PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
61. Curhatan


__ADS_3

Andien menggeliat dalam tidurnya mendengar namanya dipanggil oleh sang suami dengan mata terpejam.


Ia pun bangkit lalu menepuk pipi Reza dengan lembut agar suaminya segera sadar dari bunga tidurnya.


"Mas Reza!" Sayang!" Suara Andien cukup keras untuk membangun Reza yang terlihat tersiksa melewati mimpi yang menakutkan saat ini.


"Andien!" Reza membuka matanya dan melihat wajah bantal Andien yang tetap cantik dan menggemaskan saat menatap wajahnya.


"Andien!" Kamu tidak apa-apa sayang?" Tanya Reza sambil melihat wajah Andien dengan intens."


"Astaghfirullah, Alhamdulillah terimakasih ya Allah, istriku masih bersamaku." Reza memeluk lagi isterinya dengan erat sambil membelai mayang indah yang terurai acak.


"Apakah mas Reza mengalami mimpi buruk?" Tanya Andien dalam dekapan suaminya.


"Iya sayang!" Sangat menakutkan."


"Itu hanya permainan setan, setiap mimpi buruk datang dari setan."


"Tidurlah sayang!" Kita akan bangun sholat subuh nanti. ini masih pukul satu pagi."'Ujar Reza mengkeloni lagi istrinya.


Keesokan paginya Andien buat janji temu dengan dokter Remon untuk kontrol keadaannya. Keduanya sepakat sesuai dengan jadwal praktek sekitar siang hari.


Andien tidak ingin Reza ikut, karena Reza akan merasa bersalah jika ada banyak hal yang menjadi larangan dokter dalam masa pemulihannya.


"Sayang!" Apakah kamu tidak bisa keluar makan siang saat jam istirahat?" Aku ingin kita makan siang bersama, apakah kamu mau?"


"Jangan hari ini sayang!" Besok saja, aku akan usahakan agar kita bisa makan siang bersama." Ucap Andien saat keduanya sedang menuju kantor Andien.


"Baiklah, berarti kita bisa makan malam bersama. Hari ini tidak lembur lagi kan?"


"Tidak!" Permasalahannya akan diselesaikan hari ini."


"Apakah kamu merasa tubuhmu baik-baik saja?"


"Insya Allah sayang, tidak terjadi apa-apa denganku, mengapa kamu kelihatan begitu kuatir?"


"Aku tidak ingin jauh darimu, Andien. Setelah kakimu melangkah masuk ke gedung kantormu, perasaanku sangat tidak enak.


"Apakah kamu tidak berniat untuk kembali ke tanah air?" Menjadi istriku dan merawat ke empat anak kita?"


"Apakah kamu sedang menuntut hakmu atau sedang posesif kepadaku?" Tolong mas Reza, aku tidak ingin berdebat.


Aku menempuh pendidikan sampai gelar doktor penuh perjuangan, apakah kamu tega menghentikan mimpiku karena kodrat ku sebagai wanita untuk menjadi istri yang hanya duduk menunggu suaminya pulang kerja?" Andien mulai kurang suka dengan permintaan suaminya.

__ADS_1


"Sayang!"


Tolong jangan salah paham seperti ini. Aku hanya tidak mau kamu sakit. Aku tidak ingin saat penyakitmu kambuh, aku tidak ada di sisimu. Apakah aku salah, jika aku memintamu untuk rehat?"


"Tolong, jangan bahas ini lagi mas!" Jika kamu keberatan aku menjadi wanita karir, pertimbangkan kembali pernikahan kita ini." Aku pamit kerja." Andien menyalami Reza dan langsung turun dari mobilnya tanpa ada kecupan manis seperti hari pertama kemarin.


Reza merasa perkataannya tidak begitu berlebihan pada Andien karena semua untuk kebaikan keluarganya. Rendy tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga bosnya.


Semuanya benar dan dua-duanya juga salah. Setiap keputusan, butuh diskusi bukan tuntutan sepihak karena kuatir akan suatu keadaan dan harus mengorbankan karir ataupun tanggung jawabnya sebagai istri. Itulah yang dipikirkan Rendy.


🌷🌷🌷🌷


Rumah sakit.


"Nona Andien!" Apa yang menyebabkan kamu mimisan lagi?" Apakah kamu sudah mulai aktifitas berlebihan?" Tanya dokter Remon.


Andien menceritakan apa adanya pada dokter tentang apa yang dialaminya semalam.


