Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Bumil Sensitif


__ADS_3


"Jangan pake baju sexy kaya gitu, Abella!" Peringat Gala.


"Sexy apanya sih, Mas?!"


"Kamu pake dress tanpa lengan, Sayang. Mas ga suka kamu jadi pusat perhatian cowok lain!" Ungkap Gala jujur.


"Yaampun, Mas. Ini kan nanti pake outer! Engga gini aja pakenya, udah ya. Aku nyaman pake ini soalnya," pinta Abel.


"Yau udah, tapi outernya yang nutupin itu!"


"Iya!" Sungut gadis itu. Dia kesal, sejak tadi Gala melarangnya memakai baju ini itu. Bahkan warna baju saja diprotes agar mereka senada. Rambutnya juga tidak boleh diikat, harus digerai. Jadilah dia hanya menjepit belakang rambutnya dan menyisakan poni manis di kedua pelipisnya.


Setelah selesai berdandan dan menyemprotkan parfum di beberapa titik, Abel mengambil salah satu heels dalam lemarinya.


"Jangan pakai heels, kamu mau jatuh? Kasian anak kita, Baby. Flat shoes aja," peringat Gala.


Lagi-lagi Abel menghela napasnya, dulu saat hamil biasanya juga dia memakai heels. Kenapa sekarang tidak boleh. "Kan aku belum hamil besar, loh Mas. Nanti aku keliatan pendek banget kalau jalan sama kamu."


Gala menghampiri Abella lalu mengecup bibirnya beberapa kali. "Jangan peduliin kata orang, peduliin anak kita. Mas gak mau kamu kenapa-kenapa, Sayang. Nurut ya?"


Abel mengangguk pasrah, dia mau bertemu teman-temannya saja serumit ini. Apalagi Gala ingin ikut, padahal kan ada hal-hal yang tidak bisa dibicarakan kalau ada Gala. Ya namanya juga perempuan.


Gala tersenyum puas karena istrinya menurut. Jadi mereka tidak perlu banyak berdebat. Ya seperti yang diketahui kalau mereka sejak awal sering berdebat, begitu juga sekarang. Kebiasaan itu sepertinya sudah menjadi kebiasaan yang kalau tidak ada justru akan aneh.


Selesai masalah pakaian, mereka akhirnya pergi juga untuk menemui teman-teman mereka di salah satu cafe. Di kehamilan kali ini Abel nampak lebih banyak makan. Terbukti sekarang saja dia tidak berhenti mengemil di dalam mobil.


Gala menarik pipi istrinya gemas, membuat sang pemilik melirik kesal ke arahnya. "Kenapa sih, Mas?"


"Kamu lucu, makannya banyak," ucap Gala.


"Oh jadi aku rakus maksud kamu?" Abel memajukan bibirnya lalu menyimpan snack yang dia pegang.


"Ya ampun gak gitu maksud Mas, Sayang," ralat Gala.

__ADS_1


"Maksudnya Mas seneng kamu banyak makannya, biar berisi juga kan itu pipinya. Mas suka," tuturnya.


"Ohh gitu ya, jadi maksudnya aku gendutan gitu? Parah banget sih, Mas! Aku kan gendutan karena ngandung anak kamu, tapi kamu malah bilang aku kaya gitu," ucap Abel sedih.


"Gak gitu, Sayang maksudnya kamu lucu gitu."


"Aku marah gini dibilang lucu?!" Abel benar-benar turun moodnya, dia kini mengalihkan pandangan ke luar jendela. Maksudnya apa Gala bilang seperti itu?


Apa Gala tidak mengerti ya kalau bahasan soal berat badan itu sangat sensitif? Memang tidak peka! Abel sangat kesal melihat Gala pokoknya.


Gala menghela napasnya, kenapa jadi begini. Padahal maksud dia bukan seperti itu. Memang Abel sedang sensitif, berarti mulai sekarang dia harus pintar memilah kata. Jadi dia memutuskan untuk diam saja sekarang daripada membuat gadis itu semakin marah.


Tak selang beberapa lama mereka sampai di sebuah cafe. Abel keluar lebih dulu karena masih kesal, namun dengan cepat Gala menyusul dan merangkul pinggang istrinya. "Pelan-pelan, Sayang. Kamu lagi hamil jalannya bar-bar gitu."


"Emang aku bar-bar, gendut, rakus, banyak makan! Gak suka?!" Sungut Abel.


Gala memejamkan matanya, wah dia kembali melakukan kesalahan sepertinya. "Oke, aku minta maaf ya, Cantik. Iya aku salah bicara. Kamu cantik, istri aku, ibu dari anak-anak aku. Maaf ya," rayu Gala sembari mengusap pipi istrinya itu dengan lembut.


"Yaudah iya dimaafin," ucap Abel pelan.


