
Nyonya Susan hanya menatap wajah cantik cucunya dengan air mata yang tidak bisa di tahannya.
"Ya Allah, cucu-cucuku belum sehari berada di rumahku, tapi mereka harus dihadapkan dengan lisan tak bertanggungjawab putriku sendiri." Batin nyonya Susan yang terasa sesak dadanya saat ini.
"Calista!" Sini deh!" Panggil Camilla lalu mengajak Calista melihat pemandangan kebun bunga dan buah milik kakek mereka dari kamar mereka yang saat ini mereka tempati.
Calista pura-pura mencium pipi neneknya dan membisikkan sesuatu pada nyonya Susan.
"Nenek masih punya utang penjelasan kepadaku!" Ucap Calista lembut namun terdengar penuh kecaman.
"Astaga!" Sikap keempat cucuku seperti bunglon saja. Kadang terlihat dewasa dan setelah itu kembali lagi menjadi usia mereka sendiri." Gumam Reza lirih.
Hari itu, keluarga besar itu melewatkan kemesraan mereka bersama, untuk menghabiskan malam hingga ngantuk datang menyerang.
Reza menggendong putranya ke kamar yang ditempati putranya saat ini dan ia berniat untuk tidur diantara keduanya, sementara di kamar perempuan Calista dan Camilla memeluk boneka mereka yang dibelikan oleh nenek mereka secara dadakan tadi sore.
"Mimpi yang indah sayang!" Bisik nyonya Susan pada kedua cucu perempuannya dan beralih ke kamarnya sendiri.
Sementara itu, Reza menghubungi lagi istrinya sebelum berangkat tidur karena saat ini Andien sedang istirahat makan siang. pria ini sedang berdiri di balkon kamarnya sambil menikmati udara malam.
"Sayang!" Kamu lagi apa?" Tanya Reza sedang melakukan video call dengan istrinya.
"Lagi makan siang di ruang kerja." Andien menunjukkan ransum makanannya pada suaminya.
"Apakah kamu merindukan aku saat ini?" Tanya Reza mengulangi lagi pertanyaannya tadi pagi yang belum di jawab oleh istrinya.
"Menurut ayah bagaimana?" Goda Andien membuat Reza senyum-senyum sambil menunjukkan jari telunjuknya pada Andien.
"Makin nakal ya sekarang kamu." Ucap Reza membuat Andien makin tersipu.
"Sayang!" Apakah anak-anak boleh dikhitan besok?"
"Jangan dulu mas!" Nanti saja habis lebaran. Takutnya Al dan Fariz lebih cengeng kalau tidak ada aku disamping mereka walaupun ada mas Reza.
Lagi pula kita belum menyatukan dua keluarga kita, jadi aku mohon, tolong pikirkan juga perasaan ibuku. Ini tidak mudah baginya untuk melupakan masa lalu dan mulai menjalin kembali hubungan yang kini berubah menjadi besanan." Ucap Andien bijak.
"Astaga!" Aku hampir lupa akan hal itu sayang. Baiklah kita akan lakukan khitan putra kita di awal bulan Syawal." Ucap Reza sepakat dengan permintaan istrinya.
Tok....tok....!" Andien buru-buru meneguk air dan menyuruh sekertarisnya masuk.
__ADS_1
"Maaf Nona Andien ada telepon dari tuan Edgar.
"Baik!" Sambungkan padaku." Ucap Andien.
"Siap!" Sekertarisnya itu menutup lagi pintu ruang kerja Andien.
"Sayang!" Mohon maaf aku harus terima telepon dari tuan Edgar. Nanti malam aku telepon lagi mas Reza. Bye.. muaacch!" Assalamualaikum.
Reza hanya membalas ciuman istrinya yang langsung dimatikan layar ponselnya oleh Andien.
"Ah, perbedaan waktunya terlalu lama antara Bogota dan Jakarta, yaitu 12 jam, jadi kacau begini. Aku tidur, dia kerja dan sekarang aku bangun tidur dia baru tiba di rumah." Keluh Reza lalu tidur diantara dua putranya.
...****************...
Setibanya di rumah, Andien sedang membersihkan dirinya di kamar mandi miliknya karena saat ini sudah pukul delapan malam.
Sementara di kediaman Reza, anak-anak sedang jalan-jalan pagi dengan kakek dan nenek mereka sambil membeli jajanan tradisional yang di jajakan di pinggir jalan. Nyonya Susan sengaja memperkenalkan banyak makanan tradisional pada keempat cucunya agar mereka mengerti bahwa Indonesia kaya akan kuliner yang memanjakan lidah para masyarakatnya.
Calista yang sedang memperhatikan para pengemis dan tukang sapu jalanan di sekitar situ, malah membagikan uang dan makanannya untuk para pengemis dan tukang sapu jalanan.
"Mana Calista?" Tanya Nyonya Susan tampak panik saat tidak melihat cucunya.
