
Tujuh bulan kemudian.
Kini kandungan Andien memasuki usia tujuh bulan. Andien sudah melewati masa-masa sulitnya untuk melawan penyakitnya selama kehamilan.
Beruntunglah dokter Remon dan dokter Manuella sebagai dokter spesialis kandungan bekerjasama untuk memastikan kandungan Andien tetap dalam keadaan sehat, walaupun sebelumnya Andien harus mengalami pendarahan yang hampir membuatnya kehilangan bayinya.
Reza dan keempat anaknya selalu memberikan support kepada Andien, agar Andien tetap bertahan walaupun penyakitnya masih menggerogoti tubuhnya tapi tidak begitu parah.
Aktifitas Andien yang cukup padat memaksanya tetap bekerja walaupun ia sudah mengajukan surat pengunduran diri, namun negara itu tidak serta merta membiarkannya begitu saja pergi dari departemen mereka sebelum mereka sendiri yang memutuskan untuk mengijinkan Andien kembali lagi ke negaranya Indonesia.
Bukan hanya Andien dan Rania yang hamil kembar, menariknya Ratih, Rani dan Ayu kompak hamil kembar tiga saat ini dengan usia kandungan lima bulan. Dan Rania delapan bulan.
Dua keluarga itu sedang berbahagia menanti kedatangan keluarga kembar yang akan meramaikan rumah-rumah mereka dengan tangis bayi bersamaan.
Sementara itu keempat anaknya sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti sidang skripsi untuk meraih gelar sarjana strata satu.
"Mama, ayah doakan kami agar kami bisa mengikuti sidang hari ini dengan lancar." Pinta keempat anaknya seraya mencium pipi kedua orangtuanya saat turun dari mobil.
"Tetap berdoa dengan membaca istighfar dan selawat untuk menghalau setan agar tidak ikut campur dalam menjawab pertanyaan dosen penguji." Pesan Andien pada keempat anaknya.
Keempatnya mengangguk patuh walaupun nasehat itu sudah berulangkali mereka dengar dari mamanya setelah kali mereka menempuh ujian.
"Bye mama, ayah!" Kecupan mereka tidak lepas pada perut besar Andien.
Lucunya keempat bayi itu merespon ciuman keempat kakak mereka dengan menendang perut Andien membuat Andien seketika menjerit.
"Auhhgg!" Reza tersentak melihat Andien meringis kesakitan.
"Ada apa sayang?"
"Mereka sedang menendang perutku secara bersamaan."
"Keren anak-anakku! sudah bisa main bola di lapangan sekecil ini." Canda Reza sambil mengusap perut Andien.
Keduanya kembali menuju tempat kerja mereka masing-masing.
"Kapan kamu akan ambil cuti melahirkan sayang?"
"Mungkin bulan depan."
"Apakah kamu masih nyaman bekerja dengan membawa perutmu sebesar ini?"
"Aku tidak merasa beban mas, karena sudah merasakan pada kehamilan pertama yang cukup menyusahkan tapi semua teman-temanku sangat memperhatikan aku saat aku masih duduk di bangku kuliah.
__ADS_1
Banyak yang menolongku saat itu walaupun diantara mereka tidak ada yang akrab denganku tapi mereka masih mau membantuku seperti membelikan aku makanan di kantin, mengantar aku ke mobil usai pulang kuliah dan menjagaku setiap kali aku berkunjung ke perpustakaan untuk mencari buku-buku sebagai rujukan referensi yang mendukung penelitian ku saat itu.
Dan sekarang, teman-teman di kantorku melakukan hal yang sama dengan meringankan beban ku selama bekerja. Aku merasa semua itu atas pertolongan Allah karena Allah yang menggerakkan hati mereka untuk menolongku." Ucap Andien agar suaminya tidak cemas jika mereka sedang berjauhan.
"Alhamdulillah, sayang kalau lingkungan kerjamu sangat mendukung kamu juga di saat menjalani masa kehamilan yang tidak mudah untukmu."
Setibanya di kantor milik Andien, Reza mengantarkan istrinya sampai di depan pintu lift saja karena tempat kerja Andien berada di dalam tanah atau ruang banker yang sangat rahasia.
"Kalau ada apa-apa langsung menghubungi aku, hmm!" Pinta Reza lalu mengecup bibir istrinya sekilas.
"Iya sayang, mas Reza hati-hati. Sampai jumpa nanti sore."
Pintu lift terbuka, Andien masuk ke kotak berjalan itu sambil melambaikan tangannya kepada sang suami hingga pintu lift tertutup.
Reza kembali ke perusahaannya dengan hati cemas. Pria tampan ini masih belum tenang sebelum Andien mengambil cuti melahirkan.
...----------------...
Di ruang sidang dengan fakultas yang berbeda, keempat anaknya Reza dan Andien ini menjawab pertanyaan dosen penguji dengan sangat lancar dan tidak ada satu kesalahan pun yang mereka lontarkan dalam setiap pertanyaan dari dosen penguji.
Teman-temannya yang sedang menunggu giliran, hanya menggeleng kepala mereka seakan mereka sedang mendengarkan robot yang bicara dengan sistem yang sudah diatur di otaknya.
"Astaga!" Kenapa Calista menjawab pertanyaan dosen tanpa beban seperti itu, sementara aku di sini hampir mati kutu." Ucap Mark teman sekelasnya yang berusia 19 tahun ini.
"Kamu harus menunggu delapan atau sepuluh tahun lagi untuk mendapatkan mereka." Goda Marco.
Ketiganya cekikikan memperhatikan Calista menjawab pertanyaan terakhir dari dosen penguji. Sekarang giliran Brian yang maju.
Calista meminta ijin dosennya untuk mengikuti sidang skripsi berikutnya di fakultas hukum karena Calista mengambil dua jurusan sekalian yaitu ahli forensik dan pengacara sekaligus.
Camilla yang sudah menyelesaikan ujiannya terlebih dahulu menuju ke arah kantin. Gadis ini asyik melihat gadgetnya hingga tidak sadar menabrak seorang pria tampan yang ada didepannya.
"Bukk!" Ponsel keduanya seketika jatuh bersamaan. Karena model dan merk ponselnya sama keduanya memungut ponsel itu tertukar satu sama lain.
Pria tampan itu menatap wajah cantik Camilla dengan gemas. Pria tampan ini tidak sadar kalau dia sedang berhadapan dengan mahasiswa jenius.
"Kamu mau ke mana dek?" Apakah kamu salah satu putri dari dosen di sini atau menunggu kakakmu di sini?" Tanya pria tampan itu membuat Camilla seketika tidak bergeming.
Ia hanya menatap kagum wajah tampan yang ada dihadapannya saat ini.
"Cih!" Kenapa orang ini sangat tampan sekali?" Apakah dia keturunan dewa Yunani?" Tanyanya dalam diam tanpa menjawab pertanyaan pria tampan itu.
"Kamu mau ke mana dek?" Pria ini mengulangi lagi pertanyaannya.
__ADS_1
"Aku mau ke kantin." Ujar Camilla sambil tersipu malu sendiri.
"Oh, ayo ikut aku!" Aku juga mau ke kantin." Ucap pria itu lalu menggandeng tangan Camilla.
Camilla yang merasa senang diperhatikan oleh pria tampan yang baru ditemuinya di kampus, mengikuti saja ajakan pria tampan itu.
"Kamu mau makan apa?"
"Spaghetti carbonara!"
"Baik." Pria tampan itu memesan spaghetti bolognese dan juga spaghetti punya Camilla, serta dua minuman bersoda.
Tidak lama pesanan mereka sudah tersaji dan keduanya menikmatinya makanan dengan santai.
"Apakah kamu putri dari salah satu dosen di sini?" Tanya pria tampan itu sambil menikmati spaghettinya.
Camilla menatapnya lalu memintanya untuk tidak bicara saat sedang makan dengan isyarat jarinya yang diletakkan di mulutnya.
"Sial!" Kenapa aku di atur sama anak kecil!" Umpatnya dengan menggunakan bahasa Indonesia membuat Camila tersentak.
"Hah!" Oh rupanya dia mahasiswa Indonesia." Batin Camilla.
Usai makan Camilla menyodorkan tangannya lalu memperkenalkan dirinya dalam bahasa Indonesia.
"Kenalkan namaku Camilla!" Ucapnya sambil tersenyum kepada wajah tampan itu.
"Aku sampai lupa menanyakan namamu dek." Aku Davin Mahesa panggil saja Davin . Kamu orang Indonesia?" Pantas saja wajahmu sangat dominan Asia."
Camilla mengangguk.
"Kakak Davin sendiri blasteran indo ya?" tanya Camilla penasaran.
"Iya!" Ibuku orang Yunani dan ayahku orang Indonesia. Aku baru datang ke sini untuk melanjutkan pendidikan aku di sini."
"Berarti sekolahnya di Indonesia?"
"Iya dek. Kamu sudah kelas berapa sekarang?" Tanya Davin lalu menyedot minumannya yang masih tersisa.
"Aku baru kelar mengikuti sidang skripsi."
"Uhuk...uhuk!"
"Apa...?" Kamu seorang mahasiswa dan senior aku?"
__ADS_1