Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Sebuah Surat Dari Areyna


__ADS_3


Pada dasarnya semua yang hidup akan kembali kepada penciptanya. Gala sudah menyelesaikan masalahnya dengan Areyna. Dan Areyna sekarang sudah menyelesaikan masalahnya dengan dunia.


Abel memang sempat tidak menyukai Areyna. Tapi bukan berarti dia menjadi orang yang keras hati. Dia dan Gala memutuskan untuk pergi ke pemakaman sore ini untuk ikut berbela sungkawa.


Abel memeluk Alano sambil melihat tanah yang yang perlahan-lahan menutup dan membuat Areyna tenggelam di dalamnya. Kalau dipikir-pikir dia memang tidak jahat, hanya saja dia kemarin dengan tidak punya hatinya meminta Galaxy pada Abella yang hamil besar. Jadilah Abella meluluh lantahkan semuanya.


"Maafin aku ya, Rey. Tapi aku gak bisa memenuhi keinginan terakhir kamu. Aku juga udah maafin kamu, kok," gumam Abella.


Setelah selesai acara pemakaman mereka sebenarnya ingin berbela sungkawa pada kedua orang tua Areyna. Namun Ibu Areyna pingsan dan segera dilarikan ke rumah sakit. Jadilah di sini hanya ada Abel, Gala dan kedua anak mereka yang kini digendong oleh Raka dan Degas.


Abel menatap nisan Areyna dengan perasaan yang tidak menentu. Agak jahat juga kalau misalnya Abel menganggap Areyna sebagai pesaing. Tapi namanya manusia, Abel tidak mungkin lupa begitu saja bagaimana Areyna meminta Galaxy padanya waktu itu.


"Kenapa?" Tanya Galaxy pada sang istri yang tiba-tiba saja terdiam setelah berdoa.


"Aku manusia ternyata, cuma manusia. Kenapa di saat dia udah gak ada aja rasanya aku masih ada rasa kesal," ucap Abel sambil terkekeh.


"Maafin dia ya, gak sepenuhnya salah dia. Mas juga bertanggung jawab atas rasa sakit hati kamu," ucap Gala sembari mengelus punggung istrinya.


Abel hanya menipiskan bibirnya. Ya mungkin dia hanya belum bisa melupakannya saja, makanya masih ada rasa kesal. Kalau dibilang dendam pun juga tidak.


"Wajar itu, Bel. Yang terpenting sekarang kalian baik-baik aja, Areyna juga pasti udah tenang di atas sana," ucap Degas menimpali sambil mengajak Alano bermain.


"Bener, luka kan gak bisa cepet sembuh. Harus ada prosesnya, yang paling pertama harus lo lakuin adalah ikhlas. Memaafkan semuanya dan perlahan luka lo bakalan mengering dengan sendirinya. Arey gak sejahat itu kok, tapi kondisinya aja yang menuntut dia menjadi egois," sambung Raka.


Abel mengangguk paham, setelah itu dia menatap Galaxy sambil tersenyum. Dibalik bahagianya mereka sekarang, kedamaian yang mereka rasakan hari ini dan masalah yang sudah terselesaikan. Sebenarnya ada rasa takut ketika dunia kembali membolak-balikan keadaan.


Masalah satu selesai, lalu ada masalah baru yang menghampiri. Sekarang mereka baik-baik saja, tapi dia harus tetap waspada dengan kehidupan yang akan datang. Karena biasanya setelah kehidupan yang berjalan baik-baik saja, disitulah ada ujian yang harus dilewati.


"Udah jangan mikir aneh-aneh."


"Gal anak lo berat ye lama-lama, pegel gendongnya. Apalagi ini bocil gak mau diem, harus diajakin ngobrol kalau gak nanti maju-maju bibirnya mau mewek," ucap Raka.


Abel terkekeh melihat Alano dan Alana yang memang bisa dibilang sedikit berisi. Apalagi sekarang berat mereka sudah 7 kilo. Tabung gas saja kalah sepertinya. Abel akhirnya mengambil Alana dari Raka. "Ana emang gak bisa diem, maunya ngoceh walaupun belum jelas suaranya. Maafin Ana ya Om Raka."


"Gemes, mau bawa pulang," ucap Degas.


"Lo yang gue bawa pulang ke rahmatullah," ucap Gala menimpali.


"Anjirr serem banget. Nih nih gue balikin." Degas yang bergidik ngeri langsung saja memberikan Alano pada Gala.

__ADS_1


"Gila ya, Alano kenapa mirip Gala banget dah, apalagi pakai kemeja sama kaca mata begitu cakep," kata Raka.


"Ya kalau mirip kalian aneh," ucap Abel sambil terkekeh.


"Like father like son," kata Gala bangga.


"Iya deh si paling tamvan, yok ah balik. Gak baik bayi lama-lama di pemakaman," ajak Degas.


.


.


.


Abel turun dari mobil dengan membawa Alano yang sudah tertidur dalam dekapannya. Saat akan memasuki rumah matanya tertuju pada sebuah kotak yang berada di depan pintu rumahnya.


Langsung saja dia bawa paket itu ke dalam, mungkin dia membeli sesuatu dan melupakannya. Kebiasaan Abel ya seperti itu. Dia akan ingat kalau paketnya sudah sampai rumah.


Setelah menidurkan Alano dan Alana dia menyiapkan makanan untuk Gala dulu. Karena Gala bilang kalau dia lapar. Untung saja Abel sudah memasak ayam yang tinggal dia goreng saja sekarang.


