
Nia membuka pintu kamar anaknya, niatnya ingin menyuruh mereka makan malam, tapi dia malah melihat pemandangan yang membuatnya melebarkan senyumnya. Kalau saja mereka tidak memakai seragam SMA, ingin rasanya dia menimang seorang cucu dari putrinya. Pasti akan sangat lucu jika dia menjadi seorang nenek.
Akhirnya Nia mengurungkan niatnya karena takut mengganggu moment kebersamaan mereka. Entah karena merasa terusik akibat suara pintu atau memang kesadarannya yang sudah kembali. Deru napas seseorang dan sebuah tangan yang kini berada di atas tubuhnya membuat Abel terbangun.
"Gala?" Batinnya.
Abel mencoba menyingkirkan tangan itu dari tubuhnya, tapi sialnya pria itu malah mengeratkan pelukannya. Dia memang sudah sadar, tapi sengaja saja agar Abel tidak langsung marah padanya.
"Ck, Gala lo udah bangun ya?" Tuduhnya.
Gala tidak menjawab dan malah terus mendekap tubuh Abel dengan Ghazam yang masih di tengah-tengah mereka. Sehingga tanpa sadar membuat bayi kecil itu menangis.
"Tuh kan bangun," kesal Abel yang langsung menggendong bayi itu.
Gala mengubah posisinya menjadi duduk dan membantu Abel mengelusi punggung Ghazam. Dia tersenyum melihat wajah kesal Abel.
"Masih marah?" Tanya Gala.
Namun tidak ada jawaban dari Abel, dia malas sekali berbicara dengan pria yang ada di hadapannya ini.
"Jangan marah lagi, maaf ya?" Pinta Gala.
Abel beranjak dari kasur, lebih baik dia keluar untuk makan malam daripada terus-terusan melihat Gala yang membuatnya kesal. Gala tentu tidak pantang menyerah, akhirnya dia mengkuti Abel keluar kamar.
"Eh kalian udah bangun, ayok sini makan dulu," ucap Nia sembari tersenyum ke arah keduanya dan mengambil Ghazam dari gendongan kakanya.
Abel duduk dan Gala pun mengambil kursi di sebelah istrinya itu. Nia dan Doni merasakan artmosfer yang berbeda dari keduanya. Sepertinya masalah mereka belum selesai.
Meskipun sedang marah, Abel tetap mengalasi makanan ke piring Gala dan untuknya sendiri. Nia tersenyum kalau Abel sedikit mendengarkan kata-katanya soal melayani suami.
"Makasih," ucap Gala seraya mengelus puncak kepala Abel.
"Gimana sekolah dan kerjaanmu, Gal? Ada kendala sejauh ini?" Tanya Doni.
"Aman, Yah. Sudah mulai menyesuaikan jadwal jadi gak terlalu keteteran," jawab Gala.
"Bagus, Ayah suka nih kalau menantu Ayah pintar memanage waktu. Yang terpenting jangan lupa sering-sering ajak Abel bicara dan jalan-jalan. Soalnya dia bisa kuat diam seharian karena gak diajak duluan," ucap Doni terkekeh.
"Gala selalu usahakan kok, Yah. Ayah bisa percaya Gala," ucapnya mantap.
"Iyih bisi pirciyi gili." Abel mengeyel pelan.
"Sst!" Peringat Nia yang melihat kelakuan putrinya itu. Tapi Gala hanya terkekeh saja, bukan emosi tapi itu membuatnya tertawa.
__ADS_1
"Jadi rencananya kalian mau nginep di sini?" Tanya Doni.
"Iya, engga," jawab mereka bersamaan.
Doni menatap kedua anaknya itu. "Jadi yang bener yang mana?"
"Iya, aku mau di sini. Gak tau kalau Gala, mau tidur di sekolah juga gapapa," jawab Abel sembari mengaduk-ngaduk makanannya tak minat.
"Gak, Bel. Kita pulang," ucap Gala lembut.
"Gak, mau. Biarin aku di sini, besok aku pulang," balas Abel.
"Baju kamu, almamater khas, baju taekwondo, baju olahraga, buku buku kamu semuanya ada di rumah. Besok gimana?" Tanya Gala.
Nia dan Doni menghela napas mereka melihat perdebatan diantara kedua anaknya. Rasa-rasanya dulu sewaktu baru menikah Nia dan Doni malah sedang romantis-romantisnya. Berbeda dengan anaknya.
"Ck, yaudah pulang." Abel tidak bisa menyanggah, terlalu banyak yang tertinggal di sana. Seharusnya tadi dia pulang dulu untuk mengambilnya. Kali ini dia merasa bodoh.
Mereka tersenyum dengan penuturan Abel. Ya setidaknya Abel sedikit melunak dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya.
.
.
.
Gala menangkup dagunya dan menatapnya sambil tersenyum lembut. "Jangan ditekuk mukanya, senyum dong."
"Gak mood," singkatnya.
Gala terkekeh dan membiarkan Abel menaiki motornya. Dia masih menunggu gadis itu memeluknya sekarang, namun tidak ada pergerakan. "Pegangan."
"Gak."
"Nanti jatuh, Bel," peringat Gala.
