PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
44. Ketulusan Cinta


__ADS_3

Reza terlihat panik menghadapi situasi ini. Ia harus meninggalkan keempat anaknya bersama para pelayan agar bisa bersama dengan Andien.


"Ya Allah, bagaimana ini?" Tanya Reza dalam kebingungan.


Reza segera keluar dari kamarnya dengan menulis secarik kertas untuk meninggalkan pesan kepada anak-anaknya.


"Ayah ada urusan pekerjaan, tolong jangan cari ayah. Tunggu saja ayah sampai pulang untuk bisa bermain bersama dengan kalian." Tulis Reza lalu meninggalkan keempat anaknya.


"Assalamualaikum Tuan!" Anda mau ke mana?" Tanya pelayan yang bernama Abdullah ketika melihat Reza sedang terburu-buru.


"Saya barusan mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang mengatakan keadaan Nona Andien saat ini, dalam keadaan gawat." Ucap Reza membuat pelayan Abdullah tercengang.


"Inalillahi wa innailaihi rojiuun!"


"Apakah saya boleh ikut tuan ke rumah sakit?"


"Tolong tungguin saja anak-anak di rumah!" Biar saya saja yang menemani Andien. Mohon doanya pak Abdullah." Ucap Reza lalu berangkat ke rumah sakit bersama asistennya Rendy yang sudah menjemputnya di kediaman Andien.


"Kita harus cepat Rendy!" Ucapan Reza membuat Rendy menambah kecepatannya untuk segera tiba di rumah sakit. Reza membuka pintu mobilnya terburu-buru dan langsung berlari menuju ruang ICU menemui belahan hatinya.


"Bagaimana keadaan nona Andien dokter?"


"Masuklah tuan!" Sepertinya dia dalam keadaan sakrat." Untuk dokter membuat seluruh tubuh Reza bergetar hebat.


Langkah Reza demikian berat saat melihat Andien sepertinya masih berjuang untuk hidup dengan nafasnya sudah mulai terputus-putus.


Lidah Reza yang kelu dengan air mata yang sudah tidak tertahankan." Andien!" Bisik Reza lalu mencium pipi Andien dengan lembut.


"Jangan tinggalkan aku dan anak-anak kita!" Tolong berjuanglah, sayang!" Lakukan Demi merek, demi Allah Andien...hiks..hiks!" Jangan menyerah karena kamu adalah wanita baik dan juga sangat hebat, hhmm!" Tutur Reza tepat di kuping Andien.


Alih-alih Andien merespon ucapan mantan kekasihnya itu, ia justru terlihat makin lemah karena detak nadinya di bawah standar.


"Tidak....tidak..tidak...sayang!" Jangan lakukan itu Andieeennnn!" Pekik Reza makin ketakutan. Jiwanya seperti ikut tersedot keluar melihat penderitaan Andien yang sangat menyakitkan hatinya.


Dokter dan suster sudah tidak bisa melakukan apapun karena upaya mereka untuk menyelamatkan nyawa ibu empat anak ini sudah optimal.


Satu-satunya yang bisa menghadapi kematian pasien mereka adalah hadirnya seorang yang terdekat dalam kehidupan pasien.


Reza kembali memfokuskan dirinya untuk tidak lagi bicara yang tidak-tidak. Ia membaca ayat-ayat suci Alquran yang sudah dihafalkannya.


Dengan Reza melantunkan ayat suci Al-Quran, pelan-pelan detak nadi Andien kembali naik.. nafasnya mulai teratur dan jantung makin bertambah normal dalam grafiknya.

__ADS_1


Dokter yang melihat dari luar antara tembok kaca itu segera masuk untuk memeriksa lagi keadaan pasiennya yang tadi sudah sangat drop.


Reza terus saja fokus membaca ayat suci Al-Quran tanpa memperhatikan dokter dan susternya memeriksa keadaan Andien.


Hingga ayat itu berakhir dalam sebuah surah, dokter menepuk lengan Reza dengan mengangkat jempolnya bahwa nona Andien telah selamat dari masa kritisnya.


Walaupun begitu dokter berkata seperti itu, Reza masih saja berdoa yang terbaik untuk Andien.


"Reza!" Panggil Andien lirih ketika melihat mulut Reza masih komat-kamit melafazkan doa untuk dirinya.


"Mas Reza!" Panggil Andien dengan lirih namun sedikit kencang.


