Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Si Perhatian Yang Cuek


__ADS_3


Sorak sorai terdengar ketika Gala sampai di depan garis finish lebih dulu. Ketua dari Lazaruz itu baru saja memenangkan balapannya dengan ketua Amorfos : Musuh bebuyutannya.


Dion melemparkan 2 gepok bernilai 20 juta kepada Gala dan teman-temannya. Gala pun tersenyum miring, tentu tidak ada yang bisa mengalahkannya. 


"Kali ini lu menang, tapi lain kali akan gua pastikan lu dan kawan-kawan lu ini gak akan berani lawan Omorfos. Camkan!" Geram pria itu dan segera pergi dari tempat itu.


Gala tidak pernah takut akan ancaman siapapun, dia hanya tersenyum santai dan menunggu apa yang akan terjadi ke depannya.


Sepulang sekolah tadi anak Omorfos tertangkap basah melecehkan seorang murid dari SMA Gold Garuda. Gala pun tak tinggal diam mencoba menghentikannya dan sedikit terkena luka pukul di wajahnya karena dikeroyok.


Dion yang marah karena kegiatannya diganggu menantang Gala untuk bertanding motor dengannya, dengan taruhan kalau Dion menang Gala tidak boleh ikut campur atas apapun yang mereka lakukan dan kalau Gala menang Dion akan memberikannya uang 20 juta.


Jam menunjukkan pukul 21.00. Gala pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Yaudah gue balik, nanti duitnya gue bagi-bagi. Kalau ada apa-apa hubungi gue," kata Gala pada mereka.


"Tenang, kita juga mau langsung bubar," ucap Degas sembari menepuk bahu Gala.


"Bener, gue juga mau langsung balik. Remuk ni badan abis berantem," timpal Raka.


Gala mengacungkan jempolnya, "Sip, gue duluan."


Gala pun melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, dia harus sadar diri kalau sekarang memiliki tanggung jawab di rumah. Pekerjaannya dan juga Abel.


Di sisi lain Abel sedang asik menonton drama korea di ruang keluarga. Mertuanya sudah tertidur lelap di kamar mereka, jadi Abel bisa bebas menonton tanpa rasa canggung. Dia bukan khawatir, namun tidak biasanya Gala belum pulang. Atau mungkin memang kebiasaanya seperti ini namun Abel tidak mengetahuinya?


Untung saja Abel tadi membuat salad buah, sehingga lengkap untuk menemaninya malam-malam begini. Tak selang beberapa lama, suara motor Gala pun terdengar. Abel akan berpura fokus menonton agar tidak terlihat kalau dia sedang menunggu Gala.


Gala memasuki rumahnya, terlihat Abel yang sedang fokus menonton drama koreanya sambil memakan salad. Abel melirik sekilas ke arah Gala.


"Lo berantem?" Tanya Abel.


"Bisa liat sendiri kan?" Gala pun melengos pergi menuju kamarnya.


Abel berdecak, apa lagi yang sudah diperbuat pria itu. Mama mertuanya pasti akan khawatir melihat luka lebam pada wajah pria itu. Abel pun berjalan menuju dapur mengambil se-baskom air hangat, betadine dan mencari handuk kecil.


Gadis itu segera menyusul Gala ke kamar mereka. Terlihat Gala yang sedang duduk di pinggir kasur sambil sambil menyentuh luka di pinggir bibirnya.

__ADS_1


Abel menaruh semuanya di meja samping kasur. "Nih obatin luka lo."


Merasa tidak ada jawaban dari pria itu Abel pun menarik kursi miliknya dan duduk di hadapan Gala. Tanpa bicara Abel memeras handuk yang sudah dicelupkan ke dalam air hangat dan menangkup pipi Gala dengan sebelah tangannya. Dengan teliti dia mengompres sekaligus membersihkan ceceran darah yang tersisa.


Gala menatap Abel, meskipun wanita yang ada di hadapannya ini cuek dan keras kepala, tapi dia peduli pada sekitarnya. "Lo mau tau kenapa gue luka?"


"Gak," singkatnya sambil kembali mengompres luka di wajah Gala.


"Jadi tadi ada murid SMA Gold yang lagi digangguin sama genk motor." Gala melirik Abel yang tidak ada respond.


"Terus gue tolongin. Eh gue dikeroyok, cupu." Gala masih menatap Abel yang tanpa reaksi.


"Habis itu gue diajak balapan, kalau dia menang gue iyain."


Abel menekan handuk di bagian luka Gala dan membuat pria itu memekik dan kesal. "Aww, aww pelan-pelan!"


