
Berakhirnya acara ulangtahun Reza siang itu dengan keluarga besarnya yang semuanya hadir dengan kedua saudara kembarnya Ratih dan Rania serta keponakannya.
Mereka kembali berkumpul di kediaman Reza dan Andien karena ingin lebih akrab dengan keluarga sendiri. Apa lagi kehadiran pangeran Fatih dan pangeran Davin, menjadi prioritas utama yang di kawal ketat oleh oleh pengawal kerajaan di sekitar lokasi kediaman Reza.
"Mengapa kalian nekat pulang ke Indonesia dalam keadaan hamil tua seperti ini, sayang?"
Tanya Andien sambil menyiapkan makanan kesukaan kedua putrinya ini berupa ayam bakar madu.
"Kebetulan sekali kami ingin melahirkan di Indonesia mama. Kami ingin ditemani mama." Ujar Calista.
"Benarkah? apakah keluarga suami kalian tidak keberatan jika cucu mereka lahir di Indonesia?" Tanya Reza antusias.
"Mereka mengerti ayah, kalau kami ingin lebih dekat dengan keluarga saat melahirkan." Ujar Camilla.
"Baiklah, kalau keluarga dari pihak suami kalian tidak keberatan jika melahirkan di Jakarta." Ujar Andien terlihat gembira.
"Ayah!"
"Hmm!"
"Mengapa kalian merahasiakan hal yang paling besar dari Calista?"
"Maksudmu apa sayang?"
Kakek dan nenek meninggal ketika sedang beribadah umroh, mengapa Calista tidak diberitahu?"
"Keadaan istana saat itu yang tidak kondusif, di mana kamu juga dalam keadaan kondisi tertekan untuk urusan politik.
Jika ditambahkan dengan berita duka dari kami, kami sangat kuatir dengan kehamilanmu yang masih rentan dengan berita-berita yang cukup membuat kamu terguncang pada saat itu. Maafkan ayah sayang!"
"Baiklah ayah, Calista paham."
"Mamaaaaaal"
Teriak Shena ketika melihat darah mengalir di betis Camilla. Camilla yang saat itu duduk di dekat adik bungsunya itu tidak mengetahui darah sudah mengalir hingga ke betisnya.
"Ada apa sayang?" Tanya Andien panik.
"Betisnya kakak Camilla ada darahnya!"
Davin dan Fatih sedang ngobrol dengan kedua iparnya yaitu Fariz dan Al. q Semuanya tersentak mendengar teriakannya Senna.
Davin yang mendengar teriakan adik iparnya langsung berlari ke ruang keluarga yang sedang berkumpul.
"Sayang! Apakah perutmu sakit?" Tanya Davin cemas.
"Tidak begitu sakit, tapi darah ini?" Camilla terlihat syok.
"Tidak apa sayang, setiap kontraksi selalu di ikuti darah atau air. Sebaiknya kita segera ke rumah sakit. Calista! kamu di rumah saja. Ayah dan mama temanin Camilla ke rumah sakit." Ujar Andien berusaha tenang.
Andien menitipkan anak-anak pada Rania dan Rani. Jody dan Rendy siap menemani kakak iparnya Reza.
Davin langsung menggendong istrinya masuk ke mobil. Rombongan keluarga itu segera berangkat dengan tiga mobil beriringan diikuti dua mobil pengawal yang di depan dan paling belakang.
Tiba di ruang persalinan, Camilla segera di tangani oleh dokter spesialis kandungan yang sudah terpilih oleh Andien.
Andien menggunakan otoritasnya sebagai pejabat publik untuk meminta rekomendasi dokter terbaik dalam persalinan putrinya.
Tidak tanggung-tanggung penanganan dalam persalinan Camilla karena berhubungan dengan cucu pewaris tahta kerajaan Yunani yang melibatkan semua dokter spesialis kandungan dan anak di rumah sakit termewah di kota Jakarta itu.
