Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Ayok Kita Punya Anak!


__ADS_3


Abel dan Gala saat ini sudah sampai di kamar hotel, ini sudah terlalu malam. Jadi mertuanya sengaja memesankan kamar untuk mereka di hotel yang memang bersebelahan dengan gedung. Rasanya menyenangkan sekali malam ini. Setidaknya menurut Abel dia sedikit terhibur kalau diajak jalan-jalan, pasalnya juga dia bosan di rumah saja. Dia tidak memiliki teman dekat selain Dinda dan itu membuat Abel menyadari kalau ternyata kehadiran sahabat itu penting.


Gala menjatuhkan dirinya di sofa, rasanya dia malas untuk berganti baju. Namun dia salah besar dengan keputusannya yang kini mendapat tatapan tajam dari istrinya. "Mas, ganti baju dulu. Habis itu kita tidur, atau aku dulu yang bersih-bersih?"


"Nanti aja, Sayang. Ini baru pulang loh," keluh Gala.


Abel berdecak. "Ck tapi ... Ah yaudah kalau gitu biar aku duluan yang bersih-bersih."


Gala tersenyum, dia malah menahan Abel dan menariknya untuk duduk di pangkuan. Dengan lembut Gala merengkuh pinggang istrinya dan menikmati pemandangan yang ada di depannya. "Nanti dulu, di sini aja," ucap Gala.


Abel menatap Gala gugup. "T-tapi gak usah kaya gini."


"Kenapa gak usah? Gak ada siapa-siapa juga. Emang gak boleh mandang istri sendiri? Yaudah aku pandangin istri orang," kata Gala.


"HEH! Gak boleh!" Kesal Abel.


"Makanya, nurut sama suami. Orang kangen." Gala memeluk Abel dengan hangat, setelah itu dia menghirup aroma tubuh istrinya yang sangat dia sukai.


"Kamu pake parfum apa?" Tanya Gala.


"Parfum yang biasa aku pake, kenapa?" Tanya Abel berbalik.


"Gapapa, jangan diganti. Aku suka aromanya," ucap Gala.


"Aku belum mandi loh, Mas. Kamu kok malah betah nempel-nempel sama aku? Gak bau?"


Gala menggeleng, mustahil sekali kalau Abel bau badan. Bahkan saat bangun tidur atau berkeringat pun menurut Gala Abel selalu wangi. Entah bagaimana caranya gadis itu mempertahankan aroma tubuhnya.


"Emm, Mas. Aku mau bicara boleh?"


Mendengar himbauan sang istri membuat Gala menjauhkan wajah dari ceruk leher Abella dan menatapnya. "Bicara apa hm?"

__ADS_1


Abella nampak bingung, bagaimana cara untung mengungkapkannya? Gala mengerutkan dahinya karena tak kunjung mendapat respon.


"Mas ... "


"Apa, Baby? Balas Gala lembut.


"A-ayok kita punya anak lagi," ucap Abel cepat sambil memejamkan matanya, ahh dia benar-benar malu mengungkapkannya. Ini sama saja dia mengajak Gala untuk iya-iya, dia belum pernah mengajaknya duluan.


Gala menatap istrinya lekat. "Ada yang buat kamu kepikiran ya?"


"Gak ada, Mas. Aku cuma ngerasa seneng aja tadi waktu gendong bayi. Apa kita gak mencoba lagi?" Tanya Abel ragu.


Gala terdiam, bukan tidak ingin. Cuma dia tau kalau sebenarnya Abel masih memiliki ketakutan besar. "Yaudah nanti kita pikirin ya?"


"Gak, harus sekarang dipikirinnya. Aku mau kita punya anak," ucap Abel kekeh.


Abel sudah menduga kalau suaminya ini pasti selalu mengenyampingkan keinginannya. Jadilah dia yang harus bertindak. Dia tidak mau menjadi egois, dia juga harus melawan ketakutannya, bukan?


"Mama nanyain cucu lagi? Atau kakek?" Tanya Gala.


"Terus kenapa tiba-tiba?" Tanya Gala lagi.


"Karena aku emang ingin. Apa kamu gak mau ya? Atau kamu udah terbiasa gak nyentuh aku? Atau-"


"Gak gitu."


Abel menguatkan dirinya, dia harus meredam gengsi sekarang. Bukan karena berhasrat, tapi dia memang ingin melakukannya sekarang. Apalagi dia menghitung kalau ini adalah masa suburnya.


"Terus kenapa?" Abel menyenderkan kepala di dada Gala, perlahan dia mengusap dada bidang suaminya dengan lembut, memberi sentuhan-sentuhan sensual di sana sambil menatap Gala.