Abel hanya terdiam dan teguh pada pendiriannya. Dengan satu kali gas Gala pun melajukan motornya dan sontak membuat Abel kaget lalu memeluknya erat. Gala tersenyum menang, bukan Gala namanya kalau tidak bisa menaklukan siapapun.
Abel memukul punggung Gala. "RESE!" Gala tidak mendengarnya dan memilih untuk tersenyum dan menikmati jalanan.
Setengah jam berlalu akhirnya mereka sampai di rumah, Abel bergegas masuk meninggalkan Gala. Menahan emosi membuatnya sangat lelah dan haus.
Abel melemparkan Tasnya di sofa lalu menuju dapur dan mengambil segelas air putih, baru beberapa bulan menikah tapi dia rasanya mau gila. Gunjingan orang lain, dilabrak lah, belum lagi menghadapi kelakuan Gala yang seperti anak ajaib.
Tiba-tiba Gala berdiri di hadapannya. Kenapa coba dia harus ada di depan mata Abel sekarang yang jelas-jelas tidak ingin melihatnya.
__ADS_1
"Oke gue salah gak liat sisi lu dulu, jadi sekarang cerita kenapa bisa berantem?" Gala melembut kali ini.
"Gak penting, mau gimana pun lo udah bela dia," jawab Abel kesal.
"Ya makanya ceritain, biar gue tau juga apa yang istri gue rasain sekarang." Gala mengusap pipi Abel.
Ah Abel kali ini benar-benar gila, merasakan sentuhan dari tangan Gala malah membuatnya meluluh. Apalagi Gala memangilnya istri.
"Katanya kalau ada apa-apa tuh bil-"
"Gak mau, gue gak suka ngadu sama orang. Lagian lo sukanya nge-judge gue duluan. Kita lupain aja," potong Abel cepat dan menyingkirkan tangan Gala dengan lembut.
"Gak bisa diskip, karena penting. Cepet, atau gue liat cctv sekolah aja?"
Abel menghela napasnya. Pria ini benar-benar pemaksa, dia sedikit menyesal atas perkataannya kemarin malam. "Dia nampar gue tiba-tiba dan caci maki gue, puas?"
"Ditampar? Oke kalau itu besok gue urus." Gala geram mendengar itu, dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Abel tentunya.
"Gak usah, udah puas pelintir tanggannya," ucap Abel santai.
"Tapi jangan kaya gitu, gue gak mau lo kena masalah. Jadi sekarang maunya gimana biar gak marah lagi?"
Abel menggeleng. "Gak mau apa-apa."
"Mukanya masih kusut, gak bisa tenang kalau belum senyum," ucap Gala.
Abel menggeleng, dia hanya perlu waktu untuk sendiri dulu. Nanti juga amarahnya akan mereda. Namun Gala tidak bisa jika semuanya tidak tuntas.
Perlahan Gala melangkahkan kakinya mendekat ke arah Abel. Gala terus menatap gadis itu dan entah kenapa Abel membalasnya, membuat suasana magis diantara mereka tercipta dengan sendirinya. Abel memundurkan langkahnya dan kini kedua tangannya mencengkram ujung pantry.
Gala tersenyum melihat bibir Abel yang entah kenapa menjadi candu untuknya. Perlahan dia menahan tengkuk gadis itu dan menempelkan bibirnya di bibir Abel. Gala mulai menyesap bibir manis milik istrinya itu dengan lembut Jantung Abel berdetak dengan keras, namun entah kenapa dia tidak menolak saat Gala mencium bibirnya dan malah memejamkan matanya seolah menikmati sentuhan pada bibirnya.
Gala tersenyum saat Abel mulai membalas ciumannya, menyesap bibir atasnya dengan sangat lembut, ah itu sungguh membuat Gala hampir gila. Tangannya mulai turun dan merengkuh pinggang gadis itu agar semakin mendekat dan membuat Abel malah mengalungkan tangannya di leher milik Gala.
Ciuman itu semakin intens, saat pasokan oksigen mereka mulai menipis, Gala melepaskannya perlahan, membiarkan mereka menghirup oksigen disertai deru napas keduanya. Hal yang pertama Gala lihat adalah wajah Abel yang sangat dekat dengannya. Kemudian dia melanjutkan aktivitasnya lagi.
Perlahan Gala melepaskan ciuman mereka dan Abel membuka matanya, melihat itu Gala lalu menjilat bibir Abel. Dia tersenyum, lalu mengecup bibir itu sebagai penutup.
Abel memejamkan matanya, apa yang dia lakukan barusan? Sungguh dia merutuki dirinya dalam hati. Kenapa dia terlihat seperti orang konyol sekarang?
"Oh sekarang udah bisa bales, oke segitu dulu pelajarannya. Selebihnya nanti kita coba lagi," ucap Gala santai.
Abel melepaskan tangan Gala dari pinggangnya, kenapa sekarang dia jadi salah tingkah begini sih? Dia menutup matanya erat sembari menenggelamkan wajah di telapak tangannya sendiri. Sepertinya pipi itu sudah bersemu kemerahan dan tentu membuat Gala terkekeh melihatnya.
Tanpa bicara apa-apa lagi Abel mengambil Tasnya dan langsung berlari ke kamar. Ada yang tidak beres dalam dirinya!
__ADS_1
"Kayanya gue udah tau caranya bikin dia luluh," gumam Gala.