
Ketika memasuki waktu sahur, si kembar empat sudah bangun terlebih dahulu dan menunaikan sholat tahajud tanpa ditutupi witir karena sudah dikerjakan saat ibadah tarawih.
Keempatnya kompak turun bersama tanpa di panggil oleh kakek dan nenek mereka yang sudah siap duduk di meja makan.
"Assalamualaikum kakek, nenek!" Sapa mereka seraya menempati kursi mereka masing-masing.
"Kita sahurnya pakai rendang dan sayur gulai nangka dan masih banyak yang lainnya. " Ucap nenek Susan sambil melayani keempat cucunya setelah suaminya.
"Terimakasih nenek!"
"Kakek pimpin doa sahur ya!" Pinta Camilla.
"Baiklah sayang!" Tuan Handoyo mengangkat kedua tangannya laku membaca doa sahur.
Setelah itu mereka menikmati sahur tanpa ada suara kecuali bunyi sendok yang beradu dengan piring namun tidak begitu kencang dan semuanya dalam keadaan khidmat.
Dua putri dari nyonya Susan turun ke lantai bawah diikuti satu orang lelaki yang merupakan suami dari Rania.
"Ko kami nggak di bangunin sih!" Mengapa hanya keempat bocah ini saja yang di ajak makan sahur?" Ada cucu malah lupa sama anak sendiri." Gerutu Ratih lalu duduk dan makan dengan wajah cemberut.
Kembar empat tetap tenang menikmati makanan mereka tanpa ada suara dan begitu pula kakek dan nenek mereka yang sudah mengetahui aturan dalam acara makan tidak boleh berbicara kecuali penting.
"Sial!" Kenapa ayah dan mami jadi gagu begitu sih hingga nggak menanggapi omongan Ratih?" Tanya Ratih kesal.
Lagi-lagi kembar empat menyelesaikan makanan mereka secara kompak dan meneguk air secara bersamaan.
"Alhamdulillah, terimakasih nenek!" Makanan sahurnya sangat enak." Ucap Fariz lalu mengambil buah pisang.
"Apakah karena anak-anak haram itu, sekarang mami dan ayah jadi cuekin kita?" Begitu?" Sentak Ratih yang tidak tahan lagi melihat kedua orangtuanya hanya menikmati sahur mereka hingga selesai.
Calista yang mendengar sindiran itu lantas menanggapi ocehan tantenya seperti anak kecil.
"Permisi Tante Ratih!" Apakah Calista boleh bertanya?" Ucap Calista.
"Apaaa!" Bentak Ratih dengan mata melotot tajam menatap tak suka kepada keponakannya yang telah merebut perhatian kedua orangtuanya.
"Apa fungsi dari mulut kita selain makan Tante?"
"Kamu itu dungu atau apa?" Ya jelas aja fungsinya bicara, nih yang lagi kita lakukan saat ini bicara bukan?" Ucap Ratih setengah mencemooh.
__ADS_1
"Aku tahu fungsi lisan itu bicara. Tapi, fungsi dari lisan itu sebenarnya adalah bicaralah yang baik-baik bukan mengumpat tidak karuan seperti yang saat ini Tante lakukan.
Lagi pula Tante terlalu tua untuk bermanja-manja lagi kepada nenek, apa tidak punya urat malu dengan kita yang masih kecil." Ucap Calista sarkas.
"Kau....!" Ngajarin orang dewasa tentang sopan santun. Kalian hadir di sini setelah ayah kalian si Reza itu menikah dengan mama kalian setelah kalian di campakkan. Baru jadi keluarga bahagia saja sudah belagu nih bocah." Omel Ratih yang tidak mau kalah dengan Calista.
"Ratih...!" Jaga bicaramu!" Dari tadi kami diam karena menghormati kembar empat, kalau tidak karena mereka wajahmu sudah ayah tampar." Omel Tuan Handoyo kepada putrinya.
"Sial!" Gara-gara bocah sialan itu aku harus di omelin ayah. Batin Ratih lalu bangkit dari tempat duduknya menuju kamarnya namun di hentikan oleh Camilla.
"Tunggu Tante!"
"Kenapa buru-buru mau tidur lagi?"
Dengar ya Tante Ratih yang paling cantik. Ayah kami memang baru menikahi ibu kami setelah cukup lama mereka terpisah.
Walaupun diawal hubungan mereka tidak begitu baik, namun berakhir bahagia setelah keduanya memiliki cinta yang besar walaupun pernah terluka sebelumnya. Karena cinta itulah kami datang ke sini.
