
Reza memakai baju pelindung untuk bisa masuk menjenguk wanitanya. Keempat anaknya juga ikut masuk melihat keadaan ibunya yang tergolek lemah tak berdaya dengan katup oksigen yang naik turun terlihat lemah.
"Mamaaaa!"
Pekik tertahan keempat anak itu serentak dengan air mata yang sudah mengembang di setiap kelopak mata mereka yang jeli.
"Ayah!" Apakah mama akan sembuh?" Tanya Camilla dengan menahan tangisnya.
"Iya sayang!" Mama kalian akan sembuh." Ucap Reza terbata-bata menahan kesedihan yang makin mengguncang dadanya saat ini.
"Mama!" Mengapa di saat kami menemukan ayah, malah mama jadi sakit?" Tanya Fariz dengan bibir bergetar.
Alghiffari mencium tangan ibunya dengan penuh kelembutan.
"Mama!" Bangunlah mama!" Ada ayah di sini. Apakah mama tidak merindukan ayah?" Tanya Calista yang mulai menangis lagi.
"Sayang!" Jangan berisik!" Kita bisa di usir dari sini." Pinta Reza sambil mengelus pipi putrinya.
"Tapi ayah!" Calista kangen sama mama." Ucap Calista sambil mewek.
"Sebaiknya kita tinggalkan mama supaya bisa istirahat. Dengan begitu mama cepat sembuh." Pinta Reza diikuti anggukan kepala keempat anaknya.
Masing-masing mereka mencium pipi tirus dan pucat Andien masih dengan air mata kesedihan. Tiba giliran Reza yang bingung untuk menentukan sikapnya pada Andien.
"Ayah!" Kenapa tidak mencium mama Andien!" Pinta Camilla.
"Ayah takut nanti mama Andien terganggu." Ucap Reza memberi alasan pada putrinya.
"Setidaknya ciumlah punggung tangan mama sebagai lelaki kesatria." Apakah ayah masih terlihat pengecut di depan mama?" Tanya Al yang terlihat lebih mirip dengan dirinya.
"Baik sayang!" Ucap Reza lalu menghampiri Andien dan mengecup tangan Andien sambil menahan isak.
Setelah mencium punggung tangan Andien, Reza membisikkan sesuatu pada telinga Andien.
"I love you honey!" Ucapnya lalu melangkah bersama dengan keempat anaknya menuju pintu keluar.
"Mas Reza!"
Duaaarrr...
Reza dan keempat anaknya spontan membalikkan tubuh mereka melihat Andien memanggil namanya.
__ADS_1
"Andieeennnn!" Apakah kamu sudah sadar sayang!" Pekik Reza bahagia.
"Mas Reza..mas Reza!" Mas Reza!" Gumam Andien dengan mata masih terpejam dibawah alam sadarnya.
"Apakah kamu bermimpi tentang aku sayang?" Tanya Reza dengan nada kecewa.
"Ayah!" Cium saja bibir ibu supaya cepat bangun!" Ucap Calista polos.
"Calista!" Itu hanya dongeng pada putri tidur. Lagi pula ayah bukan seorang pangeran." Ucap Fariz kesal dengan ide gila saudara kembarnya ini.
"Tapi, ayah adalah pangeran hati mama Andien, setiap wanita mengagumi kekasihnya seperti membayangkan seorang pangeran yang menjadi belahan jiwanya." Balas Camilla membela Calista.
"Sudahlah sayangnya ayah!" Sebaiknya kita keluar karena mama Andien hanya mengigau saja." Ucap Reza.
Mereka keluar dari ruang ICU itu dengan wajah sembab.
"Ayah!" Mungkin selama ini, mama Andien sangat merindukanmu hingga ia menyebut nama ayah daripada kami anak-anaknya." Ucap Al.
Reza tersenyum geli sambil mengacak rambut putranya.
"Maaf tuan!" Apakah anda wali dari nyonya Andien?" Tanya suster yang mencegah Reza pulang.
"Kalau begitu, mari ikuti saya menghadap dokter karena ada hal penting yang ingin dokter bicarakan dengan anda tentang sakitnya nyonya Andien.
Hanya tuan saja yang boleh masuk menemui dokter tanpa anak-anak." Ucap suster itu membuat Reza mengerti dan meminta asistennya menjaga anak-anaknya.
Dengan wajah muram ditambah senyum kecut, Reza duduk di depan meja dokter Remon yang menangani kasus sakitnya Andien.
"Maaf dokter, apa yang terjadi dengan nona Andien?" tanya Reza yang tidak sabar mendengarkan penjelasan dokter.
"Dari hasil laporan laboratorium yang kami terima, tenyata penyakit nona Andien sangat serius, tuan!" Ucap dokter Remon hati-hati.
"Maksudnya penyakit berat apa ya dokter?"
Dokter Remon menarik nafasnya lalu merenung sesaat untuk mengungkapkannya kepada keluarga pasien dengan tega.
"Nyonya Andien menderita penyakit leukimia stadium dua."
Duaarrr....
Jantung Reza seketika ingin berhenti. Tubuhnya lemas tak bertenaga dengan lutut yang sudah berdendang menahan getaran yang terlahir dari jiwanya yang syok begitu ketakutan.
__ADS_1
"Apakah masih bisa disembuhkan dokter?" Tanya Reza dengan kata-kata terbatas.
"Tergantung imun pasien, jika dia kuat maka jiwanya akan tertolong dengan rawat jalan dan beberapa terapi dengan peralatan canggih untuk mencegah sel kangker yang tumbuh cepat di jaringan sel dalam darah merahnya yang sudah terkontaminasi dengan lebih banyak leukosit dalam darahnya dari pada trombosit itu sendiri." Ucap dokter Remon.
"Ya Allah!" Cobaan apa lagi ini yang mendera kekasihku Andien?" Gumam Reza membatin.
"Baiklah dokter!" Saya tetap berharap agar anda dan tim bisa berhasil menyelamatkan ibu dari keempat anak saya." Tutur Reza lalu menyalami dokter setelah banyak hal yang mereka bahas tentang penyakit yang diderita Andien saat ini.
"Terimakasih dokter!"
Reza berjalan cepat ingin kembali lagi menemui anak-anaknya.
Benar saja, baru saja muncul dari balik pintu ruang kerja dokter Remon, keempat bocah itu berteriak memanggilnya seakan ia akan kabur lagi.
"Ayah...!" Calista yang lebih dulu melompat ke tubuh ayahnya.
"Ayah..!"Aku juga mau di gendong!" Rengek Camilla yang iri dengan Calista yang selalu utama di gendong ayahnya.
"Kalau begitu biar adil, gantian yah gendongnya," Ucap Reza lalu menurunkan tubuh Calista lalu menggendong Camilla.
"Emang, anak ayah hanya mereka berdua?" Gerutu Fariz kesal dengan dua saudara perempuannya yang sedari tadi tidak ingin memberikan kesempatan ayah mereka memanjakan dia dan Al yang terlihat banyak bersabar.
"Ok Camilla!" Sekarang gantian ayah gendong Fariz lalu Al-Ghifari." Ucap Reza yang ingin berlaku adil pada keempat anaknya.
Calista yang terlihat ngantuk mencari kursi yang ada di hadapannya untuk tidur. Melihat itu Reza tidak bisa menggendong lama dua putranya.
"Apakah Calista selalu bersikap seperti itu, jika sudah ngantuk berat?" Tanya Reza dengan terus mengawasi putrinya itu.
"Calista selalu seperti itu, kalau ngantuk asal tidur di mana saja dan kadang dia tidur di tempat yang tersembunyi membuat kami selalu panik mencarinya." Ucap Fariz.
"Itu belum seberapa ayah, malah ada yang lebih parah lagi. Calista bisa tertidur saat berada di kolam renang dan hampir tenggelam kalau matanya sudah terasa berat. Saat usia empat tahun, mama hampir gila melihat Calista hampir kehilangan nyawanya karena tenggelam tanpa sepengetahuan kami.
Beruntunglah dokter segera menyelamatkannya dan saat itu Calista mulai menjadi sangat aneh dengan tingkahnya yang sibuk dengan dunianya sendiri." Ucap Camilla.
"Sebentar sayang ayah gendong Calista dulu ya!" Reza mengangkat tubuh putrinya lalu menaruhnya di dalam pelukannya.
"Ayah, apakah ayah tahu?" Kalau Calista berbeda dari kami bertiga karena ia menderita Autisme." Ucap Fariz membuat mata Reza membelo tak percaya.
Duaaarrr....
"Apa karena dia tenggelam kelamaan di dalam air saat berenang?" Tanya Reza terdengar syok yang makin bertambah-tambah.
__ADS_1