
Perjalanan itu sangat mengesankan anak-anak. Sekitar delapan jam waktu tempuh untuk tiba di lokasi pegunungan yang telah menyediakan villa yang tidak jauh dari tempat perkemahan mereka.
Pak Ronald dan pak Ansel yang merupakan sopir dan pelayan segera mendirikan tenda. Sementara Fariz mengajak ayah dan Al untuk mencari kayu bakar untuk membuat api unggun.
Camilla, Calista dan mamanya sedang menyiapkan daging dan ikan untuk barbeque. Sayuran yang lainnya hanya di hangatkan saja karena sudah di masak dari rumah.
"Sejak kapan kalian di perkenankan mama untuk melakukan liburan seperti ini?" Tanya Reza ingin mengetahui kegiatan keluarga kecilnya itu.
"Sejak usia kami tiga tahun. Tapi saat usia kami tiga tahun mama membuatnya di halaman belakang mansion.
Kami ditemani paman Leonardo. Setelah usia kami lima tahun, mama baru berani mengajak kami ke luar kota untuk melakukan liburan seperti ini di saat musim salju hampir tiba." Ucap Fariz.
"Apakah paman Leo juga ikut?"
"Mama Andien tidak ingin melibatkannya lagi karena mama ingin merasakan kehangatan dengan kami saja tanpa orang lain.
Kami hanya di temani pak Ronald sebagai sopir dan pak Ansel yang sangat mengerti tentang hutan karena dia adalah anak Pramuka dulunya, jadi mama. mempercayakan dia untuk menemani liburan kami.
Dia yang mengajarkan kami cara memilih kayu bakar yang bagus dan cara membuat api unggun, selain itu Calista yang banyak belajar tentang segalanya, jadi google hidup yang bisa kami lacak dengan cepat adalah Calista." Ungkap Al.
Kayu bakar sudah cukup banyak mereka kumpulkan. Ketiganya sudah kembali lagi ke tempat perkemahan.
"Al!" Apakah paman Leo menyukai mama?" Tanya Reza.
"Dia yang tergila-gila dengan mama, tapi sedikitpun mama tidak begitu menyukainya. Mama menganggapnya ia seperti sahabat. Ia selalu ada untuk kami dan di awal mama menginjak negara ini, paman Leo yang selalu membantu mama dalam kesulitannya. Itu yang diceritakan mama pada kami." Imbuh Fariz.
Deggg...
"Sebegitu akrabnya kah, si bule itu dengan keluargaku?" Geram Reza menahan cemburu.
"Ayahhhhh!" Teriak Calista sambil berlari menghampiri ayahnya yang sedang membawa kayu bakar.
Pak Ronald mengambil ketiga ikat kayu bakar itu dari tangan ayah dan anak itu.
"Ayah!" Gendong!" Rengek Calista.
Reza mengangkat tubuh Calista lalu mengecup dua pipi gembul Calista dengan gemas.
__ADS_1
Camilla yang melihat itu merasa cemburu, ia pun meninggalkan acara memasaknya dan menghampiri ayahnya.
"Calista turun!" Gantian gendongnya ayah!" Rengek Camilla.
"Tapi, aku sebentar di gendong ayah." Protes Calista.
Reza mulai bingung dengan dua putrinya yang memperebutkan dirinya. Akhirnya lelaki tampan ini merendahkan tubuhnya untuk menggendong Camilla bersamaan.
"Cium ayah!" Pinta Camilla sambil mengarahkan pipinya ke bibir Reza.
Reza terlihat geli dengan tingkah putrinya yang sedang cemburu memperebutkan dirinya." Muuuaaacchhh." Reza mengecup pipi Camilla dengan gemas.
"Dari tadi kami jalan dengan ayah, tidak manja seperti kalian untuk di gendong." Protes Al.
Andien datang meminta ketiganya untuk minum teh jahe hangat di depan tenda.
"Minum dulu mas Reza!" Andien menyodorkan gelas pada Reza.
Sementara dua putranya sudah membaur dengan Camilla dan Calista untuk membuat api unggun.
"Mereka sangat semangat melakukan segalanya." Ucap Reza.
"Andien!" Bolehkah aku meminta kebahagiaan kalian juga untukku?" Tanya Reza hati-hati.
