
Reza menatap jam dinding itu berulang kali, seakan jarum jam itu tidak ingin bergerak cepat untuk bisa menggulirkan waktu dengan cepat. Hatinya mulai gelisah karena terlalu lama tidak melihat wanitanya.
"Rendy!" Apakah jam dinding itu rusak?" Tanya Reza untuk membuang rasa jenuhnya.
"Jam itu bergerak normal bos!" Yang rusak saat ini pikiran bos sendiri, kenapa jam yang disalahkan." Kesal Rendy yang melihat kegelisahan Reza tak pernah berhenti.
"Dari tadi masih jam dua saja. Apakah pergerakan waktu di Bogota begitu lambat, seperti bulan puasa saja." Gerutunya sambil bolak balik melihat ponselnya, menanti telepon atau pesan dari Andien.
"Kalau mau diobati itu kangen, yah telepon, jangan hanya tunggu ditelepon. Yang jenius dong bos, seperti si kembar empat, masa ayahnya kalah sama anak." Ledek Rendy makin membuat Reza makin keki.
"Apakah mulutmu, mau aku lakban?" Ancam Reza menatap tajam sang asisten yang mulai menciut nyalinya.
"Tidak bos!" Sumpah demi apapun, jangan lakukan itu padaku!" Rendy mengambil ponselnya langsung menyelamatkan diri dari amukan Reza.
"Dasar asisten bren*sek!" Orang lagi tegang makin di diledekin." Sungut Reza sambil mengacak-acak rambutnya yang gimbal.
Ponsel Reza berdering nyaring. Reza langsung mengangkat ponselnya ketika melihat "my wife."
"Andien!" Hallo sayang!" Apakah mau aku jemput?" Tanya Reza dengan wajah berbinar.
"Maaf mas Reza! " Sepertinya aku pulang agak malam, tolong temanin anak-anak saja di rumah." Ucap Andien membuat Reza langsung lemas.
"Tapi, kamu kan saat ini belum sehat banget, sayang. Kenapa langsung lembur?"
"Banyak masalah di lapangan, aku mohon pengertiannya, mas!" Tugasku sangat beresiko, jika salah sedikit saja, negara ini akan kacau." Ungkap Andien.
"Yah, baiklah sayang, aku mengerti." Tolong jaga kesehatanmu, aku hanya tidak ingin kamu drop. Apakah perlu aku jemput nanti?"
"Tidak usah mas Reza!" Temani saja anak-anak. Ok!" Assalamualaikum. Andien menutup ponselnya tanpa mendengar jawaban dari suaminya.
"Hah? Hanya segini bicaranya? apa dia tidak tahu aku di sini hampir mati tersiksa menunggunya seharian.
"Harusnya, dia bicara yang lebih mesra padaku karena aku sekarang suaminya. Oh Andien!" Oh Andien, kenapa tidak peka juga jadi istri." Reza memasukkan ponselnya ke dalam tas dan meninggalkan ruang kerjanya untuk menjemput si kembar empat.
🌷🌷🌷🌷🌷
Malam mulai beranjak masuk ke waktu isya. Anak-anak dan Reza melakukan sholat berjamaah dengan para pelayan yang muslim.
Sampai pukul delapan malam, tidak ada juga tanda-tanda Andien akan pulang.
"Apakah, mama kalau kerja suka pulang malam?" Tanya Reza penasaran.
"Begitulah kerjaan mama, ayah. Kadang mama nggak pulang kalau ada masalah dengan kerjaannya. Paling meminta pelayan untuk mengantarkan pakaian gantinya ke kantor. " Ucap Fariz.
"Begitu ya." Reza makin gregetan dengan perasaannya. Antara rindu dan cemburu bercampur menjadi satu.
Ketiga saudara Fariz sedang serius mengerjakan tugas mereka di laptop, sementara Faris sedang menulis sesuatu yang di ambil dari berbagai referensi buku yang dipinjamnya di perpustakaan.
__ADS_1
Reza tidak ingin menganggu anak-anaknya. Ia pun mengambil gitar yang di gantung di ruang keluarga itu dan keluar menuju kolam renang yang ada di samping mansion.
Reza mulai memainkan gitarnya sambil menyanyikan lagu yang saat itu sedang booming. Ia paling suka dengan lagu yang mewakili perasaannya saat itu, ketika Andien pergi dari hidupnya.
Petikan gitar itu mulai mengalun indah menggema kalbu, ditambah suara merdu Reza yang mulai melantunkan syair indah dari bibirnya.
"Kehilangan."
Kucoba ungkap tabir ini
Kisah antara kau dan aku
Terpisahkan oleh ruang dan waktu.