"Itulah kebiasaan Calista nenek, kata dia, Alquran bukan hanya sekedar dibaca, tapi harus di amalkan juga. Dan itu salah satu amalannya.
Calista gampang tersentuh dengan kehidupan orang yang kurang mampu, nenek." Ucap Camilla.
"Lantas kamu?" Tanya nyonya Susan.
.
"Aku melakukannya sekali dalam sehari nenek, yang penting tiap hari bersedekah, walaupun sedikit yang penting continue. Itu yang dikatakan mama.
Siapa yang menolong saudaranya di dunia, maka Allah akan menolongnya ketika di hari kebangkitan." Itu yang dikatakan Calista mengutip hadis Rosulullah." Timpal Fariz.
"Apakah Calista juga menghafal hadits?" Tanya kakek.
"Iya kakek, Calista adalah saudara kembar kami yang paling istimewa. Itulah sebabnya, mama sangat kuatir dengan Calista atas kebaikannya pada siapa saja. Dan kami sangat menyayanginya nenek." Timpal Al.
Calista menghampiri lagi keluarganya setelah melakukan amal shaleh.
__ADS_1
Kakek dan neneknya hanya saling berpandangan dengan penuh rasa kagum.
"Kalian mau ke mana lagi sayang?" Tanya nenek ketika mereka sudah menghabiskan sarapan.
.
"Keliling kota Jakarta aja nenek, setidaknya dekat area kediaman kakek." Pinta Al.
Sementara itu di kediaman Tuan Handoyo, Reza dan Andien sedang melepaskan rindu mereka, karena saat ini keduanya berada dalam bathtub walaupun di tempat yang berbeda.
Andien memperlihatkan setengah tubuhnya sambil bersandar di bathtub dan mengangkat satu kakinya dengan menggosok lembut kedua kakinya itu secara bergantian.
Sebagian busa yang menempel pada tubuhnya dengan sebatas air bak yang belum begitu penuh menggoda Reza yang terus menikmati pemandangan indah diseberang nun jauh di sana dengan terus meneguk liurnya dengan berat.
Gerakan erotis yang terus menggeliat seakan memanggil suaminya untuk segera pulang.
Reza merasa sangat tergiur dengan rangsangan hebat yang diberikan Andien hampir membuatnya gila saat ini. Dua gundukan yang terlihat sekang nan bulat, membusung indah menantangnya kini.
Belum lagi diantara belahan paha dengan bongkahan padat di bawah pinggul yang menariknya untuk meremas bantal kenyal itu.
Dan bagian yang terpenting dari seluruh tubuh itu masih tetap tersembunyi di antara dua paha yang mengapitnya rapat kini merekah indah, saat Andien melebarkan dua pahanya yang membuat jantungnya makin memacu dengan cepat.
Senyum menawan yang diperlihatkan Andien pada Reza dengan sedikit menggigit bibir bawahnya sambil memperlihatkan ekspresi nakal nan menggoda saat ini.
"Sayang, jangan membuat gila, sayang! Ucap Reza dengan suara yang makin berat hingga wajah itu makin kelam berubah menjadi buas karena tarian erotis Andien yang sangat gila.
"Andien...sayang!" I Miss you honey, akkhhh!" De*ahan Reza yang sedang bersolo ria dengan miliknya sambil menikmati gerakan erotis dan lenguhan yang menggoda hingga mendesak miliknya dibawah sana agar cepat terbebas dari sumbernya yang makin mendekat puncak kenikmatan.
"Andieeennnn!" Awas kamu sayang!" Akkhhh." Reza akhirnya merasakan kenikmatan sendiri dengan senyum kepuasan ketika bisa terbebas dari belenggu hasratnya.
Melihat suaminya sudah mendapatkan kenikmatannya, Andien membilas tubuhnya lalu berjalan mengambil baju bathtub membalut tubuhnya yang terlihat sangat se*si.
"Bagaimana sayang?" Tanya Andien yang sudah puas menggoda suaminya agar Reza segera pulang kepadanya.
"Kamu membuatku gila dengan rinduku ini. Nanti malam aku akan berangkat ke Bogota, tunggu aku sayang." Ucap Reza yang lagi-lagi tertegun saat Andien melepaskan jubah mandinya lalu menggantikan dengan lengerie merah dan naik ke atas tempat tidur.
"Selamat tidur sayang!" Ucap Reza lalu mengecup istrinya dari jarak jauh, "muuuaaacchhh!"
Reza tersenyum sesaat karena ia suka dengan gayanya Andien yang tidak menyatakan kerinduannya melalui lisan mungilnya, untuk memintanya cepat pulang, melainkan dengan cara memintanya pulang dengan cara yang sangat menakjubkan.
__ADS_1
"Sial!" Andien memiliki banyak pesona dalam dirinya, mulutnya menutup rapat dengan tatapan dingin yang selalu ia perlihatkan di depan orang lain. Namun kalau sudah urusan ranjang, gadis itu seperti cacing kepanasan yang trus membuatku menagih.