Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Pamit


__ADS_3


Setelah mengantar Abella, Degas tidak bisa hanya diam saja begini. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertemu Gala di ruangannya. Kebetulan juga di sana ada Raka. Ya setidaknya kalau mereka bertengkar nanti akan ada yang menengahi.


"Darimana lo?" Tanya Raka saat Degas sampai di sana.


Degas melirik Gala yang sedang memeriksa beberapa berkas sambil sesekali memijat dahinya. Degas juga paham, apalagi Abel belum mau menemuinya beberapa hari.


Degas duduk di samping Raka sembari mengambil satu kaleng kopi, dia butuh penyegaran juga untuk tenggorokannya setelah tadi panjang lebar menasehati Abel yang tidak bisa berhenti emosi. Namanya juga Ibu hamil, apalagi Ibu hamil yang galak seperti Abel.


"Gue jujur nih, gue nemenin Abel," ucap Degas yang sontak membuat Gala melirik ke arahnya.


"Tadi lo bilang ada urusan, lo bohongin gue?" Tanya Gala.


"Santai, kalem. Ini gue di tengah-tengah lo sama Abel. Gue sebenernya gak boleh bilang ini sama lo, tapi lo perlu tau ini," kata Degas berusaha memberi penjelasan. Kan tidak lucu juga kalau sampai dia kena amukan Gala juga.


"Ngapain nemenin Abel?" Tanya Raka penasaran.


"Abel temuin Areyna di rumah sakit," jawab Degas jujur.


"Dia baik-baik aja? Kenapa lo gak bilang sama gue dulu?" Gala menghela napasnya, bukan khawatir Abel akan menyakiti Areyna, tapi dia sedang hamil tua. Itu yang Gala khawatirkan.


"Lo harus segera nuntasin ini, mau sampai kapan lo cari jalan tanpa bergerak? Gue baru liat ada cewek setega itu minta seorang suami nikahin dia ke istri yang lagi hamil tua kaya Abel," ucap Degas.


"Maksud lo?" Tanya Raka tak mengerti.


"Areyna minta Abel buat izinin lo nikahin dia sampai dia meninggal baru Abel bisa milikin lo sepenuhnya."


"Gue gak ada niat nikahin dia, Gas. Salah paham lagi ini pasti, gimana kalau dia mikir gue ada niat nikahin Areyna dan belum bilang ke dia?"


"Anda telat, dia udah mikir kaya gitu," jawab Degas santai.

__ADS_1


"Babi," umpat Gala.


"Dia sabar banget hadapin Arey, Gal. Menurut gue malah dia terlalu baik. Gue kira dia bakalan brutal tapi dia bicara baik-baik. Arey aja gak tau diri."


"Anjir, gila ini sih. Gue jadi Abel pasti bakalan ngamuk sih. Beruntung lo punya istri kaya Abel, walaupun dia kesannya gak ada hati kalau ngomong tapi dia nahan buat ga curiga sama lo aja itu dia kuat banget," timpal Raka.


"Lo harus temuin Abel sekarang, dia nangis sampe sebegitunya karena gak mau kehilangan lo. Kalau gak mau biar buat gue aja," ucap Degas.


Gala menatap tajam ke arah Degas. Enak saja Degas mau istrinya. "Lo temen gue tapi gue gamau berbagi Abel sama lo."


Gala langsung memakai jas dan mengambil kunci mobilnya dan keluar dari ruangan untuk segera menemui Abella. Degas sih biasa saja, ada kepuasan menggertak Gala seperti itu. Berbeda dengan Raka yang melongo akibat kelakuan keduanya. Ya memang Raka tidak tau apa-apa sebenarnya.


.


.


.


Abel lega karena sudah menangis tadi, dia tidak menceritakan apa-apa pada ibunya, dia tidak mau membuat ibunya khawatir karena dia menemui Areyna.


Tiba-tiba Gala datang ke sana dan langsung memasuki rumah menyalami mertuanya. Matanya langsung tertuju pada Abel yang sedang menaiki tangga. Melihat Gala dia tidak peduli dan lanjut berjalan ke atas.


"Bund Gala susul Abel dulu ya," pamit Gala.


Gala berlari naik ke tangga, saat Abel akan menutup pintu kamarnya Gala berhasil menahannya. "Sayang, Mas mohon jangan ditutup. Sekali aja, Mas mau bicara sama kamu. Mau peluk sebentar."