Menyudutkan mu meninggalkanku
Ku merasa telah kehilangan
Cintamu yang telah lama hilang
Kau pergi jauh karena salahku
Yang tak pernah menganggap kamu ada
Asmara mengisahkan kita
Mengingatkanku pada dirimu
Gelora mengingatkanku
Sejujurnya Ku tak bisa
Hidup tanpa ada kamu aku gila.
Seandainya Kamu bisa
Mengulang kembali lagi cinta kita
Takkan ku sia siakan kamu lagi
Asmara mengisahkan kita
Mengingatkanku pada dirimu
Gelora mengingatkanku
Reza mengulangi lagi bagian reff lagu itu sambil menghayati makna lagu itu hingga air matanya sudah menetas di pipinya sambil mengenang kebodohannya.
__ADS_1
Tanpa di duga Reza, saat ini Andien sedang duduk di sampingnya karena Reza memejamkan matanya sambil menyanyi. Hingga petikan nada terakhir lagu itu, Reza baru membuka matanya dan melihat wajah yang dirindukannya sejak pagi sudah berada di hadapannya.
"S... sayang!" Ucap Reza gugup melihat Andien sedang menatap wajahnya dengan seulas senyum yang begitu manis.
"Ahkk!" Senyum itu lagi makin membuat aku meleleh.
"Apakah lagu itu untukku?" Tanya Andien lalu mengambil gitar itu dan meletakkannya di samping bangku.
"Iya sayang!" Reza meremas jari jemarinya sendiri dengan gugup.
Andien menarik tangan suaminya lalu menciumnya dengan takzim seperti yang dilakukannya tadi pagi. Reza membelai rambut istrinya dengan lembut.
"Mas Reza aku bawa roti coklat yang baru matang. Apakah kamu mau?"
Reza mengangguk senang, bukan karena roti coklatnya tapi perhatian Andien yang membuatnya sedang terbuai saat ini.
Andien memberikannya kepada Reza. Dengan senang hati, Reza membuka plastik roti itu lalu menyuapkannya terlebih dahulu untuk Andien.
"Kamu duluan gigitnya sayang!" Nanti baru aku." Ucap Reza seraya menyodorkan ke mulut istrinya.
Andien mengigit roti hangat itu dan seketika, lelehan coklatnya mengenai ibu jari Reza. Andien yang melihat itu langsung mengisap jempol Reza.
Tubuhnya Reza sesaat bergetar hebat, merasakan sensasi menyengat pada hisapan lidah Andien pada jempolnya, kemudian menjilat lembut hingga bersih tanpa mengetahui perasaannya saat ini.
Reza memperhatikan bibir sensual istrinya yang sedang menjilat lagi bibirnya sendiri nampak menggoda gejolak hasrat kelelakiannya yang sudah membengkak di bawah sana.
"Ya Allah, ini ujian atau hukuman. Apakah istriku sedang memancingku atau bagaimana?" Reza menarik nafas berat. Matanya kini fokus pada bibir ranum milik Andien.
"Kenapa sayang?" Apakah bibirku belepotan coklat?" Tanya Andien melihat tatapan tak biasa dari sang suami membuat jantungnya ingin meledak.
"Bibirmu sayang!"
Reza lebih mendekatkan tubuhnya agar bisa menggapai bibir sensual tanpa lipstik itu nampak basah dan menggoda.
Jiwa kelelakiannya sudah tak terkendalikan seakan ingin menjelajahi apa yang ada di balik blazer yang masih menempel di tubuh indah sang istri.
"Bibir ini lebih nikmat daripada rotinya sayang." Suara berat Reza makin menggebu sambil mengecap bibir sensual yang membuatnya merindu setiap saat.
Andien ikut menikmati ciuman yang nampak menghangatkan raganya ditengah udara dingin menusuk tulang.
"Mengapa aku tidak bisa melepaskan bibir hangat ini. Bibir ini terasa sangat kenyal dan menggairahkan." Batin Andien yang merasa tadi pagi begitu tanggung ciuman suaminya pada bibirnya.
Camilla yang ingin melihat keadaan ayahnya di kolam renang langsung di tarik oleh Al dan Fariz.
"Kamu masih di bawah tujuh belas tahun, dilarang menonton adegan dewasa!" Ucap Al membuat Camila seketika menjerit namun mulutnya langsung dibekap oleh Fariz.
"Apakah kamu ingin menganggu keromantisan orangtua kita?" Omel Al pada Camilla yang langsung mengerti apa yang dikatakan saudara kembarnya.
__ADS_1