Reza membuka matanya perlahan dan melihat manik indah itu mulai mengerjapkan matanya melihat dirinya dengan wajah terlihat pucat lagi sendu.


"Andieeennnn!" Sentak Reza lalu mengecup pucuk kepala Andien dengan berani.


Andien meresapi ciuman hangat itu. Ciuman dengan penuh kasih sayang. Ciuman ketulusan dari lelaki yang selama ini melihatnya dengan syahwat.


"Inikah cintamu sesungguhnya kah?" Gumam Andien membatin.


Air mata keduanya sama-sama luruh bersama kerinduan yang terpendam setelah sekian lama menyimpannya karena kisah masa lalu yang telah terukir dan terlanjur salah.


Banyak sekali kata yang ingin mereka sampaikan, namun terhalang keluar dari lidah keluh dan tangis bahagia yang bisa terungkap bahwa keduanya masih menyimpan cinta yang besar.


"Mas!" Aku mau minum!" Pinta Andien lirih.


"Iya sayang!"


Deggg...


"Oh, kata sayang itu seperti oase ditengah gurun pasir. Aku sangat membutuhkannya Tuhan agar jiwa gersang ku kembali menemukan kedamaian." Batin Andien.


Reza mengarahkan sedotan ke bibir Andien.


"Minumlah secara perlahan agar tidak tersedak!" Titah Reza lembut.


Tidak lama azan subuh berkumandang dari ponsel Reza sesuai waktu setempat.


"Mas!" Kita sholat berjamaah, ya!" Pinta Andien disambut anggukan Reza.


"Iya sayang!" Apakah kamu ingin tayamum?"

__ADS_1


"Hhmm!"


Reza membantu wanitanya menapaki dua tangan Andien ke dinding kamar untuk melakukan tayamum. Setelah itu memakaikan mukena untuk Andien.


"MasyaAllah kamu makin cantik Andien." Puji Reza dalam hati.


Reza menggelar sajadah di samping tempat tidur Andien lalu membaca Iqamah.


Lantunan suci bacaan surah pendek dari mulut Reza membuat Andien merasakan kenyamanan.


Air mata keduanya meluncur bersama dengan penyesalan dosa masalalu.


Usai sholat keduanya kembali duduk dan kedatangan suster yang membawa makanan sarapan pagi untuk pasien.


"Nona Andien, sebentar lagi Anda akan di pindahkan ke ruang inap, sekitar satu jam lagi anda akan di pindahkan." Ucap Suster lalu meninggalkan pasangan ini.


Mendengar perkataan suster, Reza menjadi lega karena ia bisa menemani Andien di kamar inap.


Kamar VVIP yang di tempati oleh Andien sangat luas." Bagaimana kamu bisa jantung sakit Andien? saat menuju gedung acara?" Tanya Reza penasaran.


"Entahlah mas Reza, aku juga bingung ketika aku merasa sangat pusing dan keluar mimisan dari hidungku. Sopir langsung mengantar aku ke sini karena saat itu aku mulai merasa ingin pingsan.


"Tapi, bagaimana mas bisa berada di sini?" Apakah sudah bertemu dengan..?" Andien mulai merasa gelisah. Ia begitu takut kalau anak-anaknya akan dibawa pergi oleh Reza.


"Kamu tahu rencana keempat anak kita menciptakan aplikasi hebat itu?"


"Jadi mas Reza sudah bertemu dengan anak-anak?" Tanya Andien terbata-bata.


"Sayang!" Berhentilah bersandiwara kepadaku. Apa yang kau takutkan, hingga menyembunyikan mereka dariku selama ini?" Tanya Reza lembut.


Tok...tok!"


Perbincangan keduanya putus, melihat pintu di buka oleh suster.


Ceklek!" Pintu di buka oleh suster bersama dokter yang akan memeriksa keadaan Andien.


"Selamat pagi nona Andien!" Sapa dokter Remon lalu meminta ijin untuk melakukan pemeriksaan pada tubuh Andien dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan seputar penyakit yang di derita oleh Andien.


Andien menyampaikan apa saja yang menjadi keluhan yang dirasakannya selama ini pada dokter.


"Dokter!" Saya sakit apa?" Tanya Andien ingin tahu.

__ADS_1


"Nona Andien!" Saat ini anda menderita kangker leukimia stadium dua." Ucap dokter Remon membuat Andien terhenyak.


Duaaarrr....


__ADS_2