Gala meneguk air liurnya dengan susah payah, sebagai pria normal yang sudah lama tidak merasakannya apa dia tidak berhasrat kalau digoda seperti ini? Logikanya menolak, dia takut melukai Abel. Sangat takut, tapi terkadang logika memang tidak sesuai dengan hasratnya.


"Mass ... " Panggil Abel lembut, tidak-tidak Gala tidak bisa hanya berdiam saja kalau begini. Perlahan dia menarik tengkuk istrinya dan menautkan bibir mereka.

__ADS_1


Abel tersenyum, tangannya tergerak lalu mengalungkannya di leher Gala. Menikmati sentuhan lembut di bibirnya, sesekali dia memimpin permainan, tak sungkan menggigit, menjilat atau bahkan menyesapnya dengan agresif.


Abella membantu suaminya untuk melepaskan jas dan membuangnya ke sembarang arah, tidak peduli mereka akan melakukannya di sofa panjang ini atau tidak, mereka berdua sama-sama sudah larut dalam cumbuan masing-masing.


Saat asik dengan permainannya tiba-tiba Gala menghentikan aktivitas merek berdua dan menatap Abel yang kini napasnya sudah naik turun. Tentu itu menimbulkan kekecewaan dari raut wajah gadis itu. "Kenapa, Mas?"


"Kamu udah baik-baik aja?" Tanya Gala di sela-sela perasaan yang kini sudah membara meminta untuk disalurkan.


Abel mengangguk. "Dokter Rinka bilang kalau kita udah bisa lakuin program hamil lagi."


"Berarti kita bisa ... "


Abel mengangguk, jika sudah memastikan seperti itu Gala tidak perlu lagi menahan. Tentu dia akan tancap gas, gala tersenyum lalu membaringkan tubuh istrinya di sofa dan telah berhasil menanggalkan blazer yang Abel kenakan.


Gala menyatukan ujung hidung mereka berdua. "I miss you," ucap Gala dengan suara serak akibat perasaan yang semakin bergejolak.


"I miss you too, Mass," balas Abel. Gala hampir gila rasanya, kenapa suara Abella begitu sexy malam ini.


Tidak perlu menunggu lama dia langsung menumpahkan hasratnya, dia tidak akan memulainya dari bibir, dia langsung saja membenamkan wajah di ceruk leher Abella seraya mengelus punggung mulus istrinya yang sudah terbuka akibat dress tanpa lengan yang dia kenakan.


Abella melenguh dengan perlakukan suaminya, sudah lama sekali dia tidak merasakan cumbuan seperti ini. Mungkin ingin punyak anak itu sepersekian persen dari rasa rindunya pada sentuhan suaminya.


Gala membuat serangan dan banyak tanda di leher Abell, baru sampai situ saja Abel sudah terbuai, membiarkan Gala melakukan sesuai kehendaknya. Jadi dia hanya mencoba mengimbangi apa yang dilakukan Gala atas dirinya.


"Mmhhh, Mass," lenguh Abel yang kini meremas rambut Gala yang ada di hadapannya.


Gala menjauhkan wajahnya, sekilas dia menatap wajah istrinya yang kini menatap sayu. Entah kenapa dia mempunyai fantasi sendiri saat melihat Abel yang tak berdaya di bawah kukukangannya.


"Kamu cantik sayang." Gala mengecup bibir Abel sekilas, kini pandangannya tertuju pada dress cantik yang Abel kenakan, menelisik apa yang sedang dia pikirkan. Gala merobek belahan dress yang Abella kenakan, tentulah imajinasi liarnya ini harus dituntaskan agar tidak penasaran.


Gala mendekatkan wajahnya pada telinga Abel. "I want u tonight, By." Sekujur tubuh Abel rasanya merinding, apalagi saat Gala tak sungkan menjilat, menggigit, bahkan meniup telinganya. Itu sangat sensitif untuk Abel dan menimbulkan sensasi yang luar biasa saat Gala melakukannya.


Dalam keadaan kalut dengan nafsu, Abel sedikit cemas. Ada rasa ketakutan ketika dia harus kembali melakukan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya dan juga suaminya. Tapi Gala memperlakukannya dengan sangat baik dan bermain selembut mungkin. Sentuhan yang Gala berikan tidak membuatnya merasa terpaksa, dia bahkan dengan senang hati menerima bahkan membalasnya.

__ADS_1


Abella kembali melenguh ketika Gala mulai menggerayangi tubuhnya. Dia memejamkan matanya, membiarkan dirinya terhanyut dalam sentuhan Gala yang membuatnya hampir Gila. Sekarang tubuhnya nyaris polos tanpa sehelai benang pun dia merasakan sensasi nikmat saat Gala memainkan jari-jarinya dengan lincah di atas kulitnya yang membuat Abel menikmati permainan panas malam ini.


__ADS_2