"Ngapain sih lo main iya-iyain aja, gak usah lo tanggepin kan beres," balas Abel tak kalah kesal.


"Dia bilang kalau dia menang gue gak boleh ikut campur masalah dia. Kalau gue memang gue dikasih 20 juta," terangnya.


"20 juta kalau lo kecelakaan bakalan lebih dari itu sialnya," kata Abel menatap tajam.


Abel diam dan meneteskan betadine di sudut bibir Gala. Apa yang dilakukan Gala memang benar, tapi entah kenapa dia merasa kesal.


"Lo khawatir ya?" Tanya Gala.


"Jangan kepedean." Abel menutup kembali botol betadine tanpa menatap Gala lagi.


"Terus kalau gak khawatir kenapa lo repot-repot ngobatin?" Tanya Gala.


"Karena gue tau lo gak akan bisa obatin luka lo sendiri. Kalau kenapa-kenapa juga mama khawatir. Anggap aja kemanusiaan," tegasnya.


"Oh kalau kemanusiaan berarti punya perasaan, lo punya rasa sama gue?" Tanyanya datar.


"Ngaco." Abel pun megambil baskom berisi air itu dan membawanya kembali ke dapur.


Gala terkekeh, kenapa Abel semakin terlihat berbeda di matanya? Tanpa berlama-lama Gala pun menyusul Abel ke dapur.


Abel yang merasakan kehadiran Gala menatap ke objek yang dituju. Apa jika sudah mengenal Gala dia seperti ini? Menel seperti anak kucing saja.

__ADS_1


"Mau ngapain?" Tanya Abel menghela napasnya.


"Lo mau ngapain? Tanya Gala bertanya balik.


"Mau masak mie, gue lapar. Udah kan? Mau nanya apa lagi?" Tanya Abel pasrah dengan kelakuan Gala.


"Lo gak takut gendut makan segini hari? Cewek biasanya takut gendut."


"Gue takut Tuhan, bukan takut gendut. Udah mending lo tidur," kesal Abel sambil mendorong Gala pelan untuk keluar dari dapur.


"Gue juga laper, mau nitip," katanya.


Abel berdecak. " Yaudah tapi jangan gangguin gue, duduk di sana."


Gala pun mengangguk, biasanya kalau dia lapar jam segini akan membangunkan pembantu atau mamanya untuk membuat makanan. Namun sekarang ada Abel yang jago memasak dan satu frekuensi dengannya.


Beberapa menit berlalu, Abel membawa dua mangkuk mie instan lengkap dengan telur setengah matang dan sosis.


"Nih." Abel memberikan semangkuk mie pada Gala. Setelah itu dia duduk di samping Gala dan kembali menonton drama korea yang tadi sempat tertunda.


"Makasih," ucap Gala sembari mengambil mangkuk mienya. Sangat sulit bagi Gala untuk akrab dengan seseorang, namun perlahan dia akan memulainya dengan Abel, meskipun gengsinya tinggi.


"Sama-sama," jawab Abel.


"Jadi lo mau jalanin pernikahan kita dengan serius?" Tanya Gala tiba-tiba.


"Bisa gak lo gak usah nanya itu dulu? Jalani aja apa yang ada sekarang, gak akan ada ujungnya kalau dibahas."


"Kenapa gak ada? Tinggal iya atau engga kan gak sesusah itu." Tanya Gala.


"Susah," kata Abel singkat.


Gala jadi mengingat ucapannya pada Abel kemarin, gadis itu memang membalasnya. Dia sekarang sadar, masih ada yang jauh lebih cuek dari dirinya.


Sebenarnya Gala tidak secuek itu, dia akan menunjukan sisi hangatnya jika dia benar-benar sudah merasa nyaman, mungkin akan berlaku juga untuk Abel jika wanita itu mengiyakan ajakannya serius menjalani pernikahan ini.


Satu hal yang pasti dari seorang Gala adalah : Dia tidak akan melanggar janjinya.


Itu kenapa dia akan belajar mencintai Abel mulai dari sekarang, meskipun mereka sama-sama ber-ego tinggi dan sama-sama memiliki gengsi yang tinggi juga.

__ADS_1


Dara tersenyum dari balik pintu kamarnya. Dia senang melihat Gala dan Abel sudah mulai membiasakan diri. Sebagai Ibu dia hanya berharap, semoga pernikahan mereka bisa awet sampai mereka benar-benar menjalani kehidupan sebagai suami istri saat lebih dewasa lagi.


__ADS_2