
Acara wisuda yang digelar oleh universitas ternama di Colombia, di mana keempat anaknya Reza dan Andien menempuh pendidikan mereka selama dua tahun, kini dibuka oleh rektor kampus itu secara resmi untuk memberikan gelar para mahasiswanya sesuai dengan fakultas dan jurusan yang mereka masing-masing.
Hari itu keluarga kecil Reza sudah berada di tengah-tengah para mahasiswa calon sarjana yang sebentar lagi akan di wisudakan.
Rona kebahagiaan terlihat jelas diantara wajah-wajah itu. Reza dan Andien saling menautkan tangan mereka sambil menikmati acara demi acara yang disuguhkan oleh para mahasiswa.
Beberapa saat kemudian, tibalah acara yang sedang ditunggu-tunggu oleh para wisudawan wisudawati saat membacakan nama peserta terbaik, yang merupakan mahasiswa dari calon sarjana itu.
Keempat anak Andien dan Reza yang mendapatkan nilai Cumlaude sesuai dengan jurusan mereka masing-masing.
Keempatnya menjadi pusat perhatian dari para tamu undangan yang merasa kagum pada keempat anak jenius itu diusia yang masih sangat muda.
"Alhamdulillah sayang! anak-anak kita mendapatkan nilai IPK Cumlaude." Ujar Reza bangga.
"Anugerah terindah yang telah Allah titipkan kepada kita, dengan dikarunia kembar empat dan juga kembar empat yang ada di sini akan menyusul dan semoga keberkahan yang sama didapatkan calon adik-adik mereka." Timpal Andien sambil mengusap perutnya.
Keempatnya mendatangi tempat duduk mereka untuk memberikan buket bunga, piala penghargaan untuk kedua orangtuanya.
"Mama, ayah!" Terimakasih untuk doa dan supportnya. Ucap keempatnya seraya menyerahkan buket bunga dan piala mereka masing-masing.
"Selamat untuk kalian, karena sudah membuat ayah dan mama bangga." Ucap Reza lalu mencium kening keempat anaknya.
"Ayo ayah, mama, kita foto bersama di taman! Pinta Camilla.
Kedua orangtuanya mengikuti keempat anaknya keluar dari gedung acara itu dan mencari tempat untuk mengambil gambar mereka.
"Camilla!" Panggil Davin membuat keluarga ini tersentak dan menengok ke arah suara itu datang.
"Eh, kak Davin!" Camilla menghampiri pria yang sangat membuatnya kagum dengan ketampanan lelaki yang mendatanginya kini.
"Selamat atas keberhasilan mu, Camilla!" Davin menyerahkan buket bunga lili putih dan satu kotak coklat untuk Camilla.
Camilla menarik tangan Davin untuk dikenal kan kepada kedua orangtuanya.
Reza dan Andien saling menatap dan keduanya hanya mengangkat bahu seakan tidak mengerti hubungan Camilla dan Davin.
Davin mengangguk hormat pada keluarga kecil itu dan dibalas mereka dengan senyum.
"Ayah, mama!" Kenalkan ini kak Davin. Dia baru masuk kuliah tahun pertama dan kak Davin berasal dari Jakarta." Ucap Camilla.
Reza dan Andien menjabat tangan Davin lalu menyebutkan nama mereka masing-masing, sambil melihat penampilan Davin yang terlihat anak orang berada di lihat dari atributnya yang menempel di tubuhnya.
Reza yang pintar menilai penampilan orang jika mengenakan pakaian, sepatu, jam tangan dan topi serta tas, ia bisa menafsirkan bajet dari keseluruhan penampilan orang itu.
"Benarkah?" Siapa nama orangtuamu nak, mungkin kami mengenalnya?" Tanya Reza.
__ADS_1
Davin terlihat bingung untuk menjelaskannya dan ia pun akhirnya berbohong kalau ayahnya bekerja di kedutaan Bogota untuk Indonesia.
Reza dan Andien mengangguk senang menerima Davin menjadi teman Camilla.
"Apakah kalian ingin foto?"
"Iya kak Davin, tolong fotoin ya!"
Davin mengangguk dan mengarahkan kamera ke arah keluarga itu dari berbagai angle berbeda.
Gantian sekarang Davin dan Camilla foto berdua dan juga foto bersama dengan keluarga Camilla.
Andien yang terlihat bahagia, tiba-tiba merasakan pinggangnya terasa sakit. Ia merasakan cairan yang mengalir hangat dari jalur lahirnya.
"Mas Reza!" Sepertinya aku mau melahirkan." Ucap Andien sambil memegang pinggangnya yang terasa makin berat karena merasakan kontraksi hebat pada otot perut dan pinggangnya yang datang bersamaan.
Reza yang panik menatap wajah Davin.
"Davin!" Apakah kamu bisa menolong om?"
"Iya om!"
"Tolong bawa mobil om ke sini, kita bawa Tante Andien ke rumah sakit." Pinta Reza pada Davin yang siap mengantar ibunya Camilla ke rumah sakit.
Davin, Fariz dan Al mengambil mobil Reza yang tidak jauh dari mereka berdiri saat ini karena mobil keluarga kembar empat parkir di tempat khusus VVIP karena Andien salah satu tamu kehormatan di acara wisuda itu.
Dalam lima menit Davin sudah menjemput keluarga kecil Camilla langsung menuju rumah sakit.
"Sayang!" Bukankah dokter mengatakan dua Minggu lagi kamu baru menjalani operasi sesar?" Kenapa secepat ini kontraksinya?" Tanya Reza sambil mengelus perutnya Andien.
"Nggak tahu mas!"
Andien mencoba menarik nafas dalam lalu menghembusnya lembut untuk mengurangi rasa sakitnya.
Davin membawa mobil itu seperti seorang pembalap profesional yang bisa mengambil celah jalan yang cukup lapang untuk cepat tiba di rumah sakit tanpa membuat penumpangnya panik
Begitu tiba di depan ruang bersalin, wajah Andien terlihat pucat dan hidungnya mulai keluar mimisan lagi.
"Ayah!" Hidung mama berdarah lagi." Ucap Calista sambil menahan tangisnya ketika brangkar Andien sudah masuk ke dalam kamar bersalin.
"Benarkah sayang?" Reza menegaskan pernyataan putrinya. Calista mengangguk sedih.
Reza meminta ijin pada dokter Manuella untuk menemani istrinya melahirkan. Dan dokter Manuella mengijinkan Reza masuk ke kamar bersalin tersebut.
Camilla menutupi wajahnya sambil menangis. Davin mendekati gadis itu sambil mengusap bahu Camilla lembut.
__ADS_1
"Kamu harus yakin Camilla! mamamu bisa melahirkan adikmu dengan lancar." Hibur Davin.
"Masalahnya penyakit mama masih bermuara di tubuhnya. Aku sangat takut terjadi apa-apa dengan mama."
"Penyakit....?"
"Mama menderita penyakit kangker darah dan harus melahirkan empat adik bayi." Ucap Camilla sedih.
"Astaga!" Empat..?" Jadi adikmu kembar empat lagi..?"
"Hmm!"
"Hebat keluargamu Camilla, memiliki banyak saudara kembar sementara aku adalah anak tunggal. Aku tidak ada saudara yang bisa ku ajak berbagi."
"Apakah enak menjadi anak tunggal?"
"Sangat membosankan."
"Apakah ibumu tidak ingin memiliki anak lagi?"
"Sepertinya tidak bisa lagi setelah melahirkan aku. Ibuku menanti momongan selama sepuluh tahun dan aku adalah hasil dari inseminasi buatan yang biasa disebut dengan bayi tabung." Ucap Davin sedih.
"Anggap saja aku adikmu kak Davin." Ucap Camilla tulus.
"Terimakasih Camilla!" Davin tersenyum bahagia."
"Cih!" Senyumnya saja sangat menawan. Kamu itu keturunan dari mana bisa setampan ini?" Batin Camilla.
Gadis ini sesaat melupakan kesedihannya setelah mengobrol dengan Davin.
Sementara di kediaman pangeran Fatih, rupanya saat ini tuan muda itu sedang gelisah tidak bertemu dengan Calista walaupun Calista sudah meminta ijin kepadanya.
"Apakah wisuda itu masih lama?" Tanya pangeran Fatih.
"Tadi ada laporan dari informan kita yang mengikuti jalannya acara wisuda kalau saat ini nona Calista sedang menunggu kelahiran adiknya tuan."
"Kalau begitu siapkan mobilku!" Aku ingin ke rumah sakit tanpa ada pengawalan."
"Tapi Tuan muda, kami tidak bisa membiarkan Anda begitu saja pergi tanpa ada pengawalan."
"Kalau kalian masih membangkang, aku tidak akan segan menggantikan kalian dengan pengawal lain."
Pangeran Fatih segera berlalu dari hadapan pengawalnya menuju mobilnya.
"Jalan pak!" Titah pangeran Fatih.
__ADS_1