PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
62. Tidak Akan Pernah!


__ADS_3

Reza merangkul lagi istrinya sambil menangis." Maafkan aku!" Aku tidak bermaksud kasar padamu. Kamu sudah membuat aku marah.


Selama ini, aku berjuang untuk mencarimu, bahkan aku sempat berpikir untuk menculik mu, jika saat itu kamu sudah berkeluarga.


Tapi, lagi-lagi, aku begitu takut kamu makin membenciku. Rasanya semua serba salah saat menghadapimu.


Mendapatkan maafmu saja begitu sulit, apa lagi memiliki jiwa ragamu, rasanya seperti mimpi. Sekarang sudah sejauh ini aku berjuang untuk memenangkan hatimu, agar aku bisa menebus kesalahanku, mengapa sekarang malah aku dihadapkan pada permintaanmu yang tak masuk akal itu?"


Aku tak menginginkan yang lainnya Andien, hingga akhirnya waktu, jika aku bisa menghabiskan


hidupku hanya untuk mencintaimu." Ungkap Reza begitu tulus penuh kesedihan.


"Tapi, aku begitu takut jika tidak bisa memenuhi kebutuhanmu. Bagaimana kalau aku tidak bisa hamil lagi?"


"Singkirkan pikiran bodoh mu itu, Andien! Jangan biarkan setan ikut berperan dalam pikiranmu untuk menghancurkan pernikahan kita yang baru seumur jagung!"


Bagaimana kalau aku yang sakit parah dan tidak bisa membahagiakanmu?" Apakah kamu akan meninggalkan aku?" Banyak cara untuk bisa memuaskan hasrat kita sayang, jadi tidak perlu merasa bersalah atas sakit yang kamu rasakan saat ini.


Tentang anak, biarlah menjadi urusan Allah, lagi pula kita sudah di karuniai empat anak yang berkualitas untuk apa memikirkan untuk punya lagi?" Imbuh Reza.


"Tapi, aku ingin punya banyak anak dari mas Reza." Protes Andien.


"Iya sayang!" Kalau kamu sudah terbebas dari penyakitmu, aku tidak akan melepaskanmu karena aku akan menggarap mu setiap saat hingga kamu dinyatakan hamil, syukur-syukur kembar empat lagi, jadi langsung ramai rumah kita." Timpal Reza mengundang senyum di wajah cantik istrinya.


Reza menikmati senyum manis itu, senyum Andien yang terlihat malu-malu yang membuatnya selalu gemas.


"Andien, tersenyumlah seperti itu sayang, setidaknya segala beban kesalahanku terkikis sedikit demi sedikit dari maafmu melalui senyum itu."


Reza melabuhkan lagi ciumannya pada bibir Andien yang sedang merekah mengunggah nalurinya untuk merasakan ciuman panas dan sentuhan ringan tanpa ada penyatuan yang berarti, hingga keduanya kembali mendapatkan kenikmatan dari sebuah rasa dari sentuhan tangan dan mulut mereka.


Walaupun begitu keduanya merasakan kepuasan yang tiada taranya. Senyum keduanya kembali terukir dengan tubuh yang masih polos.


"Andien!"


"Hmm!"


"Mengapa kamu begitu setia menjaga hatimu untukku, sekalipun aku telah melukai


hatimu hingga dosaku mungkin tak akan terampuni." Tanya Reza sambil memeluk tubuh polos istrinya yang sedang tidur memunggunginya.


"Sesungguhnya cintaku kepadamu melebihi semua ucapan. Maka aku putuskan untuk diam dari berbicara.

__ADS_1


Rinduku kepadamu lebih dari perasaanku. Bahkan lebih kuat dari rasa sakit yang pernah kamu torehkan.


Hanya diam saat tak ada ungkapan yang mampu gambarkan deritaku saat itu karena merindukanmu sendiri. Karena hanya namamu yang selalu ada di hatiku, hingga aku sulit untuk menerima cinta yang lain sekalipun betapa baik dan hebatnya dia, tidak bisa menandingi pesona mu yang sudah terpatri di sanubari ku.


Cinta ku tak butuh kenapa dan mengapa, tak butuh alasan untuk merindukanmu.


Tak kutemukan alasan bahagiaku kecuali hanya denganmu.


Tak kutemukan adanya aku kecuali hanya untukmu. Cintaku telah matikan semua alasan itu, mas Reza." Ujar Andien dengan bibir bergetar menahan tangisnya agar tidak terlihat rapuh di depan pangeran hatinya.


Mendengar ucapan cinta yang begitu besar untuk dirinya dari wanitanya, Reza makin merasa bersalah dan terus menyesali perbuatannya. Tangisnya kembali pecah saat mendengar perkataan Andien yang cukup dalam menusuk relung jantungnya.


Rangkaian kata yang indah menundukkan keangkuhan masa lalu yang mengancam masa depannya. Siapa yang menyangka, hadiah terindah untuk mereka dari Allah adalah di karunia anak kembar empat yang tidak semua pasangan lain diberikan kesempatan itu.


"Andien aku sangat mencintaimu...aku sangat merindukanmu." Hanya itu yang bisa Reza ucapkan untuk sang istri tercintanya, yang pernah mewarnai hidupnya selama delapan tahun lebih terpisah dari Andien.


Perjalanan waktu yang cukup panjang dan melelahkan hingga cinta itu sendiri yang mempertemukan mereka.


Delapan tahun setengah perjalanan cinta mereka yang kembali dihadang karang kehidupan yang tajam menusuk setiap sanubari saat ujian yang datang bertubi-tubi karena mengutamakan keegoisan demi sebuah harga diri dan reputasi.


🌷🌷🌷🌷🌷


Ke empat anak-anak mereka sudah pulang dari kampus. Melihat mobil ayah mereka sudah terparkir di depan mansion, Calista bergegas memanggil ayahnya.


"Kak Debora!" Apakah ada ayah di kamar mama?"


"Ayah sedang bersama mama di kamar."


"Benarkah?" Mengapa mereka pulangnya cepat sekali?" Apakah mereka sedang marahan terus sekarang saling minta maaf?" Tanya Camilla membuat pelayan Debora dan kedua temannya menahan senyum mereka.


"Entahlah nona!" Jawab Debora sambil mengangkat kedua bahunya.


"Ayah...!"


"Mama...!"


Reza dan Andien langsung terkejut dan mencari baju mereka.


"Sayang, lebih baik kamu ke kamar mandi dan pakai baju bathtub, biar aku yang mengurus mereka." Ucap Andien lalu mengambil piyama tidurnya seakan baru bangun tidur.


Semua baju mereka yang tergeletak sembarang arah, di punguti Andien satu persatu lalu memasukkan ke dalam plastik Loudry.

__ADS_1


Andien membuka pintu kamarnya dan dua putrinya sudah ada di depan kamarnya hingga


membuatnya tersentak.


"Astaghfirullah!" Bikin kaget saja kalian." Sentak Andien sambil mengelus dadanya.


"Emangnya mama dan ayah lagi ngapain?" Tanya Camilla sambil mengintip ke dalam kamar orangtuanya.


Andien menutup pintu kamarnya lalu mengajak anak-anaknya duduk di ruang keluarga.


"Calista mau ketemu ayah." Rengek manja Calista terdengar oleh Reza.


"Ayah sedang mandi sayang, nanti lagi ayah keluar." Ujar Andien.


"Apakah ayah dan mama habis bertengkar?" Tanya Camilla.


"Nggak!"


"Lantas kenapa pulangnya cepat sekali?"


"Oh, tadi mama kurang enak badan, terus minta ayah jemput. Sekarang sudah baikan setelah minum obat dan tidur." Jawab Andien serius.


Reza keluar dengan memakai baju santai menemui keluarga kecilnya. Fariz langsung melompat di tubuh ayahnya supaya mendapatkan gendongan paling pertama.


"Uhhh...curang!" Ledek Camilla menahan kesal karena Faris sudah curi star duluan.


Al sedang asyik menyaksikan berita di televisi dan matanya melebar ketika melihat polisi sedang memborgol seorang lelaki yang sangat ia kenal.


"Bukankah itu paman Leo?" Gumamnya tak percaya, lalu ia berteriak memanggil namanya.


"Mamaaa!" Lihat mama!"


"Ada apa AL?"


"Mama..Paman Leo ditangkap polisi." Ujar Fariz yang berkaca-kaca.


"Apa...?" Ya Allah, kenapa Tuan Leo?" Sentak Andien begitu syok melihat tuan Leo sedang tertunduk menahan malu ketika para wartawan mengejarnya namun di lindungi lima orang polisi.


"Paman Leo merupakan buronan interpol karena kasus pembunuhan yang dilakukannya dua tahun lalu." Ucap Calista yang mengetahuinya.


"Hahh?"

__ADS_1



Visual Andien...


__ADS_2