
Pagi ini Abel kebingungan pasalnya Gala sudah muntah-muntah sejak setengah jam yang lalu. Selain itu Gala tidak nafsu makan. "Mas ini aku yang hamil kenapa kamu yang mual?"
Gala menggeleng, namun dengan sabar Abel mengusap punggung suaminya agar dia sedikit merasa nyaman. Gala yang selesai mencuci mulutnya kini menatap Abel dengan napasnya yang masih terengah-engah.
"Mas sayang banget sama kamu deh kayanya. Jadi sama kaya Ayah waktu Bunda hamil kamu. Ayah yang muntah-muntah," ucap Gala yang mash mengingat cerita Abel waktu itu.
Abel terkekeh, benar dia mengingat perkataanya yang waktu itu. "Kasian suami aku. Baby, liat papanya muntah-muntah. Maaf ya papa," ucap Abel sembari mengelus perutnya.
Gala tersenyum lalu menunduk dan mencium perut Abella dengan lembut. "Gak apa-apa sayang, papa jadi tau gimana rasanya jadi mama kamu sekarang."
"Gimana emang rasanya, Mas?" Tanya Abel lalu mengelus pipi suaminya dengan lembut.
"Gak enak, Sayang. Lemes muntah terus." Gala memeluk Abel dan menenggelamkan wajahnya di leher istrinya.
Dia juga merasa aneh, kepalanya terasa pusing, tidak berselera makan dan lagi dia sekarang lebih sering ingin bermanja dengan istrinya. Kalau sebentar saja Abel jauh, dia merasa gelisah.
Pantas saja Abel dulu susah makan, moodnya tidak stabil. Ternyata begini rasanya. Baru hamil saja sudah banyak yang dirasa. Apalagi saat melahirkan. Benar-benar besar memang perjuangan seorang Ibu.
"Kamu harus banyak minum, Mas. Kamu makan juga, kamu belum makan. Makan ya?" Pinta Abel, namun Gala menggeleng.
Sudah beberapa hari Abel tidak mual atau tak berselera makan. Dia pikir jika dia bisa bersantai karena sang bayi tidak rewel. Ternyata jika Gala yang mengalaminya justru dia lebih kewalahan.
Bagaimana tidak, sudah siang begini Abel tidak boleh beranjak kemana-mana karena Gala tidak ingin ditinggal. Benar-benar seperti bayi besar. Jika sedikit saja Abel bergerak, Gala langsung mengeratkan pelukannya.
Dia juga maunya dielus-elus, seperti saat sedang sakit. Bedanya dia tidak tau kali ini sakit apa. Tapi badannya terasa tidak enak dan ingin yang aneh-aneh.
"Mas aku mau cari udara segar, bosen," protes Abel yang mencoba melepaskan diri dari pelukan Gala.
"Mas masih mau sama kamu, sama anak kita. Nanti aja ya sore, panas juga di luar," ucap Gala beralasan.
Abel lagi-lagi menghela napasnya, kalau begini caranya mending dia saja yang merasakannya. Dia jadi tidak bisa kemana-mana, hanya terdiam melihat Gala yang seperti ini, kan bosan juga. Tapi dia juga tidak tega melihat Gala yang lemas seperti ini. Aduh, serba salah kan jadinya.
"Sayang," panggil Gala.
__ADS_1
"Hmm, kenapa?" Balas Abel.
"Tolong ambil hp Mas, terus kirim pesan ke Degas. Bilang sama dia tolong cariin Mas rujak tumbuk yang suka di jalan-jalan," pintanya.
Abel menyerngitkan dahinya. Tumben sekali, ini sebenarnya Gala kenapa sih hari ini? Jangan bilang dia juga ngidam. Kan gemas jadinya kalau iya.
"Kasian, Mas Degasnya. Aku aja yang buat mau gak?" Tanya Abel.
"Gak mau, Sayang. Mas mau yang di jalan kayanya seger segini hari."
Abel terkekeh, kenapa ini lucu sekali untuknya? Jadi benar nih suaminya ngidam?Jadi karena bisa dipastikan ngidam, Abel menuruti kata Gala untuk menghubungi Degas.
Degas yang menerima panggilan dari Abella malah tertawa terbahak dari seberang sana bersama Raka. Cowok cool, bos galak dan juga pria kulkas itu ngidam kan sangat lucu.
Namun mereka juga memahami dan mengiyakan untuk membantu Abel mencari pesanan Gala setelah pulang kerja nanti.
Melihat Abel yang ikut tertawa saat menelepon membuat Gala kebingungan. "Ngomongin apa? Kenapa ketawa?"
