
Dua bulan berlalu, keluarga besar Reza mengunjungi mansionnya yang berada Bogota Colombia. Dua pasang pengantin baru ini, ikut serta dalam rombongan itu.
Keduanya ingin mengenang masa lalu, saat mereka dipertemukan oleh takdir dan berakhir menjadi pasangan bahagia.
Mansion milik Andien memang tidak pernah di jual karena Reza selalu datang untuk berkunjung bila ada pertemuan dengan koleganya di negara yang memiliki banyak kenangan itu.
Calista menatap wajah tampan suaminya yang terlihat tenang namun menyimpan rasa gelisah. Awalnya pangeran Fatih tidak ingin mengunjungi lagi negara itu karena keselamatannya akan menjadi taruhannya. Namun Calista meyakinkannya semuanya akan baik-baik saja jika dihadapi bersama.
"Apakah kamu akan mengunjungi istanamu juga, sayang?" Tanya Calista pada Fatih yang terlihat diam membisu.
"Tidak!"
"Lho, kenapa?"
"Kembali ke istana itu, sama saja bunuh diri. Kecuali kamu siap berpisah denganku." Ucap Fatih membuat Calista meremang.
"Apakah kamu akan menyerah begitu saja dengan peraturan kerajaan yang mengorbankan perasaan cintamu.
Aku ingin jika kamu sudah di daulat menjadi seorang raja, rubah lah peraturan bodoh itu agar tidak ada lagi korban seperti dirimu atau mungkin raja sebelumnya yang merelakan kebahagiaannya demi memenuhi ambisi para kroni kerajaan yang bisa menyetir kekuasaan mu." Tukas Calista tegas.
"Tapi Calista, jika raja melawan, maka mereka akan lebih menentang lagi setiap keputusan yang diambil oleh raja dan itu berpengaruh pada kestabilan keamanan kerajaan jika seorang raja mengeluarkan statement yang menekan politik kerajaan." Ucap pangeran Fatih.
"Tunjukkan kepada mereka, bahwa kamu adalah raja yang sesungguhnya, di mana semua aturan dan mandat yang kamu buat harus mereka tunduk dan patuh untuk dilaksanakan, bukan untuk dibantah.
Tunjukkan pengaruh dan kekuasaan mu sebagai raja yang tegas, bukan seorang raja boneka yang bisa mereka kendalikan sesuai yang mereka inginkan. Apakah kamu ingin ada dalang istana yang siap mendoktrin kekuasaan mu?" Calista mempengaruhi suaminya untuk tidak takut berjuang menjadi seorang pemimpin.
"Tapi Calista!"
"Sssstttt...!" Tenang suamiku. Ada aku dan rakyatmu yang akan mendukungmu. Kekuatan kita hanyalah Allah.
Bacalah doa nabi Musa tatkala menghadapi raja Firaun yang beringas. Insya Allah, doa yang sama itu akan melembutkan hati para menteri kerajaan. Aku yakin, dengan kamu terpilih menjadi seorang raja, maka akan membawa perubahan besar di istana kerajaan Maroko." Ucap Calista membuat pangeran Fatih memiliki kekuatan baru dalam dirinya.
"Kamu benar sayang. Jika bukan aku yang mendobrak peraturan yang berlaku selama ini di dalam istana, maka anak keturunan raja selanjutnya akan mengorbankan perasaan cinta mereka demi ambisi pemangku kepentingan." Balas pangeran Fatih.
Keduanya saling berciuman hingga berakhir pada permainan panas. Pesawat jet pribadi milik Reza ini, tidak lagi satu melainkan dua karena mengangkut banyak keluarganya yang ingin berlibur di Bogota. Dua kamar dari masing-masing pesawat hanya diperuntukkan untuk kedua pasangan pengantin baru.
__ADS_1
Sementara itu, Camilla yang sedari tadi tidak tenang karena tubuhnya sangat lemah. Rasa mual membuatnya harus banyak mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung asam. Davin yang melihat istrinya menaruh curiga kalau Camilla saat ini pasti sedang hamil.
Davin sudah menyiapkan testpack untuk berjaga-jaga jika istrinya sedang menunjukkan gejala kehamilan. Dan apa yang dikuatirkan Davin ternyata terbukti saat ini.
"Sayang! Berhentilah makan makanan yang asam. Sebaiknya kamu melakukan tes urine, siapa tahu kamu hamil." Pinta Davin.