__ADS_1
"Dokter! Apakah istri saya akan melahirkan secara normal?" Tanya Davin yang sedang menemani istrinya yang berada di ruang persalinan.
"Iya Prince! Mohon doanya agar ibu dan anak-anak anda bisa selamat dalam proses melahirkan." Ujar Dokter OSIE.
"Sayang...! Aku yakin kamu bisa melahirkan ketiga anak kita. Fokus saja pada persalinan ketiga anak kita saja. Jangan pikirkan hal lain kecuali Allah yang harus kamu libatkan dalam perjuanganmu!" Ucap Davin.
"Iya sayang! Insya Allah Camilla bisa melakukannya. Bismillahirrahmanirrahim." Ujar Camilla sambil tersenyum di tengah kesakitannya.
"Bisa kita mulai nona Camilla?" Tanya dokter OSIE yang sudah siap menyambut ketiga pewaris kerajaan itu.
"Siap dokter!" Ujar Camilla berusaha tenang walaupun sakit yang kini menderanya saat kontraksi yang makin membuatnya terlihat gemetar.
Dalam hitungan ketiga, Camilla mengejan sekuat mungkin untuk mengeluarkan bayi pertamanya. Satu tangannya menggenggam tangan sang suami dan satu lagi memegang jeruji brangkar.
Dalam sekejap lahirlah bayi pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki dengan bobot 2, 5 kg. Lima menit kemudian bayi laki-laki dengan bobot 2,6 kg dan yang ketiga sedikit agak lama menunggu.
Dua bayinya sudah berada di atas dada ibunya untuk mencari pabrik makanan pertama mereka. sementara satu bayinya masih enggan untuk keluar.
Camilla merasakan kegelian pada Pu*ingnya yang hisap kencang dua bayi lelakinya. Camilla mengusap lembut kepala sang bayi yang begitu tenang mendapatkan ASI eksklusif darinya.
"Dokter! Kenapa yang ketiga lama sekali?" Tanya Camilla sudah tidak sabar.
"Mungkin sedang dandan dulu di dalam. Kita tunggu saja nona Camilla." Canda dokter OSIE yang sibuk menggunting tali pusar kedua pangerannya Davin dan Camilla.
Dua saudaranya siap di bersihkan oleh dua dokter lainnya usai dipotong tali pusarnya. Baru satu bayinya mulai mengajak ibunya untuk mengeluarkannya. Camilla mengumpulkan kembali tenaganya untuk mengejan. Tidak perlu proses yang lama, akhirnya bayi ketiga Camilla yang berjenis kelamin perempuan terlahir juga.
"Alhamdulillah, terimakasih putriku yang cantik!" Ujar Davin bahagia.
"Selamat datang anak-anakku!" Ujar Camilla.
Davin mengecup bibir istrinya penuh haru." Terimakasih sayang telah melahirkan keturunanku!" Ucap Davin.
"Dokter!"
"Iya nona!"
"Bagaimana dengan salah satu bayiku? Apakah ada di antara mereka yang jantungnya lemah?"
"Ketiganya sedang ditangani oleh dokter spesialis anak. Kita akan segera mengetahui hasilnya," ujar dokter OSIE.
"Ya Allah semoga tidak ada berita duka untukku." Batin Camilla.
"Prince!"
"Iya dokter!"
"Silahkan kumandangkan azan untuk ketiga bayinya!" Pinta dokter IDRA.
"Apakah kesehatan ketiga anakku baik-baik saja dokter?" Tanya Davin cemas.
"Alhamdulillah, semua organ vital mereka sehat." Ujar dokter IDRA.
"Tapi, dokter masalahnya tiga bulan yang lalu, dokter menyatakan salah satu bayiku jantungnya lemah.
"Kami sudah memeriksa
ketiganya dengan saksama tapi tidak ada keluhan sama sekali yang kami temukan pada ketiga bayinya. Semuanya dalam keadaan sehat." Dokter IDRA memastikan ketiganya aman.
"Apa penyebabnya dokter?" Tanya Camilla penasaran.
