
Andien segera bangkit menyusul kedua putrinya untuk memberi pencerahan lagi pada keduanya.
Reza yang ingin menyusul istrinya di cegah oleh Fariz dengan menahan tubuh ayahnya.
"Ayah...!" Di atas sana sedang ada pengadilan untuk menghukum dua saudariku itu. Tolong jangan ikut campur ayah karena mama tidak suka saat ia mendidik kami setelah berbuat salah ada yang ikut campur." Ucap Fariz.
"Tapi kasihan saudaramu sayang!" Ucap Reza terlihat cemas.
"Tenang saja ayah!" Istri ayah itu sangat baik dan bijaksana. Tapi saking baiknya mama, tatapan matanya yang teduh itu, bisa membunuh kita semua. Bukankah ayah pasti merasakan itu." Ledek Al, membuat Rania dan Jody terkekeh.
Kakek dan nenek hanya mengelus dada mereka atas perbuatan putri mereka Ratih, malah cucu mereka yang dihukum oleh menantu.
Didalam kamar putrinya Andien mulai menggelar sidang pengadilan untuk kedua putrinya tentang bahaya lisan.
"Apakah mama pernah mengajarkan kalian, untuk membalas perbuatan buruk yang sama, dengan orang yang tidak menyukai kalian?"
"Apakah tidak cukup Allah dan malaikatNya saja, yang mengurus kezaliman orang lain kepada kita?"
"Bukankah sedikit lagi mau masuk malam Lailatul Qadar?" Bagaimana kalian mau meraih malam itu, kalau kalian sendiri telah menghancurkan apa yang telah kalian usahakan dari awal Ramadhan hingga detik ini.
Bukankah itu suatu hal yang sia-sia yang membuat kalian akan merugi?"
"Dan kamu Calista! apakah ilmu pengetahuan yang kamu pelajari hanya ajang untuk menyombongkan diri?"
Jadi apa yang kamu pelajari selama ini tidak lebih hanya sebagai penambah wawasan semata, bukan untuk mempertebal keimanan mu kepada Allah." Tegas Andien penuh penekanan pada kata-katanya.
"Maafkan kami mama!" Setan sedang menggoda kami hingga kami lupa dengan tujuan puasa Ramadhan ini." Ucap Calista terlihat tertunduk lesu.
"Setan hanya menggoda sajakan? bukan menyuruh?" Tukas Andien.
"Mama!" Camilla janji, mulai sekarang, Camilla selalu menjaga lisan untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan yang sama." Ujar Camilla.
"Besok saat sahur sebelum berangkat ke Solo, kalian harus meminta maaf kepada Tante Ratih." Titah Andien.
"Baik mama!"
Keduanya mencium pipi Andien secara bersamaan lalu masuk ke kamar mandi untuk gosok gigi dan bersuci.
Andien keluar dari kamar putrinya menuju ruang keluarga dan kembali bercengkrama dengan keluarga suaminya.
"Nak Andien!" Apakah Camilla dan Calista sudah tidur?" Tanya nenek Susan.
"Mereka harus tidur di awal waktu mami karena harus bangun sholat tahajud dan menyiapkan kebutuhan mereka untuk pulang kampung selepas subuh." Ucap Andien.
"Mama!" Fariz dan Al masih mau ngobrol sama kakek dan nenek, kan besok sudah pisah sama kakek dan nenek." Ucap Fariz.
__ADS_1
Andien hanya mengangguk lalu mengajak suaminya untuk masuk ke kamar mereka.
"Sayang!" Kedua putri kita tidak salah, kenapa menghukum mereka?" Tegur Reza.
"Apakah pantas anak usia delapan tahun menimpali perkataan orang dewasa?"
"Ya wajar, memang Ratih pantas mendapatkan itu."
"Apakah mas Reza cukup puas dengan setiap keburukan harus di timpal dengan keburukan juga?"
Lantas apa bedanya mas dengan orang itu?" Bukankah sama buruknya?"
"Kalau begitu, apakah kamu mau anak-anak kita ditindas oleh orang lain?" Balas Reza.
"Tentu saja tidak karena Allah selalu menjaga keempat anak kita. Cukuplah Allah sebaik-baiknya penjaga." Andien hendak masuk ke ruang walk in closet untuk mengganti baju tidurnya namun di tahan oleh Reza.
"Siapa suruh kamu ganti baju?" Tangan Reza langsung mencengkeram pinggang Andien.
Andien langsung mendelikkan matanya menatap wajah tampan suaminya yang sedang menggodanya.
"Ayolah sayang!" Aku tidak bisa tidur kalau belum bercinta denganmu." Ucap Reza sambil menyusupkan tangannya ke dress milik Andien.