"Sayang, aku hanya ingin makanan asam, dan perjalanan ini cukup jauh dan membuat perutku sangat mual. Dari pada aku muntah lebih baik aku makan ini."
"Berhentilah mengeluh dan melawanku!" Dan makanan ini akan membuat wajah anakku jadi asam." Tukas Davin lalu menggiring istrinya ke dalam kamar mandi.
Camilla yang merasa ogah-ogahan menuruti permintaan suaminya, membuat Davin harus ekstra sabar menghadapi kemalasan Camilla saat ini.
Ia pun harus menanggalkan segitiga berwarna moccha yang menutupi aset istrinya itu.
"Pipis lah sayang!" Titah Davin.
"Aku nggak bisa pipis kalau ada kak Davin."
"Baiklah. Ini testpack dan wadah untuk urinnya lakukan sesuai petunjuk, aku akan tunggu di luar."
Camilla melakukan semuanya hingga siap menunggu testpack itu beraksi. Lima menit kemudian, manik hitam legam itu, seketika tidak percaya melihat hasil yang ditunjukkan oleh dua alat yang berbeda bentuk itu.
Hampir saja ia memekik kegirangan, namun di urungkan rasa bahagianya itu karena ingin mengerjai suaminya yang sudah mengambil makanan kesukaannya.
Camilla meninggalkan dua testpack itu di dalam toilet pesawat dan keluar dengan wajah datar. Davin yang menunggunya di balik kamar mandi dengan jantung berdebar dan doa terbaiknya.
"Bagaimana sayang?" Apakah kamu hamil?"
Camilla menggeleng lemah membuat wajah Davin tersirat kecewa.
"Oh, tidak mungkin, sayang!" Aku yakin kamu tuh hamil. Mana testpack nya? aku ingin melihatnya sendiri."
"Masih diatas meja wastafel." Ucap Camilla menahan geli di hatinya.
Davin memeluknya dengan hangat lalu menggiring tubuh istrinya ke tempat tidur.
__ADS_1
"Tidak apa sayang! Bersabarlah! Kita akan ikhtiar lagi supaya kamu bisa segera hamil." Ucap Davin lalu menyelimuti tubuh Camilla dan meminta gadis ini tidur karena dari semalam Camila belum bisa memejamkan matanya karena rasa mual yang menjalar di perutnya.
Davin masuk ke dalam toilet ingin melihat dua benda yang sudah membuat dirinya kecewa berat dengan hasil yang tidak memuaskan kecurigaannya.
Setibanya di dalam kamar mandi, Ia melihat tulisan besar di kaca wastafel dengan lipstik milik istrinya.
"Selamat menjadi seorang ayah, suamiku tercinta."
Davin tersentak lalu mengambil dua benda itu dan segera melihatnya. Ternyata terdapat dua garis merah dan tanda positif.
"Dasar gadis nakal! Dia berhasil mengerjai aku." Ucap Davin sambil tersenyum bangga dan bahagia telah menjadi seorang calon ayah.
"Awas kamu! Kamu akan menerima hukumanmu sesaat lagi, istriku." Tawa kecil Davin.
Davin segera keluar dari kamar mandi dan memperhatikan tubuh istrinya yang sudah tidur telungkup untuk menghindari amukannya. Ia juga ingin membalas perbuatan istrinya.
"Hei, gadis nakal! Apa yang sudah kamu lakukan pada suamimu, hmm?"
Camilla cekikikan di dalam selimut. Davin menarik selimut itu dan menghempaskan nya ke lantai.
"Kamu harus dihukum untuk ini, karena mengerjai suamimu."
Camilla menutup wajahnya dengan kedua tangannya rapat.
"Apakah kamu ingin aku mengigit bibirmu atau menggigit bagian lainnya?" Goda Davin membuat Camila membuka tangannya dan menatap tajam wajah tampan suaminya.
Davin tersenyum melihat raut wajah malu dari Camilla yang membuatnya makin gemas. Dalam sekejap bibir ranum Camilla di pagut nya dengan rakus.
Nafas berat dengan tatapan mengiba menatap wajah istrinya dengan syahwat yang mengubun.
"Camilla sayang, terimakasih sudah memberikan hadiah terindah untukku," ucap Davin lembut.
"Akhhhhkkk!" Pekik keduanya kala melepaskan gairah yang sudah terbebas dari belenggu yang
mengukung hasrat keduanya karena luapan kebahagiaan karena telah mendapatkan momongan yang mereka idamkan selama ini.
__ADS_1
...