__ADS_1
"Mungkin sangat menjaga pola hidup sehat selama ini dan mungkin doa kalian sebagai kedua orangtuanya yang membuat salah satu bayi anda kuat lagi." Ucap dokter IDRA.
"Baiklah kalau begitu aku akan mengumandangkan adzan pada ketiganya. Sayang aku tinggal sebentar." Ujar Davin menuju ke ruang bayi.
Di ruang bayi, sudah ada Reza dan Andien yang sedang mengamati ketiga cucu mereka yang terlihat sangat tampan dan cantik. Yang sangat menarik dari ketiganya adalah manik mereka yang sangat biru membuat Andien terlihat gemas.
"Akhirnya aku punya cucu bule." Ujar Reza sambil terkekeh.
"Selamat jadi kakek ya mas!" Goda Andien.
"Neneknya saja masih secantik dan sese*si ini, mana kuat kakeknya." Balas Reza sambil memeluk pinggang ramping Andien dari belakang.
Davin yang melihat kedua mertuanya yang sedang mesra di depan boks ketiga bayinya harus berdehem untuk menyadarkan keduanya.
"Ehmm.. ehmm!"
Reza segera melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhnya ke arah sang menantu.
"Selamat nak, Davin! Ketiga cucuku sangat tampan dan cantik." Ujar Reza lalu memeluk menantunya diikuti Andien.
"Terimakasih ayah, mam! Selamat menjadi Oma dan Opa. Davin ijin mau mengumandangkan adzan pada bayiku, ayah." Ujar Davin.
"Silahkan nak!" Ujar Reza.
Andien dan Reza mundur berapa langkah untuk memberikan ruang pada Davin.
Suster memanggil Reza dan Andien atas permintaan Camilla. Keduanya segera ke ruang inap Camilla setelah meminta ijin pada Davin.
Davin melakukan kewajiban seorang ayah untuk pertama kalinya pada ketiga bayinya.
Satu persatu ia mengumandangkan azan beserta Iqamah hingga selesai. Davin sengaja menggendong putrinya lebih lama. Ia mengamati wajah putrinya yang sangat mengagumkan.
"MasyaAllah! Kamu cantik sekali sayang!" Puji Davin ketika putrinya juga menatapnya.
Davin membaringkan lagi gadis kecilnya, tapi bayi itu malah menangis ketika diletakkan ke boksnya.
"Lho, ko nangis? Kenapa? kamu nggak mau di tinggal Daddy?" Tanya Davin gemas. Iapun menggendong lagi putrinya yang lebih nyaman berada dalam pelukan ayahnya.
"Ayah harus melihat mommy kamu lagi, sayang. Nanti ayah gendong lagi ya!" Davin membaringkan lagi tubuh putrinya, tapi gadisnya itu tidak ingin ditinggalkan. Tangisnya kembali pecah membuat Davin terlihat panik. Ia buru-buru menggendong lagi bayinya.
"Astaga! Kelakuanmu ternyata sama persis seperti mommy mu, sayang." Davin tersenyum geli melihat tingkah manja putrinya.
"Baiklah! Kita sama-sama ke kamar mommy." Ujar Davin sambil berjalan menuju pintu lift sambil menggendong putrinya.
Di kamar Camilla, gadis itu mendapatkan ucapan dari kedua orangtuanya. Keluarga terlihat sangat bahagia.
"Berarti tahun depan ayah akan merayakan ulangtahun ayah bersama ketiga cucu ayah!" Ucap Reza bangga.
"Sayang! Sepertinya hadiah ulangtahun mu belum berakhir." Ujar Andien sambil tersenyum.
"Hadiah..?"
"Saat ini putrimu Calista sedang menuju ke rumah sakit. Ia juga akan melahirkan keempat cucu kita." Ujar Andien seraya menyerahkan ponselnya agar Reza membaca sendiri pesan dari menantunya Fatih.
Degggg...
.....
Vote dan like nya cinta 🙏🤗
__ADS_1