
Dinda Dan Degas nampak kewalahan menjaga dua bocah kembar itu. Pasalnya mereka tidak bisa diam dan berlari ke sana kemari. Belum lagi mereka seperti di ulang tahunkan oleh Dinda dan Degas, apa yang mereka pinta pasti akan dituruti.
"Gila, gue kira mereka anteng kaya emak bapaknya," ucap Dinda sembari memegang kedua lututnya karena kelelahan mengejar Alano dan Alana yang sekarang sedang berlarian mencari mainan apalagi yang akan mereka mainkan..
"Lo sih sok ngide ayok-ayokan, emak bapaknya enak-enak kita yang rempong," cibir Degas.
"Ya mana gue tau anjir kalau bocahnya hiperaktif begini," timpal Dinda.
"Makanya lo kalau mau apa-apa dipikir dulu."
"Serah deh ah pusing."
Dengan sisa energi Dinda dan Degas tetap mengawasi Alano dan Alana yang sekarang sedang bermain gotcha. Sekilas Degas melirik ke arah Dinda. "Lo nanti balik lagi ke sana?"
"Engga lah, orang gue lulus. Gue mau cari pekerjaan, terus gue mapan," jawab Dinda sambil tersenyum tipis.
Degas hanya mengangguk-nganggukan kepala, setelah itu dia mengajak Dinda untuk bermain tembak-tembakan karena ya bosan juga ternyata hanya mengikuti bocah-bocah kecil itu.
Ya sebenarnya ini adalah akal-akalan Raka untuk membuat Degas dan Dinda PDKT. Keduanya sadar karena sering menjadi bahan ejekan oleh yang lain. Tapi sejujurnya sampai saat ini mereka hanya nyaman sebagai teman, tidak lebih.
Alano dan Alana melihat Dinda dan Degas sedang bermain, nakalnya mereka ya begini. Kalau tidak diawasi mereka bisa ke mana pun yang mereka mau. Seperti sekarang, mereka keluar dari tempat permainan itu dan pergi ke food court karena lapar padahal mereka tidak membawa uang.
"Ana mau mam apa?" Tanya Alano.
"Ituuuu." Alana menunjuk tempat makan jepang yang menampilkan chicken katsu kesukaannya.
"Ayok!" Ajak Alano.
Namun tiba-tiba seseorang menghampiri mereka. Dia juga melirik ke berbagai arah untuk mencari kedua orang tua anak ini. "Alano? Alana?"
"OM DOKTERR!!!" Teriak mereka antusias dan langsung menghampiri Elzard.
"Kalian ke sini sama siapa? Mama sam Papa kemana?" Tanya Elzard.
"Sama Ante Dinda sama Om jomblo," jawab Alano polos.
"Terus mereka ke mana sekarang, kok Alano sama Alana ada di sini?"
"Ana lapar Om mau itu," tunjuk Alana pada restoran Jepang yang tadi dia mau.
__ADS_1
Sebenarnya Elzard ingin mengantar mereka berdua pada Dinda dan Degas tapi karena mereka lapar ya kasian juga. Terlebih kalau harus mencari keberadaan mereka dulu. Jadi lebih baik mengajak Alano dan Alana makan dulu.
"Mau Om Dokter temenin?" Tawar Elzard.
"MAUUU!"
Elzard tersenyum dan mengusap kepala mereka dengan lembut, setelahnya dia menuntun Alano dan Alana ke Resto Jepang yang tadi sudah mereka tunjuk. Elzard kagum sih dengan kemampuan mereka, bahkan mereka sudah bisa memutuskan apa yang akan mereka makan, tau cara bagaimana memesan, anak umur 4 tahun loh. Bahkan bahasa Inggrisnya pun mereka lancar.
Elzard memesankan chicken katsu curry untuk mereka berdua dan susu dengan es yang sedikit. Ya karena makan siang kemarin Elzard tau apa saja yang boleh dan tidak untuk kedua anak itu.
"Om Dokter kenapa engga mam?" Tanya Alano.
"Om Dokter udah makan, Sayang. Kalian aja ya makannya habisin," ucap Elzard seraya tersenyum.
"Om kenapa engga suka main ke rumah kaya Om Jomblo?" Tanya Alana sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Emangnya Om boleh ke rumah Alano sama Alana?" Tanya Elzard sembari terkekeh.
"Boleh, nanti Mama kasih mam yang banyak. Mama Alan baik kalau ada temenna ke rumah. Mama suka masak yang enak," jelas Alano.
"Iyakah?"
Alano mengangguk, tentu dia tidak berbohong. Dia juga memang suka sekali bicara banyak hal seperti ini pada orang lain sebagai tanda kebanggaannya pada Abella yang bisa masak dan baik hati. Elzard hanya tersenyum mendengar penuturan Alano dan Alana. Mereka menceritakan banyak sekali kebiasaan mereka di rumah. Dia jadi membayangkan kalau dia adalah papa kedua anak itu. Memang sudah gila kalau dipikir-pikir.