Abel perlahan tersenyum manis ke arah suaminya. Melihat itu pun Gala tersenyum lalu kembali mengajak Abella masuk ke dalam caffe.


Tangan Anna melambai saat melihat pasutri itu masuk ke dalam caffe. Abel yang melihat itu tersenyum lalu berlari kecil ke sana. Membuat mata Gala membulat, benar-benar tidak bisa diam istrinya ini.


Gala dengan cepat langsung menyusulnya dan kembali menggenggamnya. "Pelan-pelan jangan lari!"


"Kenapa sih, Mas. Dikit doang," kesal Abel.


Gala mengalah, dia tidak boleh membuat mood istrinya kembali buruk seperti tadi. Benar-benar harus ekstra sabar memang menghadapi Ibu hamil.


"Selamat datang Bapak dan Ibu Alaric, lama tida berjumpa," sapa Dinda.


"Apasih, Din. Lo sih jauh banget kuliah." Mata Abel beralih menatap Anna yang kini berada di sebelah Raka. "Annaa, lo kemana aja?"


"Ett sabar-sabar. Duduk dulu elah, kaya gak bayar lo berdua," kata Raka.

__ADS_1


Gala dan Abel terkekeh, mereka berdua pun duduk. Menurut mereka keduanya sangat serasi, apalagi baju mereka senada. Nampak seperti pasangan yang baru menikah.


"Gue baik-baik aja, gue sibuk kuliah. Btw selamat ya buat kehamilan lo," ucap Anna senang.


"Pantesan gak pernah berkabar lagi. Makasih ya," balas Abel sambil tersenyum.


Aneh sebenarnya melihat Abel yang sekarang. Dulu dia mengenal Abel yang irit bicara, sekarang sepertinya Abel malah pintar bergaul dan ramah. Berbeda dengan Dinda yang memang sudah lebih dulu melihat Abel versi saat ini.


Tapi Anna senang, itu berarti Abel jauh lebih baik dan bahagia dengan kehidupannya sekarang. Sebagai teman dia sangat melihat itu. Sama seperti Dinda, Anna pun sudah menganggap Abella sahabatnya, meskipun kata-kata itu tidak pernah terucap diantara mereka bertiga.


Mereka bicara panjang lebar, seperti reuni pada umumnya, banyak sekali cerita nostalgia yang mereka bicarakan. Membuat mereka kadang tergelak mengenang masa-masa SMA yang begitu konyol. Apalagi Abel yang sekarang sudah sangat puas menggoda Degas dan Dinda. Keduanya memang sering beradu mulut, tapi Abel yakin kalau mereka akan bisa bersama. Lihat saja.


Cape mengobrol mereka pun memesan makanan. Mereka menelan ludahnya kasar saat melihat pesanan Abella. Bagaimana tidak, Ibu hamil itu memesan steak, pasta, mac and cheese, pudding dan juga milkshake coklat kesukaannya. Gala tidak melarang, lagi pula itu baik untuk Abel dan juga bayinya. Tapi ya sedikit tertegun saja, apa dia akan bisa menghabiskan semuanya?


Abel yang merasa ditatap hanya keheranan. Memangnya apa yang salah pada dirinya? "Kenapa liatin kaya gitu?"


"H-hah? Engga, Bel. Lo cantik banget sumpah. Iyakan, Na?" Kata Dinda meminta persetujuan.


Anna tersenyum kaku. "Hahaha iya, Bel bener. Kita udah lama gak ketemu jadi pangling!"


Abel terdiam, lalu setelahnya mengangguk-nganggukan kepalanya. Setelah itu Gala menginstruksi agar semuanya fokus saja dengan makan.


Abel nampak senang memakan makanan yang ada di hadapannya. Bahkan saking senangnya yang lain sampai ikut kenyang hanya karena melihat Abel makan saja.


"Enak banget ya, Bel?" Tanya Degas yang kagum dengan kemampuan makan gadis itu.


"Bel, Lo-"


Gala tersenyum penuh arti pada Dinda yang akan berkomentar, membuat Dinda jadi menciut dan memilih diam.


Gala tersenyum ke arah Abel yang menatapnya. Setelah itu dia mengelus perut istrinya dengan lembut. "Makan yang banyak ya anak papa, kalau mau tambah ya tambah lagi aja. Uang papa banyak kok."


"Makasih, Papa," ucap Abel sambil tersenyum.


Raka dan Degas mengulum tawanya. Entah kenapa mereka merasa lucu saja dengan suasana seperti ini. Mereka paham juga Gala begitu karena dia takut membuat Abel ngambek. Karena sudah satu Minggu ini Gala mengeluh pada mereka kalau Abel sangat sensitif dan membuatnya serba salah.

__ADS_1


__ADS_2