
Setibanya di Jakarta, tubuh Calista langsung dibawa ke RS dengan helikopter yang sudah disiapkan oleh Rendy agar Calista cepat tiba di rumah sakit.
Dengan didampingi Reza, Andien, Adam dan dokter Ayuningtyas, mereka tiba di rumah sakit dalam waktu lima menit.
Calista ditempatkan di ruang MMR yang di kelilingi alat-alat canggih untuk pemeriksaan lebih lanjut khususnya cidera otak karena trauma.
Gambar dari hasil MRI dapat membantu dokter mendiagnosis berbagai masalah seputar kesehatan.
Pada tes MRI, bagian tubuh yang akan dipindai ditempatkan pada sebuah mesin yang memiliki kekuatan magnet yang sangat kuat.
Gambar-gambar yang dihasilkan dari MRI adalah foto digital yang dapat disimpan di komputer dan dicetak untuk dipelajari lebih lanjut.
Prosedur ini akan menghasilkan gambar dengan resolusi tinggi, sehingga dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit.
Beberapa jenis MRI dan kegunaannya, yaitu: untuk mengetahui otak dan syaraf tulang belakang yang masih berfungsi.
MRI paling sering digunakan untuk mengevaluasi kondisi otak dan saraf tulang belakang. Beberapa kondisi medis yang dapat didiagnosis dengan pemindaian alat ini ke tubuh pasien.
Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh, ternyata fungsi otak Calista masih menerima rangsangan dan berfungsi dengan baik.
Calista kemudian diberikan obat-obatan khusus melalui saluran infus agar nadi dan pernafasannya kembali aktif setelah mendapat perintah dari otaknya ke seluruh tubuh.
Alhasil, pekerjaan dokter mampu membangkitkan lagi Calista dari kematian secara medis atas ijin Allah.
Semuanya kembali terdeteksi dengan baik. Pernafasan, fungsi jantung dan nadi kembali aktif. Dokter Adam selaku paman Calista makin mengagumi kecerdasan dokter Ayuningtyas.
Dokter Adam menyelipkan jemarinya pada jemari Ayu seakan mengatakan terimakasih atas perhatian lebih pada keponakanku Calista.
Jemari keduanya bertautan saat masih berada di ruang ICU sambil memperhatikan Calista yang sudah mendapatkan kembali kesempatan ke dua untuk menghirup udara segar di dunia.
Keduanya keluar bersama Dokter Herlan untuk melaporkan keadaan Calista kepada keluarga pasien yang sedang menunggu dengan cemas.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya. Dia telah kembali kepada kalian. Tunggu saja mungkin sebentar lagi dia akan siuman setelah obatnya sudah beraksi di dalam tubuhnya.
Putri anda memiliki semangat yang kuat untuk berjuang keras agar bisa kembali menemui kalian. Tuhan memberinya kesempatan ke dua." Ucap dokter Herlan yaitu dokter spesialis neurologi.
"Terimakasih dokter Herlan!"
Ucap Reza dan Andien bersamaan.
"Baiklah saya tinggal dulu." Ucap dokter Herlan kembali ke dalam ruang ICU.
"Ehm..ehm!"
Deheman Agam mengingatkan saudara kembarnya yang masih menggenggam tangan dokter Ayu.
Dokter Ayu yang baru sadar, kalau tangannya masih digenggam oleh dokter Adam dan ia ingin melepaskan tangannya dari dokter Adam, namun pria tampan ini malah lebih mengeratkan genggamannya.
"Ibu!" Aku akan membawa dokter Ayu ke Solo. Tolong persiapkan pernikahan kami setelah proses lamaran terjadi antara dua keluarga." Ucap Adam pada keluarganya.
Semuanya terpana lalu terkekeh mendengar Adam yang spontan melamar dokter Ayu.
"Dokter Ayu!" Terimakasih banyak karena kamu, kami tidak jadi berduka hari ini." Ucap Reza dengan tulus.
__ADS_1
"Sama-sama nyonya Andien!" Ucap dokter Ayu malu-malu.
"Jangan panggil saya nyonya, panggil saja saya Andien!" Ucap Andien sambil tersenyum.
Keduanya saling berpelukan diikuti oleh keluarga yang lain khususnya yang wanita yang memeluk dokter Ayuningtyas sebagai ungkapan terimakasih mereka karena telah menyelamatkan Calista.
"Calista benar-benar hebat ayah!" Walau dalam keadaan tidak sadarkan diri, dia masih bisa bermanfaat untuk orang lain." Ucap Ratih pada ayahnya.
"Maksudnya apa Ratih?" Tanya ayahnya kurang mengerti.
"Secara tidak sadar ia bisa mempertemukan pamannya Adam dan dokter Ayu." Ucap Ratih.
"Lha!" Bukannya Tante juga tiba-tiba akrab dengan om Rendy." Celetuk Al polos membuat semuanya terkekeh.