"Sayang," panggil Gala dari dalam kamar.


"Aku di dapur," teriak Abel.


"Udah mandinya?" Tanya Abel mengusap pipi Galaxy dengan lembut.


"Hmm udah, yang belum mandiin kamu," ucap Gala.


"Porno!"


Gala terkekeh. "Setelah selesai pernikahan Raka, Mas mau ajak kamu liburan ke rumah Kakek, kamu mau?" Tanya Galaxy.


"Yang di Bogor itu?"


Gala mengangguk. "Kangen sama cicitnya, cemburu Mas sayang. Biasanya kakek kangennya sama Mas," kata Gala merajuk.


"Kakek tetep sayang sama kamu, tapi udah gede. Udah gak lucu lagi, jadi kangennya ke Galaxy versi kecil. Alano sama Alana."


"Anak Mas merebut tahta tertinggi Papanya di mana-mana. Padahal sebagai anak bungsu dulu Mas di sayang-sayang walaupun udah besar."


"Tetep sayang kok, tapi sekarang giliran Alano sama Alana. Aneh dong kalau mereka justru gak sesayang itu sama anak kita. Aku juga sayang kamu," ucap Abel yang melirik Gala lalu mengecup bibirnya sekilas.

__ADS_1


"Udah ih, aku buatin kamu makan dulu abis itu aku juga mau mandi."


Gala mengangguk lalu mengecup pipi istrinya sekali lagi dan duduk di meja makan. Abel menyajikan makanan di piring dengan membawa jus jeruk. "Nih kamu makan dulu."


"Kamu gak makan?" Tanya Gala.


"Gak, aku diet."


Abel duduk di sebelah Gala lalu mengambil paket yang tadi dia bawa, apalagi yang membuat wanita bahagia kalau bukan membuka paket yang datang.


"Aaaa," ucap Gala sembari mendekatkan sendok pada Abell.


"Aku diet ih, Mass," tolak Abel.


"Gak ada diet-diet, cepet aaa. Nanti asi kamu gak bagus juga buat anak-anak kalau diet," kata Gala memaksa.


Abel memajukan bibirnya, namun Gala tetap kekeh ingin Abel makan juga. "Gak ada diet-dietan, Abella."


Kalau sudah mendengar namanya disebut Abel langsung menurut. Gala pasti akan tetap pada pendiriannya, Abel yakin. Dia pun menerima suapan dari tangan Gala.


Abel kembali melanjutkan membuka paketnya, namun dia mengerutkan dahinya saat melihat sebuah kotak hitam bertuliskan Areyna's Journal. Perlahan dia membuka kotak itu.


Setelah dilihat isinya, sudah bisa dia pastikan kalau itu semua adalah pemberian Gala sewaktu mereka menjalin hubungan. Abel mengigit bibir bawahnya dan perlahan menelisik satu persatu polaroid kenangan Gala bersama Areyna. Sesekali dia menghela napas, bahkan Areyna masih menyimpan tangkai bunga mawar yang sudah mengering.


Gala ikut terdiam melihat isi paket itu dia juga melirik ke wajah istrinya yang mulai berubah. "Are you oke?"


Abel membalas tatapan Gala lalu tersenyum pelan. "I'm oke. Ini kayanya buat kamu." Abel memberikan kotak besar itu pada Galaxy.


Gala mengambil kotak hitam itu dan melihat semua isinya ya memang lengkap, persis dengan apa yang pernah dia berikan pada Areyna. Dia mengambil sepucuk surat yang ada di sana. Karena penasaran Abel juga mendekat ke arah Gala dan ikut membacanya.


To My Dearest, Galaxy.


Hai, Gal. Kalau kamu baca surat ini berarti aku udah gak ada di sana lagi. Aku seneng bisa menghabiskan waktu beberapa bulan kemarin, meskipun pada akhirnya yang kamu pilih bukan aku. Tapi aku cukup sadar diri karena aku emang orang yang lemah dan gak bisa kamu jadikan opsi apalagi jika disandingkan dengan Abella.


Semua kisah tentang kamu, udah aku rekam. Kalau kamu berkenan dengar aku harap kamu mau mendengar semua cerita aku tentang kamu di dalamnya. Kisah cinta yang memang tidak akan pernah berakhir happy ending tapi masih terdengar manis di telingaku saat ini.


Semua kenangan yang kamu kasih ke aku, aku simpan di kotak ini. Aku harap kamu mau menjaganya sebaik aku menjaga semua ini sampai sekarang. Aku berharap kamu selalu bahagia ya, Gal.


Aku cuma pingin kamu tau, kalau cinta yang aku miliki ke kamu akan tetap abadi dan aku bawa sampai surga sana. I always love you, Galaxy Putra Alaric.


- Areyna Valencia Argares

__ADS_1


Abel terdiam, begitu juga dengan Galaxy. Tidak tau juga apa yang yang harus dia respon dari semua ini. Jadi dia hanya tersenyum saat Galaxy kembali menatapnya.


"Aku, mau mandi dulu. Kamu habisin makannya ya," Abel mengecup pipi Galaxy lalu masuk ke dalam kamarnya. Mencoba menjernihkan pikirannya, berusaha membuang jauh-jauh rasa cemburunya, karena bagaimana pun Areyna sudah tidak ada lagi di dunia ini.


__ADS_2