"Astaga, nona Andien!" bukankah aku sudah mencegah kalian untuk menunda dulu melakukan hubungan intim selama tiga bulan saja dan tidak merencanakan program hamil dalam waktu satu tahun hingga kamu dinyatakan sehat secara medis." Ucap dokter Remon sedikit kecewa pada Andien.


"Apakah itu bermasalah dokter?"


"Perawatan ini akan menjadi sia-sia dan lamban jika tidak bisa mengikuti saran terbaik dari kami untuk kesehatan anda sendiri." Ucap dokter Remon.


"Kenapa tuan Reza tidak diajak, kalau tidak ada kerjasama dengan rasa pengertian yang tinggi maka, pengobatan ini juga tidak membawa dampak apapun.


Kita akan melakukannya lagi dari awal. Melakukan kemoterapi yang sangat menyakitkan tubuh karena efek dari kemo itu sendiri." Ucap dokter Remon, lalu menuliskan resep untuk Andien untuk ditebus.


Andien memahami perkataan dokter Remon, keduanya mengakhiri konsultasi dan Andien melanjutkan lagi perjalanannya menuju kantor.


Ditengah perjalanan, Andien meminta sopir untuk mengantar dirinya ke perusahaan milik suaminya, ia ingin menebus rasa bersalahnya karena sudah berkata ketus kepada Reza pagi ini.


Andien lupa kalau jam makan siang sudah berlalu, dan kini Reza sedang ada meeting dengan para koleganya. Rendy membisikkan sesuatu pada Reza jika saat ini Andien sedang menunggunya di ruang kerja.


"Apa?" Andien ke sini?" Benarkah?" Pekik Reza membuat para anggota rapat bingung dengan keduanya yang sedang bicara dengan bahasa negara mereka.


"Tolong lanjutkan meetingnya Rendy!" Reza permisi pada koleganya dan langsung berlari ke ruang kerjanya.


Cek..lek..


"Assalamualaikum sayang!" Reza merentangkan kedua tangannya dan mengecup bibir Andien lebih dalam.


"Maaf aku mengganggumu, mas."

__ADS_1


"Aku sangat senang diganggu olehmu, mau minum atau makan apa sayang?" Tanya Reza yang sudah memangku istrinya.


"Aku ingin kita keluar dan jalan-jalan saja berdua." Pinta Andien.


"Tidak ingin bercinta dulu?" Canda Reza.


"Ada yang ingin aku curhat padamu mas Reza."


"Dengan senang hati, aku akan mendengarkannya sayang. Kalau begitu kita akan menghabiskan waktu berdua hari ini." Ucap Reza lalu memagut lagi bibir sensual Andien yang sudah menjadi candunya.


Andien berusaha mengakhiri ciuman Reza jika sudah mendengar nafas berat suaminya yang mulai berkobar untuk mulai perang bibir dan selanjutnya menuntut lebih.


"Nanti tidak jadi jalan-jalannya," Andien sengaja mengelak agar tidak terbawa suasana walaupun hatinya sangat sedih menolak keinginan suaminya.


"Baiklah sayang!" Kita akan me time berdua."


Reza terkekeh seperti mengulangi lagi masa pacaran yang belum sempat mereka kecap karena terlanjur ternodai karena syahwat.


Keduanya memilih pulang ke rumah karena merasa lebih nyaman untuk bisa saling curhat dari hati ke hati.


Setibanya di mansion, dengan suasana terasa sepi dan keduanya masuk ke kamar untuk ngobrol.


Andien mengganti pakaiannya dengan baju santai, begitu juga dengan Reza.


"Sekarang, apa yang ingin kamu katakan sayang?" Tanya Reza.


"Apakah kamu sangat menginginkan aku mas?"


"Maksudnya apa sayang?" Pasti aku sangat menginginkanmu."


"Bagaimana kalau aku tidak bisa memberimu nafkah batin?"


"Apakah kamu sakit lagi?"


Andien akhirnya jujur pada suaminya tentang kejadian semalam yang membuatnya mengalami pusing dan mimisan.


"Astaga!" Mengapa kamu menyembunyikannya dariku Andien. Jika tubuhmu belum sanggup aku tidak apa sayang untuk menahan diri." ucap Reza dengan wajah sendu.


"Mas Reza!"


"Hmm!" Reza mengeratkan pelukannya pada istrinya.


"Aku rela di madu mas!" Mas boleh menikah lagi, jika aku tidak bisa menjalani kewajibanku sebagai istri."

__ADS_1


"Andieeennnn!" Bentak Reza lalu mendorong tubuh istrinya karena begitu sakit permintaan itu dari seorang wanita yang tidak bisa menghargai pengorbanannya.


__ADS_2