"Untuk apa?" Bukankah dulu kamu tidak menginginkan mereka hadir di rahimku?" Apa kamu lupa dengan permintaanmu untuk mengugurkan mereka?" Mengapa sekarang muncul dan tiba-tiba meminta hakmu di saat aku sangat bahagia membesarkan mereka tanpa menuntut kewajibanmu sebagai ayah mereka?" Balas Andien dengan tenang.
Deggg...
Andien segera bangkit dan meninggalkan Reza untuk bergabung dengan anak-anaknya.
Reza sangat malu dengan pertanyaannya." Sial!" Aku sudah merusak mood Andien!" Ya Allah Andien!" Aku sangat bingung dengan sikapmu. Kamu mudah membuat aku melayang setinggi angkasa lalu melempar ku kembali ke dalam lautan yang dalam. Kata-katamu terdengar sangat tenang namun menghanyutkan." Batin Reza sambil memperhatikan keluarga kecilnya itu.
"Jarakku sudah sedekat ini, tapi mengapa Andien selalu mempermainkan perasaanku. Kadang dia terlihat romantis tapi di saat aku ingin masuk lebih jauh kata-kata tajam yang diucapkannya padaku seperti ribuan sembilu menancap di hatiku." Gumam Reza lirih.
"Persiapkan diri kalian untuk melakukan ibadah sholat magrib!" Ajak ayahmu juga Fariz." Titah Andien pada putranya.
"Baik mama!"
__ADS_1
"Calista, ambilkan sajadah, gelar sajadah sesuai urutan jamaah!" Titah Andien.
"Siap mama!"
"Camilla siapkan mukena dan pakaian sholat untuk ayah dan dua saudaramu!"
"Baik yang mulia!" Giliran Camilla melakukan tugasnya.
Dua gadis itu turun dari mobil karavan dengan peralatan sholat menuju ke dalam tenda untuk melakukan apa yang di pinta mama mereka.
Setelah semuanya siap, mereka pun menunaikan sholat magrib berjamaah di dalam tenda itu dengan ayah mereka.
Sementara pak Ansel dan pak Ronald memanggang daging dan ikan untuk keluarga itu.
Di dalam tenda, keluarga itu mulai membaca Alquran. Andien meminta keempat anaknya untuk mengulangi lagi hafalan mereka agar tidak mudah lupa.
Masing-masing diantara mereka menyebut surah yang akan mereka hafalkan. Yang pertama Fariz, Al, Camilla dan sekarang giliran Calista yang membacanya dengan suara yang sangat indah.
Reza mengusap air matanya mendengar lantunan ayat suci Alquran itu dengan sangat indah daripada ketiga saudaranya.
Sekitar 20 ayat surah Lukman yang dibacakan oleh Calista, putri dari Andien dan Reza ini membacakan artinya dengan begitu fasih tanpa ada kesalahan ketika Reza melihat terjemahan surah itu dalam ponselnya.
Hatinya makin meleleh merasa tidak berarti di hadapan Andien.
"Andien, pekerjaanmu sesibuk itu, bagaimana mungkin kamu mendidik anak-anak ini menjadi luar biasa." Batin Reza makin bergejolak menyaksikan kehebatan keempat anaknya.
"Pantaskah aku hadir ditengah kalian?" Reza mengigit bibir bawahnya merasakan kepedihan hatinya yang seakan sedang di hukum Andien saat ini.
Usai melakukan ritual ibadah mereka, keempat anak ini mencium tangan mamanya dan meminta maaf atas kesalahan mereka pada mamanya dan sebaliknya mereka lakukan itu juga pada ayah mereka.
Reza merangkul kelimanya dalam pelukannya. Hatinya merasa bahagia walaupun tumbuh duri yang sulit dicabut karena ulahnya di masa lalu.
"Andien, hukuman ini ternyata lebih berat dari pada wanita yang selalu mengumpat kekasihnya dan tidak ingin bertanggungjawab atas dirinya lalu memutuskan untuk tidak menemuinya sama sekali. Inikah caramu untuk melihatku menderita?" Gumam Reza membatin
"Permisi nyonya!" Makan malamnya sudah siap." Ucap Ansel membuyarkan kemesraan keluarga kecil itu.
"Horeee!" Kita makan depan api unggun." Anak-anak keluar dari tenda mereka dengan girang.
__ADS_1
Reza menarik tangan Andien lalu membawa dalam pelukannya.
"Maafkan aku sayang!" Maafkan aku!" hiks...hiks!" Tangis Reza sambil memeluk wanitanya dengan erat.