Tapi, kehidupan cinta kedua orangtuaku sepertinya lebih beruntung daripada Tante Ratih. Yang awalnya karena ada cinta, namun sekarang di campakkan begitu saja oleh suami tercinta.
Siapa yang paling terluka saat ini?" Ucap Camilla begitu tenang hingga membuat Ratih ingin menampar gadis yang ada di hadapannya ini.
"Hai Calista!" Bukankah tadi katamu fungsi lisan itu bicara yang baik-baik?" Mengapa sekarang saudaramu seperti ini, bicaranya?" Sindir Ratih menantang dua keponakannya.
Jangan mencari orang lain yang ingin dijadikan Tante sebagai orang yang bisa disalahkan oleh Tante Ratih. Manusia itu adalah letak khilaf dan dosa. Tapi Allah selalu memanggil hambaNya yang ingin bertobat kepadaNya dengan kata-kata yang lembut.
"Wahai hamba-hamba Ku yang melampaui batas." Itulah kehebatan Allah masih berkata lembut pada hambaNya sekalipun hambaNya memiliki setumpuk dosa yang tak terhitung.
Sepanjang yang aku pelajari di Al-Qur'an. Tidak ada ayat yang aku temukan Allah memanggil hambaNya yang memiliki banyak dosa dengan kata " Hai, hamba-hamba Ku yang pendosa, itu tidak ada ayatnya kecuali memanggil hambaNya dengan penuh kelembutan, jadi jaga mulut Tante yang sama pendosa nya seperti para pendosa lainnya ." Ucap Calista.
"Lantas kalian apa?" Bukankah juga pendosa?" Ratih tertawa sinis menghadapi keponakannya.
"Tante lupa ya usia kami berapa?" Masih delapan tahun belum tercatat dosanya karena belum akhir baliq." Timpal Fariz.
"Ayo!" cucu-cucu nenek kita siap-siap berangkat ke mesjid sebentar lagi mau imsyak." Titah nenek Susan.
"Ratih, kamu tidak ikut ke mesjid?" Panggil nyonya Susan.
"Urus saja keempat cucumu!" Ratih menutup pintu kamarnya dengan sangat kencang membuat keempat ponakannya kaget.
__ADS_1
"Astaghfirullah." Aku kira Allah sudah mengikat semua setan di neraka, ternyata masih ada yang berkeliaran di dunia." Ucap Al sambil terkekeh.
"Mungkin malaikat lupa ngangkut setannya jadi tercecer di jalanan." Timpal Fariz sambil berbisik dan cekikikan.
Dalam sepuluh menit semuanya sudah rapi dan siap berangkat menuju mesjid.
"Apakah kalian sudah menyiapkan sedekah subuh?" Calista mengingatkan saudaranya.
"Sudah dong Calista."
"Ok, lanjut, jangan lupa baca Alquran usai sholat subuh setelah itu baru tidur lagi." sambung Calista.
Nenek Susan dan kakek Handoyo hanya menggeleng kepalanya dan tersenyum bangga kepada keempat cucunya yang begitu mandiri walaupun tidak bersama dengan kedua orangtua mereka saat ini.
Sementara di nun jauh di sana Andien dan Reza sedang mempersiapkan diri mereka untuk berangkat ke mesjid Turki yang ada di kota Bogota untuk menunaikan ibadah tarawih.
"Sayang, apakah kamu sudah menghubungi anak-anak?" Tanya Andien.
"Nanti pagi saja sayang, karena sekarang sedang berlangsung sholat subuh dan mungkin habis subuh pada tidur lagi." Ucap Reza.
"Keempat anakmu tidak akan tidur lagi setelah subuh karena sibuk membaca Alquran hingga mereka kelelahan.
Degggg..
Reza sangat malu dengan perkataannya sendiri karena belum mengetahui situasi kegiatan keempat anaknya saat memasuki Ramadhan.
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena semua amal ibadah dalam bentuk apapun di bulan ramadhan bernilai pahala dengan dilipat gandakan pahalanya.
Salah satunya membaca Alquran karena nilai pahalanya sepuluh ribu dalam setiap hurufnya." Ucap Andien.
Reza yang mendengar perkataan istrinya hanya tercengang dengan ritual ibadah yang begitu disiplin yang diterapkan Andien pada keempat anaknya.
"Nanti malam kita tadarus bersama ya sayang satu hari usahakan minimal dua juz!" Pinta Andien sambil menunjukkan dua jarinya pada sang suami dengan senyumnya yang khas.
"Hah?"
🔥Maaf up nya telat ya say, Authornya ketiduran 😔😔
__ADS_1
Visual Reza