Andien terlihat melemah dan pasrah kalau sudah mendapatkan rangsangan hebat dari sang suami.
Saat makan sahur Camilla dan Calista menatap wajah Ratih yang terlihat datar dan menakutkan.
Reza yang mengerti perasaan kedua putrinya memberi senyumnya untuk bidadari nya itu.
Keduanya mempercepat sahur mereka dan mengambil kue, roti dan susu untuk di makan di depan telivisi sambil menunggu Ratih menyelesaikan sahurnya.
Reza memperhatikan kedua putrinya yang berniat meminta maaf kepada saudara kembarnya itu dengan perasaan gelisah.
Ratih yang sudah menyelesaikan sahurnya langsung beranjak menuju kamarnya sambil membawa salad buah kesukaannya.
"Tante Ratih!" panggil keduanya kompak.
"Apaa!" Bentak Ratih dengan pandangan tak suka. Tapi anak-anak ini mencoba untuk tersenyum padanya.
"Apakah kami boleh bicara dengan Tante?" Tanya Camilla.
"Yah bicaralah!" Angkuh Ratih sambil menaiki anak tangga.
Kedua putrinya Reza hanya menghembuskan nafas mereka.
"Tante!" Kami minta maaf sudah membuat Tante marah." Ucap Calista.
__ADS_1
"Maaf..?" Oh!" Kirain kalian hanya terkenal sebagai penyerang, yang selalu merasa so hebat karena terlihat jenius dihadapan orang?" Itu sebabnya kalian jadi kurangajar.
"Iya.. Tante itu benar!" Kami mohon maafkan kami karena merasa diri paling hebat." Ucap Camilla sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami Ratih yang sedang bertolak pinggang kepada kedua keponakannya ini.
"Lain kali, jangan mengulangi lagi perbuatan kalian itu karena kalian belum pantas berhadapan dengan orang dewasa sekalipun otak kalian jenius." Timpal Ratih menceramahi dua bocah di depannya yang menatapnya dengan kesal.
Ratih mengulurkan tangannya sambil membuang mukanya.
Tuan Handoyo yang melihat sikap putrinya ingin memarahi putrinya itu tapi dicegah oleh Andien.
"Biarkan putriku belajar bertanggungjawab ayah. Tolong jangan memanjakan mereka!" Pinta Andien.
"Maafkan Ratih, nak Andien!" Sejak diceraikan suaminya, Ratih jadi berubah kasar. Padahal sebelumnya Ratih sangat penyayang dan bijak.
Pengkhianatan suaminya yang selingkuh dengan sekertarisnya sendiri membuat Ratih makin sakit karena sekertaris suaminya adalah sahabat dekat Ratih sendiri.
Ratih lah yang telah merekomendasikan sahabatnya Nia untuk menjadi sekertarisnya Rama.
Ratih pikir, Nia tidak akan berkhianat kepadanya karena jasa Ratih yang ingin mengangkat derajat Nia dari kehidupannya yang sangat miskin.
Itulah yang membuat Ratih seperti kehilangan arah dan sulit menerima pengkhianatan suaminya dan sahabatnya sendiri.
Tolong maafkan sikap Ratih, nak Andien!" Ucap nyonya Susan penuh kesedihan.
"Tidak apa mami!"
Mungkin jika Andien diposisi Ratih, Andien tidak akan bisa menerima pengkhianatan itu sedikitpun. " Timpal Andien yang baru memahami kemelut rumah tangga iparnya itu yang selama ini tidak pernah diceritakan Reza padanya.
Sekitar pukul lima pagi, keluarga kecil Reza sudah bersiap-siap berangkat ke bandara. Keempat anaknya tidak mengetahui kalau saat ini ayah mereka sudah membeli pesawat jet pribadi untuk berpergian ke manapun mereka suka.
"Nenek, kakek, Tante Rania cantik dan om Jody ganteng. Tolong datang ke kampung ya karena Faris dan Al mau khitan di kampung." Pinta Fariz.
"Insya Allah sayang!" Kami akan datang." Kalian hati-hati ya di kampung. Masih ingat nggak bahasa Jawa yang di ajarkan Tante Rania?"
"Hmm!" Keduanya kompak mengangguk.
Calista sedang memeluk mesra kakeknya dan mencium pipi kakeknya.
"Maaf ya kakek, Calista tinggal."
"Nenek!" Camilla pasti merindukan masakan nenek." Ucap Camilla lalu mencium pipi neneknya.
Reza dan Andien pamit kepada kedua orangtuanya lalu masuk ke mobil setelah anak-anak.
"Bye.. semuanya!" Lambaian tangan itu membuat nyonya Susan dan Tuan Handoyo kembali merasakan kesepian tanpa keempat cucunya di mansion mereka.
__ADS_1