"ADUHH MEREKA KEMANA SIHH??!!"
"Lo sih keasikan main, jadi ilang kan itu anak ajaib," sungut Degas.
"Lah, lo juga salah anjir. Lo yang ajak main duluan ya!"
"Ah gak ada waktu berdebat, mending kita berpencar. Gue ke kanan, lo ke kiri."
Dinda mengangguk, dengan cepat Dinda mengitari isi Mall. Mana Alano dan Alana kecil, kan? Bagaimana dia bisa menemukan bocah kecil itu diantara kerumunan orang dewasa? Apalagi Mall juga cukup ramai.
Dinda mulai overthingking, mereka berdua terlihat sekali seperti anak orang kaya. Bagaimana kalau mereka diculik orang yang tidak dikenal? Ah kacau, dia semakin panik membayangkan apa yang sekarang menjadi sebuah skenario dalam otaknya.
Hampir setengah jam dia berkeliling, namun belum menemukan tanda-tanda Alano dan Alana. Sampai akhirnya Degas kembali dengan tangan kosong dan menghampiri Dinda.
"Belum ketemu?" Tanya Dinda.
Degas menggeleng. "Kita ke informasi sekarang!"
__ADS_1
Dinda menyetujuinya, mereka pun melewati food court karena memang informasi ada di sebelah food court, namun mata Dinda tertuju pada Alano dan Alana yang sedang makan di ebuah restoran Jepang.
"Yaampun bocah! Dia morotin Om-Om apa begimana? Tuh!" Dinda menepuk bahu Degas lalu menunjuk Alana dan Alano.
Degas menghela napas, tidak paham lagi dengan kelakuan anak Galaxy dan juga Abella yang kini terlihat bersama seorang lelaki dewasa. Benar apa kata Dinda, mereka memoroti Om-Om.
"Parahh!!" Degas menarik tangan dinda dan membawanya masuk ke temlat itu.
Dinda terdiam sesaat saat tangannya digenggam oleh Degas. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang. Namun engan cepat dia menggeleng. Otaknya sudah mulai tidak waras!
"Alan, Ana! Om cariin loh kalian — Elzard?"
"Degas?"
"Ini?"
"Tadi gue nemuin mereka lagi cari makanan, kayanya lapar. Terus nunjuk kesini, jadi gue ajak makan dulu. Maaf bikin kalian panik," ucap Elzard.
"Lo si Ketua OSIS yang pernah suka sama Emaknya mereka kan?" Tanya Dinda.
"Kita sekelas, lo pikun?" Tanya Elzard berbalik.
"Oh iya juga."
Dinda hanya cengengesan sembari bingung juga sih, bisa-bisanya Alano dan Alana bersama Elzard, kalau bapaknya tau bisa ngamuk, kan berabe urusannya. Dinda menghampiri kedua bocah itu dan memeluknya erat. "Kalian Tante cariin ternyata di sini. Kalau mau kemana-mana harusnya bilang Tante dulu. Kalau kalian hilang nanti papa sama mama marahnya ke Tante."
"Maaf Ante, Ana tadi lapar. Tu liat udah kurus Anana mau mam," ucap Alana polos.
Lucu dan Gemas, yang tadinya Dinda sedikit kesal sekarang malah menciumi keduanya. Bisa-bisanya mereka bersikap gemas seperti ini. Tidak tega lah Dina memarahinya, yang ada ingin memeluk mereka. "Yaudah sekarang kita pulang yuk?"
"Tapi mau dianterin sama Om Dokter."
"Om Dokter siapa, Sayang?" Tanya Dinda, mereka pun menunjuk ke arah Elzard.
"Iya gue dokter yang kemarin nemenin mereka periksa gigi," jelas Elzard yang merasa mendapatkan tatapan bingung dari Dinda.
"Ohh gitu, tapi kan Om dokternya harus kerja, Sayang. Pulang sama Tante sama Om Jomblo aja ya?" Bujuk Degas.
"Gak mau!!"
Alano dan Alana menggeleng, cukup rewel mereka jika sudah datang kekehnya. Pasti harus dituruti, harus ada Abel yang bisa menahan keinginan mereka. Degas dan Dinda mana bisa. Elzard menghampiri keduanya. "Yaudah, ayok Om Dokter anterin."
__ADS_1
Degas dan Dinda melongo sih. Mau ditolak bagaimana kalau diterima juga pasti akan menimbulkan prahara rumah tangga. Akhirnya mereka berdua pasrah saja, semoga aman-aman saja ketika mereka sampai di rumah Abel dan Galaxy.