"Aku gak mau!"


"Sayang, sekali aja aku janji setelah ini aku pergi kalau kamu masih belum mau ketemu aku," ucap Gala bersungguh-sungguh.


Abel melepaskan pintu dari tangannya dan membiarkan Gala memeluknya sekarang. Jujur saja Abel juga sangat merindukan suaminya. Mereka selalu bersama, sekarang mereka sudah tiga hari terpisah.

__ADS_1


"Mas kangen sama kamu."


Abel memilih diam, dia tidak menjawab apapun. Bahkan dia menggigit bibir bawahnya agar tidak bicara apapun dan tidak menangis. Entah bawaan dari bayinya tau memang Abel yang cukup perasa, dia lebih mudah menangis sekarang.


"Aku izin pergi keluar kota kurang lebih seminggu, ada kerjaan di sana. Jadi kamu ada waktu buat sendiri dulu tanpa ada aku," jelas Gala.


"Mau nikah sama Areyna ya?" Tanya Abel sambil terkekeh. Sakit sebenarnya tapi memang Abel harus apa?


"Sayang, Mas aku gak ada kepikiran buat menikah sama dia. Aku gak bohong, aku harus ke Jakarta untuk pertemuan sama Airlangga Group."


"Emang aku bisa percaya lagi setelah kamu bohongin aku?"


Gala menghela napasnya lalu memegang kedua lengan istrinya dan menatapnya agar Abel bisa tau kalau sekarang dia berkata jujur. "Aku cuma sayang sama kamu, aku gak akan menikahi siapapun, Sayang. Kamu bisa tanya Degas atau Raka soal jadwal ini."


"Mereka aja kemarin bantuin kamu bohong sama aku. Terus aku harus percaya siapa lagi kalau semua orang terdekat kamu juga bohongin aku?"


"Kali ini aku serius, Sayang. Aku gak akan mungkin khianati kamu, aku dan papa lagi berusaha buat selesain masalah ini sama Areyna. Kalau kamu gak percaya aku kamu percaya sama papa dan mama," pinta Gala sembari menciumi tangan Abella lembut.


Abel terdiam, dia tidak tau harus menjawab apa. Dalam hatinya masih ada rasa ragu pada Gala. Beberapa bulan dia dibohongi, tidak mungkin dia bisa percaya begitu saja pada Galaxy.


Gala menghela napasnya. "Aku tau kamu kamu masih butuh waktu, gapapa. Aku cuma mau izin karena gak mau bikin kamu overthinking. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa karena pulang dari rumah sakit, kehamilan kamu udah besar. Itu kenapa aku langsung ke sini."


Perlahan Gala berlutut di hadapan Abella lalu mencium perut Abella dengan lembut, tida juga memberi sedikit usapan di sana. "I miss you soo much, baby. Kangen papa gak? I'm so sorry, papa masih belum bisa nemenin kalian. Tapi papa janji akan pulang secepatnya."


"Jagain mama kalian, bilangin ya papa bener-bener nyesel dan gak akan ulangin kesalahan yang sama. Bujuk mama kalian buat maafin papa dong, biar kita tidurnya bisa pelukan lagi berempat. Kalian jangan keluar dulu sebelum papa pulang ya?"


Abel menyeka air matanya saat Gala bicara seperti itu, perasaannya tersentuh tapi lagi-lagi otaknya mengintruksi dan menyadarkannya pada luka yang Gala berikan.


Gala kembali mencium perut Abella lalu berdiri di hadapannya. Tidak lupa menghapus air mata istrinya dengan lembut. "Aku tau kamu belum bisa percaya sama aku, tapi aku bakalan perbaiki semuanya. Demi kamu, demi anak-anak kita. Aku pergi dulu ya."


Gala mengecup pelan bibir Abella dan tersenyum. "Jaga diri kalian baik-baik. "

__ADS_1


Setelah selesai mengutarakan isi hatinya Gala keluar dari kamar Abel. Dia masih rindu sebenarnya, tapi dia berjanji tadi kalau tidak akan lama. Mungkin memang ada baiknya dia menuntaskan semuanya terlebih dahulu baru dia bisa memperbaiki.


Semoga saja setelah dia pulang semuanya membaik. Dia tida akan mau berlama-lama jauh dari Abel. Dia juga yang tersiksa dan juga kurang tidur.


__ADS_2