Abel menggeleng, dia berusaha menahan tawanya. Yang ada nanti suaminya ini ngambek atau kesal. Dia juga terlihat sensitif. Ya sedikit banyaknya dia juga pernah merasakan, karena mengalaminya di kehamilan pertama.
Abel mengusap perutnya dengan lembut. "Baby, pasti ini kerjaan kamu ya? Kasian papanya jadi ngidam, tapi gemes," gumamnya dalam hati.
Abel, Degas dan Raka kini menatap Gala yang sedang memakan rujak tumbuk yang sudah tersedia di hadapannya. Pria itu tidak menyukai yang manis-manis, asam, tapi terlihat begitu menikmati makanannya sambil memperhatikan grafik keuntungan perusahaan di iPad miliknya. Tentunya harus Abel yang suapi.
"Bel, kenapa bisa Gala yang ngidam?" Tanya Raka.
Abel menggeleng dan sedikit terkekeh. "Gak tau dari tadi mual juga sama manja banget. Bawaan anaknya kayanya."
"Lo bucin banget anjir, kata mama gua kalau laki yang ngidam itu dia bucin banget sama istrinya," ucap Degas.
"Bucin sama istri sendiri," jawab Gala santai.
"Iya deh si paling punya istri, yok Gas cari istri. Biar bisa manjaan begitu," ajak Raka.
"Kenapa gak sama Dinda aja, cocok kalian," ucap Abel tiba-tiba. Membuat Degas yang sedang minum akhirnya tersedak.
__ADS_1
Begini toh rupanya disarankan bersama yang lain oleh orang yang pernah dia suka? Aneh sekali rasanya dan lagi, Dinda? Gadis bar-bar yang selalu bertengkar dengannya.
"Ngaco lo, Bel. Gak dulu dah, yang ada gue ribut mulu sama dia," balas Degas.
"Boleh juga tapi lu sama Dinda. Dia mau pulang minggu depan, mau liat calon ponakannya katanya," timpal Raka.
"Gak dulu deh, yang bener aja anjir," tolak Degas.
"Tapi yang biasanya berantem terus lama-lama bucin, bisa jadi kalau nikah dia yang nikah," sindir Gala.
"Ngaca!" Ucap Degas.
Ya kalau begini sih Gala menyindir dirinya sendiri. Dulu dia dan Abel kan begitu. Sering bertengkar, beradu argumen, tapi sekarang mereka saling mencintai.
Andai saja mereka salah satu menolak perjodohan itu kemarin, sepertinya akan lain jalan ceritanya dan mungkin Abel masih menutup diri sampai saat ini.
"Anna juga kemarin nanyain lo, Bel. Dia kangen katanya mau ketemu sama lo," ucap Raka.
"Sejak kapan lo deket sama Anna? Kalian jadian ya?" Tanya Abel penasaran. Ya karena memang selama ini dia baru mendengar lagi kabar dari Anna karena mereka lost kontak.
"Gak deket, cuma DM-an aja kemarin. Jangan mikir aneh-aneh. Gue sama dia juga gak ada apa-apa," jawab Raka cepat.
"Ada apa-apa juga gapapa kali. Jadi lo bisa sama Anna, Degas sama Dinda. Pas kan, nanti bisa ngedate bareng," kata Abel meng-ide.
"Jangan bilang lo ngidam kita jadian?" Tanya Raka malas.
Abel terkekeh, bagaimana mungkin dia ngidam aneh seperti itu. Ya menurutnya pantas saja jika iya. Raka dan Degas juga belum mempunyai pasangan, apa salahnya jika dia menjadi Mak comblang untuk kedua temannya. Kalau jadi kan itu akan lebih senang, mereka jadi bisa pergi kemana-mana bersama.
"Engga, cuma lucu aja kalau emang iya," jawab Abel sambil tersenyum.
Degas berpikir sejenak, begini nih kalau dia berada di dekat Abel. Perasaan lama hilang timbul seperti angin. Hanya melihat Abel tersenyum saja dia sudah senang. Apalagi banyak perubahan dari gadis itu sekarang, jadi lebih ramah.
Apa benar ya jika seseorang sudah menemukan orang yang tepat akan jauh lebih baik? Gala dan Abel membuktikan soalnya, mereka seperti bukan Galaxy dan Abella saat di sekolah dulu.
Ya tapi tetap saja dia haru skembali ke bumi, karena pada kenyataannya dia hanya bisa menjadi pengagum dari dulu sampai sekarang. Berharap perasaan seperti ini tidak ada lagi.
__ADS_1