Tapi ada hal yang menarik di momen bahagia itu. Agam tidak mau ketinggalan juga untuk menyampaikan rasa bahagianya.
"Eit tunggu dulu!"
Kebahagiaan hari ini bukan hanya milik mbak Ratih dan Adam dengan pasangan mereka, namun saya juga. Saya akan melamar wanita cantik yang selama ini saya kagumi.
Dia adalah sahabat terbaik mbak Andien yang telah menyatukan mbak Andien dan mas Reza.
" Rani!" Apakah kamu mau menikah denganku?" Tanya Adam membuat Rani seketika terperangah karena tidak menyangka mendapatkan kejutan besar dalam hidupnya dilamar oleh seorang Agam.
Lelaki yang diam-diam ia sukai namun begitu takut untuk mengungkapkannya karena sikap Agam yang begitu datar padanya selama ini.
"Saya...?" Tanya Rani seakan tidak percaya dia adalah gadis pilihan Agam.
"Semua anggota keluarga menyambut gembira pada tiga pasangan hari ini yang siap mengakhiri masa lajang mereka.
Nyonya Susan dan nyonya Yuni saling berpelukan dalam mengungkapkan kebahagiaan mereka mendapatkan lagi calon menantu yang terbaik.
Cek lek..
Pintu ruang ICU dibuka dokter Herlan. Andien dan Reza menengok serentak ke arah dokter Herlan.
"Silakan masuk tuan Reza, dan nyonya Andien! Putri anda Calista sudah sadar. Dia memanggil kalian berdua." Ucap Dokter Herland.
Semuanya memekik kegirangan dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah.
"Alhamdulillah!"
Andien menyapa putrinya yang sudah membuka matanya namun masih terlihat lemah.
"Mama!"
"Ayah!"
"Calista sayang!" Reza mengecup kening putrinya lembut begitu pula Andien.
"Ayah!" Apakah Calista masih hidup?" Tanya Calista yang belum sepenuhnya sadar.
"Iya sayang!" Memangnya Calista ada di mana sebelumnya?" Tanya Andien memancing ingatan putrinya.
__ADS_1
"Calista merasa masih berada didalam laut yang dalam dan sangat gelap. Mereka menahan Calista, tapi Calista melihat Tante Ratih yang berusaha menarik tangan Calista keluar dari laut itu. "Ucap Calista sambil berkaca-kaca.
"Tapi Tante Ratih lah yang sudah menyelamatkan Calista dari dalam laut." Ucap Andien.
"Benarkah?"
"Apakah Tante Ratih ingin mengajakku berdebat lagi?"
Reza dan Andien mengangguk bersama membuat senyum kecil Calista merekah.
"Oh!" Putri hebat ayah!" Alhamdulillah dan terimakasih sayang sudah kembali lagi pada kami." Reza mencium tangan putrinya.
Andien menangis haru sambil mengusap perutnya.
Tiga hari kemudian, Calista di perbolehkan pulang oleh dokter Herlan.
Keluarga Andien yang menginap di mansion besannya di Jakarta, menunggu kepulangan Calista bersama dengan kedua orangtuanya dan pasangan dokter Adam dan dokter Ayu yang terlihat lengket berdua.
Suasana di mansion milik tuan Handoyo hari itu benar-benar diliputi kebahagiaan.
Para pelayan di mansion itu nampak sibuk mempersiapkan penyambutan kepulangan Calista.
Nyonya Susan dan nyonya Yuni memastikan semuanya dalam keadaan sudah siap karena mereka akan makan siang bersama sekaligus mengumumkan tanggal pertunangan untuk ketiga pasangan yang sedang berbahagia.
"Kakek nenek!" Mobil Calista sudah datang datang." Teriak ketiga saudara kembarnya Calista.
Keluarga itu menyambut Calista di depan teras.
Calista yang masih duduk di kursi roda menerima buket bunga dari Camilla.
Mata Calista hanya tertuju pada satu wanita yang sedang tertunduk menutupi wajah sedihnya.
"Tante Ratih!" Panggil Calista lirih.
Ratih mengangkat wajahnya dan menatap keponakannya dengan linangan air mata.
"Dasar anak nakal!" Kamu hampir membuatku mati karena mu." Ucap Ratih lalu memeluk Calista erat. Lagi-lagi Calista tidak betah dipeluk lama oleh orang lain.
Ratih mengerti karena keadaan Calista yang mengalami spektrum autisme.
Tidak lama kemudian tiba-tiba ada rombongan sepuluh mobil memasuki area mansion itu.
Keluarga memperhatikan siapa yang datang bertamu di kediaman mereka siang ini.
Ketika pintu mobil itu di buka serentak dan dua orang di dalamnya sudah turun membuat keluarga langsung tersentak.
"Astaga itu....?"
..
Tolong beri komentar yang santun ya say karena ini hanya novel..
Terimakasih untuk like dan vote nya 🙏🤗
__ADS_1