
Malam ini Abel sedang sibuk memasukan beberapa baju milik Gala ke dalam koper. Tidak lupa juga dia menyimpan beberapa makanan agar di sana tidak kelaparan, meskipun dia tau mungkin di sana Gala juga pasti di beri makanan, tapi dia juga pasti ingin mengemil.
Gala hanya melihat istrinya yang sibuk mondar-mandir, padahal yang akan pergi dirinya, tapi Abel yang repot sendiri mempersiapkan ini itu.
"Baju santai gue taro di bawah, baju yang penting-penting kaya seragam sama baju basket lo gue taro di atas. Jadi jangan berantakan kalau ngambil. Kalau malem laper gue udah taro makanan ringan sama susu kotak, kalau gak suka ada kopi juga. Jangan ada yang ketinggalan, beresin lagi kopernya kalau mau pulang, periksa berulang-ulang," peringat Abel yang sudah hafal sekali dengan sifat grasak grusuk Gala.
"Iya," balas Gala sambil fokus pada ponselnya.
Setelah itu dia memasukan vitamin, obat dan beberapa peralatan yang mungkin akan Gala butuhkan. "Jangan telat makan, vitaminnya diminum. Udah gue bawain juga obat magh lo jadi kalau misalnya kambuh cari aja di pouch sama peralatan mandi. Walaupun di sana pasti di sediain tapi bawa dulu aja."
"Iya, Bel," ucap Gala yang masih fokus pada ponselnya.
"Jangan iya-iya aja, Gal. Tapi dilakuin!"
Gala menghela napasnya, lalu dia tersenyum ke arah Abel. "Iya, Abella."
Begini kah rasanya mempunyai istri? Biasanya jika dia mau kemana-mana tidak pernah serepot ini. Dia orang yang simpel, tentu akan membuat semuanya menjadi mudah. Tapi sekarang ada banyak sekali pesan yang Abel titipkan padanya. Ya enak sih ada yang memperhatikan, tapi wanita memang makhluk yang ribet.
Setelah puas, Abel pun menaruh koper milik Gala di tempat yang mudah dia jangkau. Akhirnya setelah satu jam pekerjaannya beres juga. Abel duduk di tepi ranjang lalu mengurai rambutnya.
Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Gala. Abel sudah terbiasa dengan itu, jadi dia tidak masalah. Gala memang bisa mendadak manja jika saat bersamanya dan Abel memaklumi itu. Abel melirik ke arah Gala yang menaruh dagu di bahunya. Sesekali dia tersenyum saat ditatap oleh Abel seperti itu.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Pasti bakalan kangen 3 hari gak ketemu, gak bisa peluk juga." ucap Gala.
"Peluk Degas atau Raka," jawabnya asal.
"Perlu gue buktiin lagi kalu gue normal?" Tanya Gala yang mendekatkan wajahnya pada Abel.
Abel hanya menatapnya tajam, pria ini bisa saja melakukan apapun tanpa aba-aba yang tentunya menguji kesehatan jantungnya. "Jangan macem-macem."
"Kangen," ucap Gala pelan.
"Belum juga berangkat," balas Abel.
__ADS_1
"Ya, pasti kangen." Gala mendusel di leher Abel sembari menghirup aromanya. Gala sangat suka melakukan itu akhir-akhir ini, wangi dari tubuh Abel selalu membuatnya tenang dalam kondisi apapun.
"Lo harus menang ya, udah jauh-jauh ke sana masa iya gak menang. Jangan malu-maluin, masa nanti udah izin ke bunda taunya kalah," ucap Abel, dia sebenarnya ingin menyemangati namun berbeda saja kata-katanya.
"Iya, nanti gue bawa pialanya buat lo. Tapi kasih vitamin dulu, biar gue semangat," pinta Gala.
"Harus gue keluarin lagi vitaminnya?" Tanya Abel
Gala menegakkan kepalanya lalu sedikit menunduk dan mengadahkan wajah Abel padanya.
Cup ...
Gala tersenyum setelahnya. "Cium maksudnya. Kan kalau udah dapet jadi makin semangat."
Abel tersenyum, sepertinya dia mulai menyukai Gala yang selalu menciumnya tanpa aba-aba. Tidak ingin munafik, tapi salah Gala sendiri yang memeperkenalkan dan membiasakan itu padanya.
"Yaudah, sekarang kita tidur. Besok harus punya tenaga ekstra buat perjalanan jauh," ucap Abel.
"Pelukan ya tidurnya?" Pinta Gala.
