Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Berebut Mama Abella


__ADS_3


"Ana jaga di sana, Alan jaga di sini. Biar Papa engga bisa gigit Mama," ucap Alano mengarahkan.


"He'em!" Alana mengangguk dan memposisikan dirinya di tengah. Sementara Alano di tepi kasur.


Gala yang sudah melihat pengaturan posisi itu jadi menghela napasnya. "Alan sama Ana kan udah papa bikinin kamar robot sama princess, gak mau di sana aja?"


"Engga! Nanti papa gigi Mama lagi!" Ucap mereka bersamaan.


Gala pasrah dan ikut berbaring bersama mereka. Dengan gemas Gala memeluk Alana yang memang ada di tengah. "Papa janji deh gak gigit Mama lagi tapi Alan sama Ana tidur di kamar sendiri ya?"


"No!"


Abel menatap Galaxy seolah memberi pengertian. "Yaudah, sekarang tidurnya boleh sama Mama dan Papa, besok jangan lagi ya? Kan harus jadi anak pemberani, Papa juga udah janji gak akan gigit Mama lagi."


"Huum iya, Mama," ucap Alano yang mengeratkan pelukannya.


Akhirnya ya begini, mereka harus tidur berempat dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan si kembar. Mungkin besok barulah dia dan Galaxy bisa menghabiskan waktu bersama.


Abella mengusap rambut kedua anaknya, sementara Galaxy menciumi pipi Alana karena gemas. "Kenapa anak-anak Mama gak tidur? Tadi kan udah cup-cup jadi harusnya tidur."


"Ana engga bisa bobo, Mama jadi Alan antar ke Mama," ucap Alan.


"Loh kenapa Ana gak bisa tidur hm?" Tanya Abel.


"Ana mikirin dombana pak Gembala," jawab Alana polos.


"Gak usah dipikirin, dombanya udah takdir di makan serigala. Harusnya jadi sate," ucap Gala gemas, ya bisa-bisanya anaknya memikirkan sebuah cerita fiksi.


"Engga boleh gitu papa, kasian dombana."


"Auya papa, tuh denger kasian dombanya. Papa nih," timpal Abel.


"Mama ini sakit ya?" Tanya Alano sembari menunjuk tanda merah di leher Abella.


"Engga, Sayang engga kok,"jawab Abel yang mengecup singkat pipi Alano.


Alano mengubah posisinya menjadi duduk, setelah itu mencium luka yang ada di leher Ibunya dengan lembut. "Cepet sembuh Mama, udah Alan cup-cup."


Abel mengusap pipi Alano, anaknya ini begitu manis. Alano memang anak yang perhatian, dia juga lebih dewasa di bandingkan dengan Alana. Bangga sekali Abel melihatnya. "Makasih ya sayang, udah Mama udah sembuh."


"Mama seri itu artina apa?" Tanya Alana random.


"Seri itu bahagia sayang, ceria. Kenapa nanya itu?" Tanya Abella berbalik.

__ADS_1


"Jadi artina serigala itu, papa bahagia? Kan papa namana Gala. Jadina papa serigala yang mam dombana pak gembala?"


Abel dan Gala tertawa sih mendengar penuturan Alana, ya memang tidak salah sih. Tidak paham lagi kenapa anak mereka begitu pintar. Gala menarik pipi Alana gemas. "Iya papa serigala yang nanti mam Alana sama Alano kalau gak tidur."


"Gakk mauuu," rengek mereka berdua.


"Makanya tidur sekarang, sini Alan pindah ke tengah. Nanti Alan jatoh," ucap Abell.


Alan menurut, setelah itu berpindah ke samping Galaxy dan akhirnya setelah drama serigala memakan domba itu, mereka berempat tertidur.


.


.


.


Belum beres dengan masalah drama serigala semalam, kini Abella benar-benar dijaga ketat oleh kedua anaknya dari Galaxy. Satu paha Abella dipakai bantalan oleh Alano dan yang satu lagi dipakai Alana. Mereka berdua sedang meminum susu menggunakan dotnya.


Galaxy menatap mereka yang sedang di sofa panjang dari sofa kecil sembari menghela napasnya. "Sayang, ini papanya gaboleh ikutan gitu manjaan ke Mama?"


Alano dan Alana menunjukkan jari telunjuk lalu menggerakkannya ke kanan dan ke kiri menandakan kalau jawabannya adalah tidak boleh. Galaxy menatap ke arah Abella dengan memelas. "Yang ini libur loh."


Abel terkekeh sembari mengusap rambut kedua anaknya. "Ya gimana, nempel banget."


Tiba-tiba bel rumah berbunyi, menandakan kalau ada tamu di luar. Karena Abella tidak bisa bergerak jadilah Galaxy yang membukakan pintu. Keningnya mengerut ketika melihat dua orang yang ada di hadapannya.


