
"Permisi!" Sapa kakek itu kepada keempat anak ini.
"Iya kakek!" Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Fariz lalu menghentikan memakan es krimnya.
"Begini!" Siapa yang tadi sudah menolong kakek memberi tahu satpam kalau dompet kakek dicopet?" Tanya kakek itu yang merupakan tuan Handoyo, ayah dari Reza.
Calista lalu mengangkat jarinya. "Saya kakek!" Ujar Calista.
"Nak, terimakasih atas keberanian kamu yang mau melaporkan satpam untuk mencegat pencopet tadi. Biasanya orang langsung berteriak copet tapi kamu malah lapor satpam, kenapa sayang?" Tanya tuan Handoyo pada Calista.
"Jika aku berteriak ada copet, lelaki itu akan dihakimi oleh pengunjung rumah sakit, sedangkan uang kakek belum sempat dimanfaatkan oleh pencopet itu.
Lagi pula ini rumah sakit, kalau kejadian itu akan menimbulkan keributan, maka banyak pasien akan terganggu dan pasien di sini rata-rata penderita sakit jantung dan itu tidak baik bagi kesehatan mereka.
Jika mulutku tidak dijaga, maka ada orang lain yang akan terkena serangan jantung karena kaget jika rumah sakit ini tidak aman untuk mereka. Kalau ada yang sampai meninggal, maka akulah yang paling merasa bersalah dan menyesal seumur hidupku. karena merenggut nyawa orang lain dari keluarganya." Ucap Calista dengan bijak lalu melanjutkan memakan es krim miliknya.
Wajah tuan Handoyo tercengang mendengar kata-kata bijak dari bocah berusia lima tahun ini.
"Bagaimana mungkin anak sekecil ini bisa memikirkan dampak buruk yang akan terjadi pada orang lain karena aksi nekat si pencopet." Batin tuan Handoyo.
"Siapa namamu, nak?"
"Calista!"
"Apakah kalian anak kembar empat?"
"Iya!" Jawab mereka dengan anggukan.
"Terimakasih Calista, kamu anak yang hebat." Ini hadiah untukmu." Ucap Tuan Handoyo seraya menyerahkan uang merah sekitar lima ratusan.
"Maafkan saya kakek!" Tidak semua apa yg ada di dunia ini bisa dihargai dengan uang. Ada yang lebih penting dari pada semua itu, yaitu kebaikan yang kita harus tanam di dunia ini untuk surga yang akan kita raih diakhirat nanti, itu yang di katakan Allah dalam Al-Qur'an.
Jika kebaikanku sudah dibayar di muka bumi ini, aku begitu takut nikmat akhiratku akan berkurang nilainya." Ucap Calista.
Lagi-lagi, tuan Handoyo terperangah dengan jawaban bocah cantik ini.
__ADS_1
"Tapi, semua manusia beriman akan mendapatkan surganya kelak." Ucap tuan Handoyo.
"Tapi tidak semua manusia beriman akan bebas dari azab kubur karena pintu untuk mencapai surga, harus melewati alam ketiga yaitu alam kubur setelah alam rahim dan alam dunia." Timpal Calista membuat tuan Handoyo langsung menciut jantungnya.
"Di mana orangtua kalian?"
"Kami hanya punya mama dan tidak punya ayah." Permisi kakek!" Kami harus kembali ke atas karena mama pasti menunggu kami saat ini." Ucap Calista lalu mengajak ketiga saudaranya kembali ke ruang tunggu operasi.
Tuan Handoyo hanya termangu melihat keempat anak kembar itu pergi meninggalkannya di ruang kantin.
"Aku hari ini seakan sedang berhadapan dengan malaikat yang sedang mengingatkan aku akan dosa-dosaku terutama dosa lisan karena telah membuat ayah kandung Andien meninggal dunia karena serangan jantung akibat ulahku.
Teguran Calista, bocah kecil itu seakan sedang menghukum diriku atas masalaluku. Andai saja aku punya cucu seperti mereka, mungkin hidupku tidak akan kesepian seperti ini.