Abel pun mengangguk mengiyakan. Setelah itu mereka berbaring dengan Abel yang kini sudah berada di dekapan pria itu. Gala tersenyum karena istrinya malam ini sedang jinak. Jadi dia tidak perlu susah payah untuk mendiamkan Abel yang sering berontak saat dipeluk.
Abel pun tersenyum dan memejamkan matanya. "Good night too, Gala."
.
.
.
Keesokan harinya pulang sekolah Abel sedang sibuk memasak. Waktu masih tersisa 3 jam sebelum Gala berangkat. Abel menyiapkan makanan untuk Gala agar dia bisa memakannya saat di perjalanan. Abel tau kalau Gala memiliki magh, jika tidak diingatkan dia akan fokus dengan dunianya tanpa mempedulikan kesehatan,tanpa sadar Abel mulai memahami kebiasaan Gala.
"Serius banget masaknya," kata Gala yang sedang duduk memperhatikan Abel dari balik pantry.
"Emangnya kalau masak harus sambil ngebadut?" Tanya Abel simpel.
"Ya nanya kek, ada orang di sini Bel masa dianggurin," balas Gala.
__ADS_1
Abel tersenyum melihat tingkah Gala. Umurnya sudah 18 tahun dan lebih tua beberapa bulan darinya tapi masih terlihat seperti Ghazam di matanya. Abel menaruh dua onigiri yang dia buat ke piring. Setelah itu dia berikan ke hadapan Gala.
"Cobain," ucapnya.
"Onigiri?"
Abel mengangguk, dia sengaja membuatnya. Kalau Gala suka dia akan membawakannya untuk Gala. Gala pun mencoba makanan itu, dia mengangguk-nganggukan kepalanya sembari tersenyum ke arah Abel.
"Suka?" Tanya Abel.
"Apapun yang lo masak, gue suka. Jadi jangan tanya lagi."
"Yaudah gue bawain lo ini yaa. Sama sando, tadi gue udah bikin. Jadi kalau di jalan laper tinggal makan. Inget, jangan makan sembarangan nanti perut lo sakit. Jangan terlalu sibuk sama dunia sendiri sampe lupa ngapa-ngapain," peringat Abel.
Gala hanya tersenyum mendengar ceramah dari Abel. Memang di antara Ibu, Kakak perempuannya, mungkin yang paling peduli adalah Abel dan lebih bawel. Dia bahkan belum sempat mengganti bajunya hanya demi menyiapkan bekal Gala.
"Gala, denger gak?" Tanya Abel.
"Iya-iya denger, bawel banget habisnya. Bikin makin sayang," balas Gala.
Abel menggelengkan kepalanya pelan mendengar penuturan Gala. Dia melanjutkan memotong roti sando itu menjadi dua bagian dan memasukannya ke dalam kotak makan. Tidak lupa juga menata onigiri yang dia buat, beberapa potong buah dan satu kotak kopi kemasan. Setelah selesai dia masukan ke dalam tas kecil dan memberikannya pada Gala.
"Nih, jangan sampe ketinggalan. Nanti gue ingetin lagi kalau udah di jalan. Jangan matiin ponsel, jaga kesehatan, jangan kaya anak ajaib di sana." Abel mengulurkan tas berisi makanan itu pada Gala.
Gala terkekeh mendengar peringatan dari Abel, dia mengambilnya dan menaruhnya di meja. Perlahan dia menggenggam kedua tangan Abel lalu menciuminya dengan lembut. "Makasih ya, diantara semua orang lo udah jadi yang paling peduli."
"Makasih udah persiapin semua kebutuhan gue sampe lo relain tenaga dan waktu istirahat lo. Makasih karena udah bikin gue ngerasa diperhatiin," ucap Gala tulus.
Abel menatap pria itu. Memang ada kalanya Gala bersikap begitu manis dan tak jarang menyentuh hatinya. Entah dia sudah jatuh cinta pada pria itu, dia masih belum tau. Tapi semakin hari dia rasanya ingin melakukan hal yang sama, mencintai Gala sama seperti apa yang Gala lakukan padanya.
"Sama-sama, tapi jangan makasih harusnya. Itu emang kewajiban gue," balas Abel.
"Yaudah makasih yang satu ini pasti boleh," ucap Gala sambil tersenyum pada Abel.
"Apa? Makasih buat apa?" Tanya Abel.
"Makasih karena lo udah datang di kehidupan gue yang sebelumnya datar-datar aja."
__ADS_1
Abel menatap mata Gala yang memancarkan kehangatan dari sana. Meskipun dia tidak pernah merasakan jatuh cinta, tapi dia selalu tau ketulusan seseorang dari binar matanya. Bundanya selalu bilang, kalau tatapan itu tidak pernah berbohong dan bisa dirasakan.