"Kenapa lo bisa bawa Dinda? Terus lo kapan balik?" Tanya Gala pada Dinda.


"Panjang ceritanya, udah ah gue mau ketemu ponakan-ponakam gue dulu. ALANOOO ALANAAA TANTE DINDA DISINIIII," teriak Dinda yang langsung masuk ke dalam.


Alano dan Alana yang merasa dipanggil lalu mengubah posisinya menjadi duduk, terheran-heran melihat Dinda. Iya mereka tau kalau Dinda adalah teman Abel. Tapi selama ini mereka hanya berkomunikasi lewat video call, jadi ya tetap terasa asing bagi mereka.


"Mama itu siapa?" Tanya Alano.


"Tante Dinda dong, kan kalian suka telepon sama Tante Dinda, kan?"


Dinda terkekeh melihat dua anak gemas itu, dia langsung saja berjongkok di hadapan keduanya yang tengah duduk di sofa. "Heyy bocil, ini Tante Dindaaa masa lupa."


Alana mencolek pipi Dinda pelan lalu dia terkekeh sendiri. Abel yang melihat itu gemas sekali, memang apa yang lucu sampai Alana tertawa. "Kenapa, Sayang?"


"Ana kira Ante Dinda itu cuma gambarna ada ternyata ada orangnya hahaha," ucapnya polos.


Abel dan Dinda tertawa mendengar ucapan Alana, bisa-bisanya Alana berpikir seperti itu. Tapi tidak heran juga, karena memang mereka berkomunikasi via online.


"Nih Tante bawain oleh-oleh dari Paris, khusu buat bocil-bocil kesayangan Tante. Tapi nanti aja dibukanya ya, soalnya Tantenya masih kangen sama Alan sama Ana," kata Dinda.

__ADS_1


"Oke, Ante!"


Abel melirik ke arah Degas, lalu dia kembali melirik ke arah Dinda. "Kok bisa sama Degas?"


"Au, disuruh Raka. Ini mau ke Mall sih, emang ada beberapa hal juga yang mau di beli. Kesini dulu bentar, soalnya mau kasihin oleh-oleh. Nanti pulangnya kita ke sini lagi."


"Tepat." Tiba-tiba Galaxy bergumam.


"Hah tepat apaan?" Tanya Dinda keheranan.


Galaxy lalu membisikkan sesuatu pada Degas, membuat Degas membelalakkan matanya. "Apaan?! Ogah!"


"Bantuin gue, sekali," pinta Galaxy.


"Apasih?" Tanya Dinda tak mengerti.


"Ajak Alano sama Alana main timezone. Mereka suka main itu, boleh?" Tanya Galaxy.


"Woiiaa boleeh lah, Alan sama Ana mu ikut Tante main timezone? Tapi engga sama Mama," ucap Dinda.


"MAUUU ANTEE!" Setelah itu dia menatap Abella meminta persetujuan. Perlahan Abel mengangguk, ya lagi pula Degas sering mengajak anak-anaknya bermain jadi aman.


"Yayyy, Ante kesanana sama Om Jomblo juga?" Tanya Alano.


"Om jomblo?" Tanya Dinda tak mengerti.


Alano langsung menunjuk Degas, membuat Dinda terbahak. "HAHHHAHAHA iya sayang sama Om Jomblo, kasian Om Jomblo butuh hiburan. Jadi kita hibur dia ya?"


"Oke!!"


Degas menghela napasnya, sudah biasa dia diroasting oleh Alano dan Alana. Untungnya saja jiwanya kebal dan tahan banting. Sementara itu Gala sih kesenangan, jadi seharian ini dia bisa bermanjaan dengan Abella, karena anak-anaknya dia titipkan pada Degas.


Abella mengganti pakaian mereka dan memakaikannya sedikit parfum agar wangi. Setelah itu dia bisa tenang memberikan Alano dan Alana pada Dina dan Degas. Alano menatap ke arah Galaxy.


"Papa jangan gigit Mama lagi ya! Nanti Alan pulang lagi!" Peringat Alano pada Gala.


"Iya ya ampun, Sayang. Gak percayaan sama papanya sendiri," gumam Galaxy.


"Gigit apasih?" Tanya Degas.


"21 ke atas, sebelum liat itu mereka diceritain serigala makan dombanya gembala. Jadi dikira serigala."


Degas terbahak mendengar penjelasan Galaxy, pantas saja dia menitipkan Alano dan Alana padanya. Ternyata ada hal yang belum tuntas semalam. "Berterima kasih sama gue! Ya udah nikmatin lah main serigala serigalanya. Tapi seriGALA yang ini liar," goda Degas.


Abel hanya menghela napas, tidak benar memang jika Galaxy, Raka dan Degas disatukan. Otaknya penuh dengan hal-hal ajaib.

__ADS_1


__ADS_2