"Dua anak perempuanku belum di karuniai seorang anak, apa lagi Reza yang belum mau menikah karena memikirkan kekasihnya Andien. Apakah Andien saat ini telah merawat cucuku?" Oh bodohnya aku karena menolak hal yang sangat berharga karena nilai reputasi yang tak pernah memberikan kebahagiaan untukku." Gumamnya lirih.
Keempat bocah itu sudah berada di lantai lima tempat nenek mereka sedang menjalani operasi.
"Apakah kalian dari kantin?" Tanya Andien.
"Apakah kalian bosan di sini?" Tanya Andien.
Keempat bocah itu tidak enak menjawabnya karena mereka juga tidak tega meninggalkan ibu mereka sendirian di ruang operasi.
"Tidak apa-apa mama!" Santai saja. Lagi pula kami punya buku dan ponsel untuk menghilangkan kejenuhan kami di sini." Ujar Camilla.
"Alhamdulillah, terimakasih sayang...mama bangga memiliki anak seperti kalian." Ucap Andien lalu tersenyum manis pada keempat anaknya.
"Kami lebih bersyukur karena Allah telah memilih mama sebagai ibu kandung kami." Ucap Fariz.
Andien merentangkan kedua tangannya untuk memeluk keempat anaknya. Setiap ocehan yang bermakna dari keempat bocah ini, Andien selalu saja terharu tanpa bisa membalasnya. Hanya pelukan hangat yang bisa ia salurkan sebagai bentuk kasih sayangnya pada keempat malaikat kecilnya.
"Apa jadinya aku, jika aku menggugurkan kalian saat itu. Belum tentu ayah kalian akan memilihku menjadi istrinya walaupun aku sudah memenuhi permintaannya." Ucap Andien dalam diam.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Sudah seminggu ini, tuan Handoyo masih memikirkan peristiwa berharga yang terjadi beberapa hari ini pada dirinya. Ia pun terus menyeka air matanya karena kata-kata Calista sudah meremas hatinya yang selama ini mengeras karena kurangnya iman.
Reza yang melihat ayahnya yang sedang duduk termenung sambil menangis memegang Alquran diatas pangkuannya.
"Ayah!" Sapa Reza.
Tuan Handoyo langsung mengemas air matanya di pipi saat melihat putranya mendekat.
"Apakah ayah sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Reza.
"Ayah diceramahi oleh seorang bocah cantik tentang kehidupan." Ucap tuan Handoyo lalu menceritakan kronologi saat dirinya dicopet dan di tolong oleh seorang gadis kecil yang begitu cerdas saat berada di rumah sakit jantung Jakarta.
"Apa...?" Gadis kecil yang telah menyelamatkan dompet ayah. Apakah ayah menanyakan namanya?" Hebat sekali bocah itu.
"Namanya Calista...?"
Degggg...
"Tunggu ayah!" Reza membenahi duduknya sambil berpikir sesuatu.
"Apakah gadis itu bersama ketiga saudara kembarnya?" Tanya Reza.
"Iya Reza. Bagaimana kamu bisa mengetahui mereka, apakah mereka anak-anakmu?" Tanya tuan Handoyo antusias.
"Astaga!" Ayah, apakah mereka sekarang masih berada di rumah sakit itu?" Sebaiknya kita menemui mereka. Aku penasaran dengan ibu mereka.
Jika ibu mereka seorang janda, aku akan menikahi ibu mereka karena aku sudah jatuh cinta pada keempat anak itu yang sudah masuk ke pikiran dan jiwaku." Ucap Reza semangat.
"Tunggu Reza!" Apakah kamu pernah beredar dengan keempat bocah itu?" Tanya tuan Handoyo.
"Iya ayah, saat itu aku sedang menunggu di ruang tunggu transit." Ucap Reza lalu menceritakan kronologi peristiwa kecelakaan kerja yang dialami oleh karyawan bandara.
"Ayah setuju nak, jika kamu menikahi ibu anak itu untuk mendapatkan keempat anaknya." Ucap tuan Handoyo berapi-api.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit jantung sekarang!" Ajak Reza pada ayahnya.
__ADS_1
Keduanya langsung berangkat menuju rumah sakit itu. Reza berharap bisa bertemu dengan keempat anak hebat itu lagi.