk bisa menyampaikan kepada Camilla agar tidak salah paham." Ujar Davin hati-hati.
"Nah, kalau begitu tunggu apa lagi , silahkan kamu temui Camilla dan bicarakan ini semua dengannya secara gentleman. Kalau bisa segera ajak Camilla menemui kedua orangtuamu, mungkin dengan cara itu, dia bisa memaafkan dirimu." Pinta Reza.
"Davin!"
"Iya mam!"
"Pastikan putriku diterima oleh keluargamu! Aku tidak mau mendengar ketika tiba di Yunani, Camilla akan di perlakukan dengan buruk." Ujar Andien dengan wajah datarnya.
"Insya Allah mam, aku jamin dengan nyawaku sendiri, kalau Camilla tidak akan menemukan kesulitan selama berada di Yunani."
"Baiklah. Kami sangat percaya kepadamu Davin karena cintamu yang begitu besar pada Camilla yang membuat kami yakin kamu bisa mengatasi setiap masalah yang akan kalian hadapi bersama. Sekarang, mama dan ayah mau istirahat dulu." Ujar Reza sambil mengusap bahu menantunya.
"Terimakasih ayah, mama atas kepercayaannya. Sekali lagi Davin minta maaf atas kebohongan Davin selama ini pada keluarga ini." Davin tertunduk sedih karena keluarga istrinya sangat bijak dalam menyelesaikan masalah pada dirinya dan istrinya Camilla.
Sementara itu di dalam kamar, Camilla sedang curhat dengan Calista tentang permasalahannya dengan Davin.
"Calista! Ternyata selama ini kak Davin telah membohongi kita semua tentang identitas pribadinya."
"Oh, maksudmu kalau kak Davin itu ternyata seorang pangeran Yunani?" Ujar Calista santai.
"Lho! ko kamu sudah tahu kalau kak Davin itu seorang pangeran. Bagaimana bisa kamu mengetahuinya kalau kejadiannya baru malam ini...?" Kata-kata Camilla terhenti.
"Aku sudah mengetahui suamimu itu seorang pangeran hanya dengan melihat cincin giok yang dia berikan kepadamu saat dia melamarmu.
Bukankah aku sudah katakan kepadamu, kalau cincin giok jenis itu hanya dimiliki oleh ratu Yunani. Kamu nya saja yang tidak mau mempercayai aku." Gerutu Calista.
"Astaga! Berarti kamu diam-diam sudah menyelidiki status kak Davin?" Tanya Camilla penasaran.
"Menurutmu bagaimana..?" Balas Calista santai.
"Kau ini, selalu saja melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh negara, masih saja melanggarnya." Ujar Camilla terdengar kesal.
"Hal-hal yang dianggap tabu saja di angkat di media, kenapa hal yang seharusnya kita ketahui malah didiamkan? sekarang terimalah nasibmu sebagai ratu Yunani.
Kau akan beradaptasi dengan para pejabat tinggi dengan tingkat penjilat sesuai dengan kepentingan mereka nanti di sana." Balas Calista meledek Camilla yang masih terlihat gundah.
__ADS_1
"Cih! Aku malas tahu dengan urusan begituan. Terserah mereka mau lakukan apa saja di sana." Acuh Camilla.
"Jangan begitu saudaraku! Bukankah kita ini dilahirkan ke dunia ini memiliki tujuan? Setiap tujuan manusia saat Allah menciptakan kita salah satunya adalah bermanfaat untuk orang lain." Ujar Calista menenangkan Camilla.
"Sepertinya aku tidak begitu berguna di sana nanti Calista."
"Jangan merasa dirimu tidak berguna. Mustahil Allah menentukan jodohmu adalah kak Davin kalau tidak ada manfaatnya.
Tidak ada yang sia-sia disisi Allah, bahkan debu sekalipun masih berguna untuk bertayamum jika tidak ada air." Ujar Calista membuat Camilla hanya bisa menarik nafas berat.
"Kau ini dari dulu sampai sekarang selalu saja menasehati orang lain, lama kelamaan kau cepat jadi nenek-nenek." Ledek Camilla membuat keduanya cekikikan.
Tok .. tok..
Camilla melebarkan matanya ketika mendengar ketukan pintu kamarnya yang berarti itu adalah suaminya.
"Calista, sudah dulu ya! Kak Davin dari tadi mengetuk pintu kamarku." Ujar Camilla.
"Camilla! maafkan suamimu! Apapun yang suamimu lakukan kepadamu, tetap saja kita sebagai istri wajib meminta maaf. Jangan terlalu mempermasalahkan sesuatu karena yang ia lakukan hanya karena takut kehilanganmu.
Kadang laki-laki suka terlihat konyol kalau sudah menyangkut asmara. Ingat, saudaraku! suami adalah surga kita. Memaafkan itu lebih baik daripada berurusan dengan urat syaraf yang membuatmu cepat kelihatan tua." Ujar Calista yang tidak ingin mendengar saudara kembarnya itu akan ribut dengan Davin.
"Terimakasih Calista, insya Allah aku akan mencobanya." Ujar Camilla hanya untuk menyenangkan hati Calista, padahal saat ini, tensinya kembali naik hampir mendekati urusan perang mulut.
Camilla menatap pintu itu dengan nafas kembali tersengal. Membayangi lagi kebohongan suaminya membuatnya enggan untuk membuka pintu itu.
Cek..lek...
"Mau apa?!"
"Mau bobo, sayang."
Davin mendorong sedikit pintu kamar itu agar ia bisa masuk. Camilla berpaling dan langsung masuk ke dalam selimut. Davin duduk di sebelah istrinya tanpa ingin berkata apapun.
"Cih! Kenapa dia jadi pendiam begitu? kenapa tidak merayu aku? lagian aku masih marah, lho? Ko, aku malah dicuekin, sih?" Gerutu Camilla makin keki dengan sikap suaminya.
Davin memiringkan tubuhnya dan menunggu Camilla membuka selimut itu yang menutupi wajahnya. Davin sangat paham karena sebentar lagi Camilla tidak bisa bernafas lama di dalam selimut tebal itu.
"Apakah dia sudah tidur? lama-kelamaan sesak juga nafasku kalau ditutup terus." Batin Camilla di bawah selimut tebalnya.
Karena tidak bisa bernafas lega, akhirnya Camilla membuka selimutnya juga dan melihat wajah konyol Davin yang sedang tersenyum padanya.
"Kau..!"
"Sayang...!"
Senyum Davin makin melebar melihat wajah kesal istrinya. Davin langsung menyerang bibir Camilla tanpa ingin banyak bicara.
__ADS_1
Awalnya sedikit berontak, tapi Camilla akhirnya menyerah dan menerima perlakuan suaminya yang kembali menjajah hati dan tubuhnya. Camilla menikmati semua sentuhan lembut sang suami pada tiap jengkal tubuhnya yang membawa kembali dirinya ke alam nirwana.
Awal pemainan yang cukup lembut dengan sentuhan-sentuhan yang menghasilkan gerakan erotis dan erangan panjang yang keluar dari mulut Camilla. Lenguhan Indah dari suara Camilla yang terdengar oleh Davin makin membuat lelaki tampan ini memanas.
Tidak ada kata-kata yang lebih indah untuk disampaikan selain dengan ajakan bercinta yang menghanyutkan segala rasa untuk mendapatkan endingnya bahagia.
Tubuh Camilla makin bergetar hebat saat pencapaian kenikmatan itu bisa di reguknya dengan mudah, diawal pemanasan ringan itu. Permainan diteruskan dengan penyatuan tubuh keduanya yang sudah terlihat polos itu.
Davin merasakan kenikmatan percintaan panas mereka hingga ia bisa melepaskan segala yang ditahannya melalui lahar panas yang sudah bersemayam di rahim sang istri.
Usai menuntaskan hasrat birahi mereka, keduanya kembali tersenyum. Sakit hati Camilla mampu ditaklukkan oleh seorang pangeran Davin yang punya seribu cara untuk bisa mengusai amarah sang istri.
"Bersiaplah sayang! besok pagi kita akan berangkat ke Athena Yunani." Ucap Davin sambil mengusap perut besar istrinya.
"Benarkah kita akan ke sana, kak Davin?"
"Hmmm!"
"Tapi, aku...?"
"Tidak ada kata tapi! Dan jangan lagi bertanya apapun karena kamu akan mengetahui dengan sendirinya ketika sudah tiba di istana nanti." Ucap Davin.
"Terimakasih kak Davin."
"Maafkan aku sayang!"
Pagutan bibir itu kembali terjadi dan permainan panas itu kembali berulang.
...---------------- ...
Keesokan paginya, sesuai dengan janji sang pangeran Davin, keluarga Reza mengantar pasangan suami-istri ini ke bandara dengan pengawalan ketat.
Keberangkatan Davin ke Yunani menjadi berita besar hari itu. Dan yang membuat Camila cukup kaget, pesawat jet milik kerajaan Yunani yang siap menjemput pangeran Davin dan dirinya sudah berada di hadapan mereka saat ini.
Acara pelepasan secara kenegaraan itu berlangsung khidmat. Davin tampak gagah dengan pakaian kebangsawanannya.
Wajah datar dengan pahatan bak dewa Yunani itu makin terlihat aura kuat jiwa kepemimpinan Davin. Ia melangkah gagah dengan menggandeng tangan istrinya menaiki tangga pesawat.
Camilla melambaikan tangannya kepada keluarganya yang melepaskan dirinya dengan tangisan. Rasa bangga dalam diri Reza makin meruak dalam hatinya ketika mengetahui dua bidadari nya mendapatkan dua pangeran sekaligus.
"Ya Allah. Inikah janjiMu pada hambaMu yang berdosa seperti diriku yang pernah menyuruh istriku untuk mengugurkan mereka padahal mereka sangat bermanfaat untuk manusia lainnya.
Engkau telah menunjukkan kekuasaan-Mu melalui kedua putriku dengan caraMu hingga membuatku tak berhenti bersyukur sampai saat ini dengan penyesalan yang kurasakan sampai saat ini, yang makin membuatku untuk lebih dekat dengan Engkau ya Robb." Batin Reza lirih.
Pesawat kerajaan itu siap tinggal landas menembus awan membawa dua insan yang sedang menanti kebahagiaan selanjutnya, entah apa yang terjadi nanti di sana... mereka hanya bisa pasrahkan semuanya pada sang Khalik.
......
__ADS_1
Vote dan like nya cinta 🙏🤗