
Reza pamit kepada anak-anaknya dan juga kedua orangtuanya untuk kembali ke Bogota. Keempat anaknya terlihat sedih, namun mengingat janji mereka kepada mamanya untuk mengembalikan ayah mereka ke Andien setelah mereka sudah bertemu keluarga besar ayahnya.
"Kalian tidak apa kalau ayah tinggalkan kalian bersama kakek dan nenek?" Tanya Reza sambil berdiri sejajar dengan tinggi badan keempat anaknya.
"Tidak masalah ayah, kakek dan nenek sangat sayang kepada kami, walaupun ada rubah betina yang selalu menyalak, Insya Allah, kami akan membuatnya jinak." Ucap Calista yang ingin membesarkan hati ayahnya untuk tidak memikirkan keadaan mereka jika ditinggalkan.
"Baiklah. Ayah percaya kepada kalian dan ayah yakin, tanpa ayah kalian bisa menjalani puasa Ramadhan bersama kakek dan nenek." Ucap Reza.
"Sebaik-baiknya penjagaan di dunia ini, Dialah Allah yang bisa ayah titipkan kami padaNya. Kami akan menjaga Allah agar Allah selalu menjaga kami sebelum kehadiran ayah di tengah kami." Ucap Fariz.
Reza dan kedua orangtuanya tersenyum mendengarkan ocehan kembar empat yang selalu mengaitkan apapun dengan kebesaran Allah.
Kini Reza beralih kepada kedua orangtuanya untuk menitipkan keempat anaknya.
"Nak!" Sampaikan salam kami pada nak Andien karena telah melahirkan dan membesarkan keempat cucu kami dengan sangat hebat.
Istana yang dia bangun untuk keempat ini adalah madrasah utama yang ia tanamkan kepada keempat anak ini, hingga yang keluar dari mulut mereka hanya kebaikan. Dan itu sudah mengubah pandangan hidup mami dan ayah yang belajar langsung kepada keempatnya." Ucap tuan Handoyo.
"Hati-hati di jalan, mami dan ayah akan menunggu kepulangan kalian berdua agar bisa puasa dan lebaran bersama di Jakarta." Nyonya Susan mencium pucuk kepala putranya.
Semuanya melepaskan kepergian Reza saat suami Andien ini masuk ke mobil menuju bandara.
"Ayah titip ciuman kami untuk mama!" Ucap Al.
"Muaacch!" Reza memberikan kiss bye kepada keempat anaknya dan mobil mewah itu sudah meluncur meninggalkan mansion tuan Handoyo.
"Ayo kita masuk sayang!" Ajak nyonya Susan.
...****************...
Di Bogota, Andien sedang melakukan konsultasi dengan dokter Remon tentang penyakitnya. Kabar baiknya, penyakit Andien sudah berangsur membaik dan boleh melakukan hubungan suami-istri tapi tidak boleh melewati batas karena tubuhnya butuh penyesuaian saat melakukan kontak fisik dengan suami.
Andien mengerti akan arahan dokter kepadanya. Keduanya bersalaman dan mengucapkan salam sukses atas kerjasama dalam menanggulangi penyakit Andien yang kini masuk tahap pemulihan, hanya saja menunda program kehamilan hingga enam bulan ke depan.
Andien makin gelisah saat bekerja dan terus memperhatikan jam dinding dan jam tangan miliknya yang bergerak bersamaan tanpa ada selisih waktu diantara kedua jam itu.
"Ternyata pekerjaan yang paling membosankan adalah menunggu. Perasaan belum bertemu dengan mas Reza, aku biasa saja, tapi setelah menikah dengannya, aku menjadi bergantung padanya termasuk perasaanku ini." Keluh Andien sambil menarik nafasnya dan menghembusnya dengan lembut.
Ia meneruskan lagi pekerjaannya sambil berzikir untuk menenangkan hatinya gelisah.
__ADS_1
"Ok, semangat Andien!" Sebentar lagi pendekar mu telah tiba." Andien bermonolog.
...****************...
Tidak terasa, jam pulang kerja akhirnya mengakhiri pekerjaan Andien. Istri Reza ini mencoba lagi menghubungi ponsel suaminya namun masih di luar jangkauan.
"Apakah pesawatnya delay?" Gumam Andien lirih.
Andien keluar dari gedung perkantoran itu dengan kembali memperlihatkan wajahnya yang datar.
Para prajurit angkatan udara yang melihat Andien sedang melintasi di hadapan mereka serentak memberi hormat dengan penuh kekaguman menatap wajah wanita kharismatik ini.
"Mengapa wajah cantik itu tidak pernah terlihat tersenyum sekalipun." Batin Hendrick yang merupakan komandan di deviasinya.
Pria tampan nan gagah ini selalu memuja Andien sejak Andien bergabung dengan pasukan mereka walaupun gadis itu bukan anggota angkatan udara.
"Nona Andien!" Sapa tuan Edgar ketika gadis ini buru-buru ingin pulang.
"Iya Tuan!" Andin menghentikan langkahnya dan menghampiri tuan penguasa itu.
"Apakah aku bisa bertemu dengan putrimu Calista?" Tanya tuan Edgar.
"Oh begitu ya?" Baiklah nanti aku akan mengunjungi putrimu melalui ponselnya." Ujar tuan Edgar.
"Apakah ada hal yang serius Tuan Edgar?"
"Ada seseorang yang ingin kami retas akun nya, tapi memiliki banyak kendala karena orang ini sangat cerdas menutupi kejahatannya dengan berkedok investasi.
Setiap bagian audit kejaksaan ingin melakukan pemeriksaan kepadanya, ia terlihat bersih namun kecurigaan para petinggi kepolisian kepada orang ini sangat kuat.
Hanya putrimu Calista yang mampu menjebol akun miliknya sehingga permainan kotornya bisa kami bongkar." Ucap Tuan Edgar.
"Baiklah Tuan. Silakan menghubungi putri saya tapi sesuaikan dengan jam di sana karena perbedaan waktu Bogota dan Jakarta sekitar 12 jam." Ucap Andien untuk mengingatkan tuan Edgar agar tidak menghubungi putrinya di saat keempat anaknya sedang tidur.
"Nona Andien!" Apakah kamu sedang menunggu seseorang?" Tanya tuan Edgar.
Andien terlihat malu-malu tapi ia tetap menyembunyikan perasaannya dengan wajah datarnya.
"Lihatlah di belakangmu!" Titah tuan Edgar membuat Andien langsung berbalik tiga ratus enam puluh derajat.
__ADS_1
"Hah.. Mas Reza!" Seru Andien yang melihat suaminya yang masih jauh sekitar seratus meter dari tempatnya berdiri.
Tanpa memikirkan orang lain yang sedang berkerumun di depan gedung megah itu Andien berlari menghampiri suaminya dengan wajah berbinar dan menebarkan senyum manis hingga memancing para prajurit yang sedari tadi bersikap sempurna melihatnya begitu terpesona dan juga tidak percaya bahwa gadis bongkahan es itu memperlihatkan keceriaannya.
"Hah..?" Ternyata senyum itu sangat indah." Kagum mereka dengan wajah tercengang.
"Mas Reza!" Andien melompat di tubuh suaminya dan Reza menyambut tubuh yang sangat ia rindukan itu dengan beberapa kali putaran saat menggendong istrinya yang lebih tinggi posisinya darinya.
"Apakah kamu sangat merindukan ku, sayang?" Tanya Reza lalu mengecup Andien di depan banyak orang tanpa rasa sungkan, seakan ingin mengatakan ini adalah miliknya yang sah tanpa ada yang boleh mendekati wanitanya.
"Hmm!" Jawab Andien singkat.
"Kita pulang sekarang?" Tanya Reza yang masih menggendong Andien yang berkoala padanya.
"Hmm!" Andien mengangguk cepat.
Reza menurunkan kekasihnya lalu merengkuh pinggang wanitanya dengan hangat. Keduanya sudah berada di mobil langsung meluncur ke mansion Andien.
"Bagaimana kabar anak-anak sayang?" tanya Andien ingin tahu.
"Alhamdulillah, mereka sangat bahagia di sana, kedua orangtuaku jadi terhibur dan selalu tertawa dan kagum setiap kali mendengar ocehan mereka." Ucap Reza.
Mobil mewah itu sudah masuk ke gerbang utama mansion.
Andien turun dari dari mobil dan melihat mansionnya begitu sepi.
"Di mana semua pelayan?" Tanya Andien sambil mengernyitkan dahinya.
"Mereka aku suruh cuti berbayar selama satu Minggu karena aku ingin berdua saja denganmu sayang, kecuali satpam rumah ini yang harus tetap menjaga keamanan mansion ini.
Reza menggendong lagi wanitanya, kali ini dengan posisi bridal style. Andien memeluk leher suaminya dan menyenderkan kepalanya ke dada bidang sang suami hingga mengenai jakun kokoh milik Reza yang sangat ia kagum.
Andien memahami situasinya saat ini yang akan mendapatkan serangan kenikmatan dari sang suami hingga menjelang fajar karena ulahnya kemarin malam yang sudah menggoda suaminya.
"Bersiaplah sayang!" Setiap ruangan ini akan menjadi saksi percintaan panas kita dan semua CCTV sudah di matikan olehku.
Bagaimana kamu siap menerima hukumannya karena sudah memanggil aku pulang, hmm?" Suara Reza makin berat membuat Andien merinding sambil meneguk liurnya dengan gugup.
__ADS_1