PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
53. Permintaan Terakhir


__ADS_3

Calista menangis meraung-raung sambil menggulingkan badannya, saat melihat ayahnya di seret paksa di tengah salju mulai turun menumpuk di atas permukaan tanah. Rasa dingin menusuk tajam sampai tulang jika lapisan pakaian tidak cukup membuatnya hangat kecuali mantel tebal yang dirancang hangat untuk melindungi suhu tubuh agar tetap stabil.


Reza menatap ke dalam rumah Andien yang cukup luas namun raga keempat anaknya tertahan dari setiap tembok pemisah dari dalam sana membentuk setiap ruangan yang menjadi fungsinya masing-masing.


"Ayahhhh!" Jangan pergi!" Fariz mengejar ayahnya yang sedang berontak dari tangan kekar dua orang penjaga istana milik Andien.


"Maaf tuan!" Tolong tinggalkan tempat ini!" Satpam itu memohon pada Reza agar menjauh dari rumah itu.


"Jika nyonya Andien pulang, kalian berdua akan saya pecat!" Ancam Reza tidak main-main.


Tangisan Calista masih terdengar sayup ditelinga Reza, hingga hatinya terasa remuk mendengar tangisan putrinya itu.


"Sayang!" Ayah akan ke rumah sakit Calista!" Tolong jangan menangis. Kamu pasti tahu ayah ada di mana." Tulis Reza dalam pesannya untuk Calista.


Pintu rumah itu ditutup rapat oleh Adam. Sementara Agam mencoba mendiamkan Calista, namun gadis ini tetap berontak dari pelukan pamannya Agam.


"Tinggalkan saja paman Agam!" Karena tidak ada yang bisa menenangkan Calista, kecuali ayah dan mama." Ucap Al yang hanya menonton saudara kembarnya ini menangis sejadi jadinya.


"Kedatangan kalian hanya menyusahkan kami saja." Batin Camilla yang mulai tidak suka dengan keluarga ibunya.


Lama kelamaan, Calista akhirnya ketiduran di lantai karena kelelahan menangis.


Paman Agam mengangkat tubuh kecil itu secara perlahan. Baru saja ia menyentuh tubuh Calista, ia merasakan tubuh Calista terasa hangat.


"Astaga!" Al, Fariz, Milla!" Badan Calista demam." Ucap Agam cemas.


"Cepat pindahkan Calista ke kamar, paman!" Pinta Al lalu membuka pintu kamar Calista.


"Panggilkan dokter Fariz!" Titah Agam kuatir.


"Ayah.... ayah...!" Jangan pergi ayah..!" Racau Calista sambil merentangkan tangannya dalam keadaan mata terpejam.


Camilla yang mendengar racauan Calista segera menelepon ayahnya. Belum sempat ia bicara, entah mengapa tubuhnya juga terasa lemas dan demam juga, begitu pula Al dan Fariz, seperti satu jiwa berbeda raga saat mereka salah satu ada yang sakit akan merasakan hal yang sama. Keempat anak ini tiba-tiba kompak demam membuat Agam kebingungan.


"Astagfirullah!" Kenapa anak-anak ini?"


Agam lari ke kamar ibunya." Ibu anak-anak kompak demam." Ucap Agam panik.


"Panggilkan Adam!" Dia pasti membawa peralatan dokternya. " Titah ibunya.


"Astaga!" Saking paniknya, aku sampai lupa Adam juga seorang dokter."


Pelayan tidak berani mendekat. Walaupun mereka ingin merawat anak-anak malang itu.

__ADS_1


Adam segera memeriksa satu persatu keponakannya dengan cermat.


Pelayan Abdullah segera menghubungi Reza karena dia sudah mendapatkan pesan untuk mengawasi anak-anaknya.


Sementara itu Adam sudah menggendong Camilla dan Agam menggendong Calista, dua putra lainnya sudah bersama dua pelayan menuju mobil langsung berangkat ke rumah sakit.


"Hallo Tuan Reza!" Anak-anak mengalami demam tinggi!" Sekarang saudara nona Andien sedang mengantar keempatnya ke rumah sakit." Ucap pelayan Abdullah setengah berbisik.


"Apaaa..?" Mengapa mereka bisa kompak sakitnya pak Abdullah?"


"Biasanya begitu Tuan!" Hanya saja tuan Reza belum mengetahui bagaimana kalau keempat anak itu sakit.


Jika salah satu dari mereka ada yang sakit, maka ketiganya akan merasakan hal yang sama." ucap tuan Abdullah memberi informasi yang tidak di ketahui oleh Reza selama bersama anak-anak.


"Terimakasih pak Abdullah, saya akan menunggu mereka di sini." Ucap Reza dengan suara parau.


"Ya Allah!" Mengapa jadinya seperti ini?" Reza mendongak wajahnya ke atas langit, seakan sedang meminta pertolongan Sang Pemilik hidup.


Tidak berapa lama, Reza yang sedang menunggu di depan ruang IGD untuk melihat keadaan keempat anaknya.


"Calista, Milla, Fariz, Al!" Sebut Reza pada masing-masing nama anaknya.


"Menyingkirlah bajingan!" Bentak Adam yang tidak sudi melihat wajah Reza mendekati keponakannya.


Dokter memeriksa satu persatu keempat anak Reza dengan sangat teliti. Anehnya keempatnya bergumam memanggil nama ayah mereka, membuat dokter spesialis anak itu mengerti bahwa keempat anak ini mengalami tekanan mental karena kerinduan mereka pada ayahnya.


"Siapa diantara kalian ayah dari keempat anak itu?" Tanya dokter Robert.


"Saya dokter!" Ucap Reza langsung menghampiri dokter Robert.


"Anak-anakmu lebih membutuhkan kamu dari pada saya tuan!" Ucap dokter Robert.


"Mereka sakit apa dokter?" Tanya Agam ingin tahu.


"Mereka sakit karena merindukan ayahnya. Masuklah tuan!" Temui anak-anakmu!" Pinta dokter Robert pada Reza.


"Terimakasih dokter!" Reza langsung menemui keempat anaknya yang masih meracau memanggil namanya.


"Ayahhh!" Teriak Calista dengan tubuh yang begitu panas. Reza langsung membuka mantelnya dengan menyisakan kausnya untuk memeluk putrinya.


"Calista sayang!" Ini ayah sayang!" Peluk ayah yang kuat, supaya panasmu bisa pindah ke ayah." Pinta Reza yang sudah menggendong putrinya yang sedang di infus.


"Ayah!" Jangan tinggalkan kami!" Pinta Calista.

__ADS_1


"Ayah tidak akan pernah lagi meninggalkan kalian, sayang!" Ayah selalu ada untuk kalian." Ucap Reza.


Reza makin mengeratkan pelukannya pada Calista yang sudah mulai turun perlahan panasnya dan anehnya, ketiga saudaranya ikut turun panasnya.


"Mas Reza!" Camilla sudah turun panasnya!" Ucap Agam.


"Alhamdulillah!" Apakah mereka akan dipindahkan ke ruang inap?" Tanya Reza.


"Sebentar mas!" Agam tanya dokter Robert dulu."


Tuan Robert meminta suster untuk memindahkan brangkar keempat anak Reza ke kamar inap VVIP. Reza meminta keempat anaknya disatukan dalam satu kamar agar mereka tidak mudah mondar mandir ke sana ke mari untuk melihat keadaan anak-anaknya.


Baru saja Reza menemani keempat anaknya, dokter Remon menghubungi Reza untuk segera ke ruang ICU.


Reza langsung meninggalkan keempat anaknya bersama Adam dan Agam serta nyonya Yuni.


"Mas Reza!" Ada apa?" Tanya Agam.


"Andien kritis lagi." Ucap Reza panik.


"Astaga!" Bagaimana ini?" Agam makin bingung cara mengatasi situasi sulit seperti ini.


"Kamu pergilah dengan ibu, temanin si kunyuk itu!" Titah Adam yang masih kesal dengan Reza.


Ketiganya sudah berada di depan ruang ICU. Reza memencet bel ruangan itu untuk menemui dokter Remon.


"Dokter!" Ini ibunya nona Andien dan ini saudara kembarnya. Saudara kembarnya yang lain sedang menunggu keempat anak saya yang saat ini sedang sakit dokter." Ucap Reza gugup.


"Maafkan kami nyonya dan tuan!" Sepertinya nyonya Andien tidak lagi memiliki harapan untuk hidup. Kami sudah berusaha sedemikian rupa, namun tubuhnya tidak bisa merespon obat yang masuk.


Mungkin yang bisa kita lakukan hanya memenuhi permintaan terakhirnya. Sesuatu yang bisa membuat dirinya bahagia sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Selebihnya kami tidak bisa membantu lagi Tuan, nyonya. Mohon maafkan atas ketidak berdayaan kami!" Ucap dokter membuat ibunya Andien seketika limbung, namun Agam langsung menangkap tubuh ibunya dan menahan tubuh itu agar tidak jatuh.


"Ya Allah!" Jangan ambil nyawa putriku!" Pinta nyonya Yuni dengan bibir bergetar.


Reza hanya diam terpaku dengan air mata yang sudah berkabut. Ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya di depan nyonya Yuni sambil berlutut.


"Ibu dan Agam!" Tolong ijinkan aku menikahi Andien di saat terakhirnya!" Pinta Reza dengan tangis tertahan.


🔥🔥🔥🔥


"Apakah ibunya Andien menerima pinangan Reza?"

__ADS_1


Di tunggu komentarnya ya say! Tapi jangan tulis kata Lanjut terus!" Author bosan